NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 4: Hutan Yang Tenang

Hari-hari di hutan tidak pernah benar-benar dimulai.

Dan tidak pernah benar-benar berakhir.

Tidak ada kalender yang menandai pergantian waktu. Tidak ada angka yang menghitung berapa lama sesuatu telah berlalu. Yang ada hanya cahaya yang datang dan pergi, udara yang berubah, dan suara alam yang berganti mengikuti ritmenya sendiri.

Pagi tidak ditentukan oleh jam.

Melainkan oleh embun yang masih menempel di daun.

Siang tidak ditentukan oleh matahari di puncak langit.

Melainkan oleh hangatnya tanah di bawah kaki.

Dan malam—

datang tanpa pengumuman.

Bagi Grachius, dunia tidak pernah lebih luas dari itu.

Hutan.

Sungai.

Dan gubuk kecil tempat ia tinggal bersama Purus.

Dan itu…

sudah cukup.

...—...

Pagi itu, suara langkah kaki kecil memecah keheningan.

Grachius berlari menuruni jalur tanah yang sedikit menurun menuju sungai, napasnya cepat, langkahnya ringan namun tidak teratur.

“Cepat… cepat…”

Ia melompati akar pohon yang menonjol, hampir tersandung—

dan benar-benar hampir jatuh.

“Whoa—!”

Ia mengayunkan tangan ke depan, tubuhnya miring, namun berhasil menahan diri sebelum wajahnya benar-benar mencium tanah.

Beberapa detik ia diam.

Lalu—

“Hah!”

Ia tertawa sendiri.

Tanpa malu.

Tanpa ragu.

Seolah hampir jatuh adalah bagian dari kesenangan itu sendiri.

Ia melanjutkan larinya, sedikit lebih hati-hati… tapi tidak banyak.

Sungai sudah terlihat.

Airnya berkilau di bawah cahaya pagi, mengalir pelan di antara batu-batu besar yang licin oleh lumut. Suaranya lembut, seperti bisikan yang tidak pernah berhenti.

Grachius berhenti di tepi.

Untuk sesaat.

Bukan karena ragu.

Melainkan… kebiasaan baru.

Ia berdiri diam.

Napasnya masih sedikit cepat.

Namun perlahan—

ia menutup matanya.

Tidak lama.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup.

Air itu…

tidak hanya terlihat.

Ia terasa.

Dingin yang mengalir.

Gerakan yang tidak berhenti.

Sesuatu yang halus, menyatu dengan aliran itu.

Grachius membuka matanya lagi.

Kali ini—

ia tidak ragu.

Ia melangkah masuk.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada keluhan.

Air menyentuh kakinya, naik perlahan, dan ia hanya… menerimanya.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Tidak sedingin kemarin.”

Mungkin memang tidak.

Atau mungkin—

ia yang berubah.

Ia melangkah lebih dalam, lalu memercikkan air ke arah batu di depannya.

Air memantul, mengenai wajahnya sendiri.

Ia mengerjap.

Lalu tertawa lagi.

Hari itu dimulai seperti biasa.

Namun tidak sepenuhnya sama.

...—...

Siang datang perlahan, membawa panas yang lembut.

Di dekat gubuk, Grachius sedang berjongkok, mencoba memotong sepotong kayu dengan pisau kecil yang terlihat terlalu besar untuk tangannya.

“Kenapa tidak mau putus…”

Ia menekan lebih keras.

Pisau itu sedikit meleset.

“Eh—!”

Ia menarik tangannya cepat, nyaris saja mengenai jarinya sendiri.

Purus berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Kalau kau memaksanya, kayunya tidak akan berubah.”

Grachius mendesah.

“Lalu harus bagaimana?”

“Perhatikan seratnya.”

Grachius menatap kayu itu.

Miringkan sedikit.

Memutar.

“Yang ini?”

“Ya.”

Ia mencoba lagi.

Kali ini, lebih pelan.

Pisau masuk lebih mudah.

Kayu itu terbelah.

Grachius berhenti sejenak.

Lalu—

“Aku bisa!”

Nada suaranya naik, penuh kepuasan sederhana.

Purus tidak tersenyum.

Namun matanya sedikit melembut.

Grachius mengangkat potongan kayu itu seperti trofi kecil.

“Lihat!”

“Aku melihat.”

Jawaban itu datar.

Namun cukup.

Grachius menaruh kayu itu di tumpukan, lalu mengambil yang lain.

“Kalau semua hal harus diperhatikan seperti ini… lama sekali.”

“Memang.”

Purus berjalan mendekat.

“Namun yang cepat sering kali tidak bertahan.”

Grachius mengerutkan kening.

“Kalau lambat?”

“Kalau lambat..."

"...kau punya waktu untuk tidak salah.”

Grachius memikirkan itu sejenak.

Lalu mengangguk kecil.

“Masuk akal… sedikit.”

Ia kembali bekerja.

Kali ini, tidak terburu-buru.

...—...

Sore hari datang bersama bayangan yang mulai memanjang.

Udara kembali sejuk.

Hutan menjadi lebih sunyi.

Grachius duduk bersila di depan gubuk.

Sama seperti sebelumnya.

Namun berbeda.

Ia tidak lagi menarik napas terlalu dalam.

