NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengecualian

"Alamat rumah kamu.”

Diana tersadar cepat.

“Eh?”

Niel melirik sekilas.

“Kalau kamu tidak bilang alamat rumahmu, saya akan terus menyetir.”

Diana langsung gugup.

“Ah, maaf… di Jalan Aster nomor empat puluh tiga.”

Niel mengangguk singkat.

Hening kembali menyelimuti mobil mereka.

Diana diam-diam melirik profil wajah Niel dari samping.

Pria itu terlalu dingin, tapi tindakannya justru berbanding terbalik dengan ekspresinya.

Air minum tadi siang.

Memastikan dirinya tidak kelelahan.

Dan sekarang mengantarnya pulang.

Diana mengerutkan kening kecil.

“Apa memang dia perhatian ke semua orang…?” gumam Diana dalam hati.

“Tanya saja kalau penasaran.”

Deg!

Diana langsung membelalak dan menoleh cepat ke arah Niel.

“Hah?”

Niel tetap fokus menyetir.

“Kamu menatap saya dari tadi.”

Wajah Diana langsung memerah.

“A-aku tidak…”

“Kamu buruk dalam berbohong.”

Diana langsung menunduk malu.

Niel menahan senyum tipis yang nyaris terlihat.

Sudah beberapa bulan berlalu, tapi wanita itu tetap berhasil membuat dunianya yang tenang terasa kacau.

Tak selang lama, mobil Niel berhenti di alamat yang diberikan Diana. Rumah itu tampak sunyi, meski lampu di dalam sudah menyala.

“Ini rumah kamu?”

Diana menggeleng pelan. “Saya hanya menyewa rumah ini, Pak.”

Niel menoleh singkat. “Jangan panggil saya Pak.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi-tapian untukmu,” potong Niel cepat, nadanya dingin dan tak memberi ruang untuk dibantah.

Diana menghela napas pelan sambil menatap Niel dengan sedikit pasrah. “Baiklah. Terima kasih atas tumpangannya.”

Diana mulai membuka pintu mobil dan turun.

Sementara itu, Niel berpikir keras mencari alasan agar bisa tetap dekat dengan Diana lebih lama.

“Diana.”

Diana yang baru beberapa langkah menjauh langsung menoleh. “Iya?”

Niel menatapnya datar sebelum berkata singkat,

“Aku ingin buang air kecil.”

Diana langsung membeku di tempat.

“Hah?”

Niel tetap duduk tenang di kursi kemudi dengan wajah datarnya yang khas, seolah baru saja mengatakan hal biasa.

“Aku ingin ke toilet.” ulangnya singkat.

Diana berkedip beberapa kali, masih mencoba mencerna.

“Di rumah saya?” tanyanya pelan, terdengar ragu.

Niel menoleh sekilas.

“Di sekitar sini ada toilet umum yang masih buka?” tanyanya balik datar.

Diana langsung terdiam. Lingkungannya memang sudah cukup sepi di malam hari, beberapa toko di sekitar juga sudah tutup.

“Tidak ada sih…” gumam Diana jujur.

“Kalau begitu?” tanya Niel singkat.

Diana menggigit bibir bawahnya pelan. Menolak rasanya tidak enak karena pria itu baru saja mengantarnya pulang dengan selamat.

“Baiklah… kalau begitu silakan,” ucap Diana akhirnya.

Niel mengangguk singkat lalu turun dari mobil.

Diana berjalan lebih dulu. Saat ia hendak membuka pagar, Kartika lebih dulu membukanya dari dalam.

“Ibu…” ucap Diana sedikit gugup.

“Kamu sudah pulang?” tanya Kartika.

“Iya, Bu,” jawab Diana pelan.

Tatapan Kartika kemudian beralih pada pria yang berdiri di belakang Diana.

“Dia siapa, Na?”

“Dia…”

“Perkenalkan, saya Niel. Teman Diana,” potong Niel lebih dulu dengan wajah tenang. “Saya ingin numpang toilet sebentar.”

