NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat / Tamat
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Hujan Pertama Balqis & Dokter Cilik yang Menyembuhkan Ayah

Hujan turun deras sejak subuh, mengetuk-ngetuk atap seng seperti drum kecil yang dimainkan oleh langit. Balqis bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi kasur sambil menggosok mata. “Yah… hujan!” serunya girang, lalu berlari ke jendela.

Aku masih terbaring lemas, tubuhku berat seperti diisi pasir. Tapi melihat antusiasme Balqis, aku terpaksa bangkit perlahan. “Iya, Dek. Hujan deras banget.”

“Balqis mau main air!” katanya sambil melompat-lompat kecil.

Aku tersenyum tipis. “Nanti sakit, Nak. Kita di dalam aja ya.”

Tapi Balqis tidak menyerah. Ia mengambil ember plastik merah kesayangannya, lalu menarik-narik lenganku. “Ayah ikut! Kita main di teras! Aman!”

Aku menatapnya lama. Teras rumah kami memang cukup luas, beratap genteng, dan lantai keramiknya tidak licin. Kalau hanya bermain air di situ, mungkin tidak apa-apa. Lagipula, sejak kemarin Balqis jarang keluar rumah karena demam. Mungkin ini saatnya dia bereksplorasi lagi.

“Oke,” jawabku akhirnya. “Tapi pakai jaket tebal ya. Dan jangan sampai basah kuyup.”

Balqis bersorak senang. Ia memakai jaket rajutan pemberian Bu Sari, lalu mengambil gayung kecil dan ember merahnya. Aku duduk di kursi rotan tua di sudut teras, menyaksikan Balqis yang dengan serius mengisi embernya dari genangan air hujan yang mengalir dari talang.

“Ayah, lihat! Airnya banyak!” teriaknya sambil menyiramkan air ke udara.

“Awas, Dek! Jangan terlalu dekat sama Ayah, nanti baju Ayah basah,” godaku sambil tertawa.

Balqis malah semakin semangat. Ia berlari kecil ke arahku, lalu menyiramkan air ke kakiku. “Sekarang Ayah basah juga!”

Aku pura-pura marah, tapi sebenarnya hatiku hangat. Sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa Balqis selepas ini. Sejak stroke, dunia kami sering kali terasa sunyi, penuh beban, dan penuh ketakutan. Tapi hari ini, di tengah hujan deras, Balqis mengingatkaniku bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal paling sederhana.

Tiba-tiba, Balqis berhenti bermain. Ia berjalan pelan ke arah meja kecil di sampingku, tempat kotak obatku biasa diletakkan. Dengan hati-hati, ia membuka tutup kotak itu, lalu mengambil satu botol kosong — bekas obat batuk yang sudah habis.

“Ayah sakit?” tanyanya polos.

“Iya, Dek. Ayah masih lemah.”

Balqis mengangguk serius. Lalu ia mengambil spuit tanpa jarum (bekas alat ukur obat cair), mengisinya dengan air hujan, lalu berpura-pura menyuntikkan ke lengan ku. “Suntik! Biar Ayah cepat sembuh!”

Aku tertawa lepas. “Waduh, dokter Balqis hebat sekali! Suntiknya nggak sakit sama sekali!”

Balqis tersenyum bangga. Ia melanjutkan ‘perawatan’ dengan memberikan ‘obat’ berupa air hujan yang disendokkan ke mulutku. “Minum, Yah! Ini obat ajaib dari langit!”

Aku menurutinya, meski hanya berpura-pura minum. Setiap tetes air hujan yang ‘diberikan’ Balqis terasa seperti doa yang turun langsung dari langit. Bukan sekadar air, tapi simbol cinta, harapan, dan kepercayaan seorang anak kepada ayahnya.

Setelah ‘pengobatan’ selesai, Balqis duduk di pangkuanku, tubuhnya hangat meski bajunya sedikit basah. “Ayah udah sehat belum?”

“Ayah udah jauh lebih sehat, Dek. Berkat dokter Balqis.”

Balqis memelukku erat. “Kalau gitu, kita main lagi besok ya? Kalau hujan lagi.”

Aku mengelus rambutnya yang lembap. “Iya, sayang. Kapan pun hujan turun, kita main bersama.”

