JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Keheningan intim yang sempat tercipta di sudut ruko jastip itu pecah berkeping-keping dalam sekejap mata. Bunyi ketukan selop yang melangkah santai dari arah lorong toilet belakang mendadak berhenti tepat di batas ruang operasional.
"Ehem!"
Suara deheman yang sengaja dibuat berat dan nyaring itu bergema kuat, memotong aliran udara hangat di antara Marco dan Haura. Tubuh Haura seketika menegang kaku seperti disengat listrik tegangan tinggi. Dengan gerakan panik yang luar biasa heboh, ia menyentak tangannya mundur, melepaskan cengkeraman jemari Marco hingga pulpen di atas mejanya menggelinding jatuh ke lantai.
Haura buru-buru membetulkan posisi duduknya, menegakkan punggung dengan wajah yang sudah matang sempurna sewarna buah naga. Sementara Marco, dengan ketenangan seorang predator yang sudah terlatih, hanya menaikkan sebelah alisnya dan perlahan menarik kembali tangannya, menyandarkan punggung pada kursi plastik dengan santai tanpa ada riak kepanikan sedikit pun di wajah tampannya.
Emilia berdiri di sana, melipat kedua tangannya di depan dada dengan kepala yang menggeleng-geleng penuh arti. Sepasang matanya menatap tajam ke arah tangan Haura yang kini pura-pura sibuk merapikan kertas manifes album K-Pop yang sebenarnya sudah rapi.
"Tolong ya, wahai sepasang umat manusia," ucap Emilia, nada suaranya terdengar sangat dramatis dan penuh penderitaan fiktif. "Kasihani gue yang punya pacar harus LDR Jakarta-London ini. Jangan mesra-mesraan di depan mata orang jomlo lokal dong! Mata gue yang suci ini rasanya langsung ternoda melihat kelakuan kalian berdua siang-siang bolong gini."
"Apa sih, Em! Sumpah, aku sama dia nggak ngapa-ngapain kok!" seru Haura defensif, suaranya naik satu oktav dengan nada gagap yang bener-bener tidak meyakinkan. Ia melotot ke arah Emilia, mencoba mengancam sahabatnya itu dengan otoritasnya sebagai bos ruko. "Jangan ngaco ya! Tadi itu... tadi itu cuma ada debu di tangan aku, terus Marco cuma mau... mau bantuin bersihin! Iya, bener, cuma bersihin debu!"
"Oh, bersihin debu?" Emilia mendengus geli, melangkah mendekat dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Bersihin debu kok pakai dielus-elus penuh perasaan gitu, Ra? Mana tatapan matanya si Marco udah kayak mau nelan lo idup-idup lagi. Alasan lo bener-bener nggak lolos sensor admin jastip, tahu nggak?"
Marco yang mendengar perdebatan itu tidak berniat membantu Haura meluruskan keadaan. Sebaliknya, cowok berusia dua puluh tahun itu justru meledakkan tawa rendahnya yang seksi. "Udah, Mbak Emilia, nggak usah digodain terus Tante Bosnya. Nanti kalau dia ngamuk, album K-Pop satu ruko ini bisa dilempar ke muka gue semua."
"Kamu diem ya, Marco Permana!" potong Haura cepat, mengalihkan sisa salah tingkahnya menjadi amukan kecil pada sang asisten magang.
Tepat saat atmosfer ruko semakin canggung dan panas, bunyi klakson motor dari arah luar menyelamatkan Haura dari interogasi lanjutan Emilia. Seorang kurir ojek daring tampak turun dari motornya, membawa sebuah kantong plastik besar berlogo restoran ayam bakar terkenal.
"Permisi, ojek online, atas nama Marco?" seru kurir itu dari balik pintu kaca.
"Iya, Pak, sebentar," sahut Marco, langsung berdiri dari kursinya dan melangkah lebar menuju pintu depan untuk mengambil pesanan makanan siang mereka dan menyelesaikan sisa transaksi.
