Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Emas dan Kasih Sayang Ibu
Langkah kaki Aini terhenti. Di tangannya, genggaman tangan mungil Syafa terasa makin erat, seolah anak itu pun merasakan beratnya perpisahan ini. Di gendongannya, Satria masih terlelap......tenang, tak mengerti bahwa hidup mereka akan segera berubah lagi, berjalan menuju tempat yang belum diketahui.
Aini berbalik dan menatap Bu Lilis.
Wanita tua itu masih menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung kain daster, namun kini sorot matanya berubah.....bukan lagi sorot mata yang sedih, melainkan sorot mata seorang ibu yang penuh perhatian dan keteguhan.
"Tunggu sebentar, Nak. Jangan pergi dulu," panggil Bu Lilis pelan. Ia menarik tangan Aini kembali, lalu membalikkan telapak tangan kanan wanita muda itu.
Dengan jari-jari yang sedikit gemetar Bu Lilis mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku baju bagian dalamnya. Sebuah cincin emas, ukurannya tidak terlalu besar, berkilau ditempa matahari sore. . Di bagian permukaannya terukir motif bunga yang sudah agak lusuh dimakan waktu, bukti bahwa benda itu sudah disimpan dan dirawat bertahun-tahun lamanya.
"Ini..." kata Bu Lilis lirih, sambil menyelipkan cincin itu ke jari manis Aini.
Aini terkejut bukan main. Ia segera menarik tangannya....menolak dengan tegas namun tetap sopan. Wajahnya memucat melihat benda berharga itu.
"Ya Allah, Bu... Apa ini? Tidak, Bu! Saya tidak boleh menerima ini! Ini pasti barang berharga buat Ibu, simpan saja buat Ibu sendiri," tolak Aini cepat, menggelengkan kepalanya berulang kali.
Matanya membelalak tak percaya. Ia tahu betul, Bu Lilis hanyalah seorang pemulung yang hidup pas-pasan, mengandalkan apa yang didapat dari jalanan. Barang emas seperti ini pasti adalah satu-satunya harta berharga yang tersisa milik wanita tua itu.
Bu Lilis tidak menyerah. Ia kembali meraih tangan Aini, kali ini lebih kuat, memaksa agar wanita muda itu tidak menarik diri lagi. Matanya menatap lurus ke manik mata Aini, penuh dengan rasa kasih sayang.
"Dengar Ibu baik-baik, Nak," ucap Bu Lilis dengan suara serius namun lembut.
"Cincin ini pemberian mendiang suamiku. Dulu saat kami masih muda, saat dia masih bekerja sebagai kuli bangunan, dia menabung berbulan-bulan hanya untuk membelikan ini buatku. Ini kenangan satu-satunya yang tersisa darinya. Sudah puluhan tahun aku simpan, aku pakai saat sedih, saat senang, dan saat aku merasa sendirian."
Aini terharu mendengarnya, air matanya kembali menetes. "Kalau begitu, Bu... ini makin berharga. Ini kenangan Ibu, warisan Almarhum Suami Ibu. Saya tidak mungkin ambil ini. Saya tidak mau merampas kenangan satu-satunya milik Ibu."
Bu Lilis menggeleng tegas, lalu kembali berusaha memasangkan cincin itu ke jari Aini, dan kali ini ia tidak memberi kesempatan untuk menolak lagi.
"Siapa bilang kamu merampasnya? Justru Ibu yang memberikan ini kepadamu karena Ibu sayang sama kamu, sama seperti Ibu sayang sama anak sendiri," Bu Lilis berkata dengan nada memaksa namun penuh kelembutan. Ia menggenggam tangan Aini yang kini sudah terpasang cincin itu, menekannya erat.
"Ibu tahu betul ke mana kamu akan pergi, Nak. Kamu akan pergi ke tempat yang jauh, asing, tak ada kenalan, tak ada sanak saudara. Kamu akan berjalan kaki, akan bekerja berat, mencari nafkah sambil menggendong bayi dan menggandeng anak kecil. Ibu tidak mau... Ibu tidak mau melihat kalian kelaparan, Ibu tidak mau melihat kalian terlantar dan berlunta-lunta di jalanan tanpa uang di saku."
