Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pintu kayu jati berwarna cokelat muda di paviliun belakang itu berderit pelan saat Sandi mendorongnya. Aroma pengharum ruangan lily yang segar langsung menyambut indra penciumannya, berpadu dengan sisa aroma cat baru yang masih samar. Paviliun ini jauh lebih mewah dari kontrakan mereka di Jatinegara; lantainya marmer putih bersih dan sirkulasi udaranya sangat terjaga.
"Ibu, Sandi pulang!" seru Sandi sembari meletakkan kunci motornya di atas meja kecil dekat pintu.
Ibu Lisa keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih melilit di kepalanya, wajahnya tampak segar dan kemerahan. "Lho, kok sore banget, San? Kamu mampir ke mana dulu tadi sama Saskia?," sahut ibunya lembut sembari merapikan daster batiknya.
Sandi melempar tas sekolahnya ke atas sofa empuk di ruang tamu kecil itu. "Iya, Bu. Tadi Andra traktir kita makan siang di A&W Rawamangun dulu. Katanya syukuran karena dia sudah sembuh dari demam. Sandi kira Saskia sudah kabarin Tante Desi lewat telepon, eh taunya belum. Emang oneng tuh bocah, bikin orang rumah panik saja."
Ibu Lisa terkekeh kecil, matanya berbinar maklum. "Ya sudah, nggak apa-apa. Namanya juga anak muda kalau sudah kumpul pasti lupa waktu. Mandi dulu sana, San. Air di sini jernih banget, alirannya kencang. Ibu baru selesai mandi, rasanya segar sekali, semua penat tadi siang langsung hilang."
Sandi menatap wajah ibunya dengan saksama. Meski terlihat segar, ia tahu ada gurat kelelahan di balik senyum wanita yang sangat ia cintai itu. "Ibu pasti capek banget ya tadi bebenah barang sendirian di sini? Maafin Sandi ya, Bu, nggak bisa bantu karena harus sekolah. Harusnya Sandi bolos saja tadi biar Ibu nggak kerepotan."
Ibu Lisa menghampiri Sandi, mengusap lengan putranya dengan kasih sayang yang meluap. "Nggak usah kamu pikirkan soal itu. Ibu cuma nyusun pakaian saja ke dalam lemari dan atur perabotan kecil. Sisanya dibantuin sama supir pick-up dan Pak Jaka—satpam yang di depan gerbang itu. Mereka baik sekali, semua barang berat langsung ditaruh di tempatnya."
Sandi mengangguk lega, namun hatinya tetap merasa berhutang. "Yaudah, kalau Ibu ngerasa pegal atau capek, bilang Sandi ya? Nanti habis magrib Sandi pijitin biar tidur Ibu lebih nyenyak."
Ibu Lisa tersenyum haru, ia mengangguk pelan. "Iya, Sayang, nanti Ibu bilang. Sekarang kamu masuk kamar dulu, terus mandi. Itu kamar sebelah kanan buat kamu, dan yang sebelah kiri ini kamar Ibu. Akhirnya kamu punya privasi sendiri, San. Biar kamu nggak keganggu Ibu kalau lagi belajar atau lagi ngerjain tugas sekolah malam-malam."
Sandi justru memasang wajah manja, ia mengerucutkan bibirnya. "Dih, padahal Sandi lebih suka tidur sama Ibu. Biasanya kan kita satu kamar di kontrakan lama."
Tawa Ibu Lisa pecah memenuhi ruang paviliun yang sunyi itu. "Kamu itu sudah gede, tingginya sudah balap Ibu. Sudah nggak pantes lagi tidur di ketek Ibu terus, apalagi sekarang kita dikasih fasilitas dua kamar begini. Kamu harus belajar mandiri."
"Iya, Ibu... tapi kapan-kapan kalau Sandi kangen tidur di samping Ibu sambil dengerin Ibu cerita, masih boleh, kan?" tanya Sandi dengan nada merayu yang kekanak-kanakan.
Ibu Lisa harus berjinjit untuk bisa mengelus puncak kepala putranya yang kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan. "Iya, iya, boleh saja. Kamu tuh ya, sudah punya calon tunangan cantik kayak Saskia masih saja manja kayak anak kecil begini. Malu kalau Saskia tahu."
Sandi tersenyum manis, senyum yang jarang ia tunjukkan pada dunia namun selalu tersedia untuk ibunya. "Biarin saja, kan Sandi emang selamanya jadi anak kecilnya Ibu. Status boleh calon suami orang, tapi di depan Ibu, Sandi tetap Sandi yang dulu."