Begitu Marco kembali ke dalam ruko membawa kantong plastik yang menyebarkan aroma gurih dan pedas yang menggugah selera, ia langsung membawanya ke atas meja packing yang sudah dibersihkan dari sisa kardus.
Haura perlahan bangkit dari kursi kerjanya, melangkah mendekat dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat demi menjaga sisa harga dirinya yang runtuh akibat deheman Emilia tadi. Namun, baru saja tangan Haura terulur hendak meraih salah satu kotak sterofom dari dalam plastik, tangan besar Marco sudah lebih dulu menepis jemarinya dengan lembut.
"Marco, aku bisa sendiri," bisik Haura pelan, mencoba merebut kotak makanannya.
"Diem, duduk aja. Biar gue yang urus," sahut Marco tegas, mengabaikan protes Haura.
Dengan telaten dan rapi, Marco mengeluarkan satu kotak ayam bakar taliwang khusus porsi Haura. Ia membuka tutupnya, menata sendok dan garpu plastik di atasnya, lalu membuka bungkus pelastik kecil berisi lalapan timun dan kemangi. Tidak lupa, Marco juga menusukkan sedotan ke dalam botol air mineral dingin yang ia beli dari kulkas ruko, lalu menggeser semuanya tepat ke hadapan Haura yang kini hanya bisa terpaku menatap perlakuan manis tersebut.
"Nih, ayam taliwang level sedang, tanpa bumbu manis, sesuai pesanan lo, Tante Sayang," ucap Marco dengan volume suara yang sengaja diperkecil di akhir kalimat, namun matanya memberikan kerlingan nakal yang membuat jantung Haura kembali berkejaran.
Emilia yang menyaksikan seluruh pemandangan itu dari seberang meja—mulai dari bagaimana Marco membukakan makanan hingga bagaimana Haura yang biasanya mandiri total mendadak berubah jadi pasif dan penurut—hanya bisa menopang dagunya dengan tangan. Matanya menyipit, menatap Haura dengan pandangan penuh penilaian yang sangat mengintimidasi.
"Dih... awas aja lo ya kalau sampai bucin akut, Ra. Gue bakal ledek lo habis-habisan tujuh hari tujuh malam tanpa henti," gumam Emilia dengan suara yang cukup lantang, sengaja menyindir sahabat SMA-nya itu. "Seorang Haura Widjaja, Ratu Jastip yang paling anti disuruh-suruh, sekarang makanan aja harus dibukain dan dilayanin sama berondong kuliahan. Dunia bener-bener udah kebalik!"
"Emilia! Bisa gak sih mulutnya diselotip dulu?!" seru Haura, wajahnya kini sudah matang sempurna seperti kepiting rebus, tangannya refleks menyuapkan sesendok nasi dan secuil daging ayam ke dalam mulutnya untuk menghentikan kalimatnya sendiri.
Meskipun rasa pedas dan gurih dari ayam taliwang itu langsung membakar lidahnya, fokus Haura tetap tidak bisa lepas dari sosok Marco yang kini duduk di sampingnya, mulai memakan porsinya sendiri dengan lahap seolah tidak ada beban apa pun di pundaknya. Di tengah ledekan tajam dari Emilia dan kunyahan makanan siangnya yang sama sekali tidak manis, Haura terpaksa harus mengakui dalam hati: pertahanan egonya yang berumur 38 tahun ini sudah bukan lagi retak, melainkan sudah hancur lebur di bawah perhatian manis sang berandalan muda.
***
Jam istirahat makan siang resmi berakhir ditandai dengan kembalinya Kevin dan Arlo yang berjalan gontai dari warung soto mie sebelah. Atmosfer ruko jastip lantai satu kembali dipenuhi oleh suara bising yang familier—desingan lakban yang ditarik kuat, gesekan gunting pada kardus, dan sesekali suara tawa dari anak-anak magang. Ratusan album K-Pop yang tadi pagi masih bertumpuk dalam karung besar, kini perlahan mulai berpindah ke dalam kotak-kotak karton rapi yang siap ditempeli resi pengiriman.
