NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Lorong rumah sakit yang biasanya senyap kini terasa begitu sejuk saat Rebecca melangkah dengan langkah terburu-buru. Berbekal informasi yang baru saja ia dapatkan dari salah satu kenalan yang bekerja di bagian administrasi, ia akhirnya mengetahui keberadaan Bianca yang sedang dirawat di ruang VVIP. Napasnya masih terdengar berat dan tidak beraturan, namun rasa marah serta khawatir yang sempat berkecamuk di dada perlahan berubah menjadi perhitungan yang matang begitu ia tiba tepat di depan pintu ruangan itu.

Rebecca berhenti di depan celah kaca kecil yang ada di pintu. Tangan kanannya terulur hendak memutar kenop pintu, tetapi gerakannya tertahan seketika saat pandangannya jatuh pada pemandangan di dalam sana. Di bawah cahaya lampu yang redup dan lembut, apa yang dilihatnya justru menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.

Gwen duduk di tepi ranjang, badannya sedikit membungkuk ke depan seolah tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting selain sosok Bianca yang terbaring lemah. Jari-jemari Gwen menggenggam tangan Bianca dengan erat, sebuah genggaman yang bukan hanya sekadar menenangkan, melainkan mengandung rasa memiliki yang begitu kuat. Sementara itu, Bianca tampak tenang meski wajahnya masih terlihat pucat pasi akibat sakit yang dideritanya.

"Syukurlah lo nggak mati, Bi," gumam Rebecca sangat pelan, mengembuskan napas lega yang singkat.

Rasa lega itu hanya bertahan sesaat dan perlahan lenyap lalu berganti dengan sorot mata yang penuh rencana licik. Rebecca segera merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Ia sadar betul kalau momen di depannya ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun, ia mengarahkan lensa kamera ke arah kaca jendela ruangan itu.

Cekrek.

Satu jepretan foto berhasil didapatkan. Ia tidak berhenti di situ, sebab Rebecca kemudian mulai merekam video pendek berdurasi sepuluh detik yang merekam jelas suasana di dalam sana yang terasa begitu dekat dan hangat. Terlihat Gwen yang mengusap pelan dahi Bianca, dan tangan yang saling bertaut itu tidak pernah terlepas walau sedetik pun.

'Ini bakal jadi bensin yang bagus buat api kalian berdua, Anderson,' bisik Rebecca dalam hati sembari tersenyum miring yang terukir jelas di sudut bibirnya.

Tanpa membuang waktu, ia segera membuka aplikasi pesan lalu mengetikkan nomor baru yang sudah disiapkan khusus untuk keperluan mendesak seperti ini. Nomor kosong, tanpa nama, tanpa jejak identitas yang bisa dilacak. Ia melampirkan foto dan video yang baru saja diambilnya lalu menekan tombol kirim dengan satu sentuhan pasti.

Setelah memastikan pesan terkirim sempurna, Rebecca segera melangkah mundur perlahan dan bersembunyi di balik tiang penyangga besar di ujung lorong. Ia tahu betul kalau tidak butuh waktu lama bagi Kiyo untuk melihat bukti itu, meledak dalam amarah, dan datang bergegas ke tempat ini. Kini, ia hanya perlu diam dan menjadi penonton setia dari balik bayang-bayang sembari menanti perselisihan yang akan segera terjadi.

Di sisi lain kota, suasana tenang sebuah kafe dengan alunan musik jazz lembut tiba-tiba terasa berat oleh tekanan emosi yang hampir meledak. Kiyo duduk bersandar santai di kursi bagian dalam, sementara Vincent sibuk menyesap kopi pahitnya sambil sesekali melirik pemandangan jalanan di luar kaca.

Ting!

Suara notifikasi terdengar jelas dari atas meja tempat ponsel Kiyo tergeletak begitu saja. Ia meraih benda itu dengan malas karena mengira pesan itu hanyalah sampah digital atau sekadar perihal tugas sekolah yang membosankan. Namun, begitu layar menyala dan menampilkan pengirim yang tidak dikenal, sorot matanya langsung berubah tajam sebab ada beberapa berkas lampiran yang masuk bersamaan dengan pesan itu.

