Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Kereta kuda itu berhenti tepat di depan gerbang utama istana megah yang menjulang tinggi, bangunan yang dulu menjadi tempat Azura tumbuh besar namun juga menjadi tempat di mana ia menanggung rasa sakit dan perlakuan buruk bertahun-tahun lamanya.
Begitu tirai jendela dibuka dan keduanya melangkah turun, suara sorak-sorai dan ucapan selamat langsung bergema memenuhi halaman luas itu. Puluhan pelayan, pejabat, dan anggota keluarga kerajaan sudah berbaris rapi, wajah-wajah mereka tersenyum lebar dan penuh hormat, namun bagi Azura dan Xavier, senyum-senyum itu terasa lebih menakutkan dan menjijikkan daripada wajah musuh di medan perang. Semuanya hanyalah topeng kemunafikan yang dipakai rapi.
"Selamat datang kembali, Putri Azura! Selamat datang, Pangeran Xavier!" seru para wanita bangsawan dengan suara melengking namun manis, beriringan dengan tepuk tangan yang meriah. Padahal Azura tahu betul, selalu berbisik-bisik jahat membicarakan dirinya.
Saat mereka berjalan menuju pintu utama, pandangan semua mata tertuju pada Xavier. Para putri, saudari tiri Azura yang cantik-cantik namun berhati busuk,berdiri di barisan depan, wajah mereka bersinar-sinar memandang pangeran itu dengan pandangan tak lepas.
Mata mereka membelalak kagum melihat ketampanan, wibawa, dan kekuatan yang memancar dari sosok Xavier yang tegap dan dingin itu. Mereka saling menyenggol satu sama lain, berbisik pelan namun cukup terdengar oleh Azura.
"Ya ampun ... ternyata Pangeran Xavier tampan sekali, berbeda dengan yang diceritakan orang-orang..."
"Lihat saja postur tubuhnya, wajahnya, auranya... sungguh pria paling sempurna di dunia ini."
"Sayang sekali dia milik Azura... wanita sialan itu beruntung sekali, padahal dia hanya wanita bodoh dan tidak berguna."
Bisikan-bisikan iri dan dengki itu jelas sampai ke telinga Azura. Salah satu dari mereka, Putri Liora, saudari tirinya yang paling sombong dan paling sering menyakitinya dulu, menatap Azura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan dan penuh kebencian. Matanya seolah berkata, Dasar wanita kotor, berani-beraninya kau memiliki pria sehebat ini, kau tidak pantas.
Namun, kali ini Azura tidak menunduk. Ia tidak lagi memeluk takut atau rendah diri. Ia tidak lagi wanita lemah yang bisa mereka injak-injak sesuka hati. Orion sudah aman, sudah selamat dan sudah dibawa ke tempat paling aman. Dia tidak ada alasan lagi untuk takut.
Azura menatap balik putri Liora dan semua saudari tirinya dengan tatapan yang tenang, tajam, dan penuh keyakinan. Ia mengangkat dagunya sedikit, berjalan beriringan dengan Xavier dengan langkah tegap, membuktikan bahwa ia adalah Putri Agung dan istri sah Pangeran, posisi yang tak bisa mereka sentuh. Tatapan berani itu membuat Liora dan yang lainnya sedikit tersentak, terkejut melihat perubahan drastis pada diri wanita yang dulu selalu mereka anggap debu itu.
Xavier yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan itu. Ia melirik sekilas ke arah Azura, lalu ke arah wanita-wanita yang memandang istrinya dengan sebelah mata itu. Tanpa bicara, Xavier secara alami memperlambat langkahnya sedikit, mendekatkan tubuhnya ke sisi Azura, bahu mereka hampir bersentuhan. Gerakan kecil itu, sederhana namun penuh makna, seolah memberi peringatan keras pada semua orang yang ada di sana,
Jangan sentuh dia. Dia milikku.
"Kakak tersayang, sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Putri Liora dengan nada manis yang dibuat-buat, mendekat hendak memeluk Azura namun matanya menatap Xavier dengan penuh nafsu.
"Wah, ini Pangeran Xavier? Sungguh beruntung sekali kakak mendapatkan suami sehebat ini... tidak seperti orang lain yang hanya mendapatkan suami tua dan pemarah."
Azura tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh jarak. Ia menepis pelukan palsu itu pelan namun tegas.