Haura berdiri dari kursi kerjanya. Dengan sebuah papan jalan di pelukan tangan kirinya dan pulpen di tangan kanan, ia mulai melangkah berkeliling di area meja packing. Matanya yang jeli bergerak taktis, menyisir satu per satu alamat yang tertera di atas kertas resi untuk memastikan tidak ada kesalahan input sebelum kurir ekspedisi besar datang menjemput sore nanti.
"Kevin, yang versi photocard eksklusif Webstore Korea jangan sampai ketuker sama versi reguler, ya. Klien yang ini sensitif banget soal bonus," instruksi Haura dengan suara baritonnya yang tegas, kembali memasang topeng Boss Lady yang profesional.
"Aman, Mbak Haura. Udah gue pisah pake stiker ijo kok," sahut Kevin cekatan tanpa mengalihkan pandangannya dari gulungan lakban.
Haura mengangguk puas, lalu menggeser langkah heels-nya ke sisi kanan meja, tepat di tempat keponakannya sendiri berada. Begitu sampai di sana, mata Haura langsung menyipit tajam. Arlo sedang berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggiran meja, kepalanya bergerak naik turun dengan mata yang terpejam setengah, dan mulutnya terbuka lebar-lebar membuang uap kantuk yang luar biasa besar.
Haaaaahhhh...
Belum sempat Arlo menyelesaikan kuapan panjangnya, sebuah gerakan secepat kilat dari Haura langsung memotong pasokan oksigennya. Haura menyambar selembar potongan bubble wrap sisa bungkusan album di atas meja, lalu dengan tega menyumpalkannya tepat di depan mulut Arlo yang masih menganga.
"Mphhh?!" Arlo terperanjat kaget, matanya langsung membelalak lebar seukuran koin saat merasakan plastik gelembung itu menyentuh bibirnya. Ia buru-buru menarik sumpalan itu dengan wajah defensif. "Uhuk! Tante! Tante jahat banget sih sama keponakan sendiri! Ini kalau masuk ke tenggorokan gue gimana?!"
Haura melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Arlo dengan pandangan tanpa dosa yang luar biasa dingin. "Bodo amat. Fokus! Makanya kalau malam itu tidur, bukan malah main game sampai subuh. Liat tuh kerjaan kamu, selotipnya melosot begitu. Kerjain yang bener, atau aku bilangin sama Mama kamu nih kalau anaknya di ruko cuma numpang tidur!"
Mendengar ancaman pamungkas membawa-bawa nama sang ibu, nyali Arlo langsung ciut seketika. "Iya, iya, ampun! Jangan bawa-bawa Nyokap napa, Ra. Sensitif banget nih Ratu Jastip, hergghh," gerutu Arlo pelan, langsung pura-pura sibuk menekan-nekan selotip ke atas permukaan kardus dengan pasrah.
Di seberang meja, Marco yang sedang menghitung jumlah stok album versi terbatas hanya bisa meledakkan tawa rendahnya. Suara tawa beratnya terdengar begitu seksi, membuat Haura refleks menoleh dan memberikan tatapan melotot yang sama—meski kali ini intensitasnya jauh berbeda, ada semburat merah tipis yang mendadak terbit di pipi Haura saat matanya bertemu dengan mata cokelat gelap milik Marco.
Merasa tenggorokannya mendadak kering karena hawa ruko yang mendadak terasa hangat, Haura berbalik langkah kembali ke meja kerjanya. Ia meraih sebuah botol air mineral baru berukuran sedang yang tadi sempat dibukakan oleh Marco saat makan siang. Haura menengadahkan kepalanya, meminum air dingin itu dengan beberapa tegukan cepat untuk meredakan gejolak di dadanya.
Glek... glek...
Haura menurunkan botol itu, mengembuskan napas lega sambil menyeka sudut bibirnya yang sedikit basah dengan punggung tangan. Namun, baru saja jemari tangannya bergerak hendak memasang kembali tutup botol plastik tersebut, sebuah bayangan jangkung mendadak sudah berdiri tepat di samping kursinya.
