Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia Sang Kepala Keluarga
Suasana di dalam aula utama berangsur-angsur terkendali setelah Kevin dan Erika diseret paksa keluar oleh para sekuriti. Namun, ketegangan baru justru merayap naik, menggantikan kekacauan yang baru saja terjadi. Ratusan pasang mata yang tersisa kini tertuju padaku dengan tatapan penuh rasa segan, takut, dan penasaran yang membuncah. Mereka semua menahan napas, tidak berani membuat gerakan sekecil apa pun yang bisa memicu amarah pemilik baru restoran bintang lima ini.
Aku mengalihkan pandanganku dari pintu tempat Kevin diusir, lalu berjalan perlahan menuju meja utama tempat Kakek Bramasta Wijaya duduk mematung. Di sampingnya, Kirana masih berdiri dengan tubuh gemetar, menatapku dengan mata yang sembap dan dipenuhi ketidakpastian.
"Adrian..." Kirana memanggil namaku dengan suara serak saat aku berhenti tepat di depan meja mereka. "Kamu... tolong katakan padaku yang sebenarnya. Uang 50 miliar itu, dari mana kamu mendapatkannya? Kamu tidak sedang melakukan sesuatu yang melanggar hukum, kan?"
Aku menatap wajah istriku yang tampak begitu cemas. Selama dua tahun ini, dia adalah satu-satunya orang di rumah ini yang tidak pernah memperlakukanku seperti binatang, meskipun dia sendiri sering tertekan oleh cemoohan ibunya karena memiliki suami miskin sepertiku.
"Jangan khawatir, Kirana. Uang ini seratus persen bersih dan legal atas namaku. Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi menundukkan kepala di depan siapa pun, termasuk di depan keluarga besarmu sendiri," jawabku dengan nada suara yang melunak, khusus hanya untuknya.
Mendengar ucapanku, Kakek Bramasta yang sejak tadi diam dengan wajah pucat kebiruan, perlahan terbatuk kecil. *Uhuk! Uhuk!* Dia memegang dadanya yang tampak sesak, lalu menggunakan tongkat berkepala naganya untuk menopang tubuhnya yang ringkih agar bisa berdiri tegak.
Sebagai kepala keluarga Wijaya yang paling dihormati, Bramasta adalah pria yang licik dan selalu mengutamakan keuntungan bisnis di atas segalanya. Begitu melihatku mampu mengeluarkan uang tunai 50 miliar dalam sekejap untuk membeli restoran ini, cara pandangnya terhadapku langsung berbalik seratus delapan puluh derajat. Sikap meremehkan yang selama dua tahun ini dia tunjukkan, kini lenyap tanpa bekas, digantikan oleh senyuman ramah yang dipaksakan.
"Adrian, cucu menantuku yang hebat..." suara Kakek Bramasta terdengar serak namun berusaha dibuat seakrab mungkin. Dia melangkah mendekatiku dengan senyum merekah, mengabaikan fakta bahwa beberapa menit yang lalu dia hanya diam menonton saat Kevin menghinaku. "Kakek benar-benar tidak menyangka kalau selama ini kamu sedang menyembunyikan identitas dan kekuatan finansialmu yang luar biasa. Maafkan ketidaktahuan kami, terutama kelakuan Kevin dan Erika yang memang tidak tahu tata krama. Mulai hari ini, Kakek akan memastikan tidak akan ada lagi yang berani merendahkanmu di keluarga Wijaya!"
Melihat kepura-puraan orang tua di depanku ini, aku hampir saja tertawa terbahak-bahak karena merasa muak. *Cucu menantuku yang hebat?* Sungguh sebutan yang sangat menjijikkan keluar dari mulut seseorang yang membiarkanku makan sisa makanan di dapur selama dua tahun penuh.
Aku menyilangkan kedua tanganku di dada, menatapnya dengan pandangan lurus yang menusuk. Keterampilan 'Mata Penilai Dewa' yang baru saja diaktifkan oleh Sistem masih menyala di dalam retinaku. Panel semi-transparan berwarna biru muda di atas kepala Kakek Bramasta berkedip pelan, memperlihatkan kembali rahasia tentang penyakit mematikan dan surat wasiat palsunya.
"Kakek Bramasta," ujarku dengan nada dingin, sengaja tidak menggunakan sebutan hormat yang biasanya kupakai. "Pujian Anda terlalu berlebihan. Bukankah beberapa menit yang lalu Anda juga menganggap saya sebagai sampah pembawa sial yang mengotori acara ulang tahun pernikahan emas Anda ini?"
Wajah Kakek Bramasta mendadak kaku. Senyum ramah di wajah keriputnya membeku seketika. Dia tidak menyangka bahwa aku, yang biasanya selalu menunduk dan meminta maaf setiap kali ditegur, sekarang berani membalas ucapannya secara langsung di depan umum.
