Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: DETIK-DETIK KRITIS DI PERGURUAN MELATI PUTIH
Langit pagi di kaki pegunungan tampak kelabu pekat. Awan tebal menggantung rendah, seolah-olah semesta sedang memikul beban kesedihan yang tak kasat mata. Angin pegunungan berembus pelan, namun membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, menyebarkan firasat buruk ke setiap sudut lembah.
Di tengah suasana muram itu, berdiri sebuah kompleks bangunan kayu yang biasanya menjadi simbol kedamaian dan keteguhan. Namun hari ini, tempat itu telah berubah total menjadi ladang kecemasan yang mencekam.
Perguruan Melati Putih.
Halaman depan yang biasanya riuh oleh suara murid-murid yang berlatih jurus kini sunyi senyap, sesunyi kuburan tua. Beberapa murid hanya berdiri berkelompok di bawah naungan pohon kamboja, saling berbisik dengan wajah tegang yang dibasahi keringat dingin. Tak ada lagi tawa renyah, tak ada denting pedang yang beradu ritmis. Yang tersisa hanyalah satu rasa yang menggerogoti hati mereka: Ketakutan.
“Bagaimana keadaan Guru Besar?” seorang murid wanita bertanya, suaranya bergetar menahan tangis.
Rekan di sampingnya hanya menggeleng lemah, matanya sembab. “Racunnya… kabarnya sudah merayap hingga ke dada. Semakin parah setiap jamnya.”
Jawaban itu jatuh seperti batu pemberat yang membuat suasana di sana semakin menyesakkan.
Di dalam bangunan utama, udara terasa jauh lebih pengap dan berat. Aroma rebusan obat-obatan pahit menyengat indera penciuman, berusaha menutupi bau anyir yang mulai muncul. Di atas sebuah dipan kayu jati yang kokoh, terbaring sosok yang selama ini menjadi tiang penyangga perguruan.
Wajahnya yang biasanya berwibawa kini pucat pasi layaknya pualam. Bibirnya yang dulu kerap memberikan petuah bijak kini menghitam, pecah-pecah oleh hawa panas racun. Keringat dingin terus mengucur deras dari dahinya yang berkerut menahan sakit yang tak terperi.
Dialah Dewi Melati. Pimpinan tertinggi Perguruan Melati Putih, seorang pendekar wanita yang namanya pernah membuat gempar rimba persilatan. Namun kini, sang singa betina itu tak lebih dari raga lemah yang tengah bertarung di ujung maut melawan racun Tujuh Bayangan Maut milik Nini Suro.
Di sampingnya, bersandar pada bantal yang tinggi, seorang gadis muda mencoba bertahan. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan berat. Tubuhnya pun tak luput dari serangan racun yang sama saat mencoba melindungi gurunya.
Dialah Selasih, murid kesayangan sekaligus harapan masa depan perguruan. Wajah ayunya kusam, namun sorot matanya masih mencoba mencari secercah cahaya di tengah kegelapan.
“Guru…” bisiknya sangat lirih. Tangannya yang gemetar mencoba meraih jemari Dewi Melati, namun tenaga itu menguap sebelum tujuannya tercapai. Tangannya jatuh lunglai di atas kasur.
Di sisi lain ruangan, seorang tabib tua berambut putih menyeka keringatnya dengan kain kusam. Ia menggelengkan kepala berkali-kali.
“Kami sudah mengerahkan semua ramuan penawar yang tersimpan di gudang pusaka…” suaranya parau. “Namun racun ini… racun ini bukan berasal dari alam fana.”
Ia terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, “Ini adalah racun kimiawi yang dicampur dengan tenaga dalam hitam. Ia tidak hanya menyerang organ tubuh, tapi juga membusukkan aliran tenaga dalam dari dalam inti meridian.”
Seorang murid senior pria mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. “Nini Suro… nenek sihir itu benar-benar ingin memusnahkan kita semua!”
Tabib itu menghela napas panjang, menatap jam pasir di sudut ruangan yang butirannya terus merosot turun. “Jika tidak ada penawar asli dalam waktu dekat… ajal akan menjemput mereka. Tanpa kecuali.”
Di luar, langit semakin gelap. Kilat sesekali menyambar di balik awan kelabu, seolah alam ikut merintih melihat penderitaan di dalam perguruan itu.
