NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Perjalanan mendaki menjadi jauh lebih berat. Medan pegunungan utara yang terjal seolah menolak kehadiran mereka. Selena merasa paru-parunya terbakar oleh udara dingin, sementara keringat dingin membasahi punggungnya. Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, kehangatan dari belati di pinggangnya seolah menyuntikkan energi baru ke dalam nadinya.

​"Riven," panggil Selena di sela napasnya yang menderu. "Jika energi ini bisa dirasakan oleh Dewan, apakah Joan juga bisa merasakannya? Jika dia masih hidup apakah dia akan tahu di mana aku berada?"

​Riven berhenti sejenak di sebuah dahan pohon besar untuk memastikan jalur di depan mereka aman. Ia menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Meskipun dia bukan Alpha-mu, Joan adalah seorang Alpha yang sudah bersentuhan langsung dengan energimu, Selena. Jika dia masih bernapas, instingnya akan mencari frekuensi Darah Bulan yang sedang bangkit ini, tapi ingat itu juga berarti musuhmu punya kompas yang sama untuk menemukanmu."

​Selena terdiam dan merenungkan kemungkinan itu. Ia membayangkan Joan lemah, terluka, namun tetap berusaha merangkak mencarinya. Pikiran itu memberinya secercah harapan sekaligus rasa takut yang luar biasa. Ia harus menjadi kuat bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi agar Joan tidak perlu berkorban lagi untuknya.

​Tiba-tiba suhu di sekitar mereka turun secara drastis. Kabut yang tadinya berwarna kelabu berubah menjadi putih pekat, menghalangi pandangan bahkan hingga jarak satu meter.

​"Kita sudah sampai. Batas Lembah Pembuangan," bisik Riven.

​"Kenapa tempat ini terasa sangat mati?" tanya Selena sambil merapatkan mantelnya. Ia tidak lagi mendengar suara serangga atau burung. Keheningan di sini terasa begitu mutlak seolah-olah suara pun takut untuk bergema.

​"Karena di sinilah peperangan besar terakhir berakhir. Ribuan serigala tewas di tanah ini dan amarah mereka masih menghuni kabut ini." Riven melangkah sangat hati-hati. "Jangan bicara kecuali perlu. Lembah ini bisa memutarbalikkan ingatanmu. Tetap fokus pada tujuanmu, Breaker."

​Baru saja mereka melangkah masuk ke dalam lembah, Selena mendengar sesuatu bukan suara Stalkers atau langkah kaki pasukan Lucian, melainkan suara yang sangat ia kenali.

​"Selena lari!"

​Selena tersentak. Itu suara Joan. Suaranya terdengar sangat nyata seolah pria itu sedang berbisik tepat di telinganya.

​"Joan?" Selena berbalik dengan panik dan matanya mencari-cari di balik kabut putih.

​"Selena, jangan dengarkan!" seru Riven, tangannya mencengkeram bahu Selena dengan keras. "Itu bukan dia! Itu hanya tipu daya lembah ini!"

​Tapi bayangan itu muncul. Di antara pepohonan yang meranggas, Selena melihat sosok pria yang bersandar pada batang pohon besar. Bahunya bersimbah darah persis seperti saat terakhir ia melihatnya di kabin. Pria itu menatapnya dengan mata yang redup, lalu mengulurkan tangan yang gemetar ke arahnya.

​"Joan." Air mata Selena jatuh dan rasanya begitu nyata.

Rasa bersalah yang selama ini ia pendam meledak seketika. "Maafkan aku tidak seharusnya meninggalkanmu."

​"Selena, sadarlah!" Riven mencoba menariknya, namun Selena seolah terpaku di tempatnya.

​Saat Selena hendak melangkah menuju bayangan Joan, belati di pinggangnya kembali memanas, bahkan kali ini terasa seperti membakar kulitnya. Rasa sakit itu menyentakkan kesadaran Selena. Ia melihat ke bawah, ke arah tangannya yang mulai berpendar perak secara liar. Cahaya itu memancar kuat menembus kabut dan mengenai bayangan Joan di depannya.

​Seketika sosok Joan yang terluka itu berubah. Wajahnya memanjang dan kulitnya mengelupas, menunjukkan wujud makhluk kabut yang mengerikan sebelum akhirnya lenyap tertiup angin.

​Selena terengah-engah, terduduk di tanah yang dingin. "Itu bukan dia."

​Riven berlutut di sampingnya dan napasnya juga memburu. "Hampir saja. Lembah ini memakan penyesalanmu, Selena. Jika kamu tadi menyentuhnya, kamu akan menjadi bagian dari kabut ini selamanya."

