NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Kalimat itu jatuh tepat di tempat yang paling menyakitkan. Sekar membuka matanya perlahan. Menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Mereka tidak berteriak. Tidak menghina. Tapi setiap kata yang keluar seperti mengikis dirinya sedikit demi sedikit.

“Sekar terlalu sibuk,” lanjut ibu Aji. “Rumah tangga itu butuh perhatian. Suami itu butuh dilayani. Bukan ditinggal terus.”

Sekar akhirnya berbicara. “Yang saya lakukan… untuk siapa, Bu?” Suaranya pelan. Tapi cukup untuk membuat semua orang diam sesaat. “Saya kerja karena usaha Aji turun,” lanjutnya, masih dengan nada yang sama. “Saya bantu karena saya istri. Saya pikir… itu bagian dari tanggung jawab saya.” Ia menatap Aji. “Dan saya nggak pernah ninggalin rumah. Saya tetap pulang. Tetap ngurus anak. Tetap ngurus semuanya.”

“Tapi kamu berubah,” potong Aji cepat, nada suaranya mulai naik. “Kamu nggak seperti dulu. Kamu jadi lebih keras. Lebih nggak nurut.”

Kata itu lagi. Nurut. Sekar menarik napas panjang. “Jadi masalahnya… saya nggak nurut?” tanyanya.

Tidak ada yang langsung menjawab. Tapi diam mereka… sudah cukup.

“Aji butuh istri yang patuh,” kata ayahnya akhirnya. “Rumah tangga itu ada aturannya. Kalau istri mulai jalan sendiri, ya pasti goyah.”

Sekar menunduk sebentar. Bukan karena kalah. Tapi karena ia sedang menahan sesuatu yang perlahan naik ke permukaan.

“Kalau begitu…” ucapnya pelan, lalu kembali mengangkat wajahnya, “kenapa saya yang diminta berhenti?”

Semua mata tertuju padanya. “Kamu bisa berhenti kerja,” ujar ibu Aji tanpa ragu. “Fokus ke rumah. Perbaiki semuanya. Kita anggap ini kesalahan yang bisa dilupakan.”

Sekar terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi maknanya begitu besar. Berhenti. Menghapus dirinya sendiri. Seolah semua yang ia lakukan tidak pernah berarti.

“Saya nggak bisa berhenti,” jawab Sekar akhirnya. Tenang tapi tegas. “Kontrak saya masih jalan.”

“Kontrak bisa diputus,” sahut Aji cepat. “Kalau kamu memang mau memperbaiki rumah tangga ini, kamu harus pilih.”

Sekar menatapnya. Lama. Dalam. Seolah mencoba melihat lelaki yang dulu ia cintai. Tapi yang ia lihat sekarang asing. “Dan kalau saya nggak berhenti?” tanyanya.

Hening. Beberapa detik yang terasa panjang. Aji menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu berkata dengan dingin, “Ya jangan salahkan kalau semuanya jadi hancur.”

Sekar tersenyum kecil. Akhirnya. Senyum yang bukan karena bahagia. Tapi karena ia akhirnya mengerti. “Jadi ini bukan tentang memperbaiki,” gumamnya pelan. “Ini tentang saya harus mengalah… lagi.” Ia berdiri. Perlahan.

Semua orang langsung tegang.

“Saya sudah mengalah terlalu lama,” lanjutnya, menatap satu per satu orang di ruangan itu. “Saya diam waktu dia berubah. Saya bantu waktu dia jatuh. Saya tetap tinggal waktu semuanya berat.” Ia berhenti sejenak. Menatap Aji. “Tapi saya nggak akan mengalah untuk hal ini. Aji sudah berzina. ZINA!"

“Sekar!” ibunya mencoba menahan.

Tapi Sekar menggeleng pelan. “Saya capek,” ucapnya jujur. “Capek jadi satu-satunya orang yang berusaha.” Suara itu tidak tinggi. Tapi untuk pertama kalinya penuh emosi.

“Apa yang kamu mau sekarang?” tanya ayah Aji, nadanya mulai tajam.

Sekar menarik napas dalam. Dan untuk pertama kalinya, ia mengucapkan keputusan yang bahkan dirinya sendiri tidak pernah bayangkan sebelumnya. “Saya mau cerai.”

