Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Rencana Shen Meiren
"Aku sudah berada di kediaman ini selama 18 tahun. Bagaimana bisa kamu menghasut Kaisar untuk mengusirku, hanya karena aku setuju dengan pernikahan Yansheng?" tanya nyonya tua.
Sekarang, setelah memekik dan marah-marah tidak mempan. Sepertinya nyonya tua menggunakan jurus lain. Yaitu jurus menarik simpati. Sayangnya, wajah-wajah di depannya itu, bagi Mei Huarin, mau menangis, mau tertawa, mau marah, mau sedih, Mei Huarin sudah tidak perduli lagi.
Semenjak putrinya di kurung dan di siram dalam pengawasan ayah dan neneknya sendiri. Mei Huarin sudah tidak anggap lagi kedua orang itu.
"Seperti kata nyonya tua, nyonya tua sudah tinggal 18 tahun di kediaman Jinxi. Bukankah artinya nyonya tua menumpang cukup lama?" tanya Mei Huarin yang membuat mata nyonya tua makin lebar.
"Kau... aduh... aduh...!"
Nyonya tua Wang memegang dadanya kesakitan. Dan sepertinya mau pingsan.
"Ibu..."
"Pengawal, bantu jenderal bawa nyonya tua ke kediaman jenderal. Sepertinya nyonya tua akan pingsan, jangan sampai pingsan di kediaman Jinxi!"
"Mei Huarin, apa kamu masih manusia?" pekik Lu Yansheng.
"Pengawal, cepat!" Mei Huarin meninggikan suaranya.
"Yan'er, apa kamu akan diam saja melihat ayah dan nenekmu diperlakukan seperti ini?" tanya Lu Yansheng.
Pria itu segera beralih pada putrinya yang memang sejak dulu menjadi kesayangan Mei Huarin. Mei Huarin menoleh ke arah Lu Yanzhi. Dia penasaran apa yang akan dikatakan putrinya.
"Ayah, Yan'er minta maaf. Tapi di keduanya Jinxi, hanya perintah ibu yang Yan'er dengar dan lakukan!"
Brak
Lu Yansheng menghentak kuat lengan hanfu-nya. Para pelayan sudah mendekat untuk membantu mengangkat tubuh Nyonya tua.
"Minggir kalian!" Lu Yansheng memekik marah.
Dia mengangkat sendiri ibunya yang sudah pingsan. Entah pingsan sungguhan atau pura-pura pingsan.
Sementara di kediaman jenderal. Shen Meiren juga sudah marah-marah pada Xueyao. Karena barang-barang yang di bawa dari kediaman Jinxi. Diletakkan sembarangan saja di halaman kediaman.
"Kalian, kenapa semua barang-barang ini ada disini? singkirkan semuanya! kalian merusak tanamanku... aduh!"
Shen Meiren hampir jatuh, ketika dia tidak sengaja terselandung selimut yang di letakkan begitu saja di lantai.
"Nona, hati-hati" Chuying segera menangkap tubuh majikannya yang hampir jatuh.
"Apa-apaan ini!" pekiknya lagi dengan nada yang lebih marah.
Xueyao yang ikut mengangkat barang-barang yang sebenarnya tak begitu berharga. Tapi juga tidak mau membiarkan barang-barang itu terus berada di kediaman Jinxi meletakkan dua cangkir porselen biasa di atas meja.
"Sudah semua! para pelayan kembali ke kediaman Jinxi dan tutup pintu samping. Tanpa perintah dari nyonya, siapapun yang mau masuk ke kediaman Jinxi, harus lewat pintu depan!"
"Baik kak Xueyao!"
Xueyao sengaja melirik ke arah Shen Meiren dan Chuying. Gara-gara dia manusia itu, dia dan nona muda pertamanya beberapa waktu yang lalu di kurung di gudang kayu. Xueyao juga yakin, kalau sebenarnya orang-orang yang menyiram air itu adalah suruhan dua orang licik itu.
Xueyao menyunggingkan senyum mengejek.
'Heh, kalian tukang sebar fitnah. Memang seharusnya tidak diberi celah untuk memasuki kediaman Jinxi! rasakan itu!'
