NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Api Pertama Sang Pewaris

Tiga hari telah berlalu sejak tragedi di Pelabuhan Timur.

Namun bagi Arda, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Setiap malam, sebelum tidur, bayangan tentang lima anak yang dibunuh Victor Nero selalu muncul di kepalanya.

Ia tidak mengenal mereka.

Tidak pernah berbicara dengan mereka.

Bahkan tidak pernah melihat wajah mereka semua yg mati pada hari itu di pelabuhan.

Tetapi entah kenapa, kematian mereka terasa sangat dekat serta berat bagi arda.

Mungkin karena usia mereka hampir sama dengannya jadi kematian mereka terasa berat.

Mungkin ini karena untuk pertama kalinya Arda menyadari bahwa dunia tempat ayahnya hidup adalah dunia yang benar-benar kejam.

Atau mungkin karena jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa jika malam kematian Leon berjalan sedikit berbeda...

Dirinya bisa saja bernasib sama.

Pikiran itu membuatnya sulit tidur.

Dan pagi itu, sebelum matahari muncul sepenuhnya di balik cakrawala, Arda sudah berada di halaman belakang rumah persembunyian.

Udara masih dingin.

Kabut tipis menyelimuti rerumputan yang basah oleh embun.

Di tengah halaman berdiri sebuah samsak latihan tua yang telah digunakan bertahun-tahun oleh anggota Valdarez.

Arda berdiri di depannya.

Diam.

Menatap benda itu selama beberapa detik.

Lalu...

BUK!

Pukulannya menghantam samsak.

Tidak terlalu kuat.

Namun cukup keras untuk membuatnya bergoyang.

Arda menarik napas.

Kemudian memukul lagi.

BUK!

BUK!

BUK!

Semakin lama pukulannya semakin cepat.

Semakin keras.

Dan semakin dipenuhi emosi yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

Ia tidak sedang berlatih.

Ia sedang melampiaskan kemarahan.

Darius yang baru keluar rumah menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan itu.

Pria bertubuh besar tersebut berdiri beberapa meter dari Arda sambil memperhatikan dalam diam.

Ia tidak langsung mendekat.

Tidak langsung berbicara.

Karena ia tahu anak itu sedang berusaha melawan sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri.

Baru setelah beberapa menit, Darius berjalan menghampiri.

"Kau bangun lebih pagi daripada penjaga malam."

ucapnya santai.

Arda menghentikan pukulannya.

Keringat mulai membasahi dahinya.

"Aku tidak bisa tidur."

jawabnya jujur.

Darius mengangguk pelan.

"Aku sudah menebaknya."

Keheningan muncul di antara mereka.

Hanya suara burung dan desiran angin pagi yang terdengar.

Kemudian Arda berbicara.

"Apa kau pernah terbiasa dengan semua ini?"

tanyanya.

Darius mengernyit.

"Dengan apa?"

"Dengan kematian."

Pertanyaan itu membuat ekspresi Darius berubah.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Melainkan sedih.

Sedikit.

Hanya sedikit.

Namun Arda bisa melihatnya.

"Tidak."

jawab Darius akhirnya.

"Orang yang terbiasa dengan kematian biasanya sudah kehilangan sebagian dirinya."

Arda terdiam.

Jawaban itu berbeda dari yang ia bayangkan.

"Aku pikir orang sepertimu sudah kebal."

ucapnya.

Darius tertawa kecil.

"Itu karena aku tampan."

Arda mendengus.

"Tidak lucu."

"Aku tahu."

Kemudian wajah Darius kembali serius.

"Aku masih mengingat semua orang yang pernah mati di depanku."

katanya.

"Teman. Musuh. Orang tidak bersalah."

Ia memandang ke arah langit yang mulai berubah terang.

"Bedanya, aku belajar tetap berjalan meski mengingat mereka."

Arda tidak menjawab.

Namun kata-kata itu tertanam dalam benaknya.

"Kalau kau ingin menjadi kuat..."

lanjut Darius.

"...maka berhentilah memukul samsak seperti orang marah."

Arda menoleh.

"Lalu?"

"Belajar."

jawab Darius.

"Benar-benar belajar."

Latihan dimulai.

Dan hari itu jauh lebih berat daripada biasanya.

Darius tidak memberi kesempatan sedikit pun.

Ia memperbaiki posisi kaki Arda.

Cara menjaga keseimbangan.

Cara mengangkat tangan.

Cara membaca gerakan lawan.

Bahkan cara bernapas.

"Kau terlalu tegang."

ucap Darius.

Arda mengatur ulang posisinya.

"Karena kau terus menjatuhkanku."

"Karena kau memberi kesempatan."

jawab Darius.

Beberapa detik kemudian...

BRUK!

Arda kembali jatuh ke tanah.

Lumpur menempel di pakaiannya.

Ia mengumpat pelan.

Darius justru tertawa.

"Bangun."

ucapnya.

Arda berdiri.

Menyerang lagi.

Dan kembali jatuh.

BRUK!

"Bangun."

Arda bangkit lagi.

BRUK!

Selama hampir dua jam latihan berlangsung seperti itu.

Jatuh.

Bangun.

Jatuh lagi.

Bangun lagi.

Sampai akhirnya tubuh Arda dipenuhi lumpur dan memar.

Namun ia tidak mengeluh.

Tidak sekali pun.

Saat mereka beristirahat, Darius melemparkan sebotol air.

Arda menangkapnya.

Kemudian duduk di tangga kayu belakang rumah.

Napasnya masih berat.

"Kau tahu..."

ucap Darius.

