NovelToon NovelToon
"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.

Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : KUNJUNGAN LAPANGAN DAN WARUNG TERLUPAKAN

Suara bunyi klakson mobil yang keras memecah keheningan pagi hari di depan warung Nenek Aminah. Rania yang baru saja selesai membantu nenek menyusun meja luar segera menoleh dan melihat sebuah mobil putih besar dengan plakat perusahaan dari Jakarta yang sudah tepat berada di depan gerbang warung. Pintu mobil terbuka perlahan, dan sosok Reza dengan jas biru muda yang rapi muncul di depan mata, diikuti oleh Bima dan Maya dari tim Inovasi Nusantara.

“Selamat pagi, Rania,” sapaan Reza terdengar jelas di tengah kebisingan pagi yang mulai muncul. Wajahnya menunjukkan senyum hangat, namun ada kedalaman di mata coklatnya yang membuat Rania sedikit terkejut. “Maafkan kami datang lebih awal dari jadwal yang telah disepakati.”

Rania segera menyusun ekspresi wajahnya dan mengangkat tangan untuk menyambut mereka. “Selamat pagi juga, Pak Reza, Pak Bima, Bu Maya. Silakan masuk saja ya, kami sudah siapin tempat duduk dan sedikit makanan untuk menyambut kedatangan Anda semua.”

Saat mereka masuk ke dalam area warung yang sudah dirapikan dengan rapi, mata Reza langsung tertuju pada dekorasi dinding yang menampilkan foto-foto warung dari masa ke masa. Ada foto Rania kecil yang sedang membantu nenek mengolah bahan makanan, foto peresmian ulang tahun warung ke-20, hingga foto-foto beberapa pelanggan setia yang sudah datang sejak lama.

“Warung ini tetap sama seperti yang saya ingat,” ucap Reza dengan suara pelan sambil melihat salah satu foto lama di dinding. “Masih penuh dengan kenangan yang indah.”

Rania merasa dada sedikit sesak mendengarnya, namun segera menutupinya dengan senyum. “Ya, banyak hal yang tidak berubah di sini. Nenek selalu menjaga tradisi dan rasa yang sudah ada sejak dulu.”

Sementara itu, Maya sudah mulai mengambil catatan di buku kerja nya sambil melihat sekeliling warung dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. “Ini sungguh luar biasa, Bu Rania. Warung kecil seperti ini bisa bertahan dan bahkan berkembang di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.”

Bima juga mulai mengambil foto dengan kamera nya untuk dokumentasi proyek. “Kita bisa mengambil banyak inspirasi dari bagaimana warung ini tetap menjaga karakteristik lokalnya namun tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi.”

Nenek Aminah yang sudah siap dengan hidangan pagi segera menghampiri mereka dengan mangkuk berisi bubur pedas hangat dan aneka lauk pendamping. “Silakan coba ya, ini bubur pedas khas kami yang sudah ada sejak tiga puluh tahun yang lalu. Semoga masih sesuai dengan selera Anda semua.”

Reza segera mengambil sendok dan mencicipi sedikit dari hidangan yang disajikan. Ekspresi wajahnya berubah menjadi penuh kagum. “Masih sama rasanya seperti dulu, Bu Aminah. Tidak ada yang bisa menyamai rasa bubur pedas Anda.”

Nenek Aminah tersenyum bangga mendengarnya. “Terima kasih banyak Pak. Kami selalu menggunakan bahan-bahan terbaik dan cara memasak yang sama seperti dulu agar rasanya tetap konsisten.”

Setelah menikmati hidangan pagi yang hangat dan penuh rasa, mereka segera memulai persiapan untuk kunjungan lapangan hari ini. Rania membuka peta yang sudah disiapkan dengan titik-titik lokasi UMKM yang akan mereka kunjungi—mulai dari usaha makanan, kerajinan tangan, hingga usaha pertanian yang sudah bergabung dengan proyek UMKM Connect.