"Adrian, kamu... bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu pada Kakek?" potong paman kedua Kirana yang duduk di sebelah meja utama, berusaha membela sang kepala keluarga demi mencari muka. "Bagaimanapun juga, Kakek adalah orang tua yang harus kamu hormati!"
"Diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu," gertakku tanpa menoleh sedikit pun padanya. Aura intimidasi yang dipancarkan oleh Sistem Penguasa Dewa dari dalam tubuhku membuat paman kedua Kirana langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat karena ketakutan.
Aku kembali memfokuskan pandanganku pada Kakek Bramasta. Langkahku maju satu tapak, membuat orang tua itu refleks mundur selangkah karena tertekan oleh tatapanku.
"Kakek Bramasta, Anda terlihat sangat bersemangat malam ini untuk mengurus bisnis keluarga Wijaya. Tapi, apakah Anda yakin tubuh Anda masih sanggup menahannya?" tanyaku dengan senyum penuh arti yang misterius.
Kakek Bramasta mengerutkan keningnya, mencengkeram tongkat naganya lebih erat. "Apa maksudmu, Adrian?"
"Napas Anda terasa pendek, dada sebelah kiri Anda sering mengalami nyeri hebat di malam hari, dan setiap kali Anda terbatuk, ada rasa hangat berbau besi di tenggorokan Anda yang selalu Anda sembunyikan dengan sapu tangan, bukan?" ucapku dengan volume suara yang cukup jelas hingga terdengar oleh beberapa kerabat terdekat.
Mendengar kata-kataku, pupil mata Kakek Bramasta mengecil seketika karena syok yang teramat sangat. Tubuh tuanya gemetar hebat. Rahasia kesehatan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari seluruh anggota keluarga—bahkan dari anak-anak kandungnya sendiri—agar posisi kepemimpinannya di Wijaya Group tidak digoyang, kini dibongkar dengan sangat akurat olehku.
"K-kamu... dari mana kamu tahu hal itu?!" tanya Kakek Bramasta dengan suara yang bergetar menahan ketakutan yang luar biasa.
"Kanker Paru-paru Sel Kecil, Stadium 3," lanjutku dengan nada berbisik namun terdengar sangat mematikan di telinganya. "Penyakit itu sudah menyebar ke kelenjar getah bening Anda, Kakek. Dokter terbaik di rumah sakit pusat pun pasti sudah angkat tangan dan mengatakan bahwa sisa umur Anda tanpa keajaiban medis tidak akan lebih dari enam bulan lagi, bukan?"
Deg!
Kakek Bramasta melangkah mundur hingga menabrak meja makan di belakangnya, membuat beberapa sendok dan garpu perak berdenting ricuh. Wajahnya kini tidak lagi pucat, melainkan sudah seperti mayat hidup. Rahasia terbesar yang dia simpan dengan taruhan reputasi perusahaan kini telanjang bulat di depan menantu yang selalu dia injak-injak.
Namun, sebelum dia sempat membalas, aku mendekatkan wajahku ke telinganya, memberikan hantaman mental terakhir yang akan meruntuhkan seluruh pertahanan jiwanya malam ini.
"Dan satu lagi yang paling penting, Kakek..." bisikku dengan suara yang sangat rendah, hanya bisa didengar olehnya seorang. "Saya tahu tentang dokumen surat wasiat asli milik almarhum ayah Kirana yang Anda kunci di dalam brankas bawah tanah rumah utama Anda. Surat wasiat yang menyatakan bahwa enam puluh persen saham Wijaya Group seharusnya jatuh secara mutlak ke tangan Kirana, bukan dibagi-bagi untuk menutupi utang perusahaan logistik milik Kevin."
Mendengar kalimat terakhir itu, Kakek Bramasta merasakan seluruh tenaganya tersedot habis dari tubuhnya. Kedua lututnya benar-benar menyerah, dan dia langsung jatuh terduduk kembali ke atas kursinya dengan pandangan mata yang kosong dan dipenuhi kengerian yang luar biasa terhadap sosokku. Di matanya saat ini, aku bukan lagi Adrian si menantu sampah, melainkan sesosok iblis bermata dewa yang tahu segala rahasia tergelap di dunia ini.
"Adrian... tolong..." lirih Kakek Bramasta dengan suara yang nyaris habis, menatapku dengan pandangan memohon yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya.
Aku menegakkan kembali tubuhku, menatapnya dari atas dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan. Misi dari Sistem baru saja memberikan notifikasi kilat di dalam benakku, menandakan bahwa babak baru dari permainan ini siap dimulai.