NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Sore itu suasana kantor marketing terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang terlalu rendah, melainkan karena dua orang yang biasanya paling sering berdebat kini benar-benar berhenti saling bicara.

Setelah pertengkaran mereka sebelumnya, Shinta dan Andika seperti membuat garis pembatas yang tidak terlihat. Mereka hanya berbicara jika menyangkut pekerjaan. Tidak ada candaan. Tidak ada sindiran kecil. Tidak ada tatapan jahil dari Andika yang biasanya selalu berhasil membuat Shinta kesal setengah mati.

Kini semuanya hilang.

Shinta duduk di depan komputernya sambil mengetik laporan penjualan dengan wajah datar. Sesekali beberapa pegawai wanita meliriknya dengan rasa penasaran. Mereka sadar hubungan Shinta dan Andika berubah drastis.

Biasanya pria itu selalu punya alasan untuk mendekati Shinta.

Mulai dari meminjam stapler, meminta data yang sebenarnya sudah ada di email, sampai sengaja mengganggu saat Shinta sedang fokus bekerja.

Namun sekarang Andika bahkan tidak melirik ke arah meja Shinta.

Dan anehnya, keadaan itu justru terasa menyakitkan.

Shinta menarik napas pelan.

Dia sudah memutuskan untuk berhenti berharap. Semua yang terjadi selama ini membuatnya sadar bahwa Andika memang tidak pernah benar-benar serius. Pria itu hanya memainkan perasaannya sambil bernostalgia dengan masa lalu mereka.

Mungkin Andika hanya menikmati kenyataan bahwa mantan pacarnya masih bereaksi terhadap dirinya.

Namun sekarang semuanya selesai.

Shinta tidak ingin lagi membawa perasaannya saat berhadapan dengan Andika. Dia hanya akan menganggap pria itu sebagai rekan kerja biasa. Tidak lebih.

Masa lalu mereka sudah selesai.

Dan masa lalu seharusnya tetap berada di belakang.

Di sisi lain ruangan, Andika sedang memeriksa slide presentasi dengan wajah muram. Deni yang duduk di sebelahnya melirik beberapa kali sebelum akhirnya bersandar di kursi.

“Presentasi direksi jam tiga, kamu sudah siap?” tanya Deni.

“Sudah.”

Jawabannya pendek.

Terlalu pendek untuk ukuran Andika.

Deni menghela napas pelan. “Kalian berdua benar-benar sedang perang dingin, ya?”

Andika tidak menjawab.

Pria itu hanya menatap layar laptopnya tanpa ekspresi.

Deni menggaruk pelipisnya. “Kantor ini jadi terasa seperti lokasi drama keluarga. Tinggal tunggu hujan turun terus ada piano sedih.”

Andika akhirnya bicara pelan.

“Tidak semua hal harus diperbaiki.”

Kalimat itu membuat Deni diam.

Biasanya Andika selalu menjadi orang paling keras kepala jika menyangkut Shinta. Bahkan setelah putus pun pria itu masih terus mencari cara mendekatinya lagi.

Namun sekarang suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menyerah.

Dan Deni tidak suka mendengarnya.

Beberapa jam kemudian, Andika berdiri di ruang rapat besar bersama para direksi perusahaan. Slide presentasi terpampang di layar proyektor sementara beberapa kepala divisi memperhatikan penjelasannya.

Namun hari itu Andika tidak seperti biasanya.

Dia salah menyebut angka penjualan.

Salah menjelaskan grafik distribusi.

Bahkan sempat berhenti beberapa detik karena kehilangan fokus.

Ruangan menjadi canggung.

Pak Radit yang duduk di ujung meja memperhatikan Andika dengan sorot mata tajam. Selama bertahun-tahun bekerja bersama, dia tahu betul kualitas pegawainya itu.

Andika bukan tipe orang yang gugup saat presentasi.

Pria itu biasanya sangat tenang bahkan ketika harus berbicara di depan klien besar.

Namun hari ini jelas ada yang salah.

“Data wilayah Surabaya tadi sepertinya tidak sesuai dengan laporan bulan lalu.”

Salah satu direksi mulai menegur.

Andika langsung membuka file dengan cepat. “Maaf, Pak. Saya salah membaca data.”

Pak Radit menghela napas pelan sambil menyilangkan tangan.

Kesalahan kecil memang bukan bencana besar.

Namun dari wajah Andika, dia tahu masalahnya bukan sekadar kurang tidur.

Setelah presentasi selesai dan para direksi keluar dari ruang rapat, Pak Radit menahan langkah Andika.

“Andika, ikut saya ke kantor.”

Andika mengangguk pelan.

Suasana kantor Pak Radit jauh lebih tenang dibanding ruang kerja marketing. Aroma kopi hitam masih terasa di udara sementara pria paruh baya itu duduk santai di kursinya.

Andika berdiri di depan meja tanpa bicara.

Pak Radit memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.

“Saya kenal kamu cukup lama.” katanya tenang. “Dan saya tahu kamu bukan orang yang mudah kehilangan fokus.”

Andika tersenyum tipis. “Maaf soal presentasi tadi, Pak.”

“Saya tidak sedang membahas presentasi.”

Pak Radit menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ada masalah apa?”

Andika terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru terasa sulit dijawab.

Karena sebenarnya dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Tentang harapan yang kembali tumbuh.