“Kita akan mulai dengan mengunjungi tiga usaha berbeda hari ini,” jelas Rania sambil menunjukkan titik-titik pada peta. “Pertama kita akan ke Usaha Kerajinan Tangan ‘Citra Nusantara’ yang terletak di kawasan Melayu, kemudian ke Warung Makan ‘Sederhana Nikmat’ di Jalan Ahmad Yani, dan terakhir ke Kelompok Tani ‘Harapan Baru’ di luar kota.”

Reza mengangguk dan melihat ke arah tim nya yang sudah siap dengan perlengkapan masing-masing. “Baiklah, mari kita mulai perjalanan ini. Saya sangat ingin melihat langsung bagaimana kondisi UMKM di Medan dan sekitarnya serta bagaimana kita bisa membantu mereka melalui teknologi yang kita miliki.”

Setelah semua barang sudah disiapkan dan mobil sudah siap berangkat, mereka segera berangkat menuju lokasi pertama. Jalanan pagi Medan yang mulai ramai dengan kendaraan membuat mereka berjalan dengan kecepatan yang cukup perlahan, namun ini memberi kesempatan bagi mereka untuk melihat kondisi sekitar kota yang semakin berkembang.

Saat mereka memasuki kawasan Melayu yang dikenal sebagai pusat kerajinan tangan di Medan, mata Maya langsung terpukau dengan berbagai toko kecil yang menjajakan kerajinan tangan dari berbagai bahan—kayu, rotan, hingga tembaga. “Betapa banyaknya usaha kecil yang ada di sini ya Bu Rania. Semuanya terlihat memiliki produk yang unik dan menarik.”

Rania tersenyum dan menjelaskan. “Ya, kawasan ini sudah menjadi pusat kerajinan tangan sejak lama. Banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya pada usaha kerajinan tangan yang mereka wariskan dari generasi ke generasi.”

Ketika mereka sampai di depan toko kecil dengan nama papan kayu yang tertulis “Citra Nusantara”, seorang wanita dengan rambut ikal yang sudah mulai berpucat segera keluar menyambut mereka dengan senyum hangat. “Selamat pagi Bu Rania, sudah lama tidak melihat Anda. Dan ini tamu dari Jakarta ya? Silakan masuk saja.”

Mereka masuk ke dalam toko yang penuh dengan berbagai kerajinan tangan yang indah—mulai dari anyaman rotan, patung kayu, hingga pernak-pernik dari tembaga yang diukir dengan sangat halus. Pemilik toko yang bernama Bu Sri segera mulai menjelaskan tentang setiap produk yang ada di tokonya.

“Semua produk di sini dibuat dengan tangan oleh anggota keluarga dan tetangga sekitar,” jelas Bu Sri dengan suara yang penuh kebanggaan. “Kita sudah menjalankan usaha ini selama lima belas tahun, namun baru-baru ini kita kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena kurangnya pengetahuan tentang teknologi dan pemasaran digital.”

Bima segera mengambil catatan dan mulai bertanya tentang proses produksi serta tantangan yang dihadapi. “Bagaimana proses produksi Anda biasanya berjalan, Bu? Apakah ada bagian yang bisa ditingkatkan efisiensinya dengan bantuan teknologi?”

Bu Sri mengangguk dan mulai menunjukkan area kerja di belakang toko yang cukup sempit namun teratur dengan rapi. “Kita biasanya bekerja secara manual dan mengandalkan keahlian tangan yang sudah ada sejak lama. Tapi terkadang ada masalah dengan ketersediaan bahan baku dan juga dalam mengatur jadwal produksi agar sesuai dengan pesanan.”

Reza juga mulai melihat sekeliling area kerja dengan cermat. “Jika kita bisa membuat sistem pemesanan dan manajemen stok yang sederhana dan mudah digunakan, apakah Anda dan pekerja Anda bersedia untuk mempelajarinya?”

Bu Sri segera mengangguk dengan mata yang bersinar harapan. “Tentu saja Pak! Kami sangat ingin bisa belajar cara menggunakan teknologi untuk membantu usaha kami berkembang. Hanya saja kami khawatir tidak akan bisa menguasainya karena sebagian dari kami tidak terlalu paham dengan teknologi modern.”

