NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah?

Setelah sambungan telepon terputus, Aira buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap sisa air mata di sudut matanya dan melangkah menuju gerobak sate ayam di pojok pertigaan desa, aroma bumbu kacang yang terbakar arang sedikit menenangkan perutnya yang keroncongan.

​"Sate ayamnya satu porsi dibungkus ya, Cak. Ndak usah pakai lontong," ucap Aira, mencoba tersenyum ramah.

​"Nggih, Mbak Aira. Sekedap ya," jawab Cak Mat, sang penjual sate.

​Saat menunggu sate dibakar, Aira tidak menyadari bahwa di bangku kayu panjang sebelah gerobak, ada Bu Darmi dan Bu Lastri yang sedang asyik mengunyah sate sambil bergosip. Begitu melihat Aira, kedua wanita paruh baya itu langsung saling menyenggol lengan.

​"Lho, Mbak Aira! Jam segini baru pulang kerja toh, Nduk?" tanya Bu Darmi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun tersirat rasa ingin tahu yang besar.

​"Nggih, Bu Darmi. Tadi agak malam selesainya di tempat Bu Rika," jawab Aira sopan.

​Bu Lastri menghela napas panjang, memasang wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat. "Duh, kasihan tenan kamu itu, Ra. Badanmu sampai makin kurus begitu. Ibu itu yo melu (ikut) sedih, kamu wis kuliah jauh-jauh, pinter, tapi kok ya gusti Allah belum kasih jalan rezeki sing kepenak. Kasihan ibumu, Ra, sudah sepuh, sakit-sakitan, tapi kamu belum bisa kasih penghasilan yang layak,"

​Dada Aira berdenyut nyeri. Kalimat itu terdengar seperti simpati, namun rasanya seperti garam yang ditaburkan di atas luka terbuka.

​"Nggih, Bu. Belum rezekinya," lirih Aira, menunduk dalam-dalam.

​Bu Darmi menggeser duduknya, mendekat ke arah Aira dengan mata yang berbinar penuh rencana. "Gini lho, Ra. Daripada kamu frustrasi nyari kerja kantoran tiga tahun ndak ada hasil, terus tiap hari cuma jadi buruh keripik yang gajinya ndak seberapa... apa ndak lebih baik kamu menikah saja?"

​Aira tersentak, mendongak menatap Bu Darmi. "Menikah, Bu?"

​"Iya, Menikah! Perempuan itu setinggi apa pun sekolahnya, ujung-ujungnya ya ke dapur. Daripada kamu jadi omongan orang satu desa, dibilang sarjana pengangguran, mending kamu cari suami yang bisa nafkahin kamu dan ibumu. Kebetulan, saya ada kenalan. Namanya Mas Joko, duda cerai mati, usianya tiga puluh delapan tahun. Dia punya penggilingan tebu di desa sebelah, hidupnya mapan, Ra! Dia nyari istri yang penurut dan berpendidikan buat nemenin usahanya," sahut Bu Lastri menggebu-gebu.

​"Benar itu, Ra. Kamu kan ndak punya penghasilan tetap yang bisa dikasih ke orang tuamu, kalau menikah sama Mas Joko, beban ibumu berkurang dan kamu juga ndak usah capek-capek ngaduk bumbu balado lagi. Mas Joko orangnya baik, kasihan kalau kamu sia-siakan," timpal Bu Darmi.

​"Ini satenya, Mbak Aira," potong Cak Mat, menyodorkan bungkusan kertas koran, seolah menyelamatkan Aira dari kepungan kata-kata kedua wanita itu.

​Aira dengan gemetar menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah, "Matur nuwun, Cak. Bu Darmi, Bu Lastri, saya permisi pulang duluan, nggih," ucap Aira terbata-bata tanpa sempat menjawab usulan mereka.

​Aira berjalan setengah berlari membelah kegelapan malam desa, "Menikah? walaupun aku belum sukses dan penghasilanku pas-pasan, aku nggak mau menikah apalagi sama Mas Joko. Satu desa juga tahu kalau dia itu kasar bahkan istrinya meninggal juga karena dipukul sama dia," gumam Aira.

Beberapa saat kemudian, Aira sampai di rumah dan segera melangkah masuk ke dalam rumah bambunya dengan napas yang masih sedikit memburu. Dipandangnya bungkusan sate di tangan, lalu beralih pada pintu kamar ibunya yang tertutup rapat. Beruntung, ibunya sudah terlelap, sehingga beliau tidak perlu melihat wajah putrinya yang pias akibat rentetan sindiran tetangganya.

​Aira meletakkan bungkusan sate di atas meja makan kayu yang sederhana. Baru saja ia hendak melepas jaket rajutnya, ponsel di dalam saku kembali bergetar. Getaran itu terasa konsisten, menandakan sebuah pesan baru yang masuk secara personal.

Arsen: Udah makan belum?

"Arsen kok tumben ya sering nge-chat? Perasaan aku dulu nggak terlalu akrab banget sama dia, apalagi sampai chat-chatan," gumam Aira.

Aira: Ini baru sampai rumah.

Meskipun merasa aneh dengan sikap Arsen, namun Aira tetap membalas pesan Arsen seperti biasa, bahkan Aira mengirim foto sate yang baru saja ia beli.

Arsen: Suka sate?

Aira: Aku sih suka apa aja, asal bisa dimakan.

Arsen: Baguslah kalau nggak pemilih. Tapi sate di Lumajang emang terkenal enak ya? Kapan-kapan kalau ke sana, harus coba.