"Kau mulai mirip ayahmu."

Arda langsung menoleh.

"Benarkah?"

Darius mengangguk.

"Terutama bagian keras kepalanya."

Arda tersenyum tipis.

Sudah lama ia tidak mendengar cerita tentang Leon.

"Ayah seperti apa saat seusiaku?"

tanyanya.

Darius tertawa cukup keras.

Pertanyaan itu rupanya membangkitkan banyak kenangan.

"Sangat menyebalkan."

jawabnya.

"Itu jawabanmu setiap kali aku bertanya."

protes Arda.

"Karena memang benar."

Darius menggeleng sambil tersenyum.

"Dulu ayahmu selalu ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal."

katanya.

"Kalau kalah latihan, dia akan datang lebih pagi keesokan harinya."

"Kalau gagal melakukan sesuatu, dia akan mencoba dua kali lebih keras."

"Seperti aku?"

tanya Arda.

Darius memperhatikannya.

Kemudian tersenyum.

"Ya."

jawabnya.

"Sangat mirip."

Sementara itu, di dalam rumah...

Kael dan Ravian sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar.

Peta kota terbentang di atas meja.

Beberapa wilayah telah diberi tanda merah.

Dan jumlahnya terus bertambah.

"Distrik Utara hilang."

ucap Ravian.

"Gudang Barat juga."

Kael mengangguk pelan.

Ia sudah membaca laporannya.

Namun mendengar langsung tetap terasa menyakitkan.

Karena setiap wilayah yang jatuh berarti kekuatan Victor Nero bertambah.

"Marcus memberi mereka terlalu banyak informasi."

kata Ravian.

Kael tidak membantah.

Mereka terlambat menyadari pengkhianatan itu.

Dan sekarang mereka membayar harganya.

"Menurutmu ada orang lain?"

tanya Ravian.

Kael terdiam cukup lama.

Pertanyaan itu terus menghantuinya sejak Marcus kabur.

Karena beberapa kebocoran informasi terasa terlalu rapi.

Terlalu tepat.

Seolah Marcus tidak bekerja sendirian.

"Aku tidak tahu."

jawab Kael.

"Dan itu yang membuatku khawatir."

Ravian menghela napas.

Untuk pertama kalinya sejak kematian Leon, organisasi Valdarez benar-benar berada di ujung tanduk.

Menjelang sore, latihan akhirnya selesai.

Tubuh Arda terasa sakit di mana-mana.

Namun untuk pertama kalinya sejak tragedi Pelabuhan Timur, pikirannya sedikit lebih tenang.

Ia merasa melakukan sesuatu.

Bukan hanya bersembunyi.

Bukan hanya menunggu.

Malam harinya ia pergi ke perpustakaan kecil.

Tempat yang sering ia gunakan untuk menyendiri.

Saat sedang membaca, Elena datang membawa dua cangkir teh hangat.

"Boleh aku duduk?"

tanyanya.

Arda mengangguk.

Mereka menikmati keheningan selama beberapa saat.

Kemudian Elena berbicara.

"Darius bilang kau berlatih seperti orang kesurupan."

Arda tertawa kecil.

"Itu terdengar seperti Darius."

Elena tersenyum.

Namun senyumnya perlahan memudar.

"Kau berubah."

ucapnya.

Arda menatap cangkir tehnya.

"Apa itu buruk?"

tanyanya.

"Tidak."

jawab Elena.

"Tapi perubahan bisa menjadi berbahaya kalau kau tidak hati-hati."

Arda mengernyit.

"Maksudmu?"

Elena menatapnya dengan lembut.

"Aku tahu kau marah."

katanya.

"Aku juga marah saat kehilangan orang yang kucintai."

Untuk sesaat, Arda melihat kesedihan yang selama ini disembunyikan wanita itu.

"Aku hanya tidak ingin melihatmu berubah menjadi monster demi membalas monster lain."

lanjut Elena.

Kalimat itu membuat Arda terdiam lama.

Karena jauh di dalam dirinya...

Ia mulai menyadari bahwa kemarahan memang tumbuh setiap hari.

Dan ia tidak tahu akan membawanya ke mana.

Malam semakin larut.

Di atas sebuah gedung tua yang menghadap ke rumah persembunyian...

Seorang pria berdiri sendirian.

Tubuhnya dibalut mantel hitam panjang.

Wajahnya tertutup topeng gelap.

Dari kejauhan ia mengawasi rumah itu.

Mengawasi seorang anak yang belum menyadari takdirnya sendiri.

Perlahan pria itu mengeluarkan sebuah foto tua dari sakunya.

Foto Leon Valdarez.

Ia menatap foto tersebut cukup lama.

Kemudian tersenyum tipis.

"Sifat keras kepalamu ternyata diwariskan."

gumamnya pelan.

Angin malam berembus.

Membuat mantel hitamnya bergerak perlahan.

"Api itu mulai menyala."

ucapnya.

"Dan ketika waktunya tiba..."

Tatapannya mengarah ke jendela kamar Arda.

"...seluruh kota akan mengetahui siapa pewaris sebenarnya."

Di dalam rumah, Arda berdiri di depan jendela.

Menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.

Ia tidak tahu bahwa seseorang sedang mengawasinya.

Ia tidak tahu bahwa perang semakin dekat.

Namun malam itu ia mengetahui satu hal.

Ia tidak ingin selamanya menjadi anak yang terus dilindungi.

Dan untuk pertama kalinya sejak kematian Leon...

Api dalam dirinya benar-benar mulai menyala.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!