Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Misterius
Pagi hari membawa kelegaan setelah teror pocong semalam, di mana sinar matahari mengusir rasa takut dan mengembalikan ketenangan. Rutinitas pagi yang normal perlahan menggantikan suasana mencekam, memulihkan rasa aman.
Bejo bangun terlebih dahulu, ia keluar karena merasakan panas di seluruh tubuhnya.
"Huh.. panas bener" seru Bejo.
Bejo membuka bajunya, ia berdiri di belakang rumah. Melihat makam di pagi hari, namun Bejo mendapati sesuatu yang aneh. Entah apa itu!, Bejo melangkah lebih dekat.
"Apa ini!!" Ucapnya.
Bejo menemukan sebuah manik aneh yang seperti batu akik, warna merah darah menyala redup.
"Astaga.. aku kira keramik ternyata batu akik," ujar Bejo, sambil memperhatikan batu di tangannya.
Tidak hanya itu, sebuah bungkusan merah aneh tidak jauh dari batu akik. Bejo membukanya, mata Bejo terbelalak terkejut melihat sebuah trisula kecil di dalamnya.
Saat Bejo mengambilnya, terasa hangat bersamaan dengan batu akik di tangannya. Energi redup, selaras dengan semilir angin memberikan kenikmatan nyata dalam kesejukan dan ketenangan diri.
Kemudian Bejo membungkus dua mustika kuno kembali, ia melangkah pergi melihat waduk ringin. Namun Bejo terhenti di tengah perjalanan, dia merasakan aneh dalam langkahnya.
Mata yang buram seketika jernih dengan pandangan nyata di depannya, Bejo menelan ludahnya melihat sosok tipis di pagi hari. Seperti sosok pendekar mengikuti langkahnya, tidak begitu pasti karena terlihat samar-samar.
"Tadi gerah dan panas sekarang dinginnya minta ampun," keluh Bejo.
Bejo duduk di waduk ringin, rumput hijau dengan sisa-sisa embun masih terlihat jelas. Udara sejuk, bernafas seperti di dalam ruang es.
Setengah jam, Bejo menikmati ketenangan dalam kesendirian, ia melihat asap tipis dari dinginnya pagi ini. Tidak berselang lama ponselnya berbunyi.
"Iya hallo,"
"Mas dimana?,"
"Lagi duduk di waduk. Kenapa?,"
"Hmm.. aku kesana aja."
Tut...
Bejo kebingungan, dia memandang layar ponselnya. Dalam hati bersuara sendiri, "ada apa lagi ini!." Saat bersantai, tiba-tiba Intan datang sendirian.
"Kenapa kamu kesini?," tanya Bejo.
"Tadi bangun lihat mas gak ada. Jadi aku telfon, ternyata disini,"
jawab Intan.
"Yang lain belum bangun?,"
"Belum mas,"
"Hmm.. kamu ikut keliling gak?,"
Intan mengangguk kecil, lalu mereka berjalan bersama. Bejo melepaskan sendalnya, setelah tadi merasakan dingin Bejo sudah kembali memakai baju.
Kicauan burung bersahut-sahutan menyambut perjalanan mereka, indahnya mentari pagi dengan pemandangan gunung terlihat begitu indah.
"Cantik sekali gunungnya!"
Intan, memandangi gunung bersama mentari pagi di atasnya. Cahaya mentari pagi begitu indah di tambah gunung yang begitu jelas.
Bejo tersenyum kecil melihat antusias Intan, senyum manisnya membuat Bejo terpesona hingga tak memalingkan pandangannya.
"Mas.. yuk foto bareng," ajak Intan. Membuyarkan pandangan Bejo.
"Oke."
Bejo menghampiri Intan, mereka foto bersama lebih dari tiga kali dengan pose berbeda. Lalu Intan meminta di fotokan sendiri, tepat dengan pemandangan indah mentari pagi dan gunung.
Kemudian Bejo memberikan ponselnya kembali, lalu mereka melangkah bersama. Bejo tetap di belakang Intan, melihat gadis itu senyum-senyum sendiri saat memegang ponselnya.
Selang satu jam, Bejo mengajak Intan membeli nasi bungkus yang sudah datang. Bersamaan dengan teman-teman Bejo yang lain ikut ke waduk, Dinda bersama dua temannya menyusul paling belakang.
"Kamu siapa kamu nak Bejo?," tanya Mbah Suminah.
"Ohh ini Intan namanya Mbah," jawab Bejo.
"Mau selesai sekolah udah punya calon istri saja Jo," ucap Mbah Suminah.
Membuat Bejo terdiam memandang ke arah Intan, sedangkan intan menundukkan kepala, Ia menyembunyikan rona merah tipis di kedua pipinya.
"Bisa aja mbah ini. Mana mungkin saya yang seperti ini dapat istri bidadari," ujar Bejo.
"Di mungkin-mungkin kan nak, namanya jodoh kan gak tau! Apalagi Mbah lihat kalian berdua sangat cocok," ucap Mbah Suminah.
"Mbah terus menggodaku nih," balas Bejo.
"Hmmm.. anak muda zaman sekarang tidak seberani yang aku kira."
Kata Mbah Suminah dengan suara pelan, tapi Bejo dan Intan sangat jelas mendengarnya. Saat mereka menunggu nasi bungkus, Jarot, Dirga, Dinda, Salsa, Clara, Devina dan Rani menghampiri mereka.
