Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Persiapan Memasak
Dan, benar saja, bahkan saat Rostav tertidur sampai malam, bukan karena malas... mungkin iya, tapi alasan terbesarnya adalah karena dia tidak tahu harus melakukan aktivitas apa lagi untuk mengisi waktu. Olahraga? Hm, dia sudah malas melakukannya. Stok makanan masih cukup banyak, itu tidak membuatnya berniat untuk memancing. Kenapa dia harus memancing saat stok makanan masih ada? Walaupun memang sebenarnya lebih baik menyiapkannya terlebih dahulu. Seperti kata pepatah, "Bawa payung sebelum hujan." Pepatah tersebut pada dasarnya bermakna bahwa seseorang sebaiknya bersiap dan mengambil langkah pencegahan sebelum menghadapi suatu masalah atau keadaan yang tidak diinginkan.
Secara harfiah, pepatah ini menggambarkan orang yang membawa payung sebelum hujan turun agar tidak kebasahan. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, maknanya lebih luas, yaitu mengajarkan pentingnya sikap waspada, perencanaan yang matang, dan persiapan sejak dini.
Dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu, seseorang dapat mengurangi risiko kerugian, mengatasi kesulitan dengan lebih baik, atau bahkan mencegah masalah terjadi. Oleh karena itu, pepatah ini sering digunakan untuk menekankan bahwa tindakan antisipatif lebih baik daripada menyesal setelah masalah muncul.
Hanya saja, masalah lainnya, jika dia mengikuti pepatah itu dan memancing ikan sebanyak-banyaknya, dia akan menyimpan daging ikan itu di mana bahkan setelah mengolah dan mengasapinya? Oh, dia sebenarnya bisa menyimpannya di dalam barel. Di ruang penyimpanan dan aula makan, cukup banyak barel yang berserakan, dan semua isinya kosong. Dia bisa menyimpan ikan di sana.
Tapi, kenapa dia tidak melakukannya? Ya, memang sepertinya dia orang yang pemalas. Kemarin, memancing satu ikan saja memerlukan waktu kurang lebih tiga jam, dan dia mendapatkan hanya mendapat dua ikan. Satunya adalah Q, satunya lagi ikan asli. Entah berapa lama lagi waktu yang diperlukan olehnya untuk mendapatkan ikan saat memancing. Hal itu membuatnya semakin malas. Juga, dia telah menetapkan satu prinsip, bahwa menjadi serakah dapat mendatangkan bahaya. Jadi, dia memilih untuk memancing saat stok makanan menipis.
Lupakan soal hal itu, kembali ke fokus utama.
Sebelum tidur dia tidak terlalu mengkhawatirkan tentang munculnya badai, alasannya adalah karena saat membuang tubuh kecoa, dia juga melihat cuaca. Cuaca siang itu cerah, dan dia tidak melihat tanda-tanda munculnya badai. Jadi, dia dapat tidur dengan nyenyak hingga malam hari.
Dia terbangun karena mendengar suara perutnya sendiri. Dia membiarkan matanya untuk menyesuaikan diri lalu melalukan pemanasan selama beberapa menit karena merasakan otot-ototnya yang kaku.
Pada momen itu dia akhirnya mengingat bahwa dirinya tidak makan siang waktu itu, pantas saja perutnya menjadi liar seperti ini.
Setelah itu, dia keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur. Tapi, dia menaikkan sebelah alisnya saat melihat pintu dapur terbuka lebar. 'Apa aku lupa menutupnya?' Rostav berusaha mengingat sebelum akhirnya dia menyadari kenapa pintu dapur terbuka. Di dalam, dia melihat seorang perempuan berparas cantik jelita bagaikan mutiara, dengan anting-anting permata biru safir yang menggantung di kedua daun telinga dan kalung dengan permata yang sama, serta mengenakan gaun putih yang tampak sangat pas di tubuhnya, tengah berdiri di depan kompor.
Rostav bersandar di kusen pintu sambil melipat tangannya di depan dada, dan tanpa aba-aba berkata, "apa yang sedang kau lakukan?"
Cia yang mendengar suara yang tiba-tiba muncul membuatnya tersentak kaget dan hampir terjatuh. Untung saja dia segera berpegangan pada kompor, jika tidak dia pasti sudah terjatuh. Dia menatap tajam ke arah Rostav, dan dengan nada kesal menjawab, "apa kau memiliki kebiasaan mengejutkan seseorang? Huh, semua manusia memang sama saja."
Rostav yang mendengarnya terkekeh ringan dan membalasnya, "hei, nona. Tidak ada manusia yang sama, semua memiliki wajah dan sifat yang berbeda-beda. Tidak mungkin ada manusia yang benar-benar sama denganku. Logikamu tentang manusia tidak masuk akal."
Cia mendesis saat dia menegakkan tubuhnya. "Apa peduliku? Aku hanya sedang kesal denganmu... tidak, lupakan. Aku ingin tanya, bagaimana cara menyalakan kompor ini?"
"Kau... tidak tahu cara menyalakannya?" Rostav menunjuk kompor itu, merasa heran dengan Cia yang tidak bisa menyalakannya. Sebelum akhirnya dia mengingat kalau Cia adalah Ras Athu, atau putri duyung.
