NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Mobil Reynanda berhenti di depan rumah besar yang dipenuhi para pelayat.

Carisa duduk kaku di kursi penumpang. Wajahnya langsung menegang. Ia hampir saja lupa kalau dirinya dan Reynanda sedang dalam situasi yang dicurigai, dan sekarang justru datang bersama.

“Ris, kita turun sekarang,” suara Reynanda pelan, tapi tegas. Tangannya sempat ragu ingin menyentuh bahu Carisa, namun ia urungkan.

Carisa hanya mengangguk. Ia menatap pintu rumah duka, seolah ribuan beban menunggu di baliknya. Bukan hanya berita kematian nenek Yuda dan Humaira, tapi juga kenyataan bahwa mereka berdua sedang dalam situasi yang tidak baik.

Begitu mereka masuk, aroma melati bercampur bau dupa langsung menyergap. Lantunan ayat suci terdengar bercampur dengan isak tangis yang lirih dan menyayat. Carisa menunduk, menyembunyikan wajahnya dari para pelayat yang mulai melihat ke arahnya.

Di seberang ruangan, Yuda berdiri dengan jas hitam. Wajahnya tegas, tapi matanya sembab. Sementara Humaira duduk di kursi dekatnya, memeluk ibunya yang tak henti menangis.

Mata Carisa dan Yuda sempat bertemu. Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat Carisa merasa sesak. Ada sesuatu dalam sorot itu bukan hanya duka, tapi juga amarah yang menusuk.

Reynanda juga merasakan tatapan Yuda. Ia berdiri sedikit lebih dekat pada Carisa, seolah ingin melindunginya, padahal justru kedekatan itulah yang bisa menjerumuskan mereka.

Carisa berjalan mendekat ke arah Yuda, Reynanda pun menghampiri Humaira. Karena peran mereka sudah dimulai, kembali kepada pasangan masing-masing.

“Yud…” suara Carisa nyaris bergetar, ia berusaha menjaga nadanya tetap lembut. “Aku turut bersedih. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”

Ia mencoba menyentuh lengan Yuda, mencoba menjadi pelipur laranya.

“Amin,” ucap Yuda singkat. Ia sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan, tapi waktunya tidak tepat.

Carisa menunduk. Ia bisa merasakan dinginnya sikap Yuda, lebih dingin dari suasana rumah duka.

“Terima kasih sudah datang… bersamanya,” ucap Yuda kemudian, lebih pelan. Tatapannya bergerak cepat, sekilas melihat Carisa, lalu melirik ke arah Reynanda yang sedang berada bersama Humaira.

Carisa yang menangkap maksud Yuda, dadanya langsung terasa seperti ditusuk.

“Aku bertemu dengannya di jalan, lalu…”

“Baik. Temani aku sebentar saja setelah itu pulanglah,” potong Yuda. Kata-katanya terdengar seperti pengusiran halus.

Carisa membeku. Ia ingin menjelaskan, tapi situasi tidak memungkinkannya, membuatnya semakin terpojok.

“Aku akan tetap di sini bersamamu,” kata Carisa pelan namun tegas.

Keesokan paginya, setelah pemakaman.

Rumah besar itu kembali dipenuhi para pelayat yang silih berganti datang untuk menyampaikan belasungkawa. Udara masih terasa berat, sisa isak tangis semalam seperti masih menggantung di setiap sudut ruangan.

Yuda duduk di ruang tamu, dikelilingi kerabat dekat yang terus menyalaminya. Wajahnya tampak letih, mata sembab, tapi tatapannya tetap tajam setiap kali tanpa sengaja melirik ke arah Carisa.

Carisa sendiri lebih banyak menunduk, duduk di sisi agak jauh, seolah tak tahu harus menempatkan diri di mana. Kehadirannya yang datang bersama Reynanda semalam masih menyisakan tanda tanya bagi Yuda.

Reynanda berusaha menjaga sikap. Ia berdiri di dekat Humaira, mencoba membantu menerima tamu yang datang. Namun sesekali, matanya tanpa sadar mencari Carisa, pandangan yang cepat ditangkap oleh Yuda.

Hening yang menggantung itu lebih mencekam daripada tangisan. Seakan semua orang larut dalam duka, tapi di baliknya ada bara yang siap menyala.

Suasana rumah duka akhirnya mulai lengang. Beberapa tamu sudah pulang, hanya tersisa keluarga inti dan kerabat dekat. Yuda duduk di kursi panjang dengan wajah pucat dan mata sembab.

Carisa mendekat, membawa segelas teh hangat. “Yuda, minum ini dulu… kamu dari tadi belum makan apa-apa.”

Yuda menerima tanpa banyak kata, lalu menyeruput sedikit. Kelopak matanya berat. “Aku lelah, Ris. Rasanya… semua tenaga hilang.”

Carisa menatapnya penuh iba. Ia menggeser duduk lebih dekat. “Kalau gitu istirahat sebentar. Nggak usah dipaksa.”

“Aku nggak bisa tidur dalam situasi seperti ini,” gumam Yuda, suaranya parau.

Carisa ragu sejenak, lalu memberanikan diri. “Kalau mau… kamu bisa rebahan di sini.” Ia menepuk pelan pahanya.

Yuda menoleh, kaget sekaligus bimbang. Tapi rasa lelah mengalahkan egonya. Perlahan, ia membaringkan kepala di pangkuan Carisa.

Carisa terdiam. Tubuhnya tegang sesaat, tapi tangannya akhirnya terulur, mengusap rambut Yuda dengan lembut. Wajah Yuda perlahan melunak, matanya terpejam, napasnya mulai teratur.

Adegan itu terlihat sederhana, tapi bagi yang menyaksikan… terasa sangat romantis.

Dari sudut ruangan, Reynanda berdiri membeku. Matanya membara, melihat Carisa membiarkan Yuda begitu dekat, seolah hanya Carisa yang bisa menenangkan Yuda di saat-saat rapuh.

Reynanda mengepalkan tangan di balik saku celana, rahangnya menegang.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!