Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semburat Senyum dan Taruhan Baru
Hari Rabu membawa atmosfer yang jauh lebih bersahabat di SMA Pelita Bangsa. Koridor sekolah tampak ramai oleh murid-murid yang berhamburan keluar kelas begitu bel istirahat kedua berbunyi. Di antara kerumunan itu, Alisha melangkah santai berdampingan dengan Amelia yang sejak tadi masih asyik menceritakan kelanjutan kisah "parkiran" bersama Raihan.
Namun, langkah Alisha mendadak melambat saat matanya menangkap siluet cowok jangkung yang sedang bersandar di pilar dekat mading sekolah. Reyshaka. Cowok itu sedang mengobrol dengan beberapa anak OSIS, tetapi begitu menyadari kehadiran Alisha, sepasang mata tajamnya langsung mengunci pandangan.
Shaka berpamitan pendek pada teman-temannya, lalu melangkah lebar menghampiri Alisha. Amelia yang sadar diri langsung menyenggol lengan Alisha dengan kedipan mata jail. "Gue ke kantin duluan ya, Sha! Dadah pawang fisika!" seru Amelia sengaja melarikan diri sebelum Shaka sampai.
Alisha menghentikan langkahnya, melipat tangan di dada saat Shaka berhenti tepat satu meter di depannya. "Apa? Mau pamer nilai seratus lagi?" tembak Alisha langsung, merujuk pada pesan WhatsApp menyebalkan tadi malam.
Shaka terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Gak perlu pamer. Muka lo barusan udah cukup membuktikan kalau lo semalaman kepikiran rumus yang gue kirim, kan?"
"Dih, percaya diri lo tinggi banget ya, Reyshaka!" ketus Alisha, walau sudut bibirnya kedutan menahan senyum. "Gue semalam tidur nyenyak, ya. Dan asal lo tahu, materi bab tiga yang lo bilang gampang itu, udah gue cari jalan pintasnya yang cuma butuh tiga baris pengerjaan. Otak lo kelamaan mikir kalau pakai cara panjang kemarin."
Shaka menaikkan sebelah alisnya, sorot matanya berkilat penuh minat. Sifat kompetitif Alisha yang menyala-nyala seperti inilah yang paling Shaka sukai. Singa betinanya sudah bener-bener kembali ke arena pertandingan.
Shaka maju selangkah, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan tinggi Alisha. "Oh ya? Menarik. Kebetulan banget, Bu Retno baru aja ngasih tahu kalau besok pagi kelas kita bakal diadakan Ujian Praktik Fisika dadakan di laboratorium. Nilainya bakal langsung dimasukkan buat dongkrak rapor semester."
Mendengar kata 'Ujian Praktik', insting juara Alisha langsung aktif. Ujian praktik Fisika terkenal ribet karena butuh ketelitian menghitung data alat peraga, bukan cuma menghafal rumus. Ia mendongak menatap Shaka tanpa ada rasa minder sedikit pun. "Terus? Lo mau nantang gue?"
"Gimana kalau kita bikin taruhan?" tawaran Shaka meluncur dengan nada meremehkan yang sengaja dibuat untuk memancing Alisha. "Siapa yang dapet nilai paling tinggi di ujian praktik besok... berhak minta satu permintaan apa pun yang gak boleh ditolak."
Alisha terdiam sejenak, menimbang-nimbang taruhan tersebut. Detak jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena takut kalah, melainkan karena tantangan ini terasa begitu mendebarkan setelah semua kepenatan kemarin.
"Satu permintaan apa pun?" ulang Alisha memastikan.
"Apa pun," jawab Shaka mantap, sebuah senyuman misterius tersungging di bibir tipisnya. "Kenapa? Takut kalah dan terpaksa menuruti kemauan gue?"
Alisha mendengus remeh, ia menegakkan bahunya, menatap lurus ke dalam manik mata Shaka dengan keyakinan penuh. "Gak ada kata takut di dalam kamus gue, Shak. Siapin aja mental lo buat jadi babu gue setelah ujian praktik besok selesai!"
Setelah melontarkan kalimat menantang itu, Alisha berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Shaka dengan dagu terangkat anggun.
Shaka tidak mengejar. Ia tetap berdiri di koridor yang mulai sepi, menatap punggung Alisha yang kian menjauh. Senyum di wajah cowok itu perlahan melebar, menjadi sebuah senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan pada dunia. Taruhan ini sebenarnya bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar, melainkan cara Shaka untuk memastikan bahwa Alisha akan selalu menatap ke depan dengan kepala tegak, bersamanya.
Besok adalah hari pembuktian di laboratorium. Dan perang kecerdasan di antara mereka baru saja dimulai kembali.
Shaka masih berdiri di sana, memandangi langkah Alisha yang tegas dan percaya diri. Ia tidak sadar jika di balik pilar besar di ujung koridor, sepasang mata dengan eyeliner yang disapu tebal sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang nyalang.
Ivanka.
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu, menahan amarah yang mendidih melihat interaksi "manis" yang baru saja terjadi. Baginya, melihat Shaka menatap Alisha dengan tatapan selembut itu adalah sebuah penghinaan besar.
"Cih, sok jago banget sih cewek itu," desis Ivanka pelan, suaranya mengandung racun.
Seorang temannya, Siska, yang berdiri di samping Ivanka, menyenggol lengannya. "Van, lo masih peduli sama si Alisha itu? Biarin aja lah, paling besok pas ujian praktik fisika, dia juga bakal bikin kesalahan. Dia kan tipe yang kalau ditekan dikit langsung down."
Ivanka memutar bola matanya, menatap Siska dengan pandangan meremehkan. "Lo kurang paham, Sis. Alisha yang sekarang udah beda. Dia mulai dapet 'dukungan' dari Shaka. Kalau dibiarin terus, posisi gue di kelas bakal makin kesingkir. Gue gak bisa biarin dia menang taruhan atau dapat nilai sempurna besok."
Ivanka menyeringai jahat, sebuah rencana kotor mulai terbentuk di otaknya yang licik. Ia tahu besok akan diadakan ujian praktik Fisika di laboratorium. Tempat di mana alat-alat peraga sangat rentan jika sedikit saja diganggu.
"Ujian praktik besok di lab, kan?" tanya Ivanka sambil mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat. "Lab itu kan punya banyak celah. Kalau tiba-tiba alat peraga Alisha 'rusak' atau datanya berantakan pas dia lagi ngerjain, kira-kira gimana ya respon Shaka?"
Siska melirik Ivanka dengan wajah sedikit khawatir. "Lo mau ngapain, Van? Jangan aneh-aneh, kalau ketahuan Bu Retno, kita bisa diskors."
"Siapa yang bilang gue yang bakal lakuin sendiri?" Ivanka tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin dan tidak tulus. "Gue cuma mau mastiin kalau besok, singa betina itu bakal kena batunya. Dia pikir dia pinter karena sering bareng Shaka? Kita lihat aja nanti, seberapa hebat dia kalau harus ngerjain ujian praktik dengan alat yang... bermasalah."
Ivanka menatap punggung Alisha yang sudah menghilang di balik pintu kelas, lalu beralih menatap Shaka dengan tatapan posesif yang obsesif.
"Tunggu aja, Alisha. Besok, lo bakal tahu kalau tempat lo itu bukan di samping Shaka, tapi di bawah kaki gue," gumam Ivanka sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan dengan angkuh.