Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Pertarungan Pertama Miyuki Melawan Iblis.
Kurza dan Miyuki memacu kuda mereka secepat kilat menuju ibu kota. Setibanya di aula utama istana, suasana terasa tegang; para jenderal dan penasihat raja tampak panik melihat peta perbatasan yang mulai memerah. Kurza melangkah maju ke depan takhta dengan denting baju zirah yang menggema. Di sampingnya, Miyuki berjalan dengan anggun namun waspada, tangannya selalu berada di dekat gagang senjatanya.
"Saya datang memenuhi panggilanmu, Yang Mulia," ucap Kurza sambil berlutut dengan satu kaki. Miyuki mengikuti gerakannya dengan sempurna. Raja mengangguk, matanya menatap tajam ke arah sosok asing di samping Kurza. "Bangkitlah, Kurza. Situasi sedang genting, tapi aku melihat kau tidak datang sendirian. Siapa gadis elf yang bersamamu ini? Auranya tidak bisa diremehkan." Kurza berdiri dan memberi isyarat kepada Miyuki untuk maju selangkah.
"Yang Mulia, perkenalkan, ini adalah Miyuki," suara Kurza terdengar penuh kebanggaan. "Dia adalah pelayan pribadiku sekaligus anggota pertama yang saya rekut. Meskipun dia seorang elf, kemampuannya dalam seni pedang dan sihir melampaui prajurit terbaik yang pernah saya temui. Saya menjamin dengan nyawa saya bahwa dia akan menjadi kunci dalam menghancurkan serangan iblis ini." jelas Kurza dengan wajah penuh keyakinan. Miyuki menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. "Suatu kehormatan bisa mengabdi untuk perjuangan Tuan Kurza dan kerajaan ini, Yang Mulia," ucapnya dengan nada tenang namun tegas.
Raja tampak terkesan, namun para jenderal lain mulai berbisik-bisik ragu tentang kehadiran seorang elf di garis depan.
Kurza melangkah mantap di lantai marmer aula istana yang dingin, diikuti oleh Miyuki yang kini mengenakan jubah hitam panjang untuk menutupi kulit pucatnya yang tampak lebih bersinar di bawah lampu kerajaan. Atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi berat saat mereka berdua berdiri di hadapan takhta.
"Yang Mulia," suara Kurza menggema, memecah ketegangan di antara para penasihat raja dan para jendral. "Saya akan membentuk sebuah pasukan kecil yang akan saya beri nama villen, mohon berikan saya ijin yang mulia." seru Kurza dengan harapan Raja memberikan ijin. Raja mencondongkan tubuh, "dengan melihat pengabdianmu kepada kerajaan Alabas, aku yakin tujuanmu membentuk villen untuk melindungi kerajaan ini dan rakyat Alabas, aku berikan ijin sepenuhnya untukmu Kurza." Suara lantang dari Raja menggema keseluruh ruangan.
"Terima kasih atas ijinnya yang mulia" jawab Kurza sembari memberi isyarat pada Miyuki untuk membuka tudung jubahnya, menampakkan telinga lancip.
"Dia lebih dari sekadar elf, Yang Mulia," tegas Kurza. "Miyuki. Dia adalah Vampir pertama yang hamba ciptakan melalui darah hamba sendiri." ucap Kurza.
Seketika, seluruh aula menjadi riuh oleh bisikan penuh kengerian. Para jenderal secara insting memegang gagang pedang mereka. Menciptakan makhluk abadi seperti vampir dianggap tabu, namun di tengah ancaman kepunahan manusia, kekuatan Miyuki adalah sesuatu yang tak bisa diabaikan.
Miyuki membungkuk hormat, namun taring kecil yang sempat terlihat saat ia membuka bibirnya membuat suasana semakin mencekam. "Hamba adalah pedang Tuan Kurza, Yang Mulia. Nyawa hamba adalah miliknya, dan kekuatan hamba sepenuhnya untuk memusnahkan musuh - musuh Kerajaan." Seru Miyuki agar Raja bisa menerimanya.
Raja terdiam cukup lama, dengan keraguan dan mempertimbangkan risiko memiliki monster di pihaknya. Akhirnya, sang Raja bertanya, "Kurza, apakah kau bisa menjamin dia tidak akan memangsa rakyatku?" tanya sang Raja melihat para jendralnya yang terlihat panik. Kurza melangkah maju, menghalangi pandangan penuh selidik para jenderal dan menatap langsung ke mata Raja dengan penuh keyakinan. Ia meletakkan tangan di bahu Miyuki, menunjukkan ikatan yang tak terpisahkan di antara mereka.
"Yang Mulia," ujar Kurza dengan suara berat yang menenangkan kegaduhan di aula. "Miyuki adalah bagian dari diriku. Sama seperti saya yang telah bersumpah setia pada kerajaan ini, dia pun membawa sumpah yang sama. Sebagai vampir, dia tidak akan menjadi ancaman bagi rakyat. Sebaliknya, dia adalah pelindung yang tidak akan pernah lelah dan tidak akan pernah gentar menghadapi maut." Jawab Kurza dengan penuh keyakinan kepada Miyuki.
Kurza kemudian menjelaskan "Miyuki. Dia hanya akan menumpahkan darah para iblis yang berani mengusik kedamaian kita. Kekuatannya bukan untuk menindas yang lemah, melainkan untuk menjadi perisai bagi mereka yang tidak bisa membela diri. Jika dia melanggar sumpah ini, maka nyawa saya adalah taruhannya." Miyuki menatap Raja dengan mata tampak tenang dan jernih, membuktikan kendali diri yang luar biasa.