Rania segera menanggapi dengan senyum menenangkan. “Jangan khawatir Bu Sri, kami akan memberikan pelatihan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan Anda semua. Sistem yang akan kita gunakan juga dirancang agar mudah digunakan oleh siapa saja, bahkan bagi mereka yang belum terlalu familiar dengan teknologi.”

Selama sekitar satu jam mereka berdiskusi dengan Bu Sri dan melihat langsung proses produksi kerajinan tangan yang dilakukan dengan sangat teliti dan penuh cinta. Setiap produk yang dihasilkan menunjukkan keahlian dan dedikasi yang tinggi dari para pembuatnya.

Setelah selesai dari toko pertama, mereka segera melanjutkan perjalanan ke lokasi kedua—Warung Makan “Sederhana Nikmat” yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Saat mereka sampai di depan warung yang cukup kecil namun ramai dengan pelanggan, pemiliknya yang bernama Pak Joko segera menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Selamat pagi Bu Rania, selamat datang juga untuk tamu dari Jakarta. Silakan duduk saja ya, saya akan siapin makanan terbaik untuk Anda semua.”

Mereka duduk di meja luar yang sudah disiapkan dengan rapi. Pak Joko segera menghidangkan berbagai hidangan khas Medan—mulai dari sate padang, gulai kambing, hingga nasi goreng spesial yang sangat terkenal di daerah tersebut.

“Saya menjalankan warung ini selama dua puluh tahun,” cerita Pak Joko sambil menyajikan makanan ke masing-masing mangkuk. “Awalnya hanya warung kecil yang hanya menjual nasi dan lauk sederhana, namun seiring waktu berkembang dengan dukungan dari pelanggan setia kami.”

Maya mulai bertanya tentang tantangan yang dihadapi oleh warung tersebut. “Apa saja kesulitan yang Anda alami dalam menjalankan usaha ini, Pak Joko?”

Pak Joko menghela nafas dan menjawab. “Yang paling besar adalah dalam mengatur pesanan dan juga dalam mencatat keuangan usaha. Kadang ada pesanan yang terlupakan atau ada kesalahan dalam pencatatan yang membuat kita kesulitan menghitung laba dan rugi setiap bulannya. Selain itu, kita juga ingin bisa menerima pesanan secara daring tapi tidak tahu cara memulainya.”

Reza mulai menjelaskan tentang kemungkinan solusi yang bisa diberikan. “Kita bisa membuat aplikasi pemesanan yang sederhana dan juga sistem pencatatan keuangan yang otomatis. Dengan begitu Anda tidak perlu lagi khawatir tentang pesanan yang terlupakan atau kesalahan dalam pencatatan.”

Pak Joko mengangguk dengan mata yang penuh harapan. “Itu akan sangat membantu sekali Pak. Kami selalu ingin bisa mengikuti perkembangan zaman namun tidak tahu harus mulai dari mana.”

Setelah menikmati hidangan yang lezat dan berdiskusi panjang tentang berbagai kemungkinan kolaborasi, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi terakhir hari ini—Kelompok Tani “Harapan Baru” yang terletak di luar kota Medan, sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota.

Perjalanan menuju lokasi tersebut melewati hamparan sawah yang luas dan perkebunan kelapa yang hijau segar. Udara yang semakin segar membuat suasana menjadi lebih nyaman setelah berada di tengah keramaian kota. Ketika mereka sampai di lokasi, mereka disambut oleh ketua kelompok tani yang bernama Pak Soleh beserta beberapa anggota kelompok yang sudah menunggu dengan senyum ramah.

“Selamat datang di Kelompok Tani ‘Harapan Baru’,” ucap Pak Soleh dengan suara yang kuat dan penuh semangat. “Kami sangat senang bisa bertemu dengan Anda semua dan berharap bisa mendapatkan bantuan untuk mengembangkan usaha tani kami.”

Mereka berjalan melalui kebun sayuran yang terawat dengan sangat baik—ada berbagai jenis sayuran segar mulai dari bayam, kangkung, tomat, hingga cabai yang tumbuh subur di lahan yang cukup luas. Pak Soleh mulai menjelaskan tentang cara mereka mengelola kebun dan juga tantangan yang dihadapi.

“Kami mengelola kebun ini secara bersama-sama sejak lima tahun yang lalu,” jelas Pak Soleh sambil menunjukkan berbagai area kebun yang berbeda. “Kita menggunakan metode pertanian organik yang ramah lingkungan, namun terkadang kita kesulitan dalam memasarkan hasil panen karena kurangnya akses ke pasar yang lebih luas.”

Bima mulai bertanya tentang sistem pemasaran yang mereka gunakan saat ini. “Bagaimana Anda biasanya memasarkan hasil panen Anda, Pak?”

“Kita biasanya menjualnya ke pasar tradisional atau ke beberapa restoran kecil di sekitar sini,” jawab Pak Soleh dengan sedikit kecewa. “Namun harga yang kita dapatkan seringkali tidak sesuai dengan usaha yang kita keluarkan karena ada banyak perantara yang mengambil keuntungan di tengah jalan.”

Rania segera menjelaskan tentang rencana mereka untuk menghubungkan kelompok tani langsung dengan pembeli melalui platform digital. “Kita bisa membuat sistem yang memungkinkan Anda untuk menjual hasil panen langsung ke konsumen atau ke pembeli besar tanpa melalui perantara. Sehingga Anda bisa mendapatkan harga yang lebih layak dan pembeli juga bisa mendapatkan produk yang lebih segar dengan harga yang lebih terjangkau.”

Pak Soleh dan anggota kelompok tani lainnya langsung menunjukkan ekspresi wajah yang penuh kegembiraan. “Itu akan sangat membantu sekali Bu Rania. Kami sudah lama menginginkan hal seperti ini tapi tidak punya cara untuk mewujudkannya.”

Reza juga menambahkan ide tentang bagaimana teknologi bisa membantu dalam mengelola pertanian dengan lebih efisien. “Kita juga bisa menggunakan sensor dan sistem pemantauan untuk membantu Anda memantau kondisi tanah dan tanaman secara real-time. Sehingga Anda bisa mengatur pemberian air dan pupuk dengan lebih tepat dan efisien.”

Selama hampir dua jam mereka berjalan melalui kebun, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan kolaborasi, dan melihat langsung bagaimana kelompok tani ini bekerja dengan sangat keras untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Setiap anggota kelompok menunjukkan semangat yang tinggi untuk belajar dan mengembangkan usaha mereka dengan bantuan teknologi yang tepat.

Ketika matahari mulai berpindah ke sisi barat dan cuaca mulai menjadi lebih sejuk, mereka memutuskan untuk mengakhiri kunjungan lapangan hari ini dan kembali ke kota Medan. Saat mereka berada di dalam mobil dan mulai melaju kembali melalui jalanan yang semakin sepi, suasana di dalam mobil terasa lebih akrab dibandingkan di pagi hari.

“Saya benar-benar terkesan dengan dedikasi dan semangat dari para pelaku UMKM yang kita kunjungi hari ini,” ucap Maya dengan suara yang penuh kagum. “Mereka bekerja sangat keras dan memiliki produk yang berkualitas tinggi, hanya saja mereka membutuhkan akses dan pengetahuan yang tepat untuk bisa berkembang lebih jauh.”

Bima juga menambahkan. “Ya, dan ini menunjukkan bahwa kita benar-benar berada di jalur yang tepat dengan proyek ini. Banyak yang membutuhkan bantuan kita dan kita punya kemampuan untuk membantu mereka.”

Reza melihat ke arah Rania yang sedang melihat ke luar jendela dengan wajah yang penuh pemikiran. “Bagaimana pendapat Anda, Rania? Apakah Anda merasa bahwa kolaborasi kita bisa benar-benar memberikan manfaat bagi mereka?”

Rania menoleh dan memberikan senyum yang penuh keyakinan. “Tentu saja, Pak Reza. Bahkan lebih dari itu—saya yakin bahwa dengan kerja sama kita, mereka bisa mencapai potensi maksimal yang mungkin tidak mereka sangka sebelumnya. Kita hanya perlu memastikan bahwa solusi yang kita berikan sesuai dengan kebutuhan mereka dan tidak membuat mereka merasa terbebani.”

Reza mengangguk dengan senyum yang setuju. “Saya setuju sepenuhnya. Kita tidak boleh hanya memberikan teknologi semata-mata karena kita bisa melakukannya—kita harus memberikan solusi yang benar-benar dibutuhkan dan mudah digunakan oleh mereka.”

Saat mereka memasuki area pusat kota Medan yang mulai ramai dengan aktivitas sore hari, Rania melihat sekeliling dengan hati yang penuh rasa syukur. Kunjungan hari ini telah memberikan banyak wawasan baru bagi mereka semua—baik untuk tim dari Jakarta maupun untuk tim lokalnya sendiri.

“Sampai di warung kita bisa membahas lebih lanjut tentang langkah-langkah selanjutnya ya,” ucap Rania dengan suara yang jelas. “Kita perlu menyusun rencana yang jelas untuk setiap usaha yang kita kunjungi hari ini agar mereka bisa mendapatkan manfaat maksimal dari kolaborasi kita.”

Reza mengangguk dan melihat ke arah jam di dasbor mobil yang menunjukkan sudah pukul lima sore. “Baiklah, kita akan berkumpul lagi besok pagi untuk membahas semua detailnya. Hari ini sudah memberikan kita banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan direncanakan dengan matang.”

Ketika mobil akhirnya berhenti di depan warung Nenek Aminah yang sudah mulai ramai dengan pelanggan sore hari, mereka semua turun dengan langkah yang lebih ringan dan hati yang lebih jelas tentang tujuan proyek ini. Nenek Aminah segera menghampiri mereka dengan senyum hangat sambil menyodorkan mangkuk berisi minuman segar.

“Sudah selesai kunjungan hari ini ya? Silakan istirahat sebentar dan minum dulu ya sebelum pulang atau melanjutkan pekerjaan.”

Mereka semua menerima minuman dengan senyum dan mulai duduk di meja luar yang sudah disediakan. Udara sore yang segar dengan aroma makanan yang lezat membuat suasana menjadi lebih rileks setelah hari yang penuh dengan aktivitas.

“Saya sangat berterima kasih atas segala keramahan yang Anda berikan, Bu Aminah,” ucap Reza dengan suara yang penuh rasa hormat. “Bubur pedas Anda dan keramahan keluarga Anda membuat kita merasa seperti di rumah sendiri.”

Nenek Aminah tersenyum bangga mendengarnya. “Sangat senang bisa membantu ya Pak. Semoga saja kerja sama Anda semua bisa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang di sini.”

Sementara mereka menikmati minuman dan berbicara santai tentang pengalaman hari ini, Rania melihat ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi keemasan dan jingga. Matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung tinggi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang indah dan membuat hati menjadi lebih tenang.

“Besok kita akan mulai merancang solusi yang spesifik untuk setiap usaha yang kita kunjungi hari ini,” jelas Rania sambil melihat ke arah tim nya yang sudah mulai bersiap untuk pulang. “Kita akan bekerja sama dengan erat untuk memastikan bahwa setiap solusi yang kita berikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.”

Reza mengangguk dan mulai berdiri untuk pamit pulang. “Baiklah, kita akan bertemu lagi besok pagi untuk melanjutkan diskusi yang sudah kita rencanakan. Semoga saja semua persiapan bisa berjalan dengan lancar seperti yang kita harapkan.”

Reza mengangguk dan memberikan jempol ke atas sebagai tanda dukungan sebelum mereka berpisah arah menuju mobil yang sudah menunggu di depan gerbang warung. Udara sore yang semakin hangat membuat mereka berjalan dengan langkah yang lebih cepat menuju arah kota yang semakin jauh dari pusat kota.

Ketika mereka sampai di lokasi parkir mobil yang sudah disewa untuk hari ini, Rania melihat sebuah mobil dengan warna merah tua yang sudah sangat akrab—mobil yang dulu pernah digunakan oleh ayahnya ketika masih hidup dan bekerja sebagai pengusaha kecil di kota ini. Sopir mobil tersebut segera menghampiri mereka dengan senyum ramah.

“Selamat datang kembali, Bu Rania. Sudah lama tidak melihat Anda ke sini ya?” tanya sopirnya dengan suara yang penuh rasa ingin tahu. “Kabarnya Anda sedang bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta ya? Semoga saja berhasil.”

Rania mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke dalam mobil bersama Siti. Saat mesin mobil mulai hidup dan bergerak perlahan keluar dari area parkir, Rania melihat sekeliling dengan pandangan yang semakin jelas tentang kondisi kota yang semakin berkembang pesat. Gedung-gedung baru mulai muncul seperti jamur setelah hujan, sementara usaha kecil yang ada di sekitarnya mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Sampai di sini dulu ya, Bu,” suara sopir mobil terdengar pelan ketika mereka memasuki jalan yang semakin sepi dengan pemandangan rumah-rumah kecil yang terletak di pinggir jalan. “Saya akan menjemput Anda lagi besok pagi ya sebelum kunjungan mereka datang.”

Rania mengangguk dan membayar uang sewa mobil sebelum turun bersama Siti. Di jalan mereka melihat beberapa anak-anak muda sedang bermain bola di halaman rumah kos kecil yang terletak di sudut jalan. Beberapa di antaranya mengenalnya dan segera menyapa dengan ramah.

“Bu Rania sudah kembali ya?” suara seorang anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya menyapa dengan wajah ceria. “Kita sudah tidak melihat Anda selama beberapa hari ya.”

Rania tersenyum dan mengangguk sebelum melanjutkan jalan menuju kantor kecil yang terletak di belakang warung keluarga. Saat membuka pintu kantor yang sudah mulai sepi dengan hanya beberapa lampu yang menyala di dalam ruangan, dia melihat meja kerja yang sudah disiapkan dengan rapi untuk pertemuan besok.

“Kita akan mulai dengan membuat daftar semua hal yang harus kita siapkan untuk kunjungan mereka ya Siti,” ucap Rania sambil mengambil kertas dan pena dari laci meja. “Mulai dari akomodasi hingga jadwal kunjungan yang akan kita lakukan bersama selama mereka berada di sini.”

Siti mengangguk dan mulai membuka laptopnya yang sudah terhubung dengan printer di sudut ruangan. “Saya sudah mulai mengumpulkan data dari beberapa UMKM yang pernah kita bantu sebelumnya ya Bu. Mereka semua sangat antusias dengan proyek ini.”

Rania mengangguk dan mulai menulis catatan penting tentang hal-hal yang harus diperhatikan selama kerja sama dengan perusahaan besar—mulai dari komunikasi yang efektif hingga koordinasi yang lebih erat antar tim. Dia melihat jam di dinding yang menunjukkan sudah hampir jam enam sore dan matahari mulai bergeser ke arah barat.

“Kita harus berangkat sekarang juga jika tidak ingin terlambat lagi ya Siti,” ucap Rania sambil mengambil tas kerja yang sudah siap dipakai. “Kita akan berangkat lebih pagi lagi besok untuk menghindari kemacetan seperti kemarin.”

Siti mengangguk dan segera mengikuti langkah Rania keluar dari kantor menuju arah warung yang sudah mulai ramai dengan pelanggan sore. Udara sore yang segar dengan aroma makanan yang lezat membuat mereka berjalan dengan langkah yang lebih ringan.

Di sudut jalan mereka melihat sebuah gerobak makanan kecil dengan nama “Warung Makan Bu Yanti” yang sudah mereka kenal sejak lama. Wanita yang sedang berjualan di sana segera menyambut mereka dengan senyum hangat.

“Bu Yanti sudah kembali ya?” tanya wanita tersebut dengan suara ramah. “Kabarnya Anda akan bekerja sama dengan perusahaan besar ya? Semoga saja berhasil.”

Rania tersenyum dan mengangguk sebelum melanjutkan jalan menuju warung keluarga yang sudah terlihat ramai dengan pelanggan yang sedang menikmati hidangannya. Nenek Aminah segera menghampiri dengan wajah yang penuh kegembiraan.

