Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 Tak Kuat Resepsi
Sebagai ungkapan rasa syukur, digelar walimatul ursy atau semacam resepsi di area halaman Ndalem. Sunah Rasul, sebagai wujud syukur dan pemberitahuan mengenai status baru kedua insan itu.
Ndalem dihias dengan dekorasi bertema rustic. Keluarga besar, kolega dan jamaah tumpah ruah. Waktu persiapan yang hanya satu minggu tidak membuat perhelatan terakhir milik Mansur sepi tamu.
Santaka menyodorkan air mineral kepada Nandini. Atas perintah Lastri. Santaka awalnya sudah berniat hanya terlambat saja realisasinya. Ia tahu ia wajib berbuat baik kepada istri.
“Minum dulu, Mbak Dini?” bisik Santaka. Nandini menggelengkan kepala. Matanya melirik ke kopi hitam yang disajikan bagi Santaka.
Kenapa cuma dia yang dikasih kopi? Apa istri gus ndak boleh minum kopi?
Santaka melihat arah mata Nandini. Ia tersenyum simpul. “Mau kopi? Mau saya mintain ke abdi ndalem? Agak lama tapi.”
“Hhhm, itu saja deh Gus.” Nandini butuh asupan kafein untuk membuatnya tetap waras. Baju pengantin dan deretan tamu begitu menyiksa mentalnya.
“Bekas saya?”
Nandini memiringkan bibirnya. Ia ambil cangkir kopi dalam gerakan cepat. Ia teguk kopi yang sudah diminum sedikit oleh Santaka.
“Keburu haus!” Nandini meletakkan cangkir yang hampir habis. Ia memalingkan wajahnya dari sang suami.
Santaka tersenyum geli. Ternyata istrinya penikmat kopi habis dalam sekali dua kali teguk. Bukan penyeruput seperti dirinya.
“Ini sampai jam berapa?” Mata Nandini memicing.
Suara Nandini teredam oleh cadar. Santaka mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri. “Kenapa Mbak?”
“Sampai jam berapa walimahnya?” Santaka sudah bisa mendengar pertanyaan Nandini namun entah mengapa dirinya ingin menggoda istri barunya. Lumayan sebagai hiburan.
“Kenapa?” Santaka kembali merapat hingga hampir tak ada jarak.
Nandini menyipitkan matanya. Si Gus Roti ini budheg apa gimana?
“Ndak jadi! Cape sama orang budheg!” Nandini melengos. Santaka terkekeh. Mereka kembali berdiri. Deretan tamu kembali mengular, mengantri untuk memberikan selamat dan doa.
Acara berlanjut hingga sore, berjeda saat waktu salat tiba. Nandini merasa di ambang batas kesabarannya. Kepalanya terasa gatal karena keringat. Belum terbiasa tertutup seharian.
Gamis panjang bagai menyelimutinya. Cadar seperti membekapnya. Tamu yang tak berkesudahan. Semua membuat Nandini gila.
Nandini melirik ke arah Santaka. Suami terpaksanya itu tak tampak kelelahan. Ia masih bisa berbasa-basi dengan tamu yang bersalaman dengan mereka.
Wajar, tamu memang didominasi dari pihak keluarga Santaka. Nandini tak mungkin mengenal para undangan itu.
Tak kenal maka tak sayang, pepatah yang benar adanya. Karena merasa tak kenal, tak nafsu Nandini terus-terusan meladeni mereka.
Santaka menoleh ke arah Nandini. Ia melihat wajah bercadar itu tak semangat. Ternilai dari binar matanya. “Senyum Mbak,” bisik Santaka.
“Ndak ngaruh, ndak keliatan. Ini kapan sih udahannya?” Nandini ikut berbisik.
“Biasanya malem sih Mbak. Sabar ya.” Santaka meringis. Nandini membuang mukanya.
Sabar sabar... Jawaban standar banget. Ndak ada solusi apa? Capeeekk!!
Nandini tak tahan lagi. Kakinya sudah cenat cenut karena pakai sepatu berhak. Hak sepatu memang musuhnya.
Baiklah fix! Nandini mau pura-pura pingsan saja. Agar bisa lekas rebahan di ranjang. Sudah lelah jiwa raga.
“Aaa, Mbak Dini!” pekik Husna yang kebetulan berdiri di dekat pelaminan.
Santaka lekas menoleh dan spontan menangkap tubuh istrinya. Ia menggendong Nandini ala bridal style.
“Bawa ke kamar samping!” seru Sarah. Kamar yang dimaksud adalah kamar tempat pengantin wanita menunggu sebelum akad nikah dilakukan.
Santaka mengangguk. Ia pandangi wajah Nandini. Ia prihatin.
Tunggu! Kenapa orang pingsan matanya mengerjap? Mata Santaka memicing.
