NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Turunlah. Udara di luar semakin dingin, dan aku tidak mau sekretaris utamaku jatuh sakit besok pagi karena keras kepala tidak mau menerima perlindungan".

Kirana menatap telapak tangan tegap yang terulur di depannya itu. Meski ragu sejenak, dia akhirnya menyambut uluran tangan itu, melangkah keluar dari mobil ke bawah perlindungan payung yang sama dengan Radit. Jarak di antara mereka mendadak terkikis hingga Kirana bisa merasakan kehangatan tubuh Radit dan mencium aroma segar air hujan yang bercampur dengan parfum pria itu. Radit dengan sengaja memiringkan payungnya ke arah Kirana, membiarkan bahu jasnya sendiri basah demi memastikan gaun kerja Kirana tidak terkena cipratan air.

Bagian dalam rumah Radit mencerminkan kepribadian pria itu dengan sangat akurat. Minimalis, rapi, namun memiliki sentuhan maskulin yang elegan. Lantai kayu parket berwarna gelap dipadukan dengan sofa kulit berukuran besar di depan perapian buatan. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja bar kecil dengan deretan botol minuman dan mesin kopi berkualitas tinggi.

"Duduklah di sana," kata Radit sambil menunjuk ke arah sofa panjang. Dia meletakkan payung di dekat pintu, lalu membuka jasnya yang setengah basah, menyampirkannya di gantungan dekat pintu. "Aku akan mengganti pakaian dulu, setelah itu aku akan memasak sesuatu untuk kita".

"Kamu bisa memasak?" Kirana bertanya dengan nada tidak percaya yang sangat kentara. Selama lima tahun, dia selalu mengira makanan Radit diatur oleh katering diet khusus atau restoran bintang lima.

Radit terkekeh sambil melangkah menuju tangga.

"Jangan meremehkan pria yang menghabiskan waktu kuliahnya sendirian di Boston, Kirana. Aku mungkin tidak bisa membuat hidangan Prancis yang rumit, tapi untuk sekadar membuat pasta yang layak di makan, kemampuanku boleh diadu".

Setelah Radit menghilang di lantai dua, Kirana berjalan perlahan mendekati dinding kaca besar yang menghadap ke area kolam renang di halaman belakang. Rintik hujan yang menghantam permukaan air kolam menciptakan pola-pola lingkaran yang menenangkan. Dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencerna semua kejadian yang terjadi sejak pagi tadi.

Kejatuhan Baskoro, ancaman Hendrawan yang berhasil dipatahkan, dan sekarang... dia berada di rumah pribadi bosnya, bersiap untuk makan malam bersama.

Sepuluh menit kemudian, Radit kembali turun dengan penampilan yang jauh lebih santai. Dia mengenakan kaus hitam polos berpotongan pas yang mengekspos bentuk lengan tegapnya, dipadukan dengan celana trening abu-abu. Rambutnya yang biasanya ditata rapi dengan minyak rambut kini dibiarkan jatuh acak-acakan di dahinya, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda dan jauh lebih mudah didekati.

"Kopi atau teh?" tanya Radit sambil berjalan menuju dapur bersih yang dibatasi oleh sebuah meja konter marmer.

"Teh hangat saja, terima kasih" jawab Kirana, dia ikut berjalan mendekati area dapur, memilih duduk di salah satu kursi bar tinggi di depan konter agar bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh pria itu.

Radit mulai bergerak di dapur dengan gerakan yang tak disangka cukup cekatan. Dia merebus air, menyeduh teh melati di dalam teko keramik kecil, lalu mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari es besar. Pasta spaghetti, bawang putih, cabai kering, udang segar, dan sebotol minyak zaitun.

"Aglio Olio?" tebak Kirana saat melihat bahan-bahan tersebut dijajarkan di atas meja.

"Satu-satunya menu yang tingkat keberhasilannya mencapai sembilan puluh sembilan persen di tanganku" jawan Radit jujur tanpa gengsi, membuat Kirana tidak bisa menahan tawa kecilnya.

Sambil menunggu air pasta mendidih, Radit menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dan menggesernya ke depan Kirana. Pria itu kemudian bersandar pada tepi konter marmer, melipat kedua tangannya di dada, menatap Kirana yang sedang memegang cangkir dengan kedua tangannya untuk menyerap kehangatan.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Radit, suaranya terdengar lembut, sarat akan perhatian yang tulus.

Kirana menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab.