Tidak mencoba “melakukan sesuatu”.

Ia hanya… duduk.

Dan menunggu.

Atau mungkin—

tidak menunggu apa pun.

Qi itu datang.

Perlahan.

Seperti biasa.

Tipis.

Namun jelas.

Grachius tidak mencoba menahannya.

Tidak mencoba mengarahkannya.

Ia hanya… menyadarinya.

Ada saat di mana aliran itu goyah.

Sedikit hilang.

Namun kali ini—

ia tidak panik.

Tidak membuka mata.

Tidak mengeluh.

Ia hanya… tetap diam.

Dan perlahan—

ia kembali.

Purus memperhatikan dari dekat.

Tidak mengatakan apa pun.

Namun ia tahu.

Perubahan itu nyata.

Kecil.

Namun nyata.

“Purus.”

Grachius tidak membuka mata.

“Ya.”

“Fatum… itu seperti sungai?”

Purus terdiam sejenak.

“Mungkin.”

“Kalau aku melawan arus… itu salah?”

“Tidak selalu.”

Grachius mengernyit.

“Lalu kapan itu salah?”

Purus menatapnya.

“Ketika kau tidak tahu kenapa kau melawannya.”

Grachius terdiam.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Oh…”

Ia tidak berkata lebih lanjut.

Namun sesuatu di dalam dirinya… mulai mengerti.

Bukan dengan kata-kata.

Melainkan dengan perasaan yang belum sepenuhnya terbentuk.

...—...

Latihan selesai.

Grachius langsung berdiri.

Terlalu cepat.

Sedikit oleng.

“Whoa—”

Ia menyeimbangkan diri, lalu tertawa kecil.

Purus hanya menghela napas pelan.

Grachius berlari ke arah pohon besar di dekat gubuk.

Dengan gesit—atau setidaknya menurut versinya sendiri—ia mulai memanjat.

“Kalau jatuh, kau akan belajar.”

Suara Purus datar.

“Aku tidak akan jatuh!”

Grachius menjawab dari atas.

Beberapa detik kemudian—

“...Aku hampir jatuh.”

Purus tidak berkata apa-apa.

Grachius akhirnya duduk di cabang yang cukup besar, mengayunkan kakinya.

Ia menatap langit.

Biru.

Luas.

Tanpa batas yang bisa ia lihat.

“Purus.”

“Ya.”

“Di luar hutan ini… ada apa?”

Purus berdiri di bawah pohon, menatapnya.

“Banyak hal.”

“Seperti?”

“Orang.”

“Selain itu?”

“Dunia.”

Grachius menghela napas.

“Jawabanmu selalu tidak memuaskan.”

“Dan kau selalu bertanya hal yang sama.”

Grachius tersenyum kecil.

Ia menatap langit lagi.

“Apakah langit di sana sama?”

Purus menatap ke atas.

“Langit selalu sama.”

Jawaban itu sederhana.

Namun entah kenapa—

Grachius tidak merasa itu sepenuhnya benar.

Atau mungkin—

belum.

...—...

Malam datang perlahan.

Langit berubah menjadi gelap, dihiasi bintang-bintang yang kini tampak lebih jelas.

Di depan gubuk, api kecil menyala.

Cahayanya berpendar hangat, memantulkan bayangan di wajah Grachius yang duduk di dekatnya.

Ia sedang bercerita.

Tidak tentang hal besar.

Tidak tentang sesuatu yang penting.

Hanya tentang bagaimana ia hampir jatuh pagi tadi.

Tentang air sungai yang “tidak sedingin biasanya”.

Tentang kayu yang akhirnya bisa ia belah.

Purus mendengarkan.

Tidak banyak bicara.

Namun tidak mengabaikan.

Kadang hanya mengangguk.

Kadang hanya diam.

Namun kehadirannya… cukup.

“Purus.”

“Ya.”

“Kenapa kita tinggal di sini?”

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Tanpa beban.

Tanpa maksud tersembunyi.

Purus menatap api sejenak.

Lalu berkata—

“Karena ini tempat yang aman.”

Grachius mengangguk.

“Baik.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Tidak ada keraguan.

Ia menerima jawaban itu seperti ia menerima hari-harinya—

apa adanya.

Beberapa saat kemudian, matanya mulai berat.

Kepalanya miring sedikit.

Dan tanpa sadar—

ia tertidur.

Purus tetap duduk.

Memastikan napas anak itu stabil.

Lalu perlahan berdiri.

Ia melangkah keluar dari lingkar cahaya api.

Menuju kegelapan hutan.

Dan menatap langit.

Bintang-bintang bersinar tenang.

Namun di antara ketenangan itu—

ia melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Cahaya itu.

Masih ada.

Lebih redup.

Namun tidak hilang.

Tatapan Purus berubah.

Tidak lagi hanya tenang.

Ada sesuatu yang lebih dalam.

Lebih berat.

“Waktu…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Tidak perlu.

Angin malam berhembus pelan.

Membawa dingin yang halus.

Di dalam gubuk, Grachius tidur dengan damai.

Tanpa mimpi.

Tanpa beban.

Namun di luar—

sesuatu bergerak.

Perlahan.

Tidak terlihat.

Namun pasti.

Dan kedamaian kecil itu—

tidak akan bertahan selamanya.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!