Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Akad Dirumah Jebakan.
Pernikahannya sederhana.
Tidak ada gedung. Tidak ada katering dengan puluhan meja. Hanya ruang tamu rumah Nirmala yang dipindahkan furniturnya ke pinggir, tikar plastik digelar, beberapa kursi plastik sewaan berjajar, dan bunga-bunga kertas warna merah muda yang Wida bantu pasang di dinding dengan lakban dan semangat berlebihan yang bikin beberapa bunganya tidak lurus.
Pak penghulu datang jam sembilan.
Aku duduk di depannya dengan kemeja putih yang disetrika Ibu tadi pagi. Ibu yang menyetrika kemejaku sebelum pernikahan. Bukan Nirmala, bukan siapa-siapa, tapi Ibu yang bangun lebih pagi dari biasanya dan menyetrika kemeja itu sampai tidak ada satu lipatannya yang tersisa, dengan cara yang sangat teliti, seperti beliau ingin memastikan setidaknya satu hal di hari ini tampak sempurna.
Aku melihat wajah Ibu di antara tamu yang tidak banyak itu.
Beliau duduk di baris kedua, di kursi plastik oranye yang terlalu kecil untuk ukuran orang dewasa, dengan kebaya hijau mudanya yang hanya dipakai untuk momen-momen tertentu. Wajahnya... aku tidak bisa membacanya sepenuhnya. Ada senyum di sana. Tapi senyum yang aku kenal dari kecil, senyum yang dipakai Ibu waktu beliau tidak ingin orang lain tahu apa yang sebenarnya ada di dalamnya.
Senyum yang dipaksakan.
Matanya cemas. Aku tahu itu. Aku sudah cukup lama jadi anaknya untuk tahu bedanya.
Agung ada di sebelah Ibu. Kemeja biru tua yang disetrika sangat rapi, mungkin disetrika sendiri semalam karena aku tidak sempat membantu dan Ibu sibuk dengan kemejaku. Dia duduk tegak, tangan di lutut, dengan ekspresi yang sangat serius untuk anak delapan belas tahun yang harusnya bisa santai di acara kakaknya.
Dia berusaha kelihatan gembira. Aku tahu itu.
Tapi matanya sesekali melirik ke Ibu dengan cara yang bilang bahwa mereka berdua, di antara semua orang yang ada di ruangan itu, sedang menanggung sesuatu yang sama sendirian.
Akad berlangsung sekali.
Sah.
Ada tepuk tangan. Ada yang bilang amin. Wida berlari ke arahku dan memeluk kakiku dengan gaya yang selalu dilakukannya setiap kali senang, kepalanya di pahaku, dan aku menunduk dan mengelus kepalanya, dan di momen itu rasanya memang seperti sesuatu yang baik sedang dimulai.
Aku ingin percaya itu.
Setelah semua tamu pulang dan rumah kembali sepi, Ibu berdiri di depanku mau pamit. Beliau memelukku. Tidak lama. Pelan. Tangannya di punggungku dan aku bisa merasakan beliau menarik napas panjang sekali di pelukan itu, napas yang ditahan, lalu dilepas sangat pelan.
"Jaga diri, Nak," beliau bilang di telingaku.
Itu saja.
Bukan selamat. Bukan semoga bahagia. Tapi jaga diri.
Aku melepas pelukan itu dan Ibu berbalik dengan senyum yang sama, senyum yang aku kenal itu, dan pergi bersama Agung yang mengangguk ke aku sekali sebelum mengikuti Ibu keluar.
Aku menatap punggung mereka sampai pagar tertutup.
Minggu pertama terasa manis.
Nirmala memasak. Rumah rapi. Wida setiap malam minta diceritakan dongeng sebelum tidur dan aku ceritakan dengan suara yang dibuat-buat dramatis sampai dia tertawa sebelum akhirnya ketiduran. Ada momen-momen di mana aku berbaring di kasur malam hari dan berpikir bahwa ini tidak seburuk yang Ibu khawatirkan. Bahwa mungkin ini benar-benar bisa jalan.
Pekan kedua, ada permintaan pertama.
Beras habis, boleh Mas belikan. Aku beli.
Pekan ketiga, sabun mandi habis, detergen juga. Aku beli.
Pekan keempat, Wida mau les matematika, katanya ketinggalan di sekolah. Aku daftarkan.
Bulan kedua, Nirmala bilang ponselnya sudah tidak bisa dipakai dengan baik, layarnya sering ngehang. Aku cicil ponsel baru untuknya dari sisa penghasilan yang harusnya untuk tambah modal.