"Tentu saja tidak," Cia menjawabnya dengan tegas, dan menambahkan, "kami Ras Athu tidak memasak dengan kompor seperti manusia. Kami biasanya langsung memakan rumput laut. Tapi, memakan rumput laut tak akan membuat seseorang kenyang. Sama seperti manusia, kami juga memerlukan gizi yang seimbang untuk bisa tumbuh. Kami mendapatkan bahan-bahannya dari daratan. Aku biasanya memasak menggunakan batu api laut."
Batu api laut adalah sebuah batu yang dapat mengeluarkan suhu tinggi walaupun berada di dalam air. Hanya saja kekurangan dari batu ini adalah, dia tidak bisa mengatur suhunya.
Rostav mengangguk, memahami hal tersebut. Tapi ada satu pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran, dan dia pun menanyakannya, "kau tidak bisa memakan daging ikan?"
Cia menggeleng dan menjawab, "hmm. Bukannya tidak bisa, hanya saja, kami Ras Athu kebanyakan akan merasa bersalah jika memakan ikan, yang sudah kami anggap sebagai sejenis."
Rostav mengingat tentang Cia yang dengan lahap memakan daging ikan bersisik emas. "Bukannya tadi pagi kau memakan daging ikan bersisik emas? Apa kau tidak merasa bersalah?"
"Itu hal yang berbeda," Cia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata, "ikan bersisik emas adalah ikan predator. Mereka mencelakai manusia, dan bahkan, mereka kerap kali memburu kami sebagai makanan. Apa yang perlu dikasihani dari makhluk sekejam ini? Hanya saja, tadi pagi aku merasa kaget karena kau bisa mendapatkan ikan ini hanya dengan memancing, bahkan mengolahnya. Kau tahu? Master Q Tingkat 2 sekalipun kesusahan untuk menaklukan ikan ini.
"Oh, iya, ngomong-ngomong, apa kau menyimpan sisiknya? Bagaimana caramu membersihkan sisiknya?"
"Ya, aku menyimpannya," Rostav mengangguk, tak menunjukkan tanda kebohongan. "Untuk sisiknya, mudah saja, aku hanya mencongkelnya satu per satu dengan pedang ini," dia mengelus pedangnya yang tersarung.
"Ya, aku tidak akan terkejut lagi," Cia mengangkat kedua bahunya, seolah-olah sudah pasrah dengan keanehan di Laut Mayat. "Di dunia luar, sisiknya sangat berharga dan dihargai mahal, bukan hanya menangkapnya yang susah, tapi juga karena melepaskan sisiknya membutuhkan cukup banyak waktu dan tenaga. Dan tiba-tiba saja aku mendengar dari seseorang dia dapat mencongkel sisiknya dengan mudah."
Rostav yang merasa dirinya diejek menjadi tidak terima, dan dia pun ingin memamerkan, dan akhirnya berkata, "apa kau ingin melihatnya? Ayo, aku menyimpannya di barel, dan itu hanya mengisi setengahnya."
"Tidak, tidak, aku percaya," Cia menggelengkan kepalanya dan membentuk tanda silang menggunakan tangannya. "Aku datang ke sini hanya untuk memasak. Melihatmu yang selama ini hidup sendirian membuatku iba. Kau pasti memakan makanan seperti ini setiap hari. Aku sudah mengecek di lemari, dan ternyata memiliki beberapa bumbu. Apa mau memiliki sumber makanan lain?"
Rostav mengangkat kepalanya, mencoba berpikir. Tiga detik kemudian dia mengangguk dan berkata, "ya, aku mempunyai roti keras di ruang penyimpanan."
"Sempurna," Cia dengan semangat menjentikkan jarinya dan berkata, "bahan utama pembuatan roti keras adalah tepung. Tepung adalah sumber karbohidrat, dan daging ikan adalah sumber protein. Kita bisa kenyang lebih lama jika memakan keduanya. Cepat, bawa aku ke ruang penyimpanan."
Rostav yang melihat semangat api di wajah Cia hanya bisa menghela napas dan akhirnya membawanya ke ruang penyimpanan.
"Roti keras ada di dalam karung goni," Rostav menunjuk.
"Hm, siapa orang yang menyimpannya di sini, lebih baik kau menyimpannya di dalam barel," Cia protes kepada Rostav saat dia memeriksa isi karung goni.
Tapi, yang tidak dia ketahui adalah. Makanan itu telah ada sejak Rostav bertransmigrasi ke dunia ini. Dia tidak tahu apakah roti keras itu muncul tepat saat dia bertransmigrasi, atau sudah ada di sana sejak lama.
Rostav hanya mengangkat kedua bahunya pelan, ekspresinya datar tapi penuh tanda tanya, seolah-olah dia sendiri sedang menanyakan hal yang sama.
Setelah mengambil beberapa roti keras, mereka pun kembali ke dapur.
Di dapur, Cia segera bergerak tanpa membuang waktu. Dia membuka lemari gantung, lalu meraih sebuah panci tembaga yang tampak seperti tak pernah digunakan. Permukaannya berkilau, memantulkan wajahnya sendiri. Dengan hati-hati, dia mengangkat panci itu dan meletakkannya di atas meja baja tahan karat.