"Hamba tidak lagi membutuhkan darah manusia untuk bertahan hidup, Yang Mulia." Seru Miyuki lagi. Mendengar jaminan yang begitu berani dari Kurza dan kata - kata yang keluar dari mulut Miyuki, ketegangan di aula perlahan mulai mencair, meski rasa waspada masih tersisa. Raja menghela napas panjang, lalu memberikan perintahnya.
"Baiklah, Kurza. Jika kau mempertaruhkan nyawamu untuknya, maka aku akan memberikan kepercayaanku. Pergilah ke perbatasan selatan. Tunjukkan padaku bahwa vampir ciptaanmu ini memang mampu menghancurkan pasukan iblis.
Setelah mendapatkan persetujuan Raja, Kurza menunjuk ke arah Jenderal Kel, seorang komandan veteran yang terkenal keras dan skeptis. "Jenderal Kel, aku butuh satu unit kavaleri darimu. ujar Kurza dingin. Meski enggan, Kel memberikan pasukannya. Mereka pun berangkat ke arah selatan, melewati desa-desa yang telah hangus terbakar. Setibanya di perbatasan, langit tampak hitam pekat oleh debu. Ratusan iblis rendahan merayap di tanah, sementara beberapa iblis bersayap mulai menukik tajam ke arah pasukan kavaleri.
"Tuan Kurza, izinkan saya melawan para iblis iyu," bisik Miyuki dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, melihat para iblis yang sudah bergerak. Miyuki melangkah maju ke depan pasukan. Ia melepaskan jubah hitamnya, menampakkan baju zirah ringan yang melekat di tubuh elfnya. Sementara itu Kurza memberikan perintah kepada jendral Kel "Jendral perintahkan pasukanmu untuk melawan iblis dan bantu Miyuki."
"Pasukan Bersiap!!! Ikuti Miyuki dan bertarung lah kalian." Perintah jendral Kel dengan suara yang lantang. Saat gerombolan iblis pertama menerjang dengan taring terhunus, Miyuki dan prajurit jendral Kel bergerak untuk menghadang para iblis, Miyuki bergerak secepat kilat bahkan mata manusia biasa tak mampu menangkap gerakannya.
"Srett... Srett... Srett." Suara Pedang yang di ayunkan oleh Miyuki menembus kulit dan tulang leher para Iblis. Hanya dalam satu ayunan Pedang yang diperkuat energi vampir, kepala para iblis langsung terlepas. Darah hitam iblis memercik ke wajah pucat Miyuki, namun alih-alih merasa jijik, matanya justru menyala merah terang. Miyuki dalam mode bertempur.
Ia menggunakan teknik "Vampir Speed"; tubuhnya berpindah-pindah posisi dalam sekejap, meninggalkan jejak bayangan merah di medan tempur. Para prajurit Jenderal Kel terperangah. Mereka melihat seorang gadis yang tadinya tampak lembut, kini menjadi mesin potong dengan pedangnya dan kecepatan yang mustahil dimiliki manusia atau elf biasa.
"Luar biasa..." gumam salah satu prajurit dengan tangan gemetar. Kurza berdiri di kejauhan sambil bersedekap, tersenyum tipis melihat pelayan pribadinya membantai musuh. "Itulah keindahan dari makhluk yang aku ciptakan," ucapnya pelan. "Miyuki bantu pasukan jendral Kel!!!" Teriak Kurza yang melihat pasukan jendral Kel kualahan menghadapi para iblis dan satu per satu prajurit tumbang.
Mendengar teriakan dari tuannya, Miyuki bergegas ke arah pasukan jendral Kel dan membantu melawan iblis. Belum selesai Miyuki menghabisi iblis yang melawan jendral Kel dan pasukanya, tiba - tiba di tengah pertempuran, tanah tiba-tiba bergetar hebat. Dari kepulan asap hitam di garis belakang, muncul sesosok raksasa setinggi tiga meter dengan tanduk melengkung dan kulit sekeras baja sang Bos Iblis, Malphas. Ia membawa kapak raksasa yang masih berlumuran darah manusia.
"Hanya seorang gadis kecil?" geram Malphas dengan suara parau yang menggetarkan udara. "Bau darahmu aneh... kau bukan manusia, tapi juga bukan elf murni!" Seru ibils itu kepada Miyuki. Miyuki berdiri tegak, membiarkan rambut putihnya tertiup angin yang membawa bau kematian. Matanya yang merah menyala menatap dingin ke arah Malphas. Tanpa sepatah kata pun, ia melesat maju.
Duar! Duar!
Kapak Malphas menghantam tanah mengarah ke tubuh Miyuki yang melesat maju, menciptakan kawah besar. Namun, Miyuki sudah berada di udara.
Ting... Ting... Ting
Suara benturan antara kapak dan pedang terus terdenger. Kecepatan Miyuki dapat diimbangi oleh pertahanan Malphas yang kokoh. Sementara itu dari jauh Kurza menghabisi para iblis yang melawan pasukan jendral Kel, agar fokus Miyuki tidak terpecah, dengan kekuatan besarnya, menghabisi iblis lemah bukanlah perkara sulit bagi Kurza.
Dalam hitungan detik, dengan tangan kosong dan kecepatan yang ia miliki Kurza sudah menghabisi setengah dari iblis yang masih bertempur, menyiksakan beberapa iblis yang masih dilawan jendral Kel dan pasukanya. Sedengakan di sisi lainya Miyuki yang masih kesulitan menembus pertahanan Malphas. Kini pertarungan Miyuki dengan Malphas semakin intens, Miyuki tidak lagi mengandalkan pedangnya, sesekali dia mengluarkan sihir Es nya untuk melawan Malphas.
Mampukah Miyuki mengalahkan Bos iblis Malphas??? ....