Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Setelah sarapan yang penuh godaan di balkon, matahari pagi sudah semakin tinggi. Zayyan melirik jam di ponselnya dan tersenyum tipis. “Sayang, kita check out sekarang ya. Mommy sudah menghubungiku sejak tadi"
Alin yang masih duduk di pangkuannya dengan bathrobe setengah terbuka hanya mengangguk lemah. Wajahnya masih merah, tubuhnya terasa lemas sekali. Kegiatan semalam dan pagi yang melelahkan membuat kakinya terasa seperti jelly. Setiap kali ia mencoba berdiri, lututnya langsung gemetar dan nyeri manis terasa di antara pahanya.
Zayyan berdiri lebih dulu, lalu membantu Alin bangkit. Baru beberapa langkah menuju kamar untuk berganti baju, Alin sudah mengaduh pelan.
“Ahh… sakit, sayang…” rengeknya sambil memegang pinggang. Langkahnya pincang, kakinya lemas tak kuat menopang tubuh. Bekas-bekas percintaan semalam dan pagi tadi terasa begitu nyata setiap kali ia bergerak.
Zayyan tertawa pelan, matanya penuh kepuasan sekaligus sayang. Ia mendekat dan dengan mudah mengangkat tubuh Alin ke dalam gendongannya ala bridal style. Satu tangan menopang punggung, tangan satunya lagi di bawah lutut Alin. Tubuh istrinya yang ringan langsung menempel sempurna di dada bidangnya.
“Maaf ya, aku terlalu ganas" bisik Zayyan di telinga Alin sambil mencium keningnya. “Tapi aku nggak nyesel, tubuhmu malah buatku candu.”
Alin menyembunyikan wajahnya yang merah di lekukan leher suaminya. “Kamu jahat… aku nggak bisa jalan sama sekali. Kayak bayi baru belajar jalan.”
Zayyan membantu istrinya berganti baju, memakaikan dress longgar berwarna krem yang mudah dipakai. Setiap gerakan memakaikan baju itu diselingi ciuman lembut di bahu, leher, dan bibir Alin.
Setelah siap, Zayyan kembali menggendong Alin keluar dari kamar hotel. Di lobi, beberapa tamu dan staf hotel melirik mereka dengan senyum mengerti. Alin semakin malu dan semakin erat memeluk leher suaminya.
“Turunin aku di sini aja…” bisik Alin pelan.
“Nggak mau,” jawab Zayyan tegas tapi lembut. “Kamu milikku. Biar semua orang tahu aku yang bikin kamu begini.”
Ia terus menggendong Alin hingga ke mobil di basement parkir. Dengan hati-hati, Zayyan mendudukkan Alin di kursi penumpang, memasangkan seatbelt, lalu mengecup bibirnya lama sebelum mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah di kawasan elite Jakarta Selatan, Zayyan sesekali meraih tangan Alin dan mengecupnya. Tangan satunya tetap di setir.
“Kamu capek banget ya?” tanya Zayyan sambil melirik istrinya yang bersandar di jok dengan mata setengah terpejam.
Alin mengangguk pelan. “Pahaku masih gemeteran… apalagi di bawahnya. Kamu ngajak perang semalaman, terus pagi lagi. Aku kayak habis lari marathon.”
Zayyan tertawa dalam. “Besok aku pijitin ya. Full body massage. Biar istriku yang manja ini pulih.”
Sesampainya di rumah, Zayyan lagi-lagi tak membiarkan Alin berjalan. Ia menggendongnya masuk dari garasi langsung ke dalam rumah mewah mereka.
"Alin kenapa Zay?" tanya Kiandra yang melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Lemas mom, nggak bisa jalan" jawabnya sambil naik tangga menuju kamar utama di lantai dua. Alin hanya bisa memeluk leher suaminya, sesekali menciumi rahangnya dengan manja.
Kiandra hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Tidak jauh beda dengan Adam, suaminya.
Di dalam kamar, Zayyan meletakkan Alin pelan di atas kasur king size yang empuk. Ia membuka dress Alin dengan lembut, lalu menarik selimut menutupi tubuh istrinya yang polos.
“Tidur dulu ya, sayang. Aku siapin air hangat buat kamu nanti,” bisik Zayyan sambil mengecup kening, pipi, lalu bibir Alin dengan penuh kasih sayang.
Alin menarik tangan Zayyan sebelum pria itu pergi. “Mau peluk dulu…”
Zayyan tersenyum dan naik ke kasur, memeluk Alin dari belakang. Tubuh mereka saling menempel erat. Zayyan mengusap lembut pinggul dan paha Alin yang masih terasa nyeri.
“Maaf ya, sudah buat kamu seperti ini" bisiknya di telinga Alin.