Begitu foto pertama terbuka sepenuhnya, rahang Kiyo langsung mengeras seketika. Gambar itu memperlihatkan Gwen sedang duduk dekat dan menggenggam tangan Bianca di sebuah kamar rumah sakit yang mewah. Belum sempat ia mencerna rasa panas yang mulai menjalar di dada, sebuah video pendek kembali masuk dan terputar otomatis. Rekaman itu memperlihatkan betapa perhatian dan melindunginya sikap Gwen terhadap gadis yang sangat diinginkan oleh Kiyo.

BRAK!

Bunyi keras terdengar saat tangan Kiyo menggebrak meja hingga beberapa pengunjung lain menoleh kaget ke arah mereka. Ia hampir saja menendang kursi di depannya jika Vincent tidak segera menahan lengannya dengan cepat dan kuat.

"Yo, santai! Lo kenapa sih?!" sentak Vincent, berusaha keras menenangkan sahabatnya yang sudah terbakar emosi.

"Liat ini, Vin! Kurang ajar banget si Gwen!" Kiyo menyodorkan ponselnya dengan tangan yang gemetar menahan amarah yang meluap-luap.

Vincent menerima benda itu dan matanya membelalak lebar saat melihat isi foto dan video yang baru saja masuk. "Anjir... ini Bianca? Dia di rumah sakit? Dan itu Kak Gwen?"

"Gue nggak tau dia kenapa sampe masuk RS, tapi yang jelas Gwen sengaja nyembunyiin ini dari gue!" raung Kiyo. Ia segera mengambil kembali ponselnya lalu mengetikkan balasan singkat dengan nada yang penuh ancaman ke nomor misterius itu: Kirim alamatnya sekarang.

Tak berlama-lama, sebuah titik koordinat lengkap dengan nama rumah sakit muncul di layar ponselnya.

Vincent menatap lekat-lekat wajah Kiyo dengan pandangan serius. "Yo, gue mau nanya deh. Lo beneran suka sama Bianca? Maksud gue, lo cemburu sampe segitunya cuma karena dia deket sama kakak lo?"

Kiyo membalas tatapan itu dengan sorot mata yang tajam dan dalam tanpa ada keraguan sedikit pun terpancar dari sana. "Iya. Gue suka dia. Dan nggak ada yang boleh ambil apa yang udah gue pengen, termasuk kakak gue sendiri. Gwen udah kelewatan."

Vincent menyandarkan punggungnya kembali ke kursi dan terlihat cukup terkejut mendengar pengakuan yang diucapkan secara terus terang itu. "Gue kira selama ini lo cuma jadiin dia mainan baru karena dia susah didapetin. Ternyata lo serius ya?"

"Gue nggak pernah semain-main ini, Vin," balas Kiyo dengan nada ketus. Ia segera menyambar kunci motor dan jaket kulit yang tergeletak di kursi sebelah. "Gue cabut sekarang."

"Eh, tunggu! Gue ikut, Yo! Takut lo malah bikin keributan berdarah di rumah sakit!" seru Vincent sambil bergegas meneguk sisa kopinya lalu berlari kecil mengejar Kiyo yang sudah melesat keluar pintu kafe.

Kiyo tidak menyahut sedikit pun karena di dalam kepalanya pikirannya hanya tertuju pada satu tujuan saja yaitu ruang VVIP tempat Bianca berada. Rasa marah membakar seluruh isi dadanya saat membayangkan bagaimana Gwen bisa-bisa menyentuh dan memiliki sikap lembut pada sosok yang seharusnya menjadi miliknya sepenuhnya. Ia tidak peduli lagi jika harus berhadapan langsung dengan kakaknya atau jika ia harus mengacak-acak seluruh isi rumah sakit itu demi menuntut apa yang dianggapnya hak. Bagi Kiyo, Bianca adalah harga diri yang tidak boleh dicuri oleh siapa pun apalagi oleh saudara kandungnya sendiri.

Malam itu, suara raungan mesin motor Kiyo membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi lalu membawa serta badai emosi yang siap meledak kapan saja di tengah suasana tenang bangsal perawatan. Di tempat yang dituju itu, Rebecca masih setia menunggu di balik bayang-bayang dengan senyum puas terukir di bibir sembari menikmati pemandangan awal dari perselisihan hebat yang akan segera memecah hubungan kedua bersaudara Anderson.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!