"Anehnya... Aku merasa sangat tenang. Seperti ada sebuah batu besar selama sepuluh tahun ini menyumbat yang dadaku tiba-tiba hancur begitu saja. Dulu aku selalu berpikir bahwa jika identitas ayahku terungkap, itu akan menjadi akhir dari segalanya. Ternyata, ketakutan kita sering kali jauh lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya".

Radit mengangguk setuju.

"Itu karena kamu menghadapi ketakutan itu sendirian selama ini, Kirana. Tapi mulai sekarang, kamu tidak perlu melakukannya lagi. Kontrak kita mungkin awalnya dibuat untuk kepentingan bisnis, tapi bagiku, melindungi kamu dari orang-orang seperti Baskoro dan Hendrawan sudah menjadi tanggung jawab pribadiku. Bukan sebagai CEO, tapi sebagai seorang pria".

Kirana menatap manik mata Radit, mencari tanda-tanda kepura-puraan atau retorika korporat yang biasa digunakan pria itu dalam negosiasi. Namun, dia tidak menemukan apa pun kecuali kejujuran yang telanjang. Jantung Kirana berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Aturan Baru Pasal 1 yang mereka sepakati kini terasa seperti sebuah lelucon konyol yang tidak memiliki kekuatan apa pun di dalam rumah ini.

___

Makan malam mereka berlangsung dengan suasana yang sangat santai. Pasta buatan Radit ternyata jauh di atas ekspektasi Kirana. Tingkat kematangan pastanya pas, dengan rasa gurih pedas yang sangat cocok untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin ini. Mereka makan sambil mengobrol tentang banyak hal di luar pekerjaan, mulai dari hobi lama Radit yang suka mendaki gunung saat kuliah, hingga cerita Kirana tentang bagaimana sulitnya mengurus si Kuning, kucing persia gemuknya yang egois.

Setelah semua piring dibersihkan, mereka pindah ke sofa panjang di ruang tengah. Di luar, hujan telah mereda menjadi rintik-rintik tipis, menyisakan suara gemercik air yang syahdu.

Radit duduk dengan punggung bersandar pada lengan sofa, sementara Kirana duduk tidak jauh di sampingnya, memeluk sebuah bantal sofa kecil. Jarak di antara mereka kini hanya berkisar beberapa sentimeter.

"Radit," panggil Kirana pelan, matanya menatap jemarinya yang saling bertautan di atas bantal.

"Ya?".

"Tentang sandiwara pertunangan kita... dengan hancurnya kubu Pak Baskoro, bukankah tujuan awal kita sebenarnya sudah tercapai? Kita sudah menstabilkan posisi dewan komisaris dan menyingkirkan ancaman internal," Kirana menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan pertanyaan yang sejak sore tadi mengusik pikirannya. "Apakah itu artinya... kita bisa segera mengakhiri kontrak ini?".

Mendengar pertanyaan itu, senyuman di wajah Radit perlahan memudar. Dia mengubah posisi duduknya, bergeser lebih dekat hingga lutut mereka saling bersentuhan. Pria itu mengulurkan tangannya, dengan lembut mengambil bantal sofa dari pelukan Kirana dan meletakkannya di samping, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu, memaksa Kirana untuk mendongak dan menatapnya langsung.

"Secara legalitas korporat, jawabannya adalah iya," ujar Radit, suaranya terdengar berat dan intens, bergetar di keheningan ruangan. "Kita bisa membuat pengumuman pembatalan hubungan beberapa bulan lagi dengan alasan ketidakcocokan, dan reputasi perusahaan tidak akan terganggu".

Radit menjeda kalimatnya, matanya menatap dalam ke dalam sepasang mata Kirana yang berada di balik lensa kacamata.

"Tapi secara pribadi... aku tidak punya niat sedikit pun untuk mengakhiri kontrak ini, Kirana. Aku ingin mengubah draf kontrak palsu di dalam brankas itu menjadi sebuah komitmen yang nyata. Aku tidak ingin kamu menjadi tunangan kontrakku lagi. Tapi aku ingin kamu menjadi tunanganku yang sesungguhnya".

Kata-kata itu meluncur dengan tegas, memotong sisa-sisa keraguan yang selama ini menggelayuti hati Kirana. Di balik tirai hujan malam itu, di dalam rumah yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dunia luar, Aturan Baru Pasal 1 tidak hanya dilanggar, tapi dia telah dihancurkan sepenuhnya oleh sebuah pengakuan yang akan mengubah arah hidup mereka berdua selamanya. Mungkin?

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!