Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hujan Pertama Balqis & Dokter Cilik yang Menyembuhkan Ayah
Hujan turun deras sejak subuh, mengetuk-ngetuk atap seng seperti drum kecil yang dimainkan oleh langit. Balqis bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi kasur sambil menggosok mata. “Yah… hujan!” serunya girang, lalu berlari ke jendela.
Aku masih terbaring lemas, tubuhku berat seperti diisi pasir. Tapi melihat antusiasme Balqis, aku terpaksa bangkit perlahan. “Iya, Dek. Hujan deras banget.”
“Balqis mau main air!” katanya sambil melompat-lompat kecil.
Aku tersenyum tipis. “Nanti sakit, Nak. Kita di dalam aja ya.”
Tapi Balqis tidak menyerah. Ia mengambil ember plastik merah kesayangannya, lalu menarik-narik lenganku. “Ayah ikut! Kita main di teras! Aman!”
Aku menatapnya lama. Teras rumah kami memang cukup luas, beratap genteng, dan lantai keramiknya tidak licin. Kalau hanya bermain air di situ, mungkin tidak apa-apa. Lagipula, sejak kemarin Balqis jarang keluar rumah karena demam. Mungkin ini saatnya dia bereksplorasi lagi.
“Oke,” jawabku akhirnya. “Tapi pakai jaket tebal ya. Dan jangan sampai basah kuyup.”
Balqis bersorak senang. Ia memakai jaket rajutan pemberian Bu Sari, lalu mengambil gayung kecil dan ember merahnya. Aku duduk di kursi rotan tua di sudut teras, menyaksikan Balqis yang dengan serius mengisi embernya dari genangan air hujan yang mengalir dari talang.
“Ayah, lihat! Airnya banyak!” teriaknya sambil menyiramkan air ke udara.
“Awas, Dek! Jangan terlalu dekat sama Ayah, nanti baju Ayah basah,” godaku sambil tertawa.
Balqis malah semakin semangat. Ia berlari kecil ke arahku, lalu menyiramkan air ke kakiku. “Sekarang Ayah basah juga!”
Aku pura-pura marah, tapi sebenarnya hatiku hangat. Sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa Balqis selepas ini. Sejak stroke, dunia kami sering kali terasa sunyi, penuh beban, dan penuh ketakutan. Tapi hari ini, di tengah hujan deras, Balqis mengingatkaniku bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal paling sederhana.
Tiba-tiba, Balqis berhenti bermain. Ia berjalan pelan ke arah meja kecil di sampingku, tempat kotak obatku biasa diletakkan. Dengan hati-hati, ia membuka tutup kotak itu, lalu mengambil satu botol kosong — bekas obat batuk yang sudah habis.
“Ayah sakit?” tanyanya polos.
“Iya, Dek. Ayah masih lemah.”
Balqis mengangguk serius. Lalu ia mengambil spuit tanpa jarum (bekas alat ukur obat cair), mengisinya dengan air hujan, lalu berpura-pura menyuntikkan ke lengan ku. “Suntik! Biar Ayah cepat sembuh!”
Aku tertawa lepas. “Waduh, dokter Balqis hebat sekali! Suntiknya nggak sakit sama sekali!”
Balqis tersenyum bangga. Ia melanjutkan ‘perawatan’ dengan memberikan ‘obat’ berupa air hujan yang disendokkan ke mulutku. “Minum, Yah! Ini obat ajaib dari langit!”
Aku menurutinya, meski hanya berpura-pura minum. Setiap tetes air hujan yang ‘diberikan’ Balqis terasa seperti doa yang turun langsung dari langit. Bukan sekadar air, tapi simbol cinta, harapan, dan kepercayaan seorang anak kepada ayahnya.
Setelah ‘pengobatan’ selesai, Balqis duduk di pangkuanku, tubuhnya hangat meski bajunya sedikit basah. “Ayah udah sehat belum?”
“Ayah udah jauh lebih sehat, Dek. Berkat dokter Balqis.”
Balqis memelukku erat. “Kalau gitu, kita main lagi besok ya? Kalau hujan lagi.”
Aku mengelus rambutnya yang lembap. “Iya, sayang. Kapan pun hujan turun, kita main bersama.”
Siang harinya, setelah hujan reda, aku mencuci pakaian Balqis dan menggantinya dengan baju kering. Lalu aku duduk di depan laptop, mulai mengetik bab ini.
Saya harus menulis bab ini.
Saya harus abadikan hari di mana Balqis menjadi dokter cilik yang menyembuhkan Ayah bukan dengan obat, tapi dengan tawa dan cinta.
Supaya dunia tahu, bahwa bahkan di tengah badai kehidupan, seorang anak kecil bisa menjadi obat bagi jiwa yang lelah.
Satu bab lagi selesai.
Lima belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 5 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan kirimkan keajaiban melalui hujan, tawa anak kecil, dan hati yang tetap percaya pada kebaikan.