Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: RETAKAN DI KELUARGA CHEN
Kantor pusat perbankan keluarga Chen di Raffles Place mungkin terlihat seperti benteng yang tak tergoyahkan dari luar, namun di dalamnya, Nata bisa merasakan getaran ketegangan yang merambat di balik dinding marmernya. Sebulan setelah proyek percontohan dimulai, imbal hasil yang dihasilkan oleh sistem Prawira Global mencapai angka 15%—melampaui target yang ditetapkan Arthur Chen. Namun, keberhasilan ini justru memicu badai yang tidak terduga.
Pagi itu, Nata dipanggil bukan ke ruang rapat utama, melainkan ke sebuah ruangan privat di lantai bawah yang biasanya digunakan untuk urusan internal keluarga. Di sana, Marcus Chen duduk dengan wajah yang tampak sangat tertekan.
"Nata, kita punya masalah besar," bisik Marcus begitu Nata masuk. "Dewan direksi, yang dipimpin oleh paman saya, Vincent Chen, baru saja mengajukan mosi untuk menghentikan proyek kita. Mereka menuduh sistemmu sebagai alat pencucian uang yang tidak terdeteksi oleh otoritas moneter Singapura."
Nata meletakkan tasnya dengan tenang, lalu duduk di hadapan Marcus. "Vincent Chen... dia adalah kepala divisi kepatuhan dan risiko, bukan? Mengapa dia sangat agresif sekarang? Bukankah keuntungan 15% seharusnya membuat mereka senang?"
"Ini bukan soal uang, Nata. Ini soal kendali," jawab Marcus frustrasi. "Vincent adalah faksi konservatif. Dia merasa terancam dengan teknologi yang tidak dia pahami. Dan yang lebih buruk, dia menggunakan keberhasilanmu untuk menyerang Ayah. Dia bilang Ayah sudah mulai 'pikun' karena mempercayakan aset bank kepada seorang remaja asing yang tidak punya rekam jejak."
Nata menyandarkan punggungnya. Ia sudah memprediksi bahwa keberhasilannya akan memancing "hiu" lain. Namun, ia tidak menyangka serangan itu akan datang dari dalam keluarga Chen sendiri.
"Di mana Tuan Arthur sekarang?" tanya Nata.
"Sedang berdebat di ruang direksi. Vincent membawa tim auditor eksternal untuk membedah algoritma yang kamu pasang di server kami. Mereka ingin membuktikan bahwa ada 'pintu belakang' yang kamu gunakan untuk mencuri data nasabah," Marcus menatap Nata dengan pandangan memohon. "Katakan padaku, Nata... tidak ada pintu belakang seperti itu, kan?"
Nata menatap Marcus dengan tatapan yang sulit dibaca. "Setiap perencana yang baik selalu memiliki pengaman, Marcus. Tapi tujuannya bukan untuk mencuri, melainkan untuk melindungi. Jika pamanmu mencoba membedah sistem itu secara paksa, dia akan memicu protokol penghancuran data otomatis."
Wajah Marcus memucat. "Kamu gila? Jika data itu hilang, bank kami akan hancur!"
"Maka pastikan pamanmu tidak melakukan hal bodoh," jawab Nata dingin.
Satu jam kemudian, pintu ruangan terbuka kasar. Vincent Chen masuk dengan diikuti oleh dua orang pria bersetelan jas hitam yang memegang tas laptop—tim auditor. Vincent adalah pria berusia lima puluhan dengan raut wajah yang penuh kedengkian dan ambisi.
"Jadi, ini 'anak ajaib' dari Indonesia itu?" Vincent mencibir, menatap Nata dengan merendahkan. "Kamu pikir Singapura adalah taman bermainmu? Di sini, kami mengikuti aturan. Dan aturan mengatakan, setiap sistem asing harus terbuka seratus persen untuk diaudit oleh divisi saya."