Ibu Lisa memeluk Sandi dengan gemas, mendekap erat putranya sejenak seolah tidak ingin waktu berlalu begitu cepat. "Iya, iya, anak kesayangan Ibu. Sana mandi, badan kamu baunya sudah kayak knalpot angkot, campur asap Jakarta. Nggak enak diciumnya."
Sandi terkekeh kecil, ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi ibunya yang masih lembap karena air wudhu. "Siap, Ibu Negara! Sandi masuk kamar dulu ya, mau cek wilayah kekuasaan baru."
Ibu Lisa mengangguk puas dengan tatapan penuh kebanggaan, sementara Sandi melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya, menutup pintu pelan sembari menarik napas dalam-dalam, merasakan perubahan besar yang mulai merayapi hidupnya di jantung Pondok Indah ini.
Sandi berdiri mematung sejenak di tengah kamar barunya. Matanya menyisir setiap sudut ruangan yang terasa begitu asing namun sangat nyaman. Kamar ini jauh lebih luas dari seluruh luas rumah petak mereka di Jatinegara dulu. Sinar matahari sore yang tersisa menerobos masuk melalui celah gorden minimalis, menciptakan garis-bergaris cahaya di atas lantai granit yang sejuk. Sandi melangkah perlahan, jemarinya menyentuh permukaan meja belajar kayu jati yang kokoh, lalu beralih meraba tekstur sprei kasur springbed yang empuk—sebuah kemewahan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan sekadar halusinasi. Sandi meletakkan tas sekolahnya yang sudah mulai memudar warnanya di atas meja, lalu mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Saat ia hendak menata buku-bukunya, pandangannya tertuju pada sebuah laci besar di sisi kanan meja yang sedikit terbuka.
Sandi menarik laci tersebut dan matanya membelalak. Di dalamnya terdapat sebuah tas ransel baru bermerk ternama dengan bahan kanvas tebal yang terlihat sangat premium. Sebuah secarik kertas putih dengan tulisan tangan yang rapi dan feminin tertempel di bagian depan tas tersebut. Sandi mengambil kertas itu dan membacanya perlahan:
"Sandi, ini adalah tas baru untukmu. Tante lihat tas lamamu itu sudah sangat tipis dan bahaya kalau diisi beban buku-buku yang berat. Ini adalah hadiah dari Kakek Heru untuk mendukung pendidikanmu. Harap diterima dengan senang hati dan tetap jaga prestasimu di sekolah ya, Nak! Belajarlah yang rajin agar cita-citamu tercapai. – Tertanda, Mamanya Saskia"
Sandi mengelus permukaan tas itu yang terasa sangat kuat dan berkualitas. Ada rasa haru yang kembali menyerang dadanya. Ia teringat bagaimana ia harus menjahit sendiri bagian bawah tas lamanya yang jebol bulan lalu karena terlalu banyak membawa buku paket materi ujian. "Terima kasih banyak, Tante... Kakek Heru," bisiknya lirih dengan senyum tulus yang mengembang.
Dengan semangat baru, Sandi mulai memindahkan peralatan tulis, penggaris, dan buku-buku paket materi sekolahnya ke dalam tas baru tersebut. Semuanya tertata sangat rapi. Setelah urusan meja belajar selesai, ia membuka lemari pakaian yang baunya masih sangat wangi kayu, meraih handuk bersih, dan mengambil sepasang pakaian santai—kaos polos dan celana pendek kain. Ia bergegas keluar menuju kamar mandi paviliun untuk membersihkan diri dari debu jalanan Jakarta.
Beberapa saat kemudian, Sandi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan aroma sabun yang segar. Ia mendapati ibunya baru saja keluar dari kamar, tampaknya baru saja selesai merapikan mukena untuk persiapan shalat.
"Ibu," panggil Sandi sembari menyampirkan handuknya. "Tadi Tante Desi bilang, habis Isya kita diminta datang ke rumah utama. Mereka mengajak kita makan malam bersama."
Ibu Lisa menghentikan langkahnya, wajahnya menunjukkan gurat kebingungan yang nyata. "Lah, kenapa kita harus makan di sana, San? Ibu kan sudah masak nasi sedikit tadi di dapur kecil kita."
Sandi mendekat, mencoba menjelaskan posisi sulit yang mereka hadapi. "Tadi Sandi sudah menolak sekuat tenaga, Bu. Benar-benar sudah bilang nggak enak. Tapi Tante Desi memaksa. Beliau bilang, di rumah ini tidak boleh ada batas kasta antara ART dan majikan kalau sudah urusan makan malam. Apalagi jadwal kerja Ibu hanya dari pagi sampai sore. Sore sampai malam, kita dianggap keluarga inti oleh mereka. Kata Tante Desi, kita ini rekan dan calon keluarga."
Ibu Lisa menghela napas panjang, raut wajahnya campur aduk antara merasa dihargai namun juga canggung yang luar biasa. "Ada-ada saja aturannya ya, San. Ibu jadi merasa sungkan, takut nanti cara makan Ibu atau sikap Ibu malah bikin malu di depan mereka."
Sandi mengangkat kedua bahunya, mencoba mencairkan suasana. "Entahlah, Bu. Sepertinya keluarga Saskia memang sehangat itu. Ya sudah, nanti habis Isya kita sama-sama ke sana ya. Sekarang Sandi mau mengerjakan PR dulu sekalian mengulas materi sekolah sebentar. Biar nanti pas makan malam otak Sandi nggak kosong-kosong amat kalau diajak ngobrol."
Ibu Lisa mengangguk setuju, ia mengusap bahu Sandi yang masih terasa lembap. "Iya, kamu belajar dulu sana yang rajin. Bentar lagi adzan Magrib, kita shalat berjamaah dulu, baru kamu lanjut belajar sampai Isya. Setelah Isya, baru kita berangkat ke rumah depan bersama-sama. Jangan lupa dandan yang rapi ya, jangan pakai kaos oblong bolong-bolong!"
Sandi tertawa kecil dan mengangguk patuh. Ia meninggalkan ibunya dan kembali masuk ke dalam kamar, duduk di depan meja belajarnya yang baru dengan semangat belajar yang berlipat ganda, sementara lamat-lamat suara adzan mulai berkumandang dari masjid komplek Pondok Indah, menandai berakhirnya hari yang penuh kejutan ini.
Gema adzan Magrib dari masjid besar Pondok Indah menyusup halus melalui celah ventilasi paviliun, membawa atmosfer religius yang menenangkan di tengah kemewahan lingkungan tersebut. Sandi segera beranjak dari meja belajarnya, merapikan buku materi biologi yang baru setengah ia ulas, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh diri dengan air wudhu. Dinginnya air seolah melunturkan sisa-sisa kegerahan batinnya setelah seharian penuh emosi.
Saat keluar, ia mendapati Ibu Lisa sudah berdiri tegak di ruang tengah yang beralaskan karpet bersih. Sang ibu tampak anggun dan bersahaja dalam balutan mukena putih bersih yang aromanya khas wangi setrikaan rumahan. Sejadah sudah terbentang rapi, satu di depan untuk imam dan satu di belakangnya.
"Ayo, San. Jadi imam Ibu lagi seperti biasanya," ucap Ibu Lisa lembut sembari memberikan isyarat dengan tangannya.
Sandi mengangguk takzim. Ia melangkah maju, membetulkan letak peci hitamnya dan memastikan sarungnya sudah rapi. Namun, tepat saat ia mengangkat tangan untuk melakukan takbiratul ihram, suara ketukan pintu yang cukup bersemangat memecah keheningan paviliun. Tok, tok, tok!
"Biar Ibu yang buka sebentar, Nak. Takutnya ada hal penting dari rumah depan," ujar Ibu Lisa sembari melangkah menuju pintu utama.
Begitu daun pintu terbuka, sosok Saskia langsung muncul dengan wajah ceria yang sulit disembunyikan. Ia sudah mengganti seragam SMP-nya dengan setelan santai berupa kaos oversized berwarna pastel dan celana legging hitam yang simpel namun tetap terlihat modis. Rambutnya yang harum baru selesai dikeramas itu dibiarkan terurai sebahu.
"Halo, Tante Lisa! Sore... eh, sudah Magrib ya? Ada Sandinya, Tante?" tanya Saskia dengan nada riang dan senyum manis yang membuat matanya menyipit.
Ibu Lisa tersenyum hangat, hatinya luluh melihat keceriaan gadis itu. "Eh, Saskia. Ayo masuk dulu, Nak. Ini Sandi sama Ibu baru mau mulai shalat Magrib berjamaah. Masuk saja dulu."
Saskia mengangguk patuh dan melangkah masuk dengan sopan. Matanya langsung tertuju pada Sandi yang berdiri tegap di atas sejadah dengan posisi siap shalat. Sandi menoleh sedikit, menatap Saskia dengan alis bertaut heran.
"Ngapain lo ke sini? Bukannya shalat di rumah utama malah keluyuran Magrib-magrib begini. Pamali tahu," tegur Sandi dengan gaya khasnya yang pura-pura galak.
