NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Chensi

Begitu meninggalkan kediamannya, Chensi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah besar tempat ayah dan ibu tirinya tinggal. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena amarah dan luka lama yang selama ini ia kubur dalam‑dalam kini mulai meluap keluar.

Sesampainya di sana, ia melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Suara langkah kakinya yang berat dan cepat membuat para pelayan menunduk ketakutan. Di ruang tengah, Tuan Hong dan Nyonya Lin sedang duduk minum teh, seolah tidak ada hal yang terjadi. Begitu melihat Chensi datang dengan wajah yang menakutkan, mereka langsung berdiri.

“Chensi? Kenapa kau datang dengan wajah seperti itu?” tanya Tuan Hong dengan nada kaku.

Chensi berhenti tepat di hadapan mereka, matanya menyala merah menahan gejolak emosi yang meledak. Ia menatap tajam ke arah Nyonya Lin terlebih dahulu, lalu beralih ke ayahnya.

“Kenapa? Kalian bertanya kenapa? Kalian tahu betul alasannya!” bentaknya dengan suara menggelegar, membuat gelas teh di meja bergetar. “Kau berani menyakiti Annisa, Lin? Kau berani mengangkat tangan dan mengancam nyawa wanita yang sedang mengandung anakku?”

Nyonya Lin terkejut, lalu segera berusaha membela diri. “Aku hanya mengingatkannya untuk pergi! Dia itu wanita asing yang membawa masalah ke dalam keluarga kita—”

“Diam!” potong Chensi seketika, suaranya semakin keras. “Jangan berlagak suci di depanku! Aku sudah cukup lama menahan diri mendengarkan omonganmu yang penuh racun selama bertahun‑tahun!”

Ia melangkah mendekat, tatapannya beralih ke Tuan Hong yang mulai terlihat gelisah.

“Dan kau, Ayah… Kau juga selalu membiarkannya berbuat sesuka hati, bukan? Selalu memihak dia, membenarkan segala tindakannya, seolah dia adalah ratu di rumah ini. Tapi apakah kalian pernah ingat apa yang sudah kalian lakukan pada ibu kandungku?”

Tuan Hong tertegun, wajahnya memucat mendengar kalimat itu. “Apa maksudmu? Itu sudah masa lalu, jangan diungkit lagi…”

“Masa lalu?” tawa Chensi terdengar dingin dan penuh kepahitan. “Bagaimana bisa aku lupa? Ibu yang setia mendampingimu saat kita miskin, ibu yang bekerja keras membesarkanku, lalu kau malah mengkhianatinya dengan wanita ini di belakang punggungnya. Ibu tertekan, tersiksa, dan akhirnya jatuh sakit depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri—semua karena ulah kalian berdua!”

Air mata amarah hampir mengalir di matanya, namun ia menahannya dengan kuat. Rahangnya mengeras, dan jari‑jarinya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.

“Selama ini aku diam, aku menahan diri, karena aku masih menghormati nama ayah dan ikatan darah. Tapi jangan kira aku tidak tahu kebenarannya. Nyonya Lin, kau yang selalu memfitnah ibu, membuatnya merasa tidak berharga, dan mendesaknya hingga dia tidak tahan lagi. Dan Ayah… kau yang membiarkan semua itu terjadi demi kesenangan dan kekuasaanmu sendiri!”

“Kau berlebihan, Chensi! Itu hanya tuduhan tidak berdasar!” bantah Nyonya Lin dengan suara gemetar.

“Tidak berdasar?” balas Chensi tajam. “Kalau begitu, coba jawab ini. Berapa banyak uang atau bantuan yang pernah Ayah berikan padaku sejak aku lulus SMA? Biaya kuliahku, tempat tinggalku, hingga modal pertama aku membangun usaha—semua itu aku perjuangkan sendiri, tanpa sepeser pun bantuan dari kalian! Harta dan kekuasaan yang aku miliki sekarang bukanlah warisan atau pemberian Ayah, melainkan keringat dan kerja kerasku sendiri!"

Ia menunjuk ke arah mereka berdua dengan jari yang bergetar karena emosi.

“Karena itu, dengarkan baik‑baik peringatanku yang terakhir ini. Mulai hari ini, jangan pernah lagi mencampuri urusan pribadiku. Jangan datang ke rumahku, jangan mengganggu wanita yang aku lindungi, dan jangan menyentuh anak yang akan lahir nanti. Jika kalian berani melanggar satu kali lagi, maka jangan harap aku akan mengakui hubungan darah ini lagi. Aku akan memutuskan segala ikatan dan memastikan kalian tidak akan pernah bisa mengganggu hidupku selamanya.”

Suasana ruangan menjadi sangat hening. Tuan Hong dan Nyonya Lin terdiam terpaku, tidak menyangka rahasia masa lalu itu akhirnya terungkap dengan lantang. Mereka melihat ketegasan dan kemarahan di mata Chensi—sesuatu yang tidak bisa lagi dibujuk atau diputarbalikkan.

Setelah meluapkan semua yang selama ini ia pendam, Chensi berbalik tanpa menoleh lagi.

“Pikirkan baik‑baik. Jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari,” ucapnya terakhir kali sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan keras.

Di dalam mobil, Chensi duduk tertegun, napasnya terengah‑engah. Beban berat yang selama ini membebani hatinya terasa sedikit terangkat, namun ia sadar—perjuangannya untuk melindungi Annisa dan anaknya baru saja dimulai.

Perjalanan pulang terasa panjang dan sunyi. Di dalam mobil, Chensi mencoba menenangkan napasnya yang masih terengah, menekan rasa marah yang belum sepenuhnya hilang. Namun begitu ia membuka pintu kamar dan melihat Annisa yang masih duduk bersandar di tempat tidur, wajahnya yang pucat dan tatapannya yang penuh kekhawatiran membuat hatinya seketika melunak.

