Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Keranjang Kuning
"Bu Arini! Mas Rian! Lihat ini, omzet kita melonjak drastis!"
Pagi itu, ruang rapat divisi kreatif mendadak gempar. Layar proyektor di depan menampilkan grafik penjualan skincare yang melonjak tajam dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah video iklan darurat itu diunggah. Angka keranjang kuning terus berputar, menampilkan jumlah pesanan yang membludak hingga membuat tim kewalahan membalas pesan calon pembeli.
Pak Hendra, sang manager, yang sengaja datang ke ruangan itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Beliau berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Rian dengan bangga.
"Luar biasa, Rian. Ide kamu memanfaatkan momentum medsos dan mengganti model di menit-menit terakhir ini benar-benar genius. Jujur, saya sempat ragu, tapi hasil hari ini membuktikan insting kreatif kamu tidak salah. Pertahankan kinerja seperti ini!" puji Pak Hendra tulus.
Rian tersenyum sopan, mengangguk hormat. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Ini semua juga berkat totalitas Bu Arini yang mau turun tangan langsung di depan kamera."
Arini yang duduk di kursi utama hanya tersenyum tipis. Sebagai atasan, tentu dia bangga proyek ini sukses besar. Namun, setelah Pak Hendra dan anggota tim lainnya keluar dari ruang rapat untuk kembali bekerja—menyisakan dirinya dan Rian berdua—ekspresi wajah Arini langsung berubah lesu. Dia menopang dagunya, matanya terpaku pada layar ponsel yang sedari tadi ia gulir dengan gelisah.
Rian yang sedang merapikan berkas-berkas di meja menyadari perubahan aura sang atasan. Dengan sikap santainya yang biasa, dia menarik kursi dan duduk agak dekat.
"Kenapa, Bu? Omzet naik ratusan persen kok mukanya malah kayak belum bayar kontrakan?" seloroh Rian asal.
Arini menghela napas panjang, membalikkan layar ponselnya ke hadapan Rian. "Lihat deh, Rian. Memang sih banyak komentar positif yang bilang produknya bagus dan penyampaian saya natural. Tapi coba kamu baca beberapa komentar di bawah ini."
Rian memajukan wajahnya, membaca sederet komentar yang ditunjuk Arini.
@user98234: Modelnya kok mukanya kelihatan biasa aja ya? Kurang estetik kayak influencer biasanya.
@skincare_glowing: Ini ibunya siapa deh? Glowing sih, tapi pipinya agak chubby ya bun, kurang tirus buat ukuran iklan skincare.
Arini menarik kembali ponselnya dengan wajah cemberut. Sisi insecure wanitanya mendadak keluar. "Tuh, kan! Apa saya bilang kemarin? Pipi saya emang kelihatan tembem banget di video itu. Harusnya kemarin kamu dengerin saya buat crop bagian itu. Sekarang malah dikomenin netizen."
Rian bukannya panik atau merasa bersalah, dia malah bersandar santai di kursinya sambil melipat tangan di dada. Cowok itu menatap Arini dengan tatapan datar yang justru terlihat kocak.
"Ya ampun, Bu Arini... Ibu ini atasan saya, pintar bikin strategi bisnis, tapi kok masalah netizen medsos begini aja langsung kena mental?" Rian menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Ya tapi kan mereka body shaming, Rian!" protes Arini sebal.
"Gini ya, Bu," Rian memajukan badannya lagi, nadanya berubah sok serius. "Coba Ibu pikir pakai logika. Itu yang komen akunnya namanya @user98234, foto profilnya aja gambar kucing oren lagi mangap. Masa Ibu yang dandanannya rapi begini, jabatannya kepala staf, kalah wibawa sama kucing oren?"
Arini tertegun, lalu reflek menahan tawa mendengar perumpamaan asal Rian. "Ih, Rian! Serius, tahu!"
"Saya dua ratus persen serius, Bu. Lagian, soal pipi chubby... justru karena pipi Ibu yang begitu, ibu-ibu di luar sana merasa relatable. Mereka mikir, 'Oh, modelnya aja mukanya nyata kayak tetangga sebelah, berarti produknya beneran bagus, bukan editan!'. Makanya itu keranjang kuning sampai jebol. Kalau muka Ibu tirus setajam pisau dapur, orang malah takut mau beli."
Arini langsung melempar pulpen kosong di dekatnya ke arah Rian, yang dengan sigap ditangkap oleh cowok itu sambil terkekeh.
"Lagian, Bu," tambah Rian lagi sambil berdiri, bersiap keluar ruangan. "Di dunia medsos, komentar negatif itu justru bagus buat engagement. Makin banyak yang berdebat di kolom komentar, algoritma bakal makin ngangkat video kita. Jadi, anggap aja netizen yang julid itu adalah buruh gratisan yang lagi bantuin kita promosiin produk. Gak usah dipikirin, yang penting bonus penjualan bulan ini aman, kan?"
Rian mengerlingkan matanya sekilas lalu melenggang pergi meninggalkan ruang rapat dengan santai.
Arini menatap punggung bawahannya itu yang menghilang di balik pintu. Dia menunduk, melihat kembali layar ponselnya. Entah kenapa, rasa insecure yang tadinya sempat menyumbat dada, kini menguap begitu saja digantikan oleh senyuman kecil. Sifat cuek dan cara pandang Rian yang kelewat praktis itu ternyata sukses membuat hatinya jauh lebih tenang.