“Berapa lama lagi waktu yang kita punya, Tabib?” tanya seorang murid dengan suara yang nyaris putus asa.
Tabib tua itu menatap nadi Dewi Melati yang berdenyut tidak beraturan, lalu beralih ke Selasih. Wajahnya semakin suram, menyiratkan vonis yang kejam. “Dua hari… atau mungkin, bahkan sebelum fajar esok menyingsing, jantung mereka akan berhenti.”
Kalimat itu menghantam batin semua yang hadir. Isak tangis mulai pecah dari murid-murid wanita di sudut ruangan. Harapan seolah sirna ditelan bumi.
“Tidak…”
Tiba-tiba, suara lemah namun tegas terdengar. Semua mata tertuju pada Selasih. Gadis itu membuka matanya perlahan. Meski redup, ada api keyakinan yang masih menyala di sana.
“Dia… dia pasti akan datang…” bisiknya, sebuah senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya yang membiru.
Seorang murid mendekat, mencoba menenangkan. “Siapa, Selasih? Siapa yang kau maksud?”
“Rangga…”
Nama itu menggema di ruangan yang sunyi. Menciptakan riak harapan sekaligus keraguan yang besar.
“Tapi Selasih, dia sudah pergi berhari-hari ke Gunung Tiga Puluh,” gumam salah satu murid senior. “Tempat itu adalah sarang harimau. Belum tentu dia masih bernapas di sana…”
Selasih menggeleng perlahan, seolah ia bisa merasakan detak jantung Rangga dari kejauhan. “Dia… Pendekar Naga… dia tidak akan membiarkan kita mati…”
UHUK!
Tiba-tiba, Dewi Melati tersentak. Tubuhnya melengkung kaku di atas dipan. Darah hitam pekat yang kental menyembur dari mulutnya, membasahi kain putih penutup dadanya. Tubuhnya mulai kejang-kejang hebat.
“Guru! Guru!” teriak para murid panik. Mereka segera menyerbu maju untuk menahan tubuh sang pemimpin.
Tabib tua langsung bergerak cepat, memeriksa nadi di leher Dewi Melati. Wajahnya berubah pucat pasi. “Gawat! Racunnya sudah menembus gerbang jantung! Arus tenaganya meledak!”
Suasana ruangan berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Teriakan dan tangis beradu dengan bau anyir darah yang semakin menyengat.
Namun di kejauhan, terpisah oleh hutan belantara dan tebing curam…
Sebuah bayangan emas melesat dengan kecepatan yang melampaui batas normal manusia. Ia melompati batang pohon raksasa, menyeberangi jurang tanpa tali, dan menembus semak berduri tanpa mempedulikan luka yang menganga di kulitnya.
Rangga Nata.
Pakaiannya telah compang-camping, jubah emasnya berlumuran debu dan darah kering. Meskipun tenaga dalamnya berkurang separuh setelah diberikan kepada Ayu di Lembah Mayat, ia memaksakan sisa energinya hingga ke titik penghabisan. Paru-parunya terasa terbakar, namun matanya tetap menyala penuh tekad baja.
“Bertahanlah, Guru… Selasih… sedikit lagi!” desisnya di antara deru napasnya yang berat.
Tangannya mendekap erat botol porselen hijau di balik jubahnya. Empedu Macan Putih. Satu-satunya harapan bagi Melati Putih. Namun ia tidak sadar, bahwa di hadapannya, jam pasir takdir sudah mencapai butiran-butiran terakhirnya.
Kembali di dalam kamar, Dewi Melati kini terbaring diam. Napasnya pendek-pendek, hampir tak terlihat pergerakan di dadanya. Selasih pun sudah mulai memejamkan mata, kesadarannya perlahan tertelan oleh pekatnya racun.
Tabib tua itu melepaskan tangan Dewi Melati. Ia menundukkan kepala, air mata jatuh ke lantai kayu.
“Siapkan…” ia terhenti, suaranya tercekat. “Siapkan persiapan terakhir untuk upacara pelepasan jenazah.”
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa harapan yang ada. Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh ratapan yang memilukan. Di luar, langit akhirnya meneteskan air mata. Hujan turun dengan dinginnya, seolah hendak membasuh duka yang menyelimuti perguruan itu.
Dan di tengah guyuran hujan itu, seorang pendekar terus berlari, menantang maut, mencoba mengubah takdir yang sepertinya sudah tertutup rapat.
Bersambung…