​Aira tersenyum tipis membaca balasan Arsen. Arsen, si cowok kulkas dari Fakultas Teknik yang dulu paling ditakuti adik tingkat karena tatapan matanya yang tajam, kini menjelma menjadi teman mengobrol yang begitu ramah.

Keesokan harinya, saat Aira sedang bekerja. Tiba-tiba Bu Rika memanggil Aira ke ruangan administrasi dengan wajah yang lebih masam dari biasanya.

​"Aira, mulai minggu depan, kamu tidak usah masuk dulu ya," ucap Bu Rika tanpa beban sembari menghitung uang kas.

​Jantung Aira serasa berhenti berdetak, "Ma-maksudnya pripun, Bu? Apa saya ada salah dalam bekerja?" tanya Aira.

​"Bukan salah, tapi anak saya yang baru lulus sekolah mau ikut jaga di sini. Lagipula, musim hujan begini omzet lagi turun. Jadi, saya harus kurangi pegawai. Kamu kan sarjana, Ra. Pasti gampanglah cari kerja di tempat lain," jawab Bu Rika telak.

"Tapi, Bu... saya masih butuh pekerjaan ini. Lamaran saya juga belum ada kabar," ucap Aira.

"Kamu cari lagi aja, nanti kalau saya butuh kamu lagi, saya kabarin," ucap Bu Rika.

Langkah kaki Aira terasa goyah saat melangkah keluar dari ruangan administrasi. Di ambang pintu, enam pekerja lain yang juga terkena pengurangan karyawan hanya bisa saling tatap dalam keheningan yang pekat. Tatapan mereka kosong, sarat akan kepasrahan yang pahit.

Kehilangan pekerjaan di desa kecil seperti ini, di tengah musim hujan yang lesu, bagaikan dijatuhi hukuman tanpa kesalahan. ​Aira mengemas barang-barangnya dengan dada sesak, harapan yang sempat ia pupuk perlahan kembali runtuh dan menyisakan puing-puing kecemasan tentang hari esok.

"Aira, butuh kerjaan?" tanya Mbak Susi, salah satu pegawai yang terkena pengurangan karyawan.

"Iya, Mbak," jawab Aira.

"Beberapa hari lalu, saya sempat ditawarin pekerjaan sama kerabat saya. Tapi, saya tolak, karena masih kerja di sini. Sayangnya sekarang saya diberhentikan dan saya tadi menghubungi kerabat saya, tanya tentang pekerjaan dan dia bilang masih butuh karyawan. Kamu mau nggak Aira?" tanya Mbak Susi.

"Kalau boleh tahu kerja apa, Mbak?" tanya Aira.

"Cuma panen sayur, kamu tahu lahannya Pak Iqbal kan? Kan tempatnya disewakan, terus ditanam banyak sayur-sayuran. Lahannya juga luas, karena itu butuh orang buat panen," ucap Mbak Susi.

"Boleh, Mbak. Kapan memang kerjanya?" tanya Aira.

"Besok kalau bisa, tapi nanti tak kabarin lagi aja ya," ucap Mbak Susi.

"Makasih ya, Mbak," ucap Aira.

"Sama-sama, mereka semua juga bakal kerja nanti," ucap Mbak Susi pada pegawai yang terkena pengurangan.

.

.

.

Bersambung.....

1
erviana erastus
giliran mau minta uang baru ngakuin ank kandung hilman2 sakit jiwakau
Allfa Rizky
kok bisa ya Arsen sampe secinta itu sama Aira,, apa Arsen sudah jatuh cinta sama Aira pas masih kuliah ya
Allfa Rizky
sampai sekarang belum ada cerita bagaimana Arsen bisa langsung memilih Aira jadi istrinya
Aidil Kenzie Zie
ada-ada aja caranya Arsen agar bisa belah duren 🤣🤣🤣🤣gas lah Ra kasihan suamimu dianggurin 1bln lebih lo🤭🤭🥰🥰
Felycia Fernandez
ya kali blom malam pertama..
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
Felycia Fernandez
bapak gila😡😡😡😡
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
Felycia Fernandez
good 👍
Felycia Fernandez
bawa gih Aira shopping ke mall Arsen
Felycia Fernandez
semoga nggak perselingkuhan ya kk Thor
Allfa Rizky
masih part gula-gula ya thor,, diabet aku🤭
Felycia Fernandez
dulu di buang suami,sekarang di muliakan menantu...💗
Aidil Kenzie Zie
penasaran Aira udah di unboxing belum ya🤔🤔🤔🤔
erviana erastus: jiwa kepoo meronta-ronta ya ka 🤭
total 1 replies
Allfa Rizky
manisnya Arsen kebangetan 🤭
Allfa Rizky
kisahnya bagus,, pahit d awal terus manis banget malah,, entah d tengah dan akhir cerita,, konfliknya jangan berat2,, apalagi d awal cerita siapa arsenio bagaimana masa lalunya belum ada cerita
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Allfa Rizky
manis banget🤭
Felycia Fernandez
gantian Bu,aku Yaang malah gugup ini,takut Aira tersakiti di jakarta...😞
Felycia Fernandez
Ntar jangan lupa renovasi rumah di kampung ini ya Arsen..
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
udah unboxing blom nih Aira 🤣🤣🤭
partini
orang kamu udah out ganti orang kota behhhh Lebih serem 10000x lipat
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal
erviana erastus
semoga didepan nnt nggak ada aral melintang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!