Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : PERUBAHAN SIKAP ARGA
Sehari setelah meeting kedua dengan Rayhan, udara di ruang kerja Kirana terasa berbeda.
Dulu, setiap pagi Arga selalu datang dengan segelas kopi dan satu kalimat singkat.
“Ini minum dulu kopinya, jangan terlalu keras bekerja Kirana !!”
" Udah jam istirahat Kirana. Makan siang dulu Kirana..!!"
"Jangan lembur terlalu malem lagi...!! "
" kamu istirahat saja biar ini aku yg lanjutin... "
Sekarang, semua ucapan itu tak lagi ada. Berbicara juga hanya sebatas membahas masalah pekerjaan. Saat sesekali mereka berpapasan
dan Arga hanya tersenyum singkat atau mengangguk.Tatapannya selalu lurus ke depan, dingin, dan Profesional. Tak ada lagi sapaan hangat. Tak ada lagi tatapan yang menenangkan hati. Senyumannya tak lagi sama, terlihat formal.
Kirana menatap punggung Arga yang menjauh. “Arga kenapa...?” pikir Kirana sambil menggenggam pulpen erat-erat. “Sejak kemarin dia berubah.”
Di ruang meeting, Arga sama sekali tidak melirik Kirana. Saat Kirana mengajukan pendapat tentang revisi kontrak Surabaya, Arga hanya mengangguk singkat. “Baik. Catat saja.”
Nada suaranya datar, tenang tapi terasa dingin.
“Kamu kenapa, Arga?” pikir Kirana. “ Apa kamu marah karena Rayhan . Atau karena kemarin Rayhan menyentuh tanganku. Sekarang Rayhan sudah pergi... kenapa kamu masih seperti ini Arga?” Kirana tak tahu kenapa hatinya terasa sakit saat sikap Arga berubah dingin.
Siang hari, Kirana sengaja lewat di depan ruangan Arga. Pintu terbuka sedikit. Arga sedang menatap layar laptop. Wajahnya tegang.
Tapi saat Kirana berdiri di ambang pintu dan ingin menyapa, Arga langsung menutup laptopnya dan berkata, “Ada apa Kirana?”
Satu kalimat. Tanpa senyuman.
Kirana terdiam. “Ti..Tidak ada. Aku cuma... mau tanya soal revisi dokumen.” Kirana sedikit gelagapan.
Arga mengangguk. “Kirim saja ke emailku. Nanti Aku cek. ”
Kirana berdiri di depan pintu itu cukup lama sebelum berjalan pergi. “Arga... kamu menghindariku.” bisik Kirana pelan. Dadanya terasa sesak.
Sore hari, Kirana pulang lebih awal dari biasanya. Dia sengaja pulang lebih awal dengan naik taksi, Dia tak menunggu Arga. Tak seperti hari hari yang lalu. Mereka yang selalu berangkat dan pulang bareng. Tapi kali ini entah kenapa Kirana tak sanggup jika harus berlama-lama di kantor, menghadapi sikap Arga yg dingin Kirana merasa tak sanggup.
"Arga berubah setelah meeting dengan Rayhan.” pikir Kirana. “Apa karena aku tidak cerita soal Rayhan waktu kuliah dulu?”
Kirana menghela napas panjang. “Aku kira dia tidak peduli soal itu. Kalau benar soal itu tapi kenapa dia tidak bertanya langsung? kenapa dia hanya diam? ” berbagai pertanyaan terus berputar di Kepalanya.
Di Rumah, Kirana duduk di sofa ruang tamu sambil menatap pintu. Sesekali melihat jam di handphone. Yang saat ini telah menunjukkan jam 22.00 " Arga kenapa kamu belum pulang, gak biasanya kamu pulang telat. Biasanya kamu paling semangat kalau disuruh pulang lebih awal."
Kirana teringat saat Papanya menyuruh mereka gak lembur diatas jam 7 malam. Dia teringat Arga yang sangat senang dengan peraturan baru papanya. Dia ingat saat Arga selalu mengingatkan Dirinya dengan peraturan baru papanya itu.
Tanpa sadar Kirana tersenyum
mengingat semua kelakuan Arga saat itu. Tapi senyumannya segera memudar saat mengingat kembali sikap Arga hari ini. Sikap kaku itu, tatapan dingin itu. Kenapa begitu menusuk hatinya Sakit. Kirana tak menyukai perasaan ini, seperti ada bongkahan batu yg mengganjal di hatinya.
"Kirana kamu kenapa sihh..? emangnya kenapa kalau Arga berubah..? Lagian hubungan kita hanya sementara, cepat atau lambat juga akan jadi asing kan.. " Kirana mencoba mengingatkan hatinya agar tidak terjebak.
"Non nunggu Den Arga yahh..?" Ucap Bi Rina yang baru beberes di dapur saat berjalan melewati Kirana.
"Iya Bi " jawab Kirana singkat.
"mau bibi bikinin susu hangat non..?? " Tawar Bi Rina.
"hem.. boleh bi"
Gak lama setelahnya Bi Rina kembali membawa susu hangat di gelas. Kirana mengambil dan meminumnya sedikit
demi sedikit.
"Yang sabar yah non, mungkin Den Arga emang kerjaannya lagi banyak Non. Den Arga nggak bakal main serong kok Non" ucap Bi Rina sedikit bercanda.
" Bibi ngomong apa sihh.. " Kirana sedikit
bingung, tapi gak lama dia tau maksud
Bi Rina.
" main serong mana mungkin, lagi pula selama ini aku tak pernah lihat dekat dengan cewek lain. Bahkan dari jaman kita sekolah dulu." Kirana sangat yakin soal itu.
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Kirana telah tertidur di sofa.
Tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka pelan. Arga masuk perlahan seolah tak ingin mengganggu orang yg sedang istirahat di rumah. Matanya terlihat lesu, ada semburat lelah di sana. Bajunya tanpak kusut tak lagi rapih. Arga melihat Kirana yang tertidur di Sofa ruang tamu sedikit
heran. Tak biasanya di ketiduran di sofa.
Arga ingin membangunkan tapi dia tak mau mengganggu tidurnya. Akhirnya dia memilih menggendong dan membawanya ke kamar tidurnya. Arga membaringkannya dengan perlahan lalu menyelimutinya dengan selimutnya.
Hari ini Arga merasa sangat lelah, dikantor Arga Harus revisi banyak dokumen yang cukup rumit. Mau tak mau dia harus lembur.
Sekarang Arga ingin segera mandi menghilangkan rasa penatnya. Arga keluar kamar dia ingin mandi di kamar mandi luar. Walaupun di kamar Kirana
ada kamar mandinya tapi Arga masih terasa belum terbiasa.
Setelah mandi rasanya badan jadi lebih segar dan pikiran jadi lebih tenang sekarang. Arga memutuskan untuk segera kembali ke kamar untuk segera tidur di Sofanya. Arga masuk perlahan agar tidak membangunkan Kirana tapi.
“Kamu belum tidur?” tanya Arga sedikit kaget saat melihat kirana tengah duduk dikasur bersandar di headboard kasur.
Kirana menoleh menatap Arga yang kelihatan baru mandi “Kamu baru pulang..?”
Suasana hening. Hanya terdengar suara AC yang berderu pelan.
Kirana menatap Arga. “Arga...” panggil Kirana pelan. Suaranya sedikit bergetar.
Arga tidak menjawab. Dia hanya berdiri tiga langkah di depan Kirana.
“Kenapa kamu berubah setelah meeting kemarin?” tanya Kirana langsung. Matanya menatap mata Arga tanpa berkedip. “Kenapa kamu jadi dingin padaku? Kenapa kamu menghindariku?”
DEG.
Jantung Arga seperti dipukul palu. Dia menatap Kirana. Wajah Kirana serius. Tidak ada main-main.
Arga ingin menjawab. Ingin bilang,
“Karena kamu tidak cerita kalau kamu pernah kenal Rayhan. Karena aku melihat cara Rayhan menatapmu. Karena aku takut kamu lebih percaya dia daripada aku.”
Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Arga... aku ini istrimu.” lanjut Kirana pelan.
“Kalau ada yang kamu tidak suka, kamu bisa bilang langsung. Bukan diam seperti ini.”