"Memang aku sangat beruntung, Liora. Tidak semua wanita berhak mendapatkan pria yang memiliki kehormatan seperti suamiku. Hanya wanita yang bernilai saja yang pantas," jawab Azura tenang namun tajam, menusuk tepat ke hati adik tirinya itu.
Wajah Liora seketika memerah karena malu dan marah, tak menyangka Azura yang dulu pendiam kini mampu membalas dengan kata-kata setajam itu.
Xavier yang mendengar itu hanya diam, namun sudut bibirnya sedikit bergerak, hampir membentuk senyum kecil yang tak terlihat. Ia menatap Liora dengan tatapan dingin yang merendahkan, lalu berbicara dengan suara beratnya yang menggetarkan dada.
"Ayo istriku, kita harus menghadap raja sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, Xavier kembali berjalan, dan kali ini ia dengan sengaja menggenggam tangan Azura erat-erat di depan mata semua orang. Genggaman itu kuat dan jelas-jelas menunjukkan tanda kepemilikan mutlak. Ia tidak peduli pada tatapan kagum para wanita lain, tidak peduli pada rasa iri yang membara di dada saudari-saudari Azura. Baginya, di tempat penuh musuh ini, Azura adalah satu-satunya orang yang posisinya harus ia jaga, meski alasannya masih kabur dan penuh tanda tanya.
Di dalam hati Azura, segala ketegangan itu bercampur dengan rasa sedih yang mendalam. Ia menatap samping wajah samping Xavier yang gagah itu. Lelaki ini... dia begitu baik, begitu gagah dan pantas mendapatkan kebahagiaan.
Meski Xavier membencinya dan selalu menyakiti dengan kata-kata, tapi pria itu juga yang selalu melindunginya dari orang lain. Ia tidak akan membiarkan ayah tirinya yang serakah dan jahat itu menyakitinya atau membunuhnya demi ambisi gila mereka.
Tujuannya tinggal satu hal lagi sekarang, melindungi Xavier dari rencana pembunuhan yang sedang disusun ayah tirinya. Ia harus memastikan Xavier selamat, harus memastikan lelaki ini kembali ke kerajaannya dengan selamat dan memberikan sesuatu yang layak sebagai balasan atas rasa bersalahnya telah melukai pria itu.
Dan setelah tugas itu selesai ... Azura berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan pergi. Ia akan menghilang selamanya dari kehidupan pria ini, persis seperti yang pernah ia katakan dulu. Ia akan membawa Orion pergi ke tempat jauh di mana tak ada satu pun yang mengenal mereka, di mana ia dan Xavier tidak akan saling menyakiti lagi.
Mereka melangkah masuk ke dalam aula utama istana yang megah namun mencekam, tempat di mana Raja Utara sudah duduk di singgasananya dengan senyum licik dan haus kekuasaan. Permainan besar akan segera dimulai, dan Azura sudah bersiap, untuk menghadapi apa pun yang terjadi nanti.
"Astaga, putra dan putriku. Aku sudah menunggu sangat lama." ucap si raja licik.
Azura malah merasa jijik. Putra-putriku? Hah! Bulshit. Di pikirannya sekarang pasti hanya Peta yang di bawa Azura. Peta palsu yang dia sangka asli.
"Selamat ulang tahun ayah, terimakasih sudah mengundang kami datang." Azura menunduk hormat. Xavier ikut maju dan membungkuk.
"Selamat ulang tahun, ayah mertua. Semoga anda diberikan umur panjang."
Para pejabat antek-antek sang raja tersenyum miring, di sisi lain aula itu, berdiri pangeran Wessel yang menatap mereka dengan tatapan yang seolah mengetahui banyak hal dan menikmatinya.
jgan kasih Xavier lolos dengan mudah 🫣🤣🤣
😁😜🤭
orion telah tubuh jadi anak remaja yg gagah dan berani seperti pangeran xavier...
sabar xavier berjuanglah terus sampai meluluhkan hati azura... azura tidak akan mudah memaafkanmu, masih marah dan dendam dulu menyakiti azura....
Jangan mudah luluh dengan segala godaan Xavier... kasih pelajaran biar tobat....👍👍
padahal xavier telah banyak berubah selama berpisah sama azura, sekarang lebih manja dan cari perhatian azura...
azura masih mempertahankan sifatnya dingin dan datar, galak dan ketus, tapi didepan anak-anaknya pura2 baikan...
berjuanglah pangeran xavier meluluhkan hati azura, karena dulu banyak sakit hatinya...itu hukuman buat xavier dulu salahpaham terus dan gak percaya sama xavier....