Siang harinya, setelah hujan reda, aku mencuci pakaian Balqis dan menggantinya dengan baju kering. Lalu aku duduk di depan laptop, mulai mengetik bab ini.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus abadikan hari di mana Balqis menjadi dokter cilik yang menyembuhkan Ayah bukan dengan obat, tapi dengan tawa dan cinta.

Supaya dunia tahu, bahwa bahkan di tengah badai kehidupan, seorang anak kecil bisa menjadi obat bagi jiwa yang lelah.

Satu bab lagi selesai.

Lima belas bab sudah terangkai.

Target 20 bab tinggal 5 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Tuhan kirimkan keajaiban melalui hujan, tawa anak kecil, dan hati yang tetap percaya pada kebaikan.

1
Mr. Han
Ayahku juga pernah bilang gini...
ELNARA: 🥺 "Terima kasih banyak ya Kak... Rasanya makin lega dan terharu banget denger kata-kata ini. Ternyata nggak cuma saya aja, banyak ayah di luar sana yang sama-sama berjuang, sama-sama punya rasa sayang sebesar ini ke anaknya. Makasih udah ngerti dan rasain apa yang saya tulis... 🤍🙏"
total 1 replies
T28J
Kamu tidak sendirian. /Rose/
ELNARA: Kalimat Mas ini bikin mata saya berkaca-kaca... 🥹🥀 Terima kasih banyak ya Mas... kata-kata ini sejuk banget masuk ke hati, rasanya beban di pundak jadi terasa lebih ringan.

Betul sekali... selama ada orang-orang baik seperti Mas yang peduli, mengerti, dan mendukung, saya dan Ayah Balqis memang tidak pernah sendirian. ❤️🙏 Kalimat ini bakal jadi penyemangat terbesar saya terus berkarya dan menceritakan perjuangan mereka sampai tamat nanti.

Terima kasih sudah jadi bagian dari perjalanan ini ya Mas. Kehadiran dan dukungan Mas berarti banget buat kami. 🥀✨ Semoga Mas selalu sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ya. Ditunggu terus kehadirannya di bab-bab selanjutnya ya... 🫂
total 1 replies
T28J
Saya paham, karena saya juga memiliki anak umur 2 tahun, masih lucu-lucunya ya kan.
Terima kasih sudah menyayangi Balqis. 👍
ELNARA: Terima kasih banyak ya komentarnya Mas! 🥰 Wah, berarti kita senasib sepenanggungan ya, sama-sama merasakan kebahagiaan punya anak kecil di umur segitu, masa-masa paling lucu dan berharga banget ya. 🥹❤️

Senang banget banget Mas bisa merasakan dan mengerti perasaan Ayah di cerita ini. Memang Balqis itu harta paling berharga, alasan terbesar buat berjuang dan bertahan. Terima kasih sudah ikut menyayangi Balqis dan perjuangan ayahnya ya! 🙏✨

Masih banyak perjalanan, ujian, dan kisah haru yang belum terungkap lho ke depannya. Semoga Mas tetap setia terus ikutin ceritanya sampai tamat ya. Dukungan, like, dan komentar dari Mas itu semangat paling besar buat aku terus berkarya dan bikin cerita yang makin bagus lagi. 🚀💪 Ditunggu terus kelanjutannya ya! 😊🙌
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya Kak Wawan 😄
Mawar merahnya sudah sampai untuk Balqis 🌹😊
Senang banget lihat Kakak menikmati cerita ini. Jangan bosan nemenin perjuangan Ayah dan Balqis ya 🙏
Wawan
Setangkai mawar merah untuk Balqis 😄
Alana kalista
lanjutkan 🥰
ELNARA: Halo Kak Alana! 🥰 Terima kasih sudah menunggu dari pagi buta ya! Doa dan semangat Kakak adalah bahan bakar utama kami. Tenang saja, 'Sekolah Mimpi Balqis' segera dimulai! Bab 111 akan rilis dalam hitungan menit ini. Siapkan tisu karena ada kejutan yang bikin haru! ✨🎒 #TimSekolahMimpi
total 1 replies
ELNARA
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
ELNARA: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
ELNARA
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
ELNARA
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
ELNARA: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!