​Selena mencengkeram hulu belatinya dan mencoba menenangkan detak jantungnya.

"Kita harus segera menemukan senjata itu. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi."

​"Lihat ke sana!" Riven menunjuk ke arah pusat lembah, di mana sebuah altar batu tua berdiri tegak di tengah danau yang membeku. Di atas altar itu ada sebuah cahaya biru keperakan memancar rendah, memecah kesunyian lembah yang mematikan. "Itu dia. Breaker."

Selena menatap altar di tengah danau membeku itu dengan perasaan campur aduk. Cahaya biru keperakan yang memancar dari sana seolah memanggil-manggil sel darah di dalam tubuhnya, menciptakan resonansi yang membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.

​"Es ini, apakah cukup kuat untuk menahan beban kita?" tanya Selena, suaranya sedikit bergetar saat ia melangkah mendekati tepian danau.

​"Es ini tidak membeku karena suhu, Selena," jawab Riven dengan matanya menyipit waspada. "Ini membeku karena sihir penjaga. Bagi siapa pun yang tidak memiliki darah murni, es ini akan terasa seperti air biasa dan menenggelamkan mereka ke dasar danau yang berisi jiwa-jiwa serigala yang gagal. Tapi bagimu ...."

​Riven melangkah mundur, memberi ruang bagi Selena. "Ini adalah jalanmu. Aku tidak bisa menemanimu ke altar itu. Segelnya akan menghancurkanku jika aku melangkah lebih jauh."

​Selena menelan ludah. Ia menatap permukaan danau yang berkilau di bawah cahaya bulan. Dengan ragu, ia menjulurkan ujung kakinya. Saat sepatunya menyentuh permukaan es, tidak ada bunyi retakan. Sebaliknya ada sebuah riak cahaya perak menyebar dari titik sentuhannya seolah danau itu sendiri menyambut kepulangannya.

​Selena mulai berjalan dan setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya yang berpendar. Di tengah danau, kesunyian terasa begitu murni. Saat ia sampai di depan altar batu, ia melihat sebuah benda yang terbungkus dalam kristal transparan bukan sekadar pedang biasa, itu adalah bilah yang terbuat dari bahan yang menyerupai cahaya padat dengan hulu yang dihiasi ukiran kuno berbentuk bulan sabit.

​Selena mengulurkan tangannya dan jantungnya berdegup kencang. Ia ingat peringatan Riven tentang mekanisme pertahanan yang mematikan.

​"Breaker," gumamnya.

​Begitu jemarinya menyentuh permukaan kristal, sebuah ledakan energi murni menghantamnya. Selena terjatuh berlutut, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Ia merasakan jiwanya seolah ditarik masuk ke dalam sejarah ribuan tahun kaum serigala. Ia melihat peperangan, ia melihat pengkhianatan Dewan, dan ia melihat ibunya Joan yang tewas dengan tragis.

​Cahaya di kulit Selena meledak menjadi begitu terang hingga menembus kabut lembah dan memancar ke langit malam seperti suar raksasa. Di kejauhan, Riven menutupi matanya karena silau.

​Kristal itu pecah dengan suara dentuman yang menggelegar. Selena sekarang memegang hulu Breaker. Senjata itu terasa ringan seolah menjadi bagian dari lengannya sendiri. Pendaran di kulitnya perlahan meredup dan menyatu ke dalam bilah senjata tersebut. Namun, kemenangan itu hanya bertahan sesaat.

​"Luar biasa," sebuah suara berat dan penuh wibawa bergema dari balik kabut di seberang danau.

​Selena dan Riven tersentak. Dari kegelapan, muncul serombongan pria berjubah putih dengan zirah perak yang berkilau. Di depan mereka berdiri seorang pria tua dengan tongkat kayu hitam yang ujungnya dihiasi taring serigala.

​"Dewan," desis Riven, giginya menggeram rendah.

​"Terima kasih telah membukakan jalannya untuk kami, Darah Bulan," ucap sang tetua Dewan dengan senyum dingin. "Sekarang, serahkan senjata itu sebelum kami menghancurkan teman pemandumu yang malang itu."

​Selena berdiri tegak, menggenggam Breaker dengan kedua tangannya. Rasa takut yang tadinya menghantui sekarang hilang digantikan oleh kedinginan yang mematikan. Ia melirik Riven yang sudah terkepung, lalu menatap lurus ke arah tetua Dewan.

​"Joan bilang padaku bahwa kalian adalah iblis berjubah keadilan dan sekarang aku mengerti kenapa senjata ini disebut pemutus kutukan, karena malam ini, aku akan memutus kekuasaan kalian."

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!