"Hmm.. berduaan aja terus," seru Dinda.
"Daripada kalian molor aja dari tadi," balas Intan.
Bejo menahan tawanya.
"Intan.. kamu begitu ya sama aku!!" Dinda berkata, kesal.
Intan menghampirinya lalu mereka tertawa bersama, teman-temannya Bejo ikut membeli nasi bungkus setelah selesai mereka duduk di waduk ringin.
Sambil melihat matahari yang semakin naik dan pegunungan yang masih terlihat jelas.
"Enak banget ternyata," seru Intan.
"Kelamaan di luar negeri jadi begini kan kamu," balas Dinda.
"Mau gimana lagi, tapi disana sekolahnya lebih cepat dari pada disini. Hanya beberapa beberapa bulan saja," jelas Intan.
"Hmm.. disana apa ada bule ganteng gak?, intan." Bisik lirih Dinda bertanya.
"Banyak. Tapi aku gak tertarik sama sekali," jawabnya.
"Kenapa?,"
Intan menarik Dinda lebih dekat, lalu membisikkan sesuatu membuat Dinda wajahnya memerah seketika sama juga dengan Intan juga. Mereka menahan tawa, tapi melirik sekali kearah Bejo.
Bejo sudah selesai terlebih dahulu, ia duduk menyalakan rokoknya. Menikmati segala sesuatu yang ada, lalu Bejo berdiri memutarkan tubuhnya.
"Nak.. tolong bantu Mbah buat nyebrang jalan bisa?," tanya seorang nenek.
"Bisa Mbah. Mari saya bantu."
Bejo membantu nenek itu, meninggalkan teman-temannya sejenak. Setelah selesai membantu nenek itu menyebrang jalan, Bejo kembali ke teman-temannya. Akan tetapi Bejo merasakan sesuatu yang aneh, lalu menoleh kebelakang kembali.
Sosok nenek yang tadi di bantu tidak sama sekali, membuat Bejo terdiam. Ia sangat kebingungan, karena tiba-tiba sosok nenek tadi hilang tanpa sebab.
"Lu darimana sih Jo?," tanya Jarot.
"Dari bantu nenek nyebrang jalan," jawab Bejo.
Jarot menyipitkan matanya, dia memandang Bejo lekat-lekat.
"Kenapa lu lihat gua seperti itu?,"
"Aneh nih bocah!!,"
"Aneh kenapa?,"
"Lu tadi jalan sendiri kesini, mana ada anter nenek nyebrang jalan," ucap Jarot.
Bejo terdiam seketika, ia memandang kembali kebelakang lalu fokus ke wajah Jarot.
"Dah gila nih anak," seru Jarot.
Jarot jalan terlebih dahulu, di ikuti Bejo dengan diam nya. Bejo merasakan nyata dalam sentuhan nenek sebelumnya, tapi kenapa teman-temannya tak melihat sosok itu.
"Aku mau kepasar dulu, kalian di rumah aja," ucap Bejo.
"Ikut napa mas," balas Intan.
"Mandi aja belum, nanti kelamaan kalau yang lain ikut. Jadi tunggu di rumah aja, atau main kerumah Dinda juga gak papa. Tapi jangan lupa tutup pintu!," Bejo berkata.
"Hmm.. okelah mas. Aku kerumah Dinda saja habis ini."
Bejo pergi kepasar, ia hendak mencari emban untuk batu akik yang di temukan sebelumnya. Bejo juga berencana mencari benang tridatu untuk trisula kecil yang temukan.
"Mbah.. harga emban buat batu akik berapaan?," tanya Bejo, setelah ia sudah sampai di pasar.
"60 ribu sampai 15 ribu nak,"
"Kalau saran Mbah yang bagus buat batu ini yang apa?,"
Bejo memperlihatkan batu akik jadi dengan merah merona gelap, membuat Mbah yang melihat terbelalak matanya.
"Kamu.. kamu dapat darimana?,"
"Peninggalan kakek Mbah, baru ketemu tadi pagi," ucap Bejo.
Mbah Sastro memegang dengan sedikit gemetaran, ia merasakan sebuah aliran tipis energi saat memegang batu akik yang di berikan pemuda di depannya.
"Mbah ambilkan emban terbaik, cukup bayar 80 ribu saja karena ini emban spesial milik Mbah," ucap Mbah Sastro.
"Baiklah Mbah,"
"Hmm.. nama Mbah siapa?," tanya Bejo.
"Panggil saja Mbah Sastro,"
"Saya Bejo Mbah. Saya tinggal di desa krajan," ucap Bejo.
Mbah Sastro seketika berhenti, ia memandang pemuda di depannya dengan lekat-lekat. Beliau berhenti sejenak dengan pandangan penuh ke wajah Bejo.
Bejo kebingungan dengan sikap Mbah Sastro yang tiba-tiba berhenti lalu memandang wajahnya tanpa berkedip.
"Kenapa Mbah memandang saya seperti itu?," tanya Bejo, penasaran.
"Apa kamu cucu dari Kuncoro?," balas bertanya Mbah Sastro.
Bejo tersentak kaget, ia terdiam tanpa kata. Bejo memandang Mbah Sastro penuh pertanyaan, entah apa yang membuat Bejo menyusun kembali ingatannya. Tapi tidak ada satupun yang di temukan dalamnya.