Aku tidak bilang apa-apa tentang itu semua. Tidak komplain. Karena itu memang tugas suami, karena itu memang wajar, karena itu bukan hal yang aneh.
Tapi ada yang berubah yang lebih dari soal uang.
Cara bicaranya.
Pelan-pelan, sangat pelan-pelan, seperti perubahan cuaca yang tidak kamu sadari sampai tiba-tiba kamu kedinginan tanpa tahu kapan udara berubah, cara Nirmala bicara ke aku berubah.
Tadinya "Mas." Sekarang mulai sering "lo."
Tadinya "boleh minta tolong." Sekarang langsung "belikan."
Tadinya kalau ada yang tidak beres dia diam atau bilang dengan pelan. Sekarang langsung keluar dengan nada yang berbeda, nada yang tidak aku kenal dari enam bulan kita berpacaran, nada yang terasa seperti seseorang yang sudah tidak perlu lagi menjaga tampilan.
Malam itu kompor di lapak rusaknya tiba-tiba.
Sudah lama tidak diservis dan akhirnya minta perhatian di waktu yang paling tidak tepat. Aku pulang lebih malam dari biasanya karena menunggu tukang reparasi yang datangnya sendiri molor dua jam.
Masuk rumah jam delapan lewat.
Nirmala ada di ruang tengah. Nonton televisi. Tidak menatapku waktu aku masuk.
"Kenapa baru pulang?" Suaranya datar. Sangat datar.
"Kompor rusak, jadi nungguin—"
"Dasar lelaki tidak guna."
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa dramatis. Tanpa nada tinggi. Datar sekali, seperti orang yang mengomentari cuaca, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ada di kepalanya sampai keluar dengan sangat mudahnya.
Aku berdiri di ambang ruang tengah dengan baju yang masih bau asap kompor dan tangan yang masih sedikit kotor dari benerin kompor tadi, dan aku menatap perempuan yang baru dua bulan jadi istriku yang sedang menatap layar televisi seolah aku tidak ada.
Tidak ada yang terjadi sesudahnya.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada adegan yang dramatis. Aku masuk kamar, ganti baju, cuci tangan, dan berbaring di kasur.
Menatap langit-langit.
Langit-langit rumah ini berbeda dari langit-langit kamarku di rumah Ibu. Lebih tinggi sedikit, ada bekas plafon yang pernah bocor di sudut kanan, catnya agak lebih kuning dari putih karena sudah lama tidak dicat ulang.
Langit-langit rumah orang lain.
Aku berbaring di kasur orang lain, di dalam rumah orang lain, di samping seseorang yang dua bulan lalu senyumnya tidak sampai ke matanya dan aku memilih untuk melipatnya rapi dan menyimpannya dan tidak membukanya lagi.
Dan di keheningan kamar itu, satu kalimat muncul sendiri di kepalaku.
Firasat buruk.
Ibu bilang firasat buruk.
Aku menutup mata.
Di dalam gelap itu, di balik kelopak yang aku tutup sekeras yang aku bisa, aku melihat wajah Ibu di kursi plastik oranye itu. Senyum yang dipaksakan. Mata yang cemas. Tangan yang mengelus punggungku di pelukan terakhir itu dengan napas panjang yang ditahan.
Jaga diri, Nak.
Bukan selamat. Bukan semoga bahagia.
Jaga diri.
Aku sudah mengabaikan kalimat itu dua kali. Pertama waktu Ibu bilang firasat buruk dan aku bilang lebay. Kedua waktu Ibu cerita tentang suara anak menangis sampai tengah malam dari kontrakan lama dan aku berteriak dan masuk kamar dan tidak minta maaf.
Dua kali.
Dan sekarang aku berbaring di sini, di kasur yang bukan kasurku, menatap langit-langit yang bukan langit-langitku, dengan suara "dasar lelaki tidak guna" yang masih sangat jelas di telingaku, dan baru menyadari sepenuhnya bahwa kalimat-kalimat Ibu itu bukan lebay.
Tidak pernah lebay.
Tidak pernah.
Tapi menyadarinya sekarang tidak mengubah apa-apa. Pintu sudah tertutup. Akad sudah diucapkan. Sah sudah disebut.
Dan aku berbaring di sini sendirian dalam keramaian rumah orang lain, lebih sendirian dari waktu aku sendirian sungguhan, lebih sepi dari semua malam di kamarku yang kecil itu, lebih jauh dari segalanya.
Langit-langit itu tidak bergerak.
Aku juga tidak.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain