NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: BIDADARI DI SARANG SERIGALA

Gedung Ryker Group menjulang tinggi menembus awan Jakarta, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan dan kedinginan pemiliknya. Namun pagi ini, lobi utama yang biasanya sunyi dan hanya terdengar suara pantofel yang teratur, mendadak gaduh oleh bisik-bisik yang tertahan.

Nael melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang sempurna—kali ini dasinya sudah diperbaiki sendiri dengan rapi. Namun, yang membuat ratusan pasang mata membelalak adalah sosok wanita di sampingnya. Alurra mengenakan dress selutut berwarna putih gading pilihan Nael, rambut emasnya dibiarkan terurai indah, membuatnya tampak seperti dewi yang turun ke bumi beton.

"Nael! Kenapa lantai ini licin sekali? Apa mereka menuangkan minyak goreng di sini agar musuh terpeleset?" suara cempreng Alurra menggema di langit-langit lobi yang tinggi.

Nael hanya menatap lurus ke depan, pura-pura tidak mendengar, meski tangannya digandeng erat oleh Alurra. Ia merogoh ponselnya dan mengetik cepat: "INI MARMER MAHAL. JALANLAH DENGAN BENAR."

"Marmer? Marmer apanya, ini licin sekali! Aku hampir saja melakukan atraksi sirkus tadi!" Alurra mendongak, menatap deretan karyawan yang membungkuk hormat. "Heh, kalian! Kenapa menunduk begitu? Apa ada uang jatuh di sepatuku?"

Para karyawan membeku. Mereka tidak berani menjawab. Nael mempercepat langkahnya menuju lift khusus CEO, menyeret Alurra yang masih sibuk menunjuk-nunjuk lampu kristal di langit-langit.

Begitu pintu lift tertutup, Alurra langsung melepas gandengannya dan berkaca di dinding lift yang mengkilap. "Nael, baju ini sempit sekali di bagian dada. Apa manusia di sini suka menyiksa diri dengan kain ketat begini? Aku merasa seperti dibungkus daun pisang!"

Nael hanya bisa memejamkan mata, bersandar di dinding lift. Ia menunjukkan layar ponselnya: "ITU NAMANYA FASHION. ANDA TERLIHAT CANTIK."

Alurra seketika tersenyum lebar, amarahnya menguap. "Cantik? Wah, kau pintar memuji ya sekarang! Baiklah, demi pujian itu, aku akan tahan rasa sesak ini sampai kita pulang."

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Di depan meja sekretaris, seorang wanita cantik dengan rok span ketat dan riasan sempurna—Cindy—langsung berdiri dengan senyum profesional yang manis. Sangat manis hingga membuat Alurra menyipitkan mata waspada.

"Selamat pagi, Tuan Muda Nael. Anda sudah ditunggu di ruang rapat sepuluh menit lagi," ucap Cindy dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Ia melirik Alurra dengan tatapan menilai. "Dan... siapa tamu Anda ini, Tuan? Perlu saya siapkan kopi?"

Alurra langsung melangkah maju, berdiri tepat di depan meja Cindy hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku bukan tamu, Gadis Gincu! Aku adalah pengawas pangeran ini. Dan soal kopi... jangan berani-berani memberikan air lumpur pahit itu lagi padanya!"

Cindy tersentak mundur, wajahnya pucat. "M-maaf? Air lumpur?"

"Iya! Air hitam yang baunya seperti ban terbakar itu! Kalau kau mau meracuni pangeranku, pakai cara yang lebih kreatif sedikit, ya!" Alurra berkacak pinggang, menatap Cindy dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Dan satu lagi... rokmu itu kependekan. Apa perusahaan ini kekurangan kain sampai kau harus memakai kain sisa begitu?"

Nael menepuk jidatnya sendiri. Ia segera menarik kerah baju Alurra dari belakang, menjauhkannya dari Cindy yang sudah hampir menangis karena dihina secara bar-bar.

Nael mengetik di ponselnya dan menunjukkannya pada Cindy: "ABAIKAN DIA. SIAPKAN DOKUMEN RAPAT. JANGAN ADA KOPI."

"Tapi Tuan... siapa dia sebenarnya?" tanya Cindy dengan suara bergetar.

Alurra menjulurkan kepalanya dari balik bahu Nael. "Aku? Aku bidadari pelindungnya! Kalau kau berani menatap matanya lebih dari tiga detik, aku akan mengutuk gincumu jadi rasa balsem otot! Paham?"

Nael segera mendorong Alurra masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan menutup pintu rapat-rapat.

"Kenapa kau mendorongku, Nael? Aku sedang melakukan tugas suci!" protes Alurra sembari melempar tas kecilnya ke atas meja kerja Nael yang rapi. "Wanita tadi itu berbahaya! Matanya seperti magnet yang ingin menempel pada jasmu!"

Nael duduk di kursi kebesarannya, menatap Alurra dengan lelah. Ia mengetik: "SAYA HARUS RAPAT. ANDA DUDUK DI SINI. JANGAN KELUAR. JANGAN BICARA PADA SIAPA PUN."

Alurra mendekati meja Nael, ia duduk di atas meja kayu ek yang sangat mahal itu, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Rapat itu apa? Apa kau akan berkelahi dengan bapak-bapak berkumis itu? Kalau iya, panggil aku ya! Aku ingin lihat kau menghajar mereka dengan tatapan matamu yang tajam itu."

Nael menggeleng, ia berdiri dan merapikan jasnya. Sebelum melangkah keluar, ia menunjuk sofa besar di pojok ruangan, memberi isyarat agar Alurra diam di sana.

"Iya, iya! Aku akan diam seperti patung marmer di bawah tadi!" Alurra melambaikan tangan. "Tapi kalau kau lama, aku akan mengubah ruangan ini jadi hutan rimba agar aku tidak bosan, ya!"

Nael berhenti sejenak di depan pintu, menatap Alurra dengan cemas. Ia tahu, membiarkan Alurra sendirian di ruangannya adalah risiko besar bagi kelangsungan gedung ini. Tapi rapat dewan direksi tidak bisa ditunda.

"Nael!" panggil Alurra saat Nael hendak keluar.

Nael menoleh.

"Jangan bicara pada bapak-bapak itu lewat matamu ya! Ingat, matamu cuma punya bidadari ini!" Alurra mengedipkan matanya dengan nakal.

Nael hanya bisa memberikan anggukan kecil dan keluar dengan perasaan waswas. Ia tidak tahu bahwa dalam waktu tiga puluh menit, Alurra akan merasa sangat bosan dan mulai mencoba mencari tahu apa kegunaan tombol-tombol di telepon kantornya.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!