Melihat senyuman Xueyao, Shen Meiren menjadi sangat kesal.
"Hehh, aku ingin menikahi jenderal tingkat satu untuk mendapatkan segala kehormatan itu. Kenapa malah seperti ini? sudah diturunkan pangkat, nenek tua itu juga tidak berguna!" keluh Shen Meiren.
Akhirnya dia mulai merasa rencananya akan mendekati kegagalan. Shen Meiren dan ayahnya, perdana menteri kerajaan Yuzhuan. Selalu mendengar tentang prestasi jenderal yang luar biasa. Di usianya yang baru 37 tahun. Sudah menjabat menjadi jenderal tingkat satu. Padahal orang lain, baru bisa menjadi jenderal tingkat satu ketika usianya minimal 50 tahun atau lebih.
Shen Meiren juga mendengar kalau tentara Jinxi tidak pernah mengalami kekurangan pakaian dan pakaian hangat. Baju perang mereka juga adalah baju perang terbaik di jaman itu. Senjata yang mereka gunakan adalah senjata yang tidak pernah dimiliki oleh tentara kerajaan lain. Mereka selalu memenangkan peperangan.
Jika kerajaan lain butuh sampai 5 tahun berpegang baru menang. Pasukan yang di pimpin oleh jenderal Lu Yansheng hanya butuh maksimal 3 tahunan saja.
Sayangnya, mereka hanya mendengar hal itu. Mereka tidak tahu, kalau pasokan pangan, strategi perang, bahkan segala macam alat canggih itu, semuanya ada berkat Mei Huarin.
Dia yang selalu menyiapkan cadangan makanan, mau musim dingin atau kemarau, Mei Huarin selalu bisa menciptakan alat pertanian dan juga pangan apa yang cocok dan menghitung waktu panen dengan teliti.
Dia mengembangkan senjata di masa depan, dia modifikasi dengan bahan yang ada di jaman ini. Dia bahkan orang yang pertama kali menemukan bubuk mesiu. Dia sedang mengembangkannya bersama dengan tuan Wei, menteri pekerjaan umum kerajaan.
Semua karena Mei Huarin. Tapi Shen Meiren dan ayahnya berpikir semua itu adalah bakat, kemampuan dan keberuntungan milik jenderal sendiri.
"Panggil tabib kerajaan!" kata jenderal pada Du Guanzhi.
"Baik jenderal!"
"Ada apa dengan nyonya tua? barang-barang ini kenapa semuanya disini? apa kalian gagal mendebat wanita itu?" tanya Shen Meiren.
"Bisa diam dulu tidak? ibuku sedang pingsan!" tegur Lu Yansheng dengan tegas pada Shen Meiren.
Shen Meiren mendengus kesal.
"Nona, sabar dulu. Nyonya tua sedang pingsan. Kalau nona mendesak tuan jenderal, yang ada dia akan kehilangan respek. Sabar dan tenang dulu nona!"
"Bagaimana aku bisa tenang. Kita sudah lama disini, dan Jenderal belum juga menikahi ku. Kamu dengar titah Kaisar itu, bagaimana mungkin aku yang seorang putri perdana menteri Haris jadi selir. Aku tidak terima, enak saja!" omel Shen Meiren.
"Nona, tapi nona sudah hamil. Tidak bisa mundur!" kata Chuying.
Karena berita kehamilan ini sudah menyebar kemana-mana. Titah Kaisar juga menyebut perihal kehamilan Shen Meiren. Kalau Shen Meiren kembali ke kerajaan Yuzhuan, dia hanya akan jadi bahan celaan. Mungkin juga Kaisar kerajaan Yuzhuan tidak akan membiarkannya kembali.
Sayangnya memang bukan itu rencana Mei Huarin.
"Memangnya siapa yang ingin mundur, dan kembali ke kerajaan Yuzhuan?" Gumam Shen Meiren.
"Lalu..."
"Bukankah jika wanita yang bergelar nyonya jenderal itu mati. Maka posisi nyonya jenderal akan kosong?" tanya Shen Meiren membuat Chuying menelan ludahh dengan sulit.
***
Bersambung...
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️