Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARTU TELEPORTASI
Yang berdiri di hadapan mereka bukanlah Pedagang Lintas Dimensi biasa.
Rian menyadarinya hampir seketika.
Tatapannya tertuju pada panel transparan yang melayang di samping gerobak sang pedagang.
Panel itu berbeda.
Sangat berbeda.
Dalam ingatannya, para Pedagang Lintas Dimensi normal hanya menggunakan antarmuka yang disediakan Sistem Dunia.
Mereka tidak memiliki menu pribadi.
Tidak memiliki fitur khusus.
Dan tentu saja tidak memiliki kemampuan untuk mengubah harga barang sesuka hati.
Namun pedagang yang satu ini...
Memiliki jendela status miliknya sendiri.
Bahkan desainnya tampak lebih kuno dan kompleks dibandingkan milik Sistem.
Huruf-huruf emas yang terus berubah memenuhi panel tersebut.
Seolah sebuah hukum dunia yang berbeda sedang bekerja di sana.
Rian perlahan menarik napas.
'Pedagang tingkat tinggi...'
Atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan dari itu.
Meski begitu, efek panas dari cincinnya masih belum menghilang.
Sebaliknya, semakin dekat ia dengan gerobak tersebut, reaksi cincin itu semakin kuat.
Seolah benda yang dicari cincin itu berada tepat di depan matanya.
Tatapan Rian kembali tertuju pada satu barang.
Kartu berwarna hitam keperakan.
Di permukaannya terdapat simbol gerbang bercahaya yang terus berubah bentuk.
Kartu Teleportasi.
Salah satu item paling langka di masa depan.
Pada tahap awal kiamat, benda ini nyaris mustahil ditemukan.
Namun manfaatnya luar biasa.
Selama koordinat tujuan telah ditandai, pengguna dapat berpindah melintasi jarak yang sangat jauh dalam hitungan detik.
Di masa depan, guild-guild besar rela membantai satu sama lain demi mendapatkan kartu semacam itu.
"Harga yang sangat mahal..." gumam Rian dalam hati.
10 Kristal Evolusi Level 2.
Jumlah yang mustahil ia miliki saat ini.
Bahkan jika membunuh seluruh zombie di kota ini, belum tentu cukup.
Namun tetap saja...
Tatapannya terus tertarik pada kartu tersebut.
Pedagang tua itu tiba-tiba menyeringai.
"Hehehe..."
Suara tawanya membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"Berapa banyak uang yang kau miliki, manusia?"
Rian menoleh.
Pedagang itu sedang menatapnya.
"Tampaknya kau terus melirik kartu itu."
Suasana langsung menjadi hening.
Ridho dan yang lainnya ikut memandang Rian.
Sementara Rian sendiri tetap tenang.
Ia membuka inventaris cincinnya.
Jumlah yang tersisa tidak banyak.
Setelah berbagai pembelian dan pertarungan sebelumnya, kekayaannya jauh berkurang.
"Hanya dua ratus lima puluh Kristal Jiwa Level 1."
Jawabannya jujur.
Tidak ada gunanya berbohong pada makhluk seperti ini.
Pedagang itu mengusap dagunya.
"Hmmm..."
Tatapannya kemudian berpindah ke cincin di tangan kiri Rian.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi pedagang itu berubah sedikit.
Ada rasa penasaran.
Bahkan ketertarikan.
"Menarik."
Senyumnya semakin lebar.
"Cincinnya juga menarik."
Mata Rian menyipit.
Nalurinya langsung waspada.
Makhluk ini jelas Tahu sesuatu tentang cincin merchant ditangan Rian .
"Karena semuanya menarik..."
Pedagang itu menjentikkan jarinya.
Klik.
Panel status di udara bergetar.
Huruf-huruf emas berubah.
Kemudian—
Harga Kartu Teleportasi yang semula membuat Rian putus asa mulai berubah.
10 Kristal Evolusi Level 2
Menjadi...
250 Kristal Jiwa Level 1
"...!"
Mata Rian langsung membelalak.
Ridho hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Apa?!"
Nadia dan Rahma juga terkejut.
Perubahan harga itu terlalu ekstrem.
Bahkan tidak masuk akal.
Perbandingannya seperti menukar sebuah kastil dengan harga sepeda bekas.
Namun sang pedagang terlihat santai.
Seolah hal tersebut adalah sesuatu yang biasa.
"Diskon?" tanya Budi bingung.
"Tidak."
Rian langsung menjawab.
Tatapannya tidak pernah lepas dari pedagang itu.
Makhluk seperti ini tidak mungkin berbuat baik tanpa alasan.
Tidak ada yang gratis.
Tidak ada keberuntungan tanpa harga.
Pedagang tua itu tertawa kecil.
"Hehehe..."
"Manusia ini memang menarik."
Lalu ia menunjuk kartu tersebut.
"Mau beli?"
Rian terdiam beberapa detik.
Otaknya bekerja cepat.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Namun meskipun begitu...
Kartu Teleportasi tetaplah Kartu Teleportasi.
Nilainya terlalu besar untuk dilewatkan.
Kalau ia membiarkan kesempatan ini pergi, mungkin seumur hidup tidak akan pernah mendapatkannya lagi.
Akhirnya Rian mengangguk.
"Aku beli."
Senyum sang pedagang melebar.
"Transaksi diterima."
Ting!
Panel emas berkilau.
Dalam sekejap, seluruh 250 Kristal Jiwa milik Rian menghilang.
Sebagai gantinya, kartu hitam keperakan itu muncul di tangannya.
Saat jari Rian menyentuh kartu tersebut—
Cincin di tangan kirinya mendadak bergetar.
Lebih kuat daripada sebelumnya.
Wuusshh...
Aura hangat menyebar dari cincin menuju kartu.
Seolah keduanya saling mengenali.
Ekspresi santai pedagang itu akhirnya berubah.
"Hm?"
Tatapannya menjadi serius untuk pertama kalinya.
Ia memperhatikan kartu dan cincin tersebut dengan seksama.
Kemudian...
Senyumnya perlahan kembali muncul.
Namun kali ini berbeda.
Bukan senyum seorang pedagang.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik.
"Sungguh tidak terduga."
Gumamnya pelan.
"Aku mulai penasaran...dimana kamu mendapatkan cincin merchant ini"
Rian langsung merasa tidak nyaman.
Nalurinya berteriak agar segera pergi dari tempat ini.
Makhluk di depannya terlalu misterius.
Terlalu berbahaya.
Namun sebelum ia sempat berbicara—
Cincin di tangannya kembali memanas.
Tidak.
Kali ini bukan sekadar panas.
Melainkan seperti sedang menunjuk sesuatu.
Sesuatu yang berada di dalam gerobak sang pedagang.
Dan untuk pertama kalinya sejak mendapatkan cincin tersebut...
Rian merasakan dorongan yang hampir mustahil ditahan.
Perasaan bahwa di dalam gerobak itu terdapat benda yang jauh lebih berharga daripada Kartu Teleportasi yang baru saja ia beli.