NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Naya

Bab 10 - Naya

“Iya! Waktu ada acara lomba barista,” kata Bayu sambil menyuruh Bima dan Celsi duduk kursi meja persegi panjang dengan enam buah kursi di tengah kafe.

Bima duduk di sebelahku. Celsi duduk di hadapanku. Di sebelahnya duduk Risa, lalu Bayu yang berhadapan dengan Bima, kemudian Shanaz duduk di sebelahku.

Shanaz berbisik di telingaku, “Mereka wangi banget.”

Aku menyikut Shanaz agar berhenti berkomentar.

“Ah, iya. Menang kan ya?” kata Bima menatap Bayu.

“Nggak. Saya juara tiga!”

“Ya menang lah itu.”

“Eh, iya. Mau kopi apa?” Bayu bangkit lalu memberikan menu kepada Celsi dan Bima.

“Aku leci tea aja, nggak pake gula,” kata Celsi mengembalikan menu.

Pilihan yang elegan, murah tapi nggak murahan, pikirku. Baru kali ini aku bertemu dengan manajernya Bima. Memang Bima pernah sekali cerita soal manajer yang ingin bertemu denganku, tapi belum pernah cerita detail soal Celsi. Di dalam bayanganku Celsi orang yang sangat menyenangkan, santai, dan sederhana. Tapi orang yang di hadapanku tampak seperti profesional, tegas, dan menakutkan.

“Aku americano aja,” jawab Bima.

“Eh, saya bikinin manual brew Japanese coffee, mau ya?” Bayu bangkit dari duduknya. “Menu andalan di sini.”

“Oh, boleh. Kalau nggak merepotkan,” Bima tersenyum sambil melirik ke arahku.

Aku berusaha tenang, tidak terlihat gugup menerima lirikan itu.

“Nggak. Nggak merepotkan,” Bayu pergi ke balik meja barista, “Kalian ngobrol lah, biar aku bikinin dulu.”

“Aku sama Naya nggak ditawarin minum, Mas?” Risa teriak.

“Kalian macha latte aja ya?” jawab Bayu dari balik meja barista.

“Oke!” kata Risa dan aku.

“Aku nggak, kak!” Shanaz teriak manyun.

“Kalo kamu air putih aja!” sahut Bayu.

“Auah!” Shanaz ngedumel bete. Semuanya tertawa.

Suasana jadi semakin cair. Tapi aku tetap tidak tahu apa yang harus dibicarakan, begitu juga Risa yang menatapku memberikan kode untuk bicara.

“Jadi Bima ini dulu temen kuliah aku,” kata Celsi yang bisa membaca situasi telah menjadi rikuh. “Kalau curhat soal cewek, ke aku terus. Padahal aku suka sama dia!”

“Oh iya?” Shanaz yang polos kaget.

“Apaan, bercanda!” Bima melambaikan tangannya ke depan mukanya sambil menggelengkan kepala.

Celsi tertawa, “Malu dia! Semua cewek di kampus suka sama dia. Wajar lah, dia juga udah mulai jadi foto model waktu itu.”

“Eh, kok jadi ngomongin masa lalu sih?” Bima mengernyit heran, sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Ya biar dia tahu, kamu itu siapa!” Celsi melirik Naya, lalu melotot ke Bima.

“Terus gimana ceritanya, Kak?” Shanaz bertanya penasaran, lalu menenangkan diri ketika aku menyikutnya lagi.

“Jadi dia deketin seorang cewek lah, sebut saja Mawar, anak satu angkatan, tapi beda jurusan. Mawar tentu juga suka sama dia lah ya. Tapi begitu, lulus kuliah. Bima mulai karir di film, Mawar fokus nerusin S2 di luar negeri. Jadi ya udah, mereka putus gitu aja.” Celsi menatap Bima, “Iya kan, Bim?”

“Ya, gitu lah.” Bima menatapku, “Aku pernah cerita kan ke kamu?”

Aku mengangguk pelan.

“Sori ya, Bima ini emang orangnya kadang impulsif. Bukan kadang sih, emang impulsif. Kalau udah mau, ya mau aja gitu, harus sekarang dan harus dapet. Bikin kamu jadi kaget ya?” tanya Celsi padaku.

