NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Batas yang Mulai Hilang

Ponsel di tangan Alya masih berdering.

Nama Dimas terus muncul di layar, seolah panggilan itu datang di waktu yang paling tidak tepat.

Sementara itu, di hadapannya, Raka berdiri begitu dekat.

Pandangan pria itu tenang, namun cukup untuk membuat jantung Alya berdebar tak karuan.

“Itu pilihan Anda.”

Ucapannya terdengar biasa saja.

Namun Alya tahu, Raka tidak ingin dia mengangkat telepon itu.

Dan yang paling mengganggu, sebagian dari dirinya justru merasa senang mengetahui kenyataan itu.

Dering ponsel itu berhenti beberapa detik kemudian.

Keheningan kembali menyelimuti ruang tengah.

Namun kali ini, terasa jauh lebih berat.

“Alya.”

Suara Raka terdengar rendah.

Alya sadar, jika pria itu terus memanggil namanya dengan nada seperti itu, dia benar-benar akan kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih.

“Hm?”

Pandangan Raka turun sejenak ke ponsel di tangan Alya, sebelum kembali menatap wajahnya.

“Jawaban Anda?”

Alya sedikit mengernyit.

“Jawaban apa?”

“Pertanyaan saya tadi.”

Tentang Dimas.

Tentang pria lain.

Tentang perasaan yang perlahan tak lagi mereka sembunyikan.

Napas Alya terasa sedikit tertahan.

Dia menurunkan ponselnya perlahan ke meja.

Lalu menatap Raka cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak ingin bersama Dimas.”

Kata-kata itu keluar begitu jujur, sampai Alya sendiri sedikit terkejut.

Pandangan Raka berubah tipis.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada semacam kelegaan kecil di mata pria itu.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Alya tertawa kecil, gugup.

“Kamu benar-benar ingin mendengar jawabannya?”

“Ya.”

Suasana mendadak terasa begitu pribadi.

Terlalu dekat.

Namun Alya lelah terus menghindar.

“Aku nyaman denganmu.”

Jantungnya sendiri langsung berdetak lebih cepat setelah pengakuannya itu.

Raka tidak berbicara.

Pandangannya hanya terus tertuju pada Alya, seolah menunggu lebih banyak.

Dan anehnya, Alya ingin terus berbicara.

“Awalnya aku takut padamu,” lanjutnya pelan sambil tersenyum kecil. “Kamu dingin, menyebalkan, dan terlalu suka mengatur.”

Sudut bibir Raka sedikit bergerak.

“Tapi sekarang…”

Alya menggigit bibirnya sebentar.

“…aku mulai takut kehilangan semua ini.”

Kalimat itu akhirnya terucap.

Begitu suasana hening setelahnya, Alya sadar dirinya benar-benar sudah jatuh terlalu dalam.

Pandangan Raka kini berubah sangat dalam.

Pria itu melangkah mendekat perlahan hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka.

“Alya.”

Nada suaranya sangat rendah.

Dan jantung Alya langsung berdebar tak karuan.

“Saya tidak pernah berniat membuat semuanya menjadi seperti ini.”

“Aku juga.”

“Tapi sekarang saya tidak yakin bisa kembali seperti semula.”

Kata-kata itu terasa terlalu nyata.

Terlalu jujur.

Dan Alya tahu, tidak ada jalan mundur setelah ini.

Perlahan, tangan Raka menyentuh sisi wajah Alya lagi.

Lembut.

Hangat.

Seolah pria itu sudah begitu terbiasa melakukannya.

“Kamu tahu apa masalahnya?” gumam Alya pelan sambil menatap mata pria itu.

“Apa?”

“Kita masih terikat kontrak.”

Pandangan Raka langsung berubah sedikit lebih gelap.

Dan Alya bisa melihat dengan jelas, pria itu juga membenci kenyataan tersebut.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu Raka berkata pelan, “Jika kontrak itu tidak ada…”

Napas Alya langsung tertahan.

Namun, sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah lorong.

Keduanya langsung sedikit menjauh secara refleks.

Mira muncul sambil membawa beberapa dokumen, dan begitu melihat posisi mereka, wanita itu langsung berhenti mendadak.

“Oh.”

Alya langsung salah tingkah dan buru-buru memalingkan wajah.