Nata berdiri, memasukkan tangannya ke saku celana. "Tuan Vincent, saya menghargai kepatuhan. Namun, algoritma saya adalah kekayaan intelektual Prawira Global. Membukanya untuk Anda sama saja dengan memberikan kunci brankas kepada orang asing."
"Kamu tidak punya pilihan!" bentak Vincent. "Arthur mungkin sudah kehilangan akal sehatnya, tapi saya tidak. Tim saya akan mulai membedah servermu dalam sepuluh menit. Jika kamu mencoba menghalangi, saya akan memanggil polisi atas tuduhan sabotase keuangan."
Nata tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang membuat Vincent merasa tidak nyaman. "Silakan, Tuan Vincent. Namun, saya harus memperingatkan Anda. Sistem saya bekerja berdasarkan detak jantung transaksi asli. Jika Anda memutus alirannya hanya untuk 'melihat-lihat', Anda akan menciptakan kekosongan likuiditas sebesar dua ratus juta dolar dalam hitungan detik. Apakah bank Anda siap menanggung kerugian itu di pembukaan pasar besok pagi?"
Vincent ragu sejenak, namun egonya lebih besar daripada ketakutannya. "Gertakan kosong! Lakukan audit sekarang!" perintahnya pada timnya.
Nata hanya berdiri diam, memperhatikan para auditor itu mulai menghubungkan perangkat mereka ke terminal servernya. Marcus hanya bisa memegang kepalanya, ketakutan akan kehancuran keluarganya.
Sepuluh menit berlalu. Layar monitor di ruangan itu mulai berkedip merah.
"Tuan... ada masalah," ucap salah satu auditor dengan suara gemetar. "Setiap kali kami mencoba menyalin baris kode kuncinya, sistem itu justru mengenkripsi ulang dirinya sendiri dengan kecepatan sepuluh kali lipat. Kami kehilangan akses ke basis data transaksi utama!"
"Apa?!" Vincent berteriak. "Hentikan! Kembalikan aksesnya!"
Nata tetap diam, menatap jam tangannya. "Tujuh menit menuju penutupan pasar sore ini. Jika akses tidak dipulihkan, sistem kliring otomatis bank Anda akan gagal memproses semua transfer internasional hari ini. Anda baru saja menciptakan krisis kepercayaan terbesar dalam sejarah keluarga Chen."
Tepat pada saat itu, pintu terbuka lagi. Arthur Chen masuk dengan langkah berat. Wajahnya merah padam karena amarah. Di belakangnya, beberapa direktur senior tampak panik.
"Vincent! Apa yang kamu lakukan?!" raung Arthur. "Layar di lantai perdagangan menunjukkan bahwa semua transaksi internasional kita terhenti! Kenapa kamu menyentuh server itu tanpa izin dariku?!"
"Kakak... aku hanya mencoba melindungi bank dari penyusup ini!" Vincent membela diri, menunjuk Nata.
Arthur berjalan mendekati adiknya, lalu menampar meja dengan keras. "Kamu tidak sedang melindungi bank! Kamu sedang mencoba menjatuhkanku dengan mempertaruhkan seluruh reputasi keluarga kita! Karena kebodohanmu, kita baru saja kehilangan lima puluh juta dolar dalam potensi penalti keterlambatan kliring!"
Arthur berbalik ke arah Nata. "Nata... tolong. Pulihkan sistemnya. Aku akan mengurus Vincent secara internal."
Nata menatap Arthur, lalu ke arah Vincent yang kini tampak menciut. "Tuan Arthur, saya bisa memulihkannya. Namun, kejadian ini membuktikan bahwa aliansi kita memiliki kebocoran internal. Saya tidak bisa bekerja jika ada orang di dalam organisasi Anda yang mencoba menyabotase saya setiap saat."
"Aku mengerti," ucap Arthur dengan nada lelah. "Vincent, mulai hari ini kamu dibebastugaskan dari jabatan kepatuhan. Kamu akan dikirim ke kantor cabang di pedalaman Australia untuk mengurus aset properti kita yang tidak terpakai. Jangan pernah menginjakkan kaki di gedung ini lagi."