Tanpa aba-aba, dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, sebuah tangan kekar dengan urat-urat tangan yang tercetak jelas langsung terulur. Marco merebut botol air mineral itu dengan santai dari genggaman jari Haura.
"Marco, ka—"
Kalimat Haura tersangkut di tenggorokan, dan sedetik kemudian, sepasang mata indahnya terbuka lebar-lebar dengan mulut yang ikut menganga shock.
Di depan matanya sendiri—dan di depan Emilia yang kebetulan sedang menoleh ke arah mereka—Marco dengan sangat tenang menempelkan bibirnya tepat di atas lingkar mulut botol yang sama, di bekas tempat bibir Haura menempel beberapa detik yang lalu. Pemuda berusia dua puluh tahun itu meneguk air mineral tersebut dengan rakus, membuat jakun di leher kokohnya bergerak naik-turun dengan ritme yang lambat. Beberapa tetes air dingin tampak lolos, mengalir membasahi dagu tegasnya hingga turun ke arah kerah kaos hitamnya yang terbuka.
Sret.
Marco menurunkan botol yang kini sudah kosong setengah itu, lalu menyeka dagunya yang basah menggunakan punggung tangannya dengan gerakan yang sangat lambat—sengaja menatap lurus ke dalam manik mata Haura yang masih membeku di tempat dengan wajah yang sudah merah padam sempurna sampai ke leher.
"Seger banget. Makasih ya, Tan. Pas banget tenggorokan gue lagi haus," ucap Marco dengan suara rendahnya yang serak, seulas senyum miring andalannya terukir begitu tampan dan penuh kemenangan di wajahnya.
Haura masih tidak bisa bersuara, tangannya yang masih memegang tutup botol melayang di udara. Otak wanita berusia 38 tahun itu mendadak blank total. Dia... dia minum di bekas bibir aku?! Di depan anak-anak?! Itu namanya ciuman tidak langsung, Marco gila!! batin Haura menjerit histeris di dalam kepalanya.
"Heh, Marco Permana!" Emilia yang menyaksikan adegan vulgar terselubung itu langsung melempar pulpennya ke atas meja admin dengan heboh. "Tolong ya, itu botol air mineral di kulkas ruko masih ada dua dus! Kenapa lo harus minum di bekas mulut bos lo sendiri, hah?! Maksud lo apa?!"
Arlo dan Kevin ikut menoleh, dan begitu menyadari apa yang baru saja terjadi, Arlo langsung memegangi kepalanya dengan ekspresi dramatis. "Wah, gila... gerakannya halus tapi mematikan ya, Co. Gak usah pakai kode-kodean lagi, langsung hantam di tempat!"
"Marco... kamu... kamu bener-bener kurang ajar ya!" bisik Haura akhirnya, suaranya bergetar hebat karena kombinasi rasa malu, panik, dan debaran jantung yang kini sudah menggila menggedor dadanya. Ia buru-buru merebut kembali botol itu dan membanting tutupnya di atas meja.
Marco hanya terkekeh rendah, membiarkan tubuhnya bersandar sedikit pada pinggiran meja Haura dengan posisi yang teramat santai, sama sekali tidak memedulikan ledekan dari seisi ruko. "Gue cuma menghemat properti ruko, Mbak Emilia. Lagian, rasa airnya mendadak jadi jauh lebih manis kalau diminum dari tempat yang bener." Marco memberikan satu kedipan mata jail yang super intim tepat ke arah Haura sebelum akhirnya berbalik kembali menuju meja packing.
Haura hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan di balik layar laptop, merutuki ketidaksopanan berondong tengil yang sejak semalam bener-bener sudah menjungkirbalikkan seluruh sisa kewarasannya di ruko jastip ini.
***
Hai guys izin promosi novelku di apk sebelah ya. Barangkali kalian juga baca disana hehe
semangattt