NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: BENTENG DI BAWAH TANAH

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun bagi Nata, kegelapan malam adalah selubung yang paling ia butuhkan. Di sebuah kawasan industri yang tampak terbengkalai di pinggiran Tangerang, aktivitas luar biasa sedang berlangsung di balik pagar seng setinggi tiga meter yang dialiri listrik.

​"Progres pembangunan Prawira Fortress sudah mencapai enam puluh persen," lapor Elena sembari menyerahkan tablet yang menampilkan cetak biru tiga dimensi. "Lantai dasar disamarkan sebagai pabrik perakitan komponen elektronik biasa. Namun, tiga lantai di bawahnya adalah bunker yang mampu menahan ledakan rudal balistik dan serangan pulsa elektromagnetik (EMP)."

​Nata berjalan di antara kerangka beton yang kokoh. "Bagaimana dengan pasokan energinya? Aku tidak ingin kita bergantung pada jaringan listrik negara."

​"Kita menggunakan reaktor nuklir modular skala kecil (SMR) yang dipesan melalui jalur gelap di Eropa Timur, ditambah dengan panel surya transparan di seluruh atap pabrik. Kita bisa beroperasi secara mandiri selama lima tahun tanpa perlu kontak dengan dunia luar," jelas Elena.

​Nata mengangguk puas. Ia tahu bahwa statusnya sebagai "aset rahasia" pemerintah Indonesia bersifat sangat cair. Jika tekanan dari Washington menjadi terlalu besar, pemerintah bisa saja mengorbankannya dalam semalam. Benteng ini adalah asuransi jiwanya.

​Namun, saat Nata sedang memeriksa ruang server bawah tanah, ponsel satelitnya bergetar. Itu adalah sinyal peringatan dari Yuda yang berjaga di ruko Jakarta Barat.

​"Bos! Ada pergerakan di zona merah!" suara Yuda terdengar berbisik namun penuh tekanan. "Sistem termal menangkap tiga siluet manusia di atap bangunan tetangga. Mereka tidak bergerak seperti polisi atau tentara lokal. Mereka sangat... taktis."

​Nata merasakan dingin menjalar di tengkuknya. "Elena, aktifkan protokol Lockdown di ruko dari sini. Kirana dan Arya, bawa mereka ke ruang aman sekarang!"

​Di Washington, Jonathan Vance telah kehilangan kesabarannya. Jika jalur diplomatik gagal dan sanksi tidak mempan, maka "penghapusan fisik" adalah opsi terakhir yang diizinkan oleh dewan direksi Blackstone. Mereka mengirimkan Unit 7, sebuah tim tentara bayaran elit yang terdiri dari mantan operator pasukan khusus yang secara resmi "tidak ada" di catatan militer mana pun.

​Di ruko Jakarta Barat, suasana berubah menjadi mencekam. Lampu jalan di sekitar ruko tiba-tiba padam secara serentak—sebuah indikasi bahwa musuh telah memutus jalur listrik lokal.

​"Arya, pegang tangan Kakak! Jangan lepaskan!" Kirana berbisik dalam kegelapan, menarik adiknya masuk ke dalam lemari besar yang sebenarnya adalah pintu menuju ruang rahasia berlapis baja di bawah lantai kamar mereka.

​Yuda, yang memantau dari ruang kontrol ruko, melihat melalui kamera penglihatan malam (night vision). Para penyusup itu bergerak menggunakan tali dari gedung sebelah. Mereka tidak menggunakan senjata api biasa; mereka menggunakan pistol peredam suara dan granat kejut.

​"Unit keamanan satu, cegat di balkon lantai dua!" perintah Yuda melalui radio.

​Baku tembak senyap pecah di dalam lorong ruko. Tim keamanan swasta Nata, yang terdiri dari mantan anggota Kopassus, sudah bersiap. Namun, para penyusup Unit 7 sangat terlatih. Mereka menggunakan taktik CQC (Close Quarters Battle) yang sangat agresif.

​Nata, yang memantau melalui tablet di Tangerang, merasa tidak berdaya karena jarak. "Elena, apa kita punya akses ke sistem pertahanan non-lethal di ruko?"

​"Ada sistem gas neurotoxin ringan di langit-langit lorong utama, tapi itu akan melumpuhkan siapa pun di sana, termasuk tim keamanan kita," jawab Elena panik.

​"Aktifkan di sektor B saja! Itu akan mengisolasi para penyusup di tangga darurat!" perintah Nata.

​Gas berwarna kuning pucat mulai menyembur dari lubang ventilasi di tangga ruko. Dua penyusup Unit 7 yang sedang mendaki langsung tumbang, kehilangan kontrol atas saraf motorik mereka dalam hitungan detik. Penyusup ketiga, yang menyadari adanya jebakan kimia, mencoba melompat keluar jendela, namun ia sudah dikepung oleh tim keamanan Yuda.

​"Tangkap dia hidup-hidup!" teriak Yuda dari interkom.

​Satu jam kemudian, suasana di ruko kembali terkendali. Jenderal Surya tiba di lokasi dengan wajah geram setelah menerima telepon darurat dari Nata.

​"Anjing-anjing Amerika ini berani melakukan operasi hitam di tengah ibu kota kita?" Surya menatap salah satu penyusup yang terikat di kursi, kepalanya tertutup kain hitam.

​Nata tiba di ruko tak lama kemudian. Wajahnya tampak tenang, namun matanya memancarkan amarah yang bisa menghanguskan siapa saja. Ia langsung menuju ruang aman untuk memeluk Kirana dan Arya yang masih gemetar.

​"Kakak ada di sini. Kalian aman," bisik Nata.

​Setelah memastikan adiknya tenang, Nata keluar dan menemui Jenderal Surya di ruang tamu.

​"Jenderal, ini adalah bukti nyata. Mereka tidak akan berhenti sampai saya mati atau sistem saya mereka kuasai," ucap Nata. "Siapa pun yang mengirim mereka, mereka tidak menghormati kedaulatan Indonesia."

​Nata mendekati tawanan yang terikat. Ia membuka penutup kepalanya. Pria itu adalah seorang pria kulit putih dengan tato unit militer yang sudah dihapus secara kasar di lengannya.

​"Siapa yang membayarmu?" tanya Nata dingin.

​Pria itu hanya meludah ke lantai. "Kamu hanya seorang bocah yang bermain dengan api, Nak. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi."

​Nata tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat Jenderal Surya sekalipun merasa ngeri. "Aku tahu persis apa yang kuhadapi. Aku menghadapi sistem yang sudah tua dan sekarat. Dan aku adalah obat yang akan mengakhiri penderitaan kalian."

​Nata berbalik ke arah Elena. "Elena, ambil sidik jari dan retina matanya. Masukkan ke dalam database Dark Web. Aku ingin tahu setiap anggota keluarga pria ini, di mana mereka tinggal, dan di mana mereka menyimpan uang mereka. Jika Jonathan Vance ingin bermain kotor dengan keluargaku, aku akan menghancurkan setiap orang yang pernah ia kenal."

​Jenderal Surya tertegun. "Nata, itu melanggar etika intelijen."

​"Etika adalah untuk mereka yang memiliki aturan, Jenderal. Saat mereka menyerang rumahku, aturan itu sudah terbakar," jawab Nata.

​Malam itu, Nata membuat keputusan besar. Ia tidak bisa lagi tinggal di ruko ini. Esok pagi, ia akan memindahkan seluruh operasional dan keluarganya ke Prawira Fortress di Tangerang—sebuah benteng yang tidak hanya akan melindunginya, tapi juga menjadi pusat di mana ia akan melancarkan serangan balik yang akan mengguncang Wall Street hingga ke akarnya.

​"Persiapkan pemindahan," ucap Nata pada Yuda dan Elena. "Mulai besok, dunia akan mengenal sisi lain dari Nata Prawira. Sisi yang tidak akan pernah memberi ampun."

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!