Saskia mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat namun menggemaskan. "Iiiihhh, emang nggak boleh apa aku kunjungi calon imamku sendiri? Kan aku mau lihat kamu pakai peci, ternyata makin ganteng," godanya tanpa malu-malu di depan Ibu Lisa.
Ibu Lisa terkekeh kecil mendengar celetukan polos Saskia. Ia kemudian mengelus bahu gadis itu. "Nah, kalau memang mau Sandi jadi calon imam kamu, kamu jangan cuma berdiri di situ. Kamu berdiri di belakangnya saja sekarang. Ayo, kita shalat Magrib berjamaah sama-sama di sini."
Mata Saskia langsung berbinar cerah, ide itu terdengar sangat romantis di telinganya. "Beneran boleh, Tante? Wah, kalau gitu tungguin aku ya! Aku mau ambil mukena sama sejadah dulu di kamar. Jangan mulai dulu ya, awas loh kalau ditinggal!"
Sandi menghela napas panjang sembari memutar bola matanya. "Hadeuh... bakalan lama lagi ini gue shalatnya. Keburu habis waktu Magribnya kalau nungguin lo lari-larian ke rumah depan," keluh Sandi, meski sebenarnya ia tidak benar-benar keberatan.
"Huss, San! Jangan begitu," tegur Ibu Lisa lembut namun tegas. "Biarin saja kenapa. Tungguin sedikit lagi biar calon istrimu bisa ikut shalat berjamaah. Pahalanya kan lebih besar kalau bertiga."
Saskia memberikan senyum kemenangan yang paling lebar ke arah Ibu Lisa, seolah mendapat pembelaan dari "mertua" idaman. Sebelum berbalik lari, ia menyempatkan diri menjulurkan lidahnya ke arah Sandi dengan gaya jahil yang paling tengil.
"Tunggu ya, Yang! Jangan kangen!" seru Saskia sembari berlari kecil keluar paviliun menuju rumah utama.
Sandi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib gadis itu, sementara Ibu Lisa tersenyum penuh arti melihat interaksi mereka yang penuh warna. Di dalam hati, Sandi bergumam bahwa mulai hari ini, shalat Magribnya tidak akan pernah terasa sepi lagi.
Hening sejenak menyelimuti ruang tamu paviliun yang mungil namun asri itu. Cahaya lampu neon yang putih bersih memantul di lantai marmer, menciptakan suasana yang tenang namun sarat akan emosi. Sambil menunggu Saskia kembali, Sandi memilih untuk duduk di samping ibunya di sofa empuk. Ia memperhatikan wajah ibunya yang nampak jauh lebih rileks dibandingkan saat mereka masih tinggal di rumah petak Jatinegara yang sesak.
"Bu," panggil Sandi pelan, memecah kesunyian. "Sandi penasaran, sebenarnya tugas Ibu di rumah besar ini nanti ngapain aja? Ibu kan cuma kerja dari pagi sampai sore. Terus gimana pembagian tugas sama ART yang lain? Sandi nggak mau Ibu terlalu diforsir tenaganya."
Ibu Lisa tersenyum tipis, matanya memancarkan keteduhan seorang wanita yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. "Tadi Mamanya Saskia sudah jelaskan semuanya ke Ibu, San. Besok Ibu sudah mulai kerja penuh. Tugas Ibu itu fokus ke urusan kebersihan umum dan pakaian. Pagi-pagi Ibu mengurus cucian keluarga, menjemur, lalu sambil menunggu kering, Ibu membersihkan area rumah utama. Nyapu, ngepel, sampai mengelap kaca dan debu-debu di perabotan ruang tamu dan ruang keluarga. Kalau jemuran sudah kering, baru Ibu setrika rapi. Sudah, cuma itu saja."
Sandi mengangguk-angguk, namun dahi pemuda itu masih sedikit berkerut. "Terus yang lain? Tadi Sandi lihat ada beberapa orang juga di sana."
"Kalau urusan dapur itu ranahnya Mbok Sayuti," jelas Ibu Lisa detail. "Dia spesialis masak. Datang pagi untuk sarapan, terus pulang karena rumahnya dekat sini. Sore dia datang lagi untuk masak makan malam, lalu pulang lagi. Nah, kalau Mbak Zainab, dia yang tinggal di dalam rumah utama. Tugas dia lebih spesifik; membersihkan kamar-kamar tidur, mulai dari kamar Saskia, Mamanya, sampai kamar Kakek Heru dan kamar tamu. Pakaian yang sudah Ibu setrika juga Mbak Zainab yang bawa ke dalam untuk ditata di lemari masing-masing. Karena dia masih lajang, dia dikasih kamar khusus karyawan di bangunan utama."