Ia melangkah mendekat dengan langkah pelan, lalu duduk di sisi tempat tidur, mengambil tangan Annisa dan menggenggamnya lembut.

“Sudah aman sekarang,” bisiknya dengan suara yang lebih tenang, meski masih terasa berat. “Mereka tidak akan datang lagi mengganggu. Aku sudah berbicara tegas pada mereka.”

Annisa menatapnya lekat, melihat sorot mata yang terlihat lelah namun juga lega. Ia bisa merasakan ada beban besar yang baru saja dilepaskan dari pundak lelaki itu.

“Tuan… tadi saat pergi, Tuan terlihat sangat marah. Apakah semuanya baik‑baik saja? Apakah Tuan dan Ayah Tuan bertengkar hebat?” tanyanya dengan nada lembut, tidak ingin menambah beban pikiran Chensi.

Chensi mengangguk perlahan, lalu menghela napas panjang. Ia menatap ke arah jendela yang tertutup tirai, seolah melihat kembali bayangan masa lalu yang sudah lama ia kubur.

“Ya, kami bertengkar. Tapi bukan karena kau… atau bukan hanya karena kejadian tadi. Ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum aku mengenalmu.”

Ia terdiam sejenak, lalu mulai bercerita dengan suara rendah dan lambat, seolah baru pertama kali ia mengungkapkan hal ini pada orang lain.

“Ayahku menikah dengan ibuku saat mereka masih muda dan miskin. Ibu adalah wanita yang baik, sabar, dan mencintai Ayah dengan sepenuh hati. Ia bekerja keras membantu membangun usaha kecil kami, membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Namun saat usaha Ayah mulai berkembang dan ia memiliki kekayaan, ia berubah. Ia bertemu dengan Lin—wanita yang sekarang menjadi ibu tiriku—dan mulai melupakan janji setianya pada ibuku.”

Annisa mendengarkan dengan seksama, tangannya tetap tergenggam dalam genggaman Chensi. Matanya perlahan berkaca saat mendengar alur cerita yang menyedihkan itu.

“Lin tidak puas hanya menjadi kekasih. Ia ingin menggantikan posisi ibuku sepenuhnya. Ia menyebarkan fitnah, membuat keributan, dan memutarbalikkan fakta agar Ayah percaya bahwa ibulah yang salah. Ibu tertekan, merasa dikhianati, dan diasingkan di rumahnya sendiri. Ia jatuh sakit, tertekan secara batin, hingga akhirnya ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak sanggup menanggung rasa sakit itu lagi.”

Suara Chensi terasa parau, matanya berkaca‑kaca namun ia berusaha menahan air matanya.

“Sejak saat itu, aku membenci mereka berdua. Tapi aku tetap diam, karena aku masih berharap ada sedikit rasa keluarga yang tersisa. Aku membangun usahaku sendiri, dari nol, tanpa meminta bantuan sepeser pun dari Ayah. Semua yang aku miliki sekarang adalah hasil keringatku sendiri. Itu sebabnya aku tidak suka orang lain mencampuri urusanku—terutama urusan hati dan rumah tangga.”

Ia menoleh kembali menatap Annisa, mengusap lembut pipi gadis itu yang masih terlihat memar.

“Tadi Lin datang dan menyakitimu… itu mengingatkanku pada apa yang ia lakukan pada ibuku. Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terulang lagi. Kau tidak akan mengalami nasib seperti ibuku, dan anak kita tidak akan tumbuh di lingkungan yang penuh kebencian dan kepura‑puraan itu.”

Annisa merasakan genggaman tangan Chensi semakin erat, namun terasa hangat dan melindungi. Ia tidak menyangka bahwa lelaki yang terlihat dingin, kejam, dan angkuh itu ternyata menyimpan luka batin yang begitu dalam. Rasa bingung dan takut yang selama ini ia rasakan perlahan berubah menjadi rasa iba dan pengertian yang baru.

“Jadi itulah sebabnya Tuan sangat keras pada diri sendiri dan orang lain,” bisiknya lirih. “Tuan tidak ingin menjadi lemah, karena Tuan takut disakiti lagi?”

Chensi mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis—senyum yang jarang muncul namun terasa sangat tulus.

“Mungkin benar. Tapi sejak kau ada di sini, aku mulai belajar bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan kekerasan atau kekuasaan. Aku ingin membuat rumah ini berbeda dari rumah tempat aku dibesarkan. Aku ingin kau merasa aman, dihormati, dan bahagia—sesuatu yang tidak pernah didapatkan ibuku.”

Mendengar kata‑kata itu, air mata Annisa akhirnya mengalir. Namun kali ini bukan air mata ketakutan, melainkan air mata haru dan pengertian. Ia menyadari bahwa di balik sifat kasar Chensi, tersembunyi hati yang terluka dan keinginan untuk melindungi orang yang dicintainya dengan sekuat tenaga.

“Terima kasih sudah bercerita pada saya, Tuan,” ucapnya sambil menyeka air matanya. “Sekarang saya mengerti. Dan saya janji… saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi tempat yang tenang bagi Tuan, sama seperti Tuan yang berusaha melindungi saya.”

Chensi mengangguk dan tersenyum lembut. Tatapannya begitu tulus, sehingga membuat jantung Annisa berdegup lebih kencang.

Malam itu, untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Mereka berdua sama‑sama membawa luka masa lalu, namun kini mulai belajar untuk saling mengerti dan melangkah ke depan bersama.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!