Alin tersenyum lemah, matanya sudah hampir terpejam. “Tidak apa-apa, sudah menjadi kewajibanku melayani mu" ucap Alin.
Zayyan tertawa pelan dan semakin erat memeluknya. Cahaya matahari siang yang lembut masuk melalui jendela kamar, menerangi pasangan suami istri yang masih penuh cinta dan gairah itu.
Rumah mereka kembali menjadi saksi betapa dalam ikatan mereka, baik di dalam kamar hotel maupun di ranjang rumah sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu cahaya matahari mulai condong ke barat, menyusup lembut melalui tirai kamar utama rumah mereka. Alin terbangun lebih dulu dari tidur panjangnya. Tubuhnya masih terasa pegal dan nyeri manis di bagian-bagian tertentu, terutama di antara pahanya. Ia meringis pelan saat mencoba menggerakkan kakinya, mengingat betapa ganasnya Zayyan semalam dan pagi tadi.
Zayyan masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah tampannya terlihat damai, dada bidangnya naik turun secara teratur. Alin tersenyum kecil melihat suaminya, lalu dengan hati-hati ia bangkit duduk. Selimut yang menutupi tubuhnya sedikit melorot, memperlihatkan bahu dan belahan dada yang masih penuh jejak samar.
Ia meraih gelas air di nakas dan meneguknya pelan. Pandangannya tak sengaja jatuh ke ponsel Zayyan yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Layarnya menyala samar, ada notifikasi pesan masuk. Alin awalnya tak berniat melihatnya, tapi rasa penasaran kecil muncul saat ia melihat nama kontak yang muncul di layar.
Lolly.
Alin merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu siapa Lolly, entah hanya sekedar teman atau memang seseorang yang pernah dekat dengan suaminya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Alin mengambil ponsel suaminya. Untungnya Zayyan tidak memakai password di ponselnya.
Lolly:
"Zayyan bagaimana kabarmu, aku merindukan mu"
Di bawahnya ada pesan kedua yang masuk dua puluh menit kemudian:
Lolly:
"Foto lama kita masih aku simpan loh. Kamu masih sama gantengnya. Kalau istri kamu lagi sibuk, kita bisa ketemu dulu. Aku kangen."
Alin merasa dadanya sesak. Jari-jarinya dingin. Ia scroll ke atas, melihat riwayat chat. Ternyata ini bukan pesan pertama. Ada beberapa pesan dari Lolly sejak dua minggu lalu yang Zayyan tidak bals.
Air mata Alin tanpa sadar menggenang di pelupuk mata. Berbagai pikiran buruk langsung menyerbu kepalanya. Siapa wanita ini sebenarnya? Ataukah dia mantan kekasihnya yang bertemu dengannya kemarin? Tapi kenapa Zayyan tidak pernah cerita kalau Lolly masih menghubunginya?
Alin meletakkan ponsel kembali ke tempatnya dengan hati-hati, tapi tangannya gemetar. Ia menarik selimut hingga dada, memeluk lututnya sendiri. Rasa sakit di tubuhnya yang tadinya terasa manis, sekarang terasa pahit.
Zayyan bergeser pelan di sampingnya, mulai terbangun. Ia membuka mata, tersenyum mengantuk saat melihat Alin sudah bangun.
"Sayang... udah bangun?" suaranya serak dan lembut. Ia meraih pinggang Alin, ingin menariknya kembali ke pelukan.
Tapi Alin menahan tubuhnya, sedikit menjauh. Matanya masih berkaca-kaca saat menatap suaminya.
"Zay, siapa Lolly?..." suaranya pelan, tapi ada getaran yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu kenapa?" tanya Zayyan sambil mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.
"Siapa Lolly, Zay? Ada hubungan apa kamu dengan dia?" sentak Alin.
Zayyan meraup wajahnya kasar, lalu menatap wajah istrinya tajam. "Ada apa sebenarnya dengan kamu?" tanya nya kesal.
"Aku tanya, siapa Lolly?" sentak Alin dengan berderai air mata.
Zayyan langsung mengerjap, ekspresinya berubah. Ia melihat ponselnya, lalu kembali ke wajah Alin yang terlihat terluka.
"Alin... kamu membuka ponselku?"
Alin mengangguk pelan, air matanya jatuh satu tetes. "Iya. Dia bilang merindukan mu"
Suasana kamar yang tadinya hangat dan penuh sisa cinta, tiba-tiba terasa dingin dan tegang. Zayyan duduk tegak, wajahnya serius. Ia mencoba meraih tangan Alin, tapi istrinya menariknya kembali.
"Sayang, dengar dulu penjelasan aku..."
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