Tentang perasaan lama yang ternyata belum mati.

Dan tentang kenyataan bahwa semua itu akhirnya kembali hancur.

“Tidak ada masalah besar.” jawab Andika akhirnya. “Saya cuma sedang beradaptasi dengan fakta yang baru saya terima.”

Pak Radit menaikkan sebelah alisnya.

“Fakta seperti apa?”

Andika tertawa kecil hambar.

“Kalau tidak semua hal bisa kembali seperti dulu.”

Jawaban itu membuat Pak Radit langsung mengerti.

Pria tua itu sudah cukup lama memperhatikan hubungan Andika dan Shinta. Meski keduanya tidak pernah bercerita secara langsung, suasana di antara mereka terlalu jelas untuk diabaikan.

Pak Radit menghela napas pelan.

“Terkadang hidup memang seperti itu.” katanya santai. “Kita terlalu berharap sesuatu bisa kembali utuh, padahal kenyataannya sudah berubah.”

Andika menatap lantai beberapa detik.

“Dulu saya pikir mungkin semuanya masih bisa diperbaiki.”

“Dan sekarang?”

Andika tersenyum tipis.

“Sekarang saya sadar saya terlalu memaksakan.”

Pak Radit mengangguk pelan.

Dia bisa melihat kekecewaan di wajah pria muda itu. Bukan sekadar kecewa karena ditolak, melainkan kecewa karena harapan yang dia bangun sendiri ternyata tidak nyata.

“Kalau memang begitu,” ujar Pak Radit, “anggap saja ini pelajaran.”

Andika mengangkat pandangan.

“Pelajaran?”

“Iya.” Pak Radit tersenyum kecil. “Supaya kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Andika terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

“Saya memang tidak ingin mengulanginya lagi.”

“Bagus.”

Pak Radit mengambil cangkir kopinya.

“Hidup itu berjalan ke depan, bukan ke belakang. Masa lalu cuma cocok dikenang, bukan dipaksa hidup lagi.”

Kalimat itu membuat Andika tersenyum samar.

Meskipun pahit, ada benarnya juga.

Selama ini dia terlalu sibuk mengejar kenangan lama bersama Shinta sampai lupa bahwa orang bisa berubah.

Dan mungkin Shinta memang sudah tidak menginginkan masa depan bersamanya.

Pak Radit kembali bicara dengan nada lebih ringan.

“Lagipula kamu masih muda. Karier kamu bagus. Masa depan juga panjang.” katanya santai. “Kalau memang tidak bisa mendapatkan yang kamu inginkan, cari yang lain.”

Andika langsung tahu arah pembicaraan itu.

“Pak…”

“Saya serius.” Pak Radit tertawa kecil. “Saya punya banyak teman yang punya anak perempuan. Cantik-cantik lagi. Kalau kamu mau, nanti saya kenalkan.”

Andika langsung menggeleng pelan.

“Saya tidak tertarik.”

“Belum tertarik.” koreksi Pak Radit. “Nanti juga berubah.”

Andika hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

Jujur saja, saat ini dia bahkan tidak punya tenaga untuk memikirkan hubungan baru. Kepalanya masih terlalu penuh oleh Shinta.

Dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

Pak Radit menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata lebih serius.

“Menerima keputusan orang lain memang sulit. Tapi lebih sulit lagi kalau kamu terus melawan kenyataan.”

Andika mengangguk perlahan.

Kalimat itu terasa menampar tepat di pikirannya.

Mungkin memang sudah waktunya berhenti berharap.

Pak Radit tersenyum kecil. “Sudah sana. Kembali kerja. Dan lain kali jangan bikin direksi hampir kena serangan jantung gara-gara salah baca angka.”

Andika tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.

“Siap, Pak.”

Setelah keluar dari kantor Pak Radit, Andika berjalan menyusuri koridor menuju ruang marketing. Langkahnya tenang meski pikirannya masih berantakan.

Beberapa pegawai yang berpapasan menyapanya, namun dia hanya membalas seperlunya.

Saat sampai di dekat ruang arsip, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Di depannya, Shinta baru saja keluar sambil membawa beberapa map dokumen.

Keduanya sama-sama terdiam.

Untuk beberapa detik, dunia terasa sunyi.

Shinta menatap Andika dengan wajah datar meski jantungnya berdetak tidak nyaman. Sementara Andika memandang wanita itu dengan tatapan sulit dijelaskan.

Dulu mereka pernah saling mengenal begitu dekat.

Sangat dekat.

Namun sekarang jarak di antara mereka terasa lebih jauh dibanding orang asing.

Shinta segera mengalihkan pandangan lebih dulu.

Andika melakukan hal yang sama.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada senyum.

Mereka hanya saling melewati begitu saja.

Seakan tidak pernah memiliki cerita apa pun sebelumnya.

Langkah Shinta terdengar pelan menjauh di koridor sementara Andika tetap diam beberapa detik di tempatnya.

Ada rasa sesak aneh di dadanya.

Namun kali ini dia tidak mengejar.

Karena akhirnya dia mulai mengerti satu hal.

Tidak semua orang yang pernah kita cintai akan tetap tinggal dalam hidup kita.

Sebagian hanya datang untuk menjadi kenangan.

Dan kenangan, seindah apa pun, tetap tidak bisa dipaksa kembali hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!