Arga menunduk. Tangannya mengepal. “Kamu...ke..kenapa kamu tidak cerita soal Rayhan padaku, Kirana.” jawab Arga akhirnya. Suaranya rendah. Hampir seperti berbisik.
“Apa karena itu masa lalu kamu. Jadi bukan urusanku..?”
Kirana terbelalak. “Bukan urusanmu?” ulangnya pelan.
Arga mengangguk. “Ya. Bukan urusanku. Karena Kita ini Hanya suami istri kontrak, Kirana. Jadi Aku tidak berhak tahu masa lalu kamu.” ucap Arga seraya menunduk.
Kalimat itu seperti tamparan untuk Kirana.
“Kontrak... lagi-lagi kontrak.” pikir Kirana sambil menggigit bibirnya. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Rasa sakit yang aneh.
“Kalau begitu... kenapa kamu berubah, Arga?” tanya Kirana lagi. Suaranya mulai tinggi. “Kalau memang bukan urusanmu, kenapa kamu jadi dingin padaku?”
Arga terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Matanya menatap Kirana dalam-dalam.
“Aku tidak berubah, Kirana.” jawab Arga pelan. “Aku hanya... kembali ke posisi semula.”
“Posisi semula?” Kirana mengernyit bingung.
“Posisi sebagai suami kontrakmu.” ucap Arga tegas. “Tidak lebih. Tidak kurang.”
Kirana terdiam. Napasnya tersendat.
“Posisi semula...Apa maksudmu Arga..?” gumam Kirana pelan. “Jadi selama ini... yang peduli, yang perhatian, yang cemburu... itu bukan Arga yang sebenarnya?”
Arga tidak menjawab. Dia hanya menatap Kirana. Matanya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan.
“Arga...Apa kamu cemburu sama Rayhan ?” tanya Kirana tiba-tiba.
DEG.
Arga terkejut. Wajahnya memucat. “Aku tidak cemburu.” jawab Arga cepat. Terlalu cepat.
Kirana tersenyum tipis. Tapi senyumnya pahit. “Kamu bohong, Arga.”
Arga menggeleng. “Aku tidak bohong.”
Kirana menatap Arga lama. Lalu menghela napas. “Kalau begitu... baiklah.” ucap Kirana pelan. “Aku mengerti sekarang.” Kirana mengalihkan pandangannya. Dia memilih berbaring tidur memunggungi Arga. matanya terpejam tapi dia tidak tidur.
“Arga... aku tidak akan bertanya lagi.” suara Kirana terdengar lirih. “Kalau kamu memang ingin aku kembali ke posisi istri kontrak... aku akan melakukannya.” ucapnya lirih
Arga terduduk di sofanya.
Arga menutup mata. Dadanya terasa sesak. “Aku tidak boleh bilang. Aku tidak boleh.” gumam Arga pelan. “Kalau aku bilang aku cemburu... kalau aku bilang aku takut kehilangan dia... kontrak ini akan berantakan.”
Arga bersandar ke di sofa. kedua tangannya merangkup mukanya. “Sial.” umpat Arga dalam hati. “Kenapa aku merasa takut jika dia pergi...?”
Di kasur, Kirana berbaring tempat tidur memunggungi Arga . Matanya berkaca-kaca.
“Arga... kenapa kamu harus berpura-pura?” pikir Kirana sambil memegang dada.
“Kenapa kamu harus menyembunyikan perasaanmu dariku?”
Kirana menatap cincin kontrak di jari manisnya. Cincin itu terasa dingin. Sangat dingin.
“Arga... kalau kamu memang tidak peduli... Tapi kenapa aku merasa kamu peduli?” pikir Kirana. “Kenapa aku merasa... kamu takut kehilangan aku?”
Malam itu, keduanya tidak bisa tidur.
Arga di sofa dengan selimut yang tidak bisa menghangatkan dadanya.
Kirana di dikasur dengan bantal yang sedikit basah oleh air matanya.
Di tempat lain, Rayhan tersenyum di balkon apartemennya sambil memegang gelas wine.
“Kirana... Arga...” gumam Rayhan pelan. “Sepertinya retakan di antara kalian sudah mulai terlihat.”
Rayhan menyesap wine-nya. “Permainan ini... semakin menarik.”
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"