Santaka meletakkan tubuh Nandini di kasur tunggal yang ada di ruangan itu. “Ning Sarah, Ning Husna, tolong tinggalkan kami.”
Sarah mengerutkan dahi. “Gus... acara belum selesai. Jangan macam-macam.” Sarah bersedekap. Husna mengulum tawanya.
“Ndak Ning... sebentar saja.”
“Inget Gus Taka, jangan macam-macam. Tahan sedikit, sebentar lagi,” tukas Sarah sebelum keluar ruangan bersama Husna.
Nandini mengintip dengan sebelah matanya. Begitu melihat Santaka berjalan ke arahnya, ia langsung kembali pura-pura pingsan.
Santaka membuka cadar istrinya, perlahan. Nandini risih. Pria itu membuka sepatu dilanjutkan kaus kaki Nandini.
Nandini semakin tak nyaman. Awas saja jika resleting gamisnya juga dibuka oleh sang gus.
Santaka duduk di tepi kasur. Di dekat perut Nandini. Gadis itu mengatur napasnya agar nyata seperti orang pingsan.
Gus mendadak pengantin itu memandangi istrinya. “Apa perlu dikasih nafas buatan ya?” Santaka sengaja mengeraskan suaranya.
“Kasih deh, biar cepet sadar.” Sang Gus mendekatkan wajahnya. Nandini panik.
Ketika wajah mereka berdekatan, Nandini kontan membuka mata. Ia menahan wajah Santaka dengan telapak tangannya hingga wajah itu terdorong ke belakang.
“Astagfirullahaladziiim.” Santaka memundurkan duduknya. Tangannya mengelus wajahnya sendiri yang habis disorong oleh sang istri. Sangat tak sopan.
“Jangan modus, Gus!”
“Jangan pura-pura pingsan, Mbak.”
Nandini mencebik. “Capek, Gus! Paham ndak sih?”
“Ngomong tho sama saya.” Santaka menggelengkan kepala.
“Palingan disuruh sabar lagi. Iya kan?” Nandini mencebik.
“Iya sih, hehehe...” Santaka tersenyum simpul. Nandini menatap sengit.
“Senyum-senyum mulu Gus. Gimana ini jadinya?” Nandini merengut.
“Ya, istirahat saja dulu. Nanti paling disuruh makan. Terus lanjut sampai selesai, cuma Mbak Dini boleh duduk saja. Ndak usah berdiri.”
Aargh, kirain tamunya disuruh bubar. Ini resepsi apa kerja rodi??
Ketukan dari luar mengagetkan keduanya. Santaka langsung berdiri. Pintu terbuka. Sarah.
“Oh, sudah sadar, Mbak Dini. Sudah enakan? Tadi ditanya Abi sama Umi.”
Walaupun Sarah berposisi sebagai kakak ipar, ia tetap memanggil Mbak kepada Nandini. Bentuk penghormatan.
Tapi itu justru membuat Nandini risih. Merasa tua. Jelas-jelas Sarah lebih tua dan kakak iparnya, malah memanggil dirinya Mbak.
“Sudah Ning. Alhamdulillah.” Nandini tersenyum kaku.
“Diapain Gus, Mbak Dini bisa siuman?” Mata Sarah memicing.
Santaka hanya tersenyum simpul. Nandini melirik sinis.
Si Gus Roti emang seneng difitnah orangnya! Hobi tenan buat orang jadi suuzon.
“Tadi diolesin minyak kayu putih ke idung Dini, Ning. Jadi Dini kebangun.” Nandini tersenyum kaku.
“Oh gitu. Mau saya balur ke badan, Mbak? Biar tambah enakan. Mana sini minyak kayu putihnya.” Sarah mendekati Nandini.
“Hhmm... anu, itu minyak kayu putihnya abis... tadi tinggal dikit. Gus Taka terlalu semangat ngoles ke idung Dini.
Ndak usah Ning, ndak usah repot-repot balur. Sama Gus Taka tadi, sudah cukup.” Nandini meringis.
“Iyo Ning Sarah, sudah sama Taka, sudah cukup.” Santaka menambahkan. Bibirnya mengulum senyum.
Sarah mengerutkan dahinya. “Oh gitu... Yo wis, saya ambil yang baru, jaga-jaga butuh lagi. Mana Mbak, botol bekasnya biar saya buang.”
“Anu... itu... di Gus Taka...” Sarah menoleh ke arah Santaka. Pria itu mengendikkan bahunya.
Sarah berdecak. “Kalian ini kenapa sih? Saya jadi tambah curiga. Pingsan ini pura-pura ya? Kalian sudah ndak sabar mesra-mesraan.”
Santaka melirik ke arah sang istri. Senyum kembali tercetak di wajahnya. Mata Sarah semakin memicing.
Nandini mengangakan mulutnya. Kebohongannya tentang kayu putih malah makin menguatkan fitnah. Apes tenan!
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj