NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Hawa Es Mematikan

Area belakang Paviliun Penyimpanan Es selalu sepi menjelang siang hari. Tempat itu merupakan jalan setapak sempit yang diapit oleh tebing batu terjal di satu sisi dan jurang pembuangan es kotor di sisi lainnya. Tidak ada penjaga yang berpatroli di sini, karena tempat ini murni jalur lalu lintas bagi pelayan rendahan yang membuang sisa-sisa es yang sudah kehilangan energi spiritualnya.

Salju turun rintik-rintik, menambah kesan sunyi pada jalan setapak tersebut. Lin Ye berjalan dengan langkah gontai yang dibuat-buat, memanggul keranjang kosong di punggungnya. Dari luar, ia tampak tidak lebih dari seorang pemuda kurang gizi yang kelelahan setelah bekerja berjam-jam di dalam tambang es yang membekukan.

Namun, di bawah kulitnya yang terlihat pucat, darahnya berdesir hangat, dipenuhi tenaga berlimpah yang disuplai oleh inti Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya. Pendengarannya yang tajam menangkap suara decitan salju yang diinjak secara diam-diam, sekitar dua puluh tombak di belakangnya.

Ada seseorang yang mengikutinya sejak ia meninggalkan pelataran luar.

Langkahnya ringan, memancarkan riak Qi Spiritual tingkat rendah. Kultivator Alam Pengumpulan Qi Tingkat Kedua... maksimal Tingkat Ketiga awal. Kuali di Dantian-nya tidak bereaksi. Energi orang yang mengikutinya terlalu lemah untuk dianggap sebagai "makanan" oleh kuali purba tersebut.

Lin Ye sengaja melambatkan langkahnya saat ia mendekati bagian jalan yang agak membelok ke arah jurang. Tepat ketika ia berada di titik di luar jangkauan pandangan dari bangunan utama paviliun, sebuah bayangan melesat dari belakang tumpukan tong kayu.

"Berhenti di sana, Sampah!"

Suara melengking dan licik itu memecah kesunyian. Sosok pemuda bertubuh kurus namun memiliki otot kawat melompat dan mendarat tepat di depan Lin Ye, menghalangi jalannya. Pemuda itu memiliki raut wajah yang menyerupai tikus, dengan sepasang mata kecil yang memancarkan kekejaman.

Dia adalah Li Mang, kaki tangan Wang Hao.

Lin Ye menghentikan langkahnya. Ia menundukkan kepala sedikit, memainkan peran sebagai pelayan yang ketakutan. "Tuan... apakah ada yang bisa pelayan ini bantu?" tanyanya dengan suara serak yang sengaja dibuat bergetar.

Li Mang tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sumbang di tengah udara dingin. Ia melangkah maju perlahan, meretakkan buku-buku jarinya. Aura samar Qi berwarna putih pucat mulai menyelimuti kedua tangannya. Itu adalah tanda bahwa ia sedang mengalirkan Qi Spiritual ke otot-ototnya untuk memperkuat pukulannya.

"Bantu aku? Tentu saja kau bisa membantuku. Sayangnya, satu-satunya cara kau membantuku adalah dengan membiarkan tulang-tulangmu kupatahkan!" seringai Li Mang. "Jangan salahkan aku, Bocah Bisu. Salahkan nasibmu karena berani membuat Kakak Senior Wang Hao kesal pagi ini. Kakak Senior Wang adalah naga yang sedang tidur, dan kau hanyalah kutu yang kebetulan lewat di bawah lubang hidungnya."

Lin Ye tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada ujung sepatu Li Mang. Dalam hatinya, ia merasa lucu melihat arogansi kultivator tingkat bawah ini. Wang Hao disebut naga? Di matanya, Wang Hao hanyalah lintah yang beruntung, sementara Li Mang tidak lebih dari lalat kotoran.

"Kenapa kau diam? Ketakutan hingga kencing di celana?" ejek Li Mang, menikmati rasa superioritasnya. Di dunia kultivasi, menindas yang lemah adalah hiburan paling murah bagi mereka yang berada di kasta bawah.

Li Mang mengangkat tangan kanannya. Udara di sekitarnya sedikit beriak. "Kakak Senior Wang memesan 'kecelakaan'. Katanya, jalanan salju ini sangat licin. Wajar jika seorang pelayan fana terpeleset, jatuh ke tumpukan batu, dan kakinya hancur, bukan?"

Tanpa membuang waktu lagi, Li Mang melesat maju. Kecepatannya jauh melampaui manusia biasa. Ia menggunakan teknik bela diri dasar sekte luar, Tapak Penghancur Batu. Telapak tangannya mengarah langsung ke tempurung lutut kanan Lin Ye. Jika serangan bertenaga Qi Tingkat Ketiga ini mengenai sasaran, lutut manusia fana akan hancur menjadi bubur daging dan serpihan tulang seketika.

Wusss!

Angin dari pukulan itu menerpa ujung jubah Lin Ye. Namun, di mata Lin Ye yang telah mencapai Puncak Tingkat Keempat Bina Tubuh, gerakan Li Mang terasa sangat... lambat. Terlalu banyak celah. Kuda-kudanya tidak stabil, dan aliran Qi di lengannya kasar serta membuang-buang tenaga.

Tepat ketika telapak tangan Li Mang berjarak satu inci dari lututnya, Lin Ye bergerak.

Bukan gerakan mundur yang panik, melainkan sebuah sapuan tangan kiri yang sangat santai, seolah ia sedang mengusir lalat di musim panas.

Plak!

Tangan kiri Lin Ye mencengkeram pergelangan tangan kanan Li Mang yang sedang melaju kencang. Gerakan Li Mang berhenti seketika, tertahan di udara bagai membentur pilar baja seberat sepuluh ribu kati.

Seringai di wajah tikus Li Mang membeku. Matanya membelalak lebar, menatap pergelangan tangannya yang ditangkap dengan mudah oleh pelayan fana yang seharusnya hancur berkeping-keping.

"A-apa...?" Li Mang terbata-bata. Ia mencoba menarik tangannya, mengalirkan seluruh Qi di tubuhnya ke lengan kanannya, namun tangan Lin Ye bahkan tidak bergeser selebar rambut pun. Cengkeraman itu sangat kuat, menjepit tulangnya hingga berderak pelan.

"Kau bilang jalanan salju ini sangat licin?" suara Lin Ye yang sebelumnya serak dan bergetar kini berubah. Nadanya menjadi sangat tenang, dalam, dan sedingin udara di dasar tambang es.

Lin Ye perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya akhirnya bertemu dengan mata Li Mang. Saat melihat ke dalam sepasang mata hitam pekat yang tak memancarkan setitik pun emosi itu, Li Mang merasakan hawa dingin yang jauh lebih mengerikan daripada badai salju menyergap tengkuknya. Itu bukan tatapan manusia fana yang ketakutan; itu adalah tatapan predator purba yang sedang melihat mangsanya terjebak dalam jaring.

"K-kau... kau bukan fana! Kau menyembunyikan kultivasimu!" jerit Li Mang panik. Ia segera mengangkat tangan kirinya untuk memukul wajah Lin Ye dengan sisa tenaganya.

Lin Ye hanya mendengus pelan. Bersamaan dengan itu, ia melepaskan sebagian energi dari Sumsum Es Hitam yang baru saja ia serap tadi malam.

Tiba-tiba, suhu di sekitar tubuh Lin Ye anjlok secara ekstrem. Lapisan embun beku seketika menjalar dari telapak tangan kiri Lin Ye, merambat naik ke lengan Li Mang dengan kecepatan yang mengerikan.

Krek... Krek...

"AAARRRGGHH!"

Jeritan melengking Li Mang memecah udara, namun langsung tertahan di tenggorokannya. Hawa dingin dari Sumsum Es Hitam bukanlah hawa dingin biasa; itu adalah racun spiritual Yin. Hawa itu meresap ke dalam pori-pori kulit Li Mang, langsung membekukan Qi Spiritual di meridian lengan kanannya. Darahnya berhenti mengalir, dan daging lengannya seketika berubah warna menjadi ungu kehitaman, keras dan beku seperti es batu.

Rasa sakit dari radang beku spiritual itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Li Mang merasa ribuan jarum es menusuk hingga ke dalam sumsum tulangnya. Tubuhnya lumpuh oleh rasa sakit dan teror yang luar biasa. Pukulan tangan kirinya terhenti di udara, kehilangan semua kekuatannya.

"S-senior... ampuni aku... tolong ampuni pelayan rendah ini!" Li Mang merintih, air matanya langsung membeku di sudut matanya. Arogansinya hancur lebur tanpa sisa. Ia menyadari bahwa ia telah menendang pelat besi berduri yang sangat mematikan.

"Kau datang untuk mematahkan kakiku atas perintah Wang Hao. Kenapa sekarang memohon ampun?" bisik Lin Ye, nada suaranya sama sekali tidak meninggi, terdengar seperti bisikan malaikat maut. "Jika aku benar-benar manusia fana yang lemah, apakah kau akan berhenti saat aku menangis memohon ampun?"

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Li Mang tahu betul dirinya tidak akan pernah melepaskan mangsanya.

Lin Ye melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Li Mang yang sudah membeku kaku, lalu tangan kanannya bergerak secepat kilat.

Brak!

Lin Ye menendang tulang kering kaki kanan Li Mang tepat sasaran. Ia tidak menggunakan kekuatan penuhnya, karena jika ia melakukannya, kaki itu akan langsung meledak menjadi kabut darah. Ia mengatur kekuatannya sedemikian rupa hingga cukup untuk mematahkan tulang keringnya menjadi dua bagian dengan rapi.

Li Mang jatuh berlutut di salju, matanya nyaris melotot keluar karena kombinasi rasa sakit di lengan yang membeku dan kaki yang patah. Ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menjerit keras meminta tolong, namun Lin Ye lebih cepat.

Lin Ye mencengkeram rahang Li Mang dan menyalurkan secercah kecil hawa es langsung ke leher pemuda itu.

Hawa es itu membekukan pita suara Li Mang secara instan, tanpa membunuhnya. Jeritan Li Mang hanya keluar sebagai hembusan udara serak yang menyedihkan.

"Kau menginginkan kecelakaan. Aku akan mengabulkannya," ucap Lin Ye datar.

Dengan satu tangan, Lin Ye mengangkat tubuh Li Mang yang lemas dan membawanya ke dekat tumpukan balok es besar sisa galian yang tidak terpakai, terletak di pinggir jurang. Tumpukan itu memang tidak stabil dan siap runtuh kapan saja.

Lin Ye melempar tubuh Li Mang ke bawah tumpukan itu. Li Mang hanya bisa meronta pelan seperti cacing yang dibelah dua, matanya memancarkan keputusasaan dan permohonan ampun yang tak ada artinya. Lengan kanannya yang terkena racun es kini persis terlihat seperti lengan yang mengalami radang beku ekstrem akibat terjebak berjam-jam di suhu beku tanpa Qi pertahanan.

Dengan tenang, Lin Ye menendang fondasi tumpukan balok es tersebut.

Gemuruh!

Puluhan balok es raksasa, masing-masing seberat ratusan kati, longsor dan mengubur tubuh Li Mang. Terdengar suara tulang yang remuk teredam oleh tumpukan es. Lin Ye memastikan balok es terbesar jatuh tepat di atas kaki Li Mang yang sudah ia patahkan, menciptakan ilusi sempurna bahwa kaki itu hancur karena tertimpa runtuhan es.

Li Mang tidak mati. Kultivator Tingkat Ketiga memiliki energi kehidupan yang cukup untuk bertahan hidup di bawah reruntuhan itu selama beberapa jam sampai ada regu peronda yang menemukannya. Tapi masa depannya sudah tamat. Meridian lengan kanannya hancur total oleh racun es, pita suaranya rusak, dan kakinya remuk. Bahkan jika disembuhkan, dia hanya akan menjadi orang cacat yang trauma secara mental seumur hidupnya.

Jika Wang Hao atau Tetua sekte luar memeriksanya, mereka hanya akan menyimpulkan satu hal: Li Mang terlalu sombong, berjalan di area berbahaya tanpa memutar Qi pelindung, terkena longsoran balok es yang sangat dingin, dan menderita radang beku parah. Tidak akan ada yang percaya jika Li Mang—seandainya dia bisa menulis—mengklaim bahwa seorang pelayan tanpa meridian yang melakukannya.

Lin Ye berdiri di sana sejenak, memandangi tumpukan es tersebut. Hatinya sangat tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah. Di Benua Awan Merah, belas kasihan kepada musuh yang ingin mencelakaimu sama dengan menggali kuburanmu sendiri.

Ia mengambil keranjangnya yang jatuh, membersihkan sisa salju dari jubah abu-abunya, dan memastikan tidak ada riak energi yang tertinggal di udara.

Lin Ye berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu, langkah kakinya kembali terlihat gontai dan lemah, kembali menjadi debu yang tidak terlihat di bawah bayang-bayang Gunung Qingyun.

Wang Hao, batin Lin Ye dengan mata menyipit tajam. Anjing peliharaanmu telah selesai kuurus. Nikmatilah hari-harimu selagi kau bisa.

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!