Suara Bu Lilis bergetar menahan tangisnya yang kembali meluap. Ia menunjuk cincin emas di jari Aini.
"Ini bukan sekadar emas, Aini. Ini adalah doa Ibu. Ini adalah modal buat kalian. Kalau nanti kau butuh uang buat beli makan, buat sewa tempat berteduh, buat keperluan anak-anak... kau jual atau gadaikan saja ini. Ini cukup bernilai, Nak. Ini bisa menolong kalian saat kalian benar-benar terdesak dan tidak ada jalan lain. Ibu sudah tua, Nak. Ibu makan seadanya, tidur seadanya. Harta ini tak ada gunanya buat Ibu kalau hanya disimpan di saku, sementara anak-anak yang Ibu sayang kelaparan di luar sana."
Bu Lilis menangkupkan wajah Aini di kedua telapak tangannya yang kasar namun hangat. Ia menatapnya lekat-lekat, seolah ingin menanamkan pesan itu jauh ke dalam hati Aini.
"Ibu paksa kau terima ini, bukan karena Ibu ingin membuang barang ini, tapi karena Ibu ingin memastikan kau dan anak-anakmu selamat. Anggap ini bekal dari Ibu. Anggap ini sebagai warisan dari Ibu dan Almarhum Bapak buat kalian. Jangan pernah kembalikan lagi ke Ibu, dan jangan pernah lepaskan sampai kau benar-benar butuh. Ingat, Nak... bertahanlah, berjuanglah, dan bahagiakan anak-anakmu. Itu saja balasan yang Ibu minta."
Aini tak sanggup lagi menolak. Kata-kata tulus dan kasih sayang yang begitu besar dari wanita tua itu membuat pertahanan dirinya runtuh seketika. Ia terisak hebat, lalu memeluk Bu Lilis erat....sangat erat! membenamkan wajahnya di bahu wanita itu.
"Bu... Ibu... Terima kasih... Terima kasih banyak... Ibu malaikat yang dikirim Tuhan buat kami... Saya janji... saya akan jaga ini baik-baik. Saya janji akan pakai ini hanya untuk kebutuhan anak-anak," isak Aini di sela-sela tangisnya.
Syafa pun ikut memeluk keduanya, menangis. Mereka saling berpelukan disaksikan semburat merah yang masih tersisa di ufuk barat.
Bu Lilis melepaskan pelukan itu perlahan, lalu mengusap air mata di pipi Aini dan Syafa. Ia tersenyum, senyum yang getir namun penuh ketenangan.
"Sudah... jangan menangis lagi. Nanti matanya bengkak, susah jalan jauh. Sekarang pergilah. Matahari sudah tenggelam. Pergilah cari tempat baru yang aman. Dan ingat... di mana pun kalian berada, rumah tua ini tetap rumahmu. Ibu akan selalu menunggu kabar baik dari kalian."
Aini mengangguk pelan. Ia mengecup tangan Bu Lilis berulang kali dengan penuh hormat, mengecup kening wanita itu sebagai tanda bakti seorang anak pada ibunya.
Cincin emas yang melingkar di jari manisnya....bukan hanya sekadar logam berharga, tapi lambang cinta kasih seorang Ibu yang tulus.....yang sarat dengan do'a.
Aini kembali menggenggam tangan Syafa dan membenarkan gendongan Satria. Ia melangkah keluar dari gubuk kecil itu, membawa serta bekal cinta yang tak ternilai harganya.
Bu Lilis kembali berdiri diam di ambang pintu, mengusap matanya yang basah, menatap kepergian mereka sampai bayangan itu hilang sepenuhnya. Hatinya sakit, namun ia lega. Ia sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang ibu. Ia sudah memberikan perlindungan, kasih sayang, dan bekal bagi mereka untuk bertahan hidup.
Dan di jari Aini, cincin itu berkilau samar diterangi cahaya remang senja, menjadi pengingat abadi bahwa di dunia yang keras ini, masih ada kebaikan hati yang tulus, yang memberi tanpa mengharap kembali, dan mencintai tanpa syarat.
Angin malam mulai bertiup pelan membawa langkah kaki tiga anak manusia ke tempat yang belum bisa ditentukan.....
******