Ruangan itu seketika sunyi. Seolah waktu berhenti. Semua orang terdiam.Terutama Aji. Karena untuk pertama kalinya, lelaki itu menyadari Sekar tidak lagi berada di bawah kendalinya.

Keputusan itu tidak menggema dengan teriakan. Tidak juga dengan penolakan yang dramatis. Justru sebaliknya—hening yang turun setelah Sekar mengucapkan kata cerai terasa jauh lebih menekan, seolah udara di ruangan itu berubah menjadi sesuatu yang berat dan sulit dihirup.

Aji tidak langsung marah. Dan itu lebih mengkhawatirkan. Ia hanya menatap Sekar, lama, dengan sorot mata yang sulit ditebak. Bukan lagi kaget, bukan juga terluka. Ada sesuatu yang lebih dingin dari itu sesuatu yang perlahan menyusun rencana.

Sekar mengenali tatapan itu. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ini belum selesai. Ini baru dimulai.

“Kamu yakin dengan keputusan kamu?” Suara Aji terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diminta berpisah oleh istrinya sendiri.

Sekar tidak menjawab dengan panjang lebar. Ia hanya mengangguk pelan, matanya tidak lagi menghindar. “Saya sudah pikirkan.”

Aji tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah Sekar lihat sebelumnya. “Kalau begitu… kita selesaikan sekalian.” Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi cara Aji mengucapkannya membuat sesuatu dalam diri Sekar terasa tidak nyaman.

“Maksud kamu apa?” tanya ibu Sekar dengan nada waspada.

Aji bersandar, lalu menyatukan kedua tangannya, seolah ia sedang bersiap memaparkan sesuatu yang penting. “Kalau kita bicara jujur,” ucapnya perlahan, “masalah di rumah tangga ini bukan cuma karena saya.”

Sekar menatapnya. Tenang. Menunggu.

“Kamu juga punya andil, Sekar.” Tidak ada emosi di sana. Hanya pernyataan.

Sekar mengangguk kecil. “Saya nggak pernah bilang saya sempurna.”

“Bukan soal sempurna,” potong Aji cepat. “Tapi soal… kesetiaan.”

Kata itu sengaja ia tekankan. Dan ruangan itu kembali menegang. Alis Sekar sedikit berkerut. Bukan karena tersinggung. Tapi karena tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aji?

“Aji, kamu mau bilang apa?” tanya ayahnya, mulai terlihat bingung.

Aji menghela napas, seolah ia berada di posisi yang sulit. Lalu ia menatap langsung ke arah Sekar. “Kamu pikir aku nggak tahu?”

Sekar diam.

“Kamu sering pulang malam,” lanjut Aji. “Sering keluar sama tim kamu. Dan jangan pikir aku nggak lihat cara kamu sama Rendi.”

Nama itu jatuh seperti sesuatu yang asing. Tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu langsung menangkap arah pembicaraan.

“Rendi?” ulang ibu Sekar pelan.

Sekar menatap Aji tanpa berkedip.

“Apa hubungannya Rendi di sini?”

Aji tersenyum miring.

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

Dan di situlah sesuatu dalam diri Sekar akhirnya bergerak. Bukan marah. Bukan juga sedih. Tapi… jijik. “Jadi sekarang kamu mau bilang… saya selingkuh?” tanyanya pelan, suaranya kembali datar.

Aji tidak langsung menjawab. Dan diamnya itu… seperti pengakuan yang disengaja.

“Jawab, Ji,” desak Sekar.

Aji mengangkat bahu ringan. “Aku cuma bilang apa yang aku lihat. Kamu dekat sama dia. Terlalu dekat untuk ukuran rekan kerja.”

Kalimat itu disusun rapi. Tidak langsung menuduh. Tapi cukup untuk menanamkan keraguan. Dan Sekar tahu itu. Ini bukan kebenaran..Ini strategi.

“Rendi itu rekan kerja saya,” jawab Sekar tegas. “Dia bantu saya urus klien. Itu saja.”

“Benarkah?” sahut Aji cepat. “Atau itu yang kamu mau semua orang percaya?”

Ibu Sekar terlihat gelisah. “Sekar… ini benar?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada tuduhan Aji. Sekar menoleh perlahan ke arah ibunya. Matanya tidak berkaca-kaca. Tidak juga marah. Hanya lelah. “Ibu juga meragukan saya?”

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!