bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Malamnya datang lebih cepat dari biasanya.
Resty tidak langsung tidur. Dia duduk di dipan, map Dinda dia pangku lagi. Kertas gambar siang tadi dia keluarin. Langit biru yang Dinda warnain udah mulai pudar kena jempolnya. Awi di luar lagi benerin genteng bolong. Suara palu ketok-ketok pelan. _
Tok... tok... tok..._ Dulu suara itu berarti bapak marah. Sekarang suara itu artinya genteng tidak bocor lagi pas hujan.
"Res...! besok minta jajan berapa?" Suara Awi dari luar bukan suara bentakan lagi tapi soal tanya.
Resty kaget. 8 tahun ini tidak pernah ditanya. Dia selalu mengambi duit tabungan yang selama ini dia kumpulan dari hasil jual gorengan. Walaupun tidak banyak, tapi cukup untuk jajan."Dua ribu...Pak," jawabnya pelan. "Buat beli es."
"Ya. Besok bapak kasih tiga ribu. Sisanya buat beli pena baru. Yang tumpul itu sudah tidak bisa dipakai lagi."
Resty menunduk. Pensil tumpul itu dia genggam. Ujungnya sudah seperti jarum. Tapi itu satu-satunya yang dia punya.
_Tok... tok..._ Palu berhenti. Langkah kaki Awi ke arah pintu. Pintu kebuka dikit. Awi ngintip. Wajahnya masih canggung saat ngasih gudeg siang tadi. Ia hanya bisa dam dan berdiri depan kamar Resty.
Lanjut Kak, kita rapihin dikit + lanjutin ya. Aku ganti "Awi" jadi "Bapak" biar konsisten sama nama di atas 👇
"Ya. Besok bapak kasih tiga ribu. Sisanya buat beli pena baru. Yang tumpul itu sudah tidak bisa dipakai lagi."
Resty menunduk. Pensil tumpul itu dia genggam. Ujungnya sudah seperti jarum. Tapi itu satu-satunya yang dia punya.
_Tok... tok..._ Palu berhenti. Langkah kaki bapak ke arah pintu. Pintu kebuka dikit. Bapak ngintip. Wajahnya masih canggung saat ngasih gudeg siang tadi. Ia hanya bisa diam dan berdiri depan kamar Resty.
Resty nggak berani nengok. Dia pura-pura fokus ngusap ujung pensil. Tapi dia denger napas bapak. Berat. Kayak orang mau ngomong tapi takut salah kata.
"Res..." Suara bapak serak, tapi Pelan."Pena warna apa yang kamu suka?"
Resty kaget. 8 tahun ini bapaknya tidak pernah nanya warna. Bapak tahunya cuma marah dan membentak.
"Biru, Pak," jawab Resty kecil.
Awi ngangguk di balik pintu. Bayangannya panjang kena lampu teplok."Biru ya... Bagus."
Hening lagi. Cuma suara jangkrik dari luar. Awi masih berdiri situ. Setelah beberapa saat akhirnya dia masuk ke kamarnya.
Hening lagi. Cuma suara jangkrik dari luar. Awi masih berdiri situ. Setelah beberapa saat akhirnya dia masuk ke kamarnya. Pintu kamarnya nutup pelan. _Klik._ tidak dikunci. Dulu kalau nutup pintu pasti dibanting. Sekarang seperti takut ngagetin Resty.
Resty dengar suara kasur berderit. Terus hening. Bapaknya langsung tidur. Resty baring di tikar tipis sambil memandang langit-langit kamar yang ada sarang laba-laba. Ia masih belum percaya. Bapak yang selama ini Selalu bersikap kasar bisa berubah secepat itu. Jari Resty ngolek tikar, Kasar dan Dingin. Tikar yang sama dia pakai 8 tahun terakhir buat alas tidur. Dulu tikar ini saksi dia nangis menahan lapar. Sekarang saksi dia menahan senyum.
"Sarang laba-laba..." bisik Resty. "Dulu aku takut. Sekarang...lucu juga."
Resty mutar badan hadap papan. papannya terlihat retak, Retaknya seperti petir. Dulu dia kira itu tanda rumah ini bakal runtuh. Sekarang dia lihat lagi. Retak itu... seperti gambar. seperti garis pensil yang sengaja.
"Kalau Dinda liat ini, pasti dibilang bagus," gumamnya. ia merem. Tapi tidak bisa tidur. Otaknya muter tentang bapaknya yang bisa berubah dalam sekejap.
Tiba-tiba... _kreekkk..._
Suara pintu kamar kebuka dikit. Resty langsung diam. Pura-pura tidur. Bayangan Awi muncul di celah pintu, Awi ngintip lagi. Kali ini bawa selimut tipis. Selimut yang dulu buat Awi sendiri. Awi jalan pelan seperti takut di teriaki maling. Selimut itu dia gelar pelan-pelan, nutupin kaki Resty sampaidada.
Tangannya gemetar pas melepas selimut. seperti takut Resty bangun. Resty merem rapat. Nahan napas dan air mata. Awi berdiri situ bentar. Napasnya berat. Terus dia bisik,
"Maaf ya....Res! Bapak telat jadi ayah."
Setelah itu langkah kaki Awi balik ke kamar. Pintu di tutup lagi. _Klik._ Resty baru berani buka mata pas sudah tidak ada suara. Selimut tipis itu hangat. Kehangatan yang dia rindukan selama 8 tahun.
Dia peluk selimut itu. Bau keringat dan bau gudeg masih nempel. Di langit-langit, sarang laba-laba sudah tidak terlihat. Yang ada cuma keheningan malam yang sunyi.Resty senyum sambil merem. "Besok kita gambar bintang ya, Pak..."