Vincent ternganga. "Tapi Kakak—"
"Pergi!" teriak Arthur.
Setelah Vincent dan timnya keluar dengan rasa malu, Nata mendekati terminal. Dengan beberapa ketukan cepat pada tabletnya, ia memasukkan kunci dekripsi darurat. Lampu merah di monitor berubah menjadi hijau. Aliran data kembali normal.
Malam harinya, Arthur mengajak Nata makan malam pribadi di sebuah restoran mewah yang menghadap Marina Bay Sands. Suasananya sunyi, hanya ada mereka berdua.
"Maafkan kekacauan ini, Nata," ucap Arthur sambil menuangkan teh. "Dalam keluarga besar seperti Chen, kekuasaan sering kali lebih penting daripada kemajuan. Vincent selalu merasa bahwa dia yang seharusnya memimpin bank ini."
"Saya mengerti, Tuan Arthur. Di mana ada harta, di sana ada perpecahan," jawab Nata tenang. "Namun, ini adalah pelajaran bagi kita berdua. Musuh terbesar kita bukan kompetitor di luar sana, tapi keretakan di dalam fondasi kita sendiri."
Arthur menatap Nata dengan pandangan yang jauh lebih serius. "Kamu benar. Dan sejujurnya, ketenanganmu saat menghadapi Vincent tadi... itu membuatku takut. Kamu tahu persis apa yang akan terjadi, bukan? Kamu sudah menyiapkan 'protokol penghancuran' itu hanya untuk memancing Vincent keluar?"
Nata menyesap tehnya, matanya menatap lampu-lampu kapal di pelabuhan. "Setiap perencana yang baik tidak pernah membiarkan musuh menentukan medan tempur. Saya hanya memberikan Vincent tali, dan dia memilih untuk menjerat lehernya sendiri."
Arthur terdiam. Ia menyadari bahwa anak muda di hadapannya ini bukan lagi sekadar mitra bisnis. Nata adalah seorang pemain catur tingkat tinggi yang tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang mengganggunya.
"Lalu, apa langkahmu selanjutnya, Nata? Setelah posisi Marcus kini lebih kuat di bank, apa yang kamu inginkan?"
"Saya ingin Operasi Naga Laut dimulai minggu depan," jawab Nata tegas. "Saya ingin Nusa-Trans mulai mengakuisisi perusahaan logistik kecil di Singapura dan Malaysia menggunakan pendanaan dari bank Anda. Kita akan membangun jaring transportasi yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun."
Arthur mengangguk. "Baiklah. Kamu punya dukungan penuhku sekarang. Vincent sudah tidak ada, dan Marcus akan menjadi bayanganmu di sini."
Nata pulang ke kondominiumnya tengah malam. Ia melihat pesan dari Kirana di Jakarta.
"Kak, ruko di Jakarta Barat sudah selesai renovasi pusat datanya. Yuda bilang sistem enkripsinya sudah sinkron dengan yang di Singapura. Semuanya siap."
Nata tersenyum. Di tengah intrik keluarga Chen yang hampir menghancurkan bank tersebut, ia justru berhasil membersihkan hambatan internalnya tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Ia membuka laptopnya, melihat harga BitCore yang kini sudah menyentuh 750 dolar AS. Namun, pikirannya tidak lagi di sana. Ia sedang membayangkan sebuah peta Asia Tenggara, di mana setiap jalur logistik, setiap aliran uang digital, dan setiap data penting mengalir melalui satu titik pusat: Prawira Global.
"Satu per satu, semua bidak jatuh di tempatnya," gumam Nata.
Kehancuran Paman Danu hanyalah bab pembuka. Keretakan keluarga Chen hanyalah ujian tengah semester. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan Nata Prawira, sang arsitek garis takdir, baru saja menggambar fondasi untuk kekaisaran yang akan menguasai dua samudra.
Bersambung.....