Kartika menatap Niel dari ujung kepala sampai kaki. Penampilannya terlalu rapi untuk sekadar disebut teman biasa, terlebih mobil mewah yang terparkir di depan rumah kontrakan mereka cukup menarik perhatian.

“Teman?” ulang Kartika dengan nada penuh selidik.

Diana langsung salah tingkah.

“Ibu, dia hanya mengantarku pulang karena taksi online yang kupesan dibatalkan di tengah jalan,” jelasnya cepat.

Kartika mengangguk pelan, meski tatapannya masih curiga pada Niel.

“Kalau begitu silakan masuk,” ucap Kartika akhirnya sambil membuka pintu lebih lebar.

“Terima kasih,” balas Niel singkat.

Begitu masuk ke dalam rumah sederhana itu, tatapan Niel menyapu sekitar ruangan. Tidak luas, namun terasa hangat dan bersih.

“Toiletnya di sebelah sana,” tunjuk Kartika pada pintu kamar mandi.

Niel mengangguk lalu berjalan ke sana.

Begitu pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi, Kartika langsung menarik lengan Diana pelan.

“Siapa dia sebenarnya?” bisiknya cepat.

“Ibu…” Diana menghela napas. “Dia bos dari klien besar toko kami.”

Mata Kartika membulat.

“Bos besar?”

Diana mengangguk kecil.

“Iya.”

Kartika langsung menatap Diana yang sudah dia anggap putrnya sendiri dengan ekspresi sulit dijelaskan.

“Dan dia nganter kamu pulang sampai ke rumah?”

“Ibu, jangan berpikir aneh-aneh dulu,” desah Diana pelan.

Kartika justru menyipitkan mata.

“Ibu cuma penasaran. Wajahnya dingin sekali, tapi mau repot-repot antar kamu pulang.”

Diana terdiam.

Kalimat itu justru membuat pikirannya kembali kacau.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka.

Niel keluar dengan wajah setenang biasanya.

“Terima kasih,” ucapnya singkat.

Kartika tersenyum ramah.

“Mau minum dulu?”

“Boleh. Kebetulan saya haus.”

Mata Diana melebar. Ia pikir Niel akan menolaknya.

“Baiklah, tunggu sebentar. Ibu akan buatkan teh hangat untukmu,” ucap Kartika.

“Bu, biar aku saja yang buatkan teh hangatnya,” ujar Diana.

Kartika menggeleng pelan. “Tidak usah, Ibu saja. Lebih baik kamu mandi dulu, pasti kamu sudah gerah,” ucapnya sambil mengelus perut Diana dengan lembut.

“Baiklah.”

Kartika pun melangkah menuju dapur.

“Niel, aku izin ke kamar dulu.”

Niel hanya mengangguk singkat.

Tak lama kemudian, Kartika datang membawa secangkir teh hangat.

“Silakan diminum.”

“Terima kasih,” balas Niel singkat sebelum mulai meneguk tehnya. Lalu ia bertanya datar, “Diana tinggal bersama Anda?”

Kartika menggeleng. “Tidak. Saya tinggal di rumah sebelah. Kebetulan saya sering kemari untuk menyalakan lampu saat Diana belum pulang kerja,” jawabnya.

Niel mengangguk singkat.

Tak lama, Diana keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar.

Niel menoleh, lalu seketika terpaku. Diana tampak cantik alami tanpa riasan sedikit pun di wajahnya.

Cantik, batinnya.

Kartika yang memperhatikan ekspresi Niel hanya tersenyum tipis.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Diana lalu duduk di dekat Kartini.

“Tidak masalah,” jawab Niel singkat.

Kartika menatap Niel bergantian dengan Diana, lalu tersenyum samar seperti memahami sesuatu.

“Kalau begitu, saya tinggal kalian dulu sebentar. Ibu mau cek kompor di rumah sebelah,” ucap Kartika sengaja memberi ruang.

“Ibu…” Diana langsung menatap Kartika panik.

Kartika pura-pura tak melihat tatapan itu.

“Tenang saja, cuma sebentar.”

Setelah Kartika pergi, suasana ruang tamu mendadak terasa canggung.

Diana memainkan ujung bajunya pelan.

“Maaf kalau rumahku sederhana.”

Niel yang sedang meletakkan cangkir tehnya langsung menatap Diana.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu.”

Diana terdiam.

Niel menatap sekeliling rumah itu sekali lagi. Meski kecil, tempat itu terasa nyaman. Jauh berbeda dengan rumah mewah yang selalu terasa dingin baginya.

“Kamu tinggal sendiri?” tanya Niel datar.

Diana mengangguk kecil.

 “Iya.”

“Keluarga kamu?”

Senyum Diana memudar perlahan.

 “Mereka sudah tidak ada.”

Tatapan Niel berubah. Untuk pertama kalinya wajah dinginnya terlihat sedikit melunak.

“Maaf.”

Diana menatap Niel cukup lama. Ia tidak menyangka pria sedingin itu bisa meminta maaf secepat itu.

“Tidak apa-apa. Itu sudah lama,” jawabnya pelan.

Tiba-tiba—

Brrakkk!

Suara petir menggelegar keras dari luar rumah.

Diana refleks menoleh ke arah jendela.

Tak lama kemudian hujan turun deras.

Niel melirik keluar rumah, lalu menghela napas pelan.

“Hujan.”

Diana ikut melihat ke luar.

“Sepertinya sangat deras.”

Niel bangkit dari duduknya.

“Aku harus pulang.”

Diana ikut berdiri.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang… dan untuk hari ini juga.”

Niel menatap Diana dalam diam beberapa detik.

“Apa kamu selalu seformal ini kepada orang yang menolongmu?”

Diana mengerutkan kening kecil.

 “Lalu saya harus bagaimana?”

Niel sedikit membungkuk mendekat.

“Setidaknya simpan nomor saya.”

Deg!

Diana membeku.

“Hah?”

Niel mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya pada Diana.

“Ketik nomor kamu.”

Diana menatap ponsel itu bergantian dengan wajah Niel.

“Untuk apa?”

“Kalau taksi onlinemu dibatalkan lagi,” jawab Niel datar. “Hubungi aku.”

Jantung Diana berdetak lebih cepat.

Pria ini benar-benar sulit ditebak.

Dengan tangan sedikit gugup, Diana akhirnya mengetik nomornya.

Niel mengambil kembali ponselnya setelah selesai.

“Bagus.”

Ia berjalan menuju pintu.

Sebelum benar-benar keluar, langkahnya berhenti.

Ia menoleh setengah badan ke arah Diana.

“Dan satu hal lagi.”

Diana menatapnya bingung.

 “Apa?”

Niel menatapnya lekat.

“Jangan terlalu mudah membiarkan pria masuk ke rumah kamu.”

Diana membelalak.

“Bukannya kamu juga pria?!”

Sudut bibir Niel terangkat tipis—senyum paling jelas yang pernah Diana lihat darinya.

“Itu pengecualian.”

Setelah mengatakan itu, Niel benar-benar pergi meninggalkan Diana yang masih berdiri mematung dengan wajah merah dan jantung berdebar tidak karuan.

“Pria aneh…” gumam Diana pelan sambil memegang dadanya.

Namun tanpa sadar, bibirnya ikut tersenyum kecil.

°°••°°

Di hotel tempat Iren menginap di kota Velmora, ia terus memikirkan cara untuk menjatuhkan Diana. Ia tidak terbiasa hanya diam setelah rencana pertamanya gagal. Karena itu, ia harus segera menyusun rencana kedua.

“Iren, kamu harus berpikir. Wanita kampung itu tidak boleh bahagia.”

Iren terus mondar-mandir sambil memutar otak mencari ide. Hingga tak lama kemudian, sebuah rencana jahat muncul di kepalanya.

Ia melangkah ke arah jendela. Pemandangan kota Velmora di malam hari langsung terlihat jelas dari sana.

“Kali ini, aku tidak boleh gagal.”

1
Adriana Bora
sangat2 bagus
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!