Sandi mendengarkan dengan saksama, mencoba memetakan ekosistem baru di tempat tinggalnya. "Terus kalau satpam yang di depan itu gimana, Bu? Pakde Jaka sama satu lagi siapa tadi?"
"Itu Mas Arif, anaknya Pakde Jaka," jawab Ibu Lisa. "Mereka bagi shift. Pakde Jaka jaga dari pagi sampai malam, lalu digantikan Mas Arif dari malam sampai pagi. Mereka juga punya kamar sendiri di sana. Ibu sempat mengobrol sedikit sama Pakde Jaka tadi. Katanya, istrinya ada di Sukabumi, sementara istrinya Mas Arif tinggal di Cirebon sama orang tuanya sendiri. Pakde Jaka bilang itu sengaja, supaya nggak ada konflik antara mertua dan menantu kalau ditinggal suaminya kerja jauh. Lebih aman kalau masing-masing tinggal sama orang tua sendiri, menghindari salah paham. Bijak juga ya pemikiran orang tua itu."
Sandi terdiam, meresapi setiap informasi yang diberikan ibunya. Pikirannya melayang jauh ke masa depan, melintasi batas waktu hingga ke saat di mana ia benar-benar harus memikul tanggung jawab besar.
"Kalau menurut Ibu," suara Sandi mendadak merendah, lebih serius dari sebelumnya. "Enaknya Sandi gimana nanti? Kalau suatu saat Sandi benar-benar nikah sama Saskia, Ibu lebih setuju Ibu ikut Sandi mandiri, atau Sandi tetap tinggal di sini bersama keluarga besar mereka?"
Ibu Lisa menatap anak semata wayangnya dengan tatapan haru. Ia menggenggam tangan Sandi yang kini sudah terasa lebih besar dan kokoh. "Itu tergantung kamu, Nak. Kamu itu calon kepala rumah tangga. Kamu yang punya hak dan kewajiban untuk mengatur arah kemudi keluarga kamu sendiri. Istri itu pendukung, pengelola rumah dan kebutuhan sehari-hari. Pesan Ibu cuma satu: kalau nanti kamu sudah sukses, punya gaji sendiri, jangan pernah pelit dan jangan pernah bohong sama istri masalah keuangan. Karena dialah yang harus mengelola hidup kalian."
"Kalau masalah itu, Sandi janji nggak akan tertutup sama istri, Bu," jawab Sandi mantap. Matanya kemudian menatap lekat mata ibunya. "Tapi kalau Sandi minta Ibu ikut Sandi, apakah Ibu bersedia? Walaupun nanti Sandi mungkin cuma punya rumah kecil?"
Bibir Ibu Lisa bergetar. Setetes air mata bening jatuh melintasi kerutan halus di pipinya. "Ibu dengan senang hati, Nak... kalau kamu memang masih mau mengajak Ibu yang sudah tua ini."
"Apapun keputusanmu nanti, Ibu pasti dukung kamu, Sayang," lanjut Ibu Lisa dengan suara serak menahan tangis bahagia.
Sandi tidak tahan lagi. Ia merengkuh tubuh ibunya, memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di bahu wanita yang telah berjuang sendirian membesarkannya. "Sandi nggak mau jauh dari Ibu. Sandi akan bawa Ibu ke mana pun Sandi pergi, bahkan setelah Sandi menikah nanti. Saat ini Sandi cuma punya Ibu. Ibu yang selalu ada, yang bekerja keras banting tulang buat Sandi dari kecil. Sandi nggak akan mungkin ninggalin Ibu."
Isak tangis kecil pecah di antara mereka. Sebuah ikatan batin yang sangat kuat antara ibu dan anak yang selama ini bertahan di tengah badai kemiskinan Jatinegara, kini terasa semakin kokoh di tengah kemewahan Pondok Indah.
Tanpa mereka sadari, di ambang pintu paviliun yang sedikit terbuka, Saskia berdiri mematung. Ia yang baru saja kembali membawa mukena dan sejadah, terhenti langkahnya mendengar percakapan yang begitu menyentuh itu. Air matanya ikut mengalir deras membasahi pipinya. Ia melihat sisi lain dari Sandi—bukan Sandi yang tengil atau cuek, melainkan sosok laki-laki yang sangat berbakti dan tulus mencintai ibunya. Di detik itu, Saskia semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah; ia telah jatuh hati pada laki-laki yang tepat.