Sementara itu, Raka kembali memasang ekspresi datarnya secepat kilat.

“Ada apa?” tanya pria itu dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Mira berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar.

“Ah… maaf mengganggu,” ucapnya. Dia menyerahkan map pada Raka. “Ini dokumen yang diminta kantor.”

“Taruh di ruang kerja.”

“Baik.”

Namun sebelum pergi, Mira sempat melirik Alya dengan senyum kecil penuh arti.

Alya langsung merasa ingin menghilang.

Begitu Mira benar-benar pergi, suasana canggung langsung muncul lagi.

“Aku rasa…” Alya berdeham kecil, “semesta memang tidak suka kita berbicara serius.”

Raka menghela napas pelan.

“Sepertinya begitu.”

Namun kali ini, sudut bibir pria itu benar-benar terlihat seperti menahan senyum.

Dan Alya langsung sadar, dia mulai terlalu menyukai Raka yang seperti ini.

***

Keesokan paginya, Alya datang ke rumah sakit sendirian.

Bukan karena Raka tidak menawarkan untuk mengantar.

Justru pria itu menawarkan terlalu cepat.

Namun Alya butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri.

Karena jika terus berada dekat Raka setelah percakapan semalam, dia takut benar-benar melupakan bahwa hubungan mereka seharusnya ada batasnya.

Namun sayangnya, begitu sampai di rumah sakit, semesta kembali tidak berpihak kepadanya.

“Alya.”

Dia menoleh.

Dimas berjalan mendekat sambil membawa kopi.

Dan senyum pria itu langsung muncul begitu melihatnya.

“Kamu datang sendirian?”

Alya mengangguk kecil.

“Iya.”

“Bagus.” Dimas menyerahkan satu gelas kopi padanya. “Berarti aku tidak sia-sia membeli dua.”

Alya menerima kopi itu perlahan.

“Makasih.”

Mereka berjalan bersama menuju ruang rawat ibunya.

Dan untuk sesaat, suasana terasa ringan dan normal, layaknya dua teman lama.

Namun entah kenapa, Alya justru merasa ada sesuatu yang terasa kurang.

“Kenapa melamun?” tanya Dimas tiba-tiba.

“Hm? Tidak.”

“Kamu banyak berubah.”

Alya tertawa kecil.

“Banyak orang mengatakan itu akhir-akhir ini.”

“Karena memang terlihat jelas.”

Pandangan Dimas kini lebih serius.

“Kamu benar-benar menyukai suamimu?”

Langkah Alya langsung sedikit melambat.

Pertanyaan itu terlalu langsung.

Dan yang lebih parah, dia tidak bisa menjawab secepat dulu.

Dimas memperhatikan reaksinya diam-diam.

Lalu tersenyum kecil pahit.

“Aku terlambat ya?”

Jantung Alya terasa sedikit tidak nyaman.

“Dimas…”

“Aku dulu terlalu sibuk mengejar karier.” Dia tertawa kecil hambar. “Dan sekarang waktu aku akhirnya sadar… ternyata kamu sudah jadi milik orang lain.”

Kalimat itu membuat Alya terdiam.

Karena untuk pertama kalinya, dia benar-benar melihat betapa seriusnya perasaan Dimas.

Namun sebelum Alya sempat mengatakan sesuatu, suara langkah kaki lain terdengar dari ujung lorong.

Dan saat Alya menoleh, napasnya langsung sedikit tertahan.

Raka berdiri di sana.

Masih dengan setelan kerja gelapnya dan ekspresi tenang seperti biasa.

Namun pandangan pria itu langsung tertuju pada dirinya dan Dimas.

Lalu perlahan, menjadi dingin.

Alya langsung sedikit panik.

“Kamu ke sini?”

“Saya lupa beberapa dokumen tertinggal di mobil Anda tadi pagi.”

Nada suaranya datar.

Terlalu datar.

Dan Alya langsung tahu, pria itu sedang menahan perasaannya.

Pandangan Raka beralih singkat ke kopi di tangan Alya, lalu ke Dimas.

Dan suasana lorong rumah sakit itu berubah. Menjadi hening. Sunyi. Dan berbahaya.

Karena untuk pertama kalinya, Raka terlihat seperti pria yang benar-benar tidak suka melihat wanita yang ia inginkan berdiri terlalu dekat dengan pria lain.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!