Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Kalung yang Hilang
Di salah satu gedung tertinggi pusat kota, seorang lelaki berdiri diam di depan jendela besar ruang kerjanya.
Lampu kota malam itu terlihat indah dari atas sana. Mobil-mobil kecil memenuhi jalanan, gedung tinggi berdiri megah, dan langit malam terlihat gelap tanpa bintang.
Namun kepala lelaki itu sama sekali tidak tenang.
Pikirannya kembali dipenuhi kejadian lima belas tahun silam.
Tentang seorang gadis dingin bermata kosong yang dulu ia jadikan bagian dari taruhan konyol bersama teman-temannya.
Dan tentang malam yang menghancurkan hidup gadis itu selamanya.
Andai waktu bisa diputar…
ia ingin sekali menahan dirinya malam itu.
Tidak mabuk.
Tidak menerima taruhan menjijikkan itu.
Dan tidak menghancurkan hidup Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Namun sekarang semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah penyesalan selama lima belas tahun terakhir.
Tok. Tok.
Pintu ruang kerja diketuk pelan.
“Masuk.”
Arsen—tangan kanan sekaligus asistennya—masuk sambil sedikit menundukkan kepala.
“Tuan, mobil sudah siap. Waktunya kita pergi.”
Lelaki itu hanya mengangguk kecil lalu berjalan keluar tanpa banyak bicara.
Sementara itu, di kediaman kecil Ana.
Suasana rumah pagi itu terasa jauh lebih ramai dari biasanya.
Hari ini Ana berulang tahun yang ke tiga puluh tujuh tahun.
Sejak semalam Dylan dan Sabine sudah memberikan kejutan kecil berupa kue ulang tahun sederhana yang mereka beli diam-diam.
Dan hari ini café milik Ana sengaja diliburkan.
Karena mereka akan makan malam bersama di restoran mahal menggunakan kupon makan gratis berjumlah tiga orang yang Ana dapatkan dari undian voucher belanja supermarket beberapa hari lalu.
Padahal tanpa Ana ketahui…
Kupon itu sebenarnya diberikan Damar secara diam-diam lewat sistem voucher supermarket.
“Mimaaa…” Sabine langsung memekik kecil saat mereka sampai di depan restoran mewah tersebut. “Aku nggak percaya kita bisa makan di sini!”
Gadis itu menatap bangunan restoran dengan mata berbinar kagum.
“Temenku bilang yang makan di sini orang kaya semua.”
Ana hanya tertawa kecil sambil menahan rasa tidak enak.
“Jangan norak deh,” celetuk Dylan sambil menggandeng lengan Ana masuk ke dalam restoran.
“Eh kok ditinggal!” protes Sabine cepat lalu ikut menyusul mereka.
Malam itu terasa sangat hangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ana benar-benar menikmati ulang tahunnya tanpa rasa takut atau kesepian.
Mereka makan sambil mengobrol dan bercanda kecil. Sabine sibuk memfoto makanan, Dylan terus mengejek tingkah adiknya, dan Ana hanya bisa tertawa melihat keduanya.
Namun di tengah makan malam, Sabine tiba-tiba berdiri.
“Mima, aku ke toilet dulu ya.”
Ana refleks ikut berdiri sedikit.
“Mau Mima anter?”
“Enggak usah.” Sabine langsung menggeleng cepat. “Aku udah gede.”
Gadis itu langsung berjalan pergi sebelum Ana sempat menjawab lagi.
“Tuh kan,” Dylan geleng kepala sambil menahan tawa. “Katanya udah gede. Padahal iket rambut aja masih Mima yang iketin.”
“Dylan…” Ana terkekeh kecil.
Sementara itu di lorong dekat toilet restoran, Sabine yang sedang berjalan cepat tidak sengaja menabrak seseorang.
Bruk.
“Aduh!”
Gadis itu refleks mundur sambil memegang dahinya.
“Maaf!” ucap Sabine cepat tanpa benar-benar melihat siapa orang yang ditabraknya.
Lalu ia langsung pergi begitu saja.
Lelaki yang ditabrak tadi hanya diam beberapa detik sebelum matanya menangkap sesuatu di lantai marmer restoran.
Sebuah kalung kecil.
Pria itu mengambilnya perlahan.
Dan saat melihat liontin kecil tersebut, matanya langsung membesar.
“Ini…” gumamnya pelan.
Kalung itu sangat mirip dengan milik Ela dulu.
Lelaki itu menatap kalung tersebut cukup lama sebelum akhirnya menyimpannya di saku jasnya.
Sementara di meja makan, Ana sama sekali belum sadar kalau kalung Sabine hilang.
Saat ini kedua anaknya justru sedang memberikan sebuah kotak hadiah kecil untuknya.
Ana terlihat bingung.
“Ini apa lagi?”
“Buka dulu,” ujar Sabine semangat.
Ana perlahan membuka kotak kecil itu.
Dan seketika matanya langsung berkaca-kaca.
Di dalamnya ada sebuah kalung sederhana berwarna silver dengan inisial kecil bertuliskan:
D & S
Dylan dan Sabine.
“Ya ampun…” suara Ana langsung melemah haru. “Kalian ini…”
Wanita itu menatap kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Ini pasti mahal. Kenapa nggak ditabung aja sih?”
“Soalnya Mima jarang pakai perhiasan,” jawab Sabine polos.
“Makanya kita kasih kalung.”
“Abang, tolong pakein,” suruh Sabine cepat.
Dylan berdiri lalu memasangkan kalung itu perlahan di leher Ana.
“Nah.” Dylan tersenyum kecil. “Cantik buat Mima.”
Dan saat itu juga Ana tidak bisa lagi menahan air matanya.
Wanita itu langsung memeluk kedua anaknya erat.
“Makasih ya, sayang…” bisiknya lirih penuh haru.
Di tengah restoran mewah itu…
untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ana merasa dirinya benar-benar dicintai.