Aku jadi salah tingkah, maksudnya apa nih, “Ya, gimana ya?” aku melirik Risa.

“Naya juga temen kuliah aku. Dia adek kelas aku,” kata Risa mengikuti langkah Celsi. “Dia pacaran sama ex tunangan itu dari kuliah. Sampai lulus, jadi udah 7 tahun lebih lah pacaran. Semua orang nyuruh mereka menikah.”

“Ya iya lah ya, udah 7 tahun,” kata Celsi menyahut Risa.

“Iya, tapi ternyata, baru seminggu lamaran, malah minta putus.”

“Pelenger emang tuh orang! Kak Naya kaya gini disia-siain!” Shanaz nyeletuk membuatku tidak lagi menyikutnya, tapi menginjak kakinya. “Aduh!”

Bima tersenyum melihatku. Aku langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak baper. Tapi rasanya semua orang termasuk Bayu yang lagi sibuk bikin minuman, bisa merasakan aku sudah jatuh ke dalam gravitasinya Bima.

“Ya aku bilang sama Naya, udah terlanjur merencanakan nikah, kenapa dibatalin?” Bima masih menatapku.

Aku menghela napas, berusaha mengambil alih topik, “Semua harus dipikirin matang-matang. Sesuatu yang terburu-buru itu pasti nggak baik.”

Celsi mengangguk setuju, sambil melirik Bima, seperti berkata, ‘gue juga bilang apa sama elu, Bim!’

“Iya, kita nggak buru-buru, nggak nikah besok. Kita nikah masih empat bulan lagi, kan?” Bima menatapku lagi.

Aku memejamkan mata sejenak, mengambil napas panjang, lalu menatap Risa, “Gimana ya, aku belum ngomong sama orang tua aku.” Lalu aku menatap Bima, “Aku juga belum ngomong sama orang tua kamu,”

“It’s okay, kita bisa atur itu. Terserah kamu. Kamu mau aku ketemuan dulu sama orang tua kamu, atau kamu mau ketemuan dulu sama orang tua aku?” Bima membalikkan pertanyaan padaku.

Aku cuma bisa terdiam menelan ludah. Ludah yang cuma air, terasa seperti nasi segumpal meluncur di tenggorokkanku dengan berat.

“Oke, oke, bahasan keseriusan ini kita cairkan dulu. Dinginkan dulu,” Bayu datang membawakan minuman. Memberikan manual brew pada Bima. Leci tea pada Celsi. Macha latte padaku dan Risa. Dan air putih pada Shanaz.

“Kak! Sumpah ya?” Shanaz menatap Bayu kesal. “Beneran air putih?”

“Kan tadi aku bilang air putih,” Bayu menatap Shanaz heran.

Sementara aku dan yang lainnya tertawa.

“Aku mau kopsus, Kak!” Shanaz merajuk.

“Bikin aja sendiri gih. Kan udah pernah aku ajarin.”

“Astagfirullah alazim! Tega banget sumpah sama ipar sendiri!” Shanaz pergi ke belakang meja barista.

Aku melirik Bima yang ternyata dari tadi sedang menatapku sambil tersenyum. Aku memalingkan wajah, dan menyeruput macha latteku. Pembicaraan kemudian dipimpin oleh Bayu, soal kopi, kafe, wo, dan jadwal Bima yang akan mengadakan pentas teater sebentar lagi. Percakapan berlangsung hangat dan kekeluargaan. Aku bisa merasakan kami menyatu dalam frekuensi yang sama.

Setelah minuman habis dan pembicaraan selesai. Bima dan Celsi pamit pulang. Aku, Shanaz, Risa, dan Bayu mengantarkan mereka keluar dari kafe.

“Kabarin ya, kapan aku bisa ke rumah kamu,” bisik Bima padaku sebelum melangkah masuk ke mobil alhpard putihnya.

Deg.

Kepalaku langsung muter tujuh keliling. Aku belum jawab iya mau menikah dengannya.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!