“Kamu sudah kembali ya nak!” ucap neneknya dengan suara ceria sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur pedas hangat. “Sudah berita dari Jakarta belum ya?”

“Belum Nenek, mereka akan datang minggu depan untuk kunjungan bersama,” jawab Rania sambil mulai membantu melayani pelanggan yang datang berdatangan. Suara tawa dan pembicaraan yang riang memenuhi udara sore yang semakin hangat.

Setelah beberapa saat pelanggan mulai berkurang dan mereka bisa sedikit bersantai, Rania melihat sebuah pesan masuk di ponselnya dari nomor yang tidak dia kenal:

“Halo Rania, ini Reza. Saya sudah sampai di Jakarta dengan selamat. Tim kami sudah mulai membahas rencana kerja sama dengan Anda. Semoga saja kita bisa menemukan titik temu yang baik untuk semua pihak.”

Rania menghela napas panjang dan menyimpan pesan tersebut sebelum melanjutkan membantu neneknya membersihkan meja-meja yang sudah kosong. Udara malam yang mulai sejuk dengan aroma bunga kamboja dari kebun belakang membuat suasana menjadi lebih tenang.

“Kita akan mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kunjungan mereka ya Nenek,” ucap Rania sambil melihat ke arah kamar belakang yang sudah disiapkan untuk tamu. “Mereka akan tinggal di sini selama tiga hari untuk kunjungan lapangan bersama.”

Nenek Aminah mengangguk sambil memasang dekorasi baru di depan warung. “Baiklah nak, saya akan siapin kamar yang bersih dan nyaman untuk mereka. Semoga saja kerja sama ini bisa membawa kebaikan bagi banyak orang ya.”

Rania mengangguk dan melihat ke langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung tinggi di kejauhan. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil seperti yang mereka jalankan adalah seperti butiran pasir di pantai—banyak dan kecil namun memiliki peran penting dalam membentuk pemandangan yang indah.

Sebelum mereka masuk ke dalam warung untuk menyelesaikan pekerjaan malam hari, Rania melihat sekelompok anak muda sedang berkumpul di depan toko buku kecil di sudut jalan yang menjual buku-buku bekas dengan harga terjangkau. Seorang pemuda yang sedang berjualan di sana mengenalnya dan segera menyapa dengan ramah.

“Bu Rania sudah kembali ya? Kabarnya Anda akan bekerja sama dengan perusahaan besar ya? Semoga saja berhasil.”

Rania tersenyum dan mengangguk sebelum melanjutkan jalan menuju warung yang sudah mulai menyala dengan lampu-lampu kecil yang memberikan cahaya hangat di malam yang semakin tiba. Dia merasakan bahwa setiap langkah yang diambil untuk membantu usaha kecil adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih baik bagi banyak orang.

Ketika malam benar-benar tiba dan lampu-lampu di sekitar warung mulai menyala terang, Rania melihat sekeliling dengan hati yang penuh rasa syukur. Semua yang telah terjadi selama hari ini—dari pertemuan dengan pelaku UMKM yang penuh semangat hingga pesan dari Reza yang menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama dengan baik—semua menjadi bagian dari perjalanan panjang yang mereka lalui bersama.

“Sampai di sini kita sudah bisa beristirahat ya Bu,” ucap Siti sambil melihat jam yang menunjukkan sudah hampir jam sembilan malam. “Kita akan mulai lagi pagi besok untuk menyelesaikan semua persiapan sebelum mereka datang minggu depan.”

Rania mengangguk dan mulai membersihkan meja kerja yang sudah berantakan dengan kertas dan catatan penting. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil yang mereka bantu adalah seperti benang merah yang menghubungkan banyak orang dengan harapan yang sama—hidup layak dan berkembang bersama.

“Semoga besok kita bisa menyelesaikan semua persiapan dengan baik ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh harapan. “Kita akan menunjukkan bahwa kerja sama yang tulus akan membawa manfaat bagi banyak orang—tidak hanya untuk kita sendiri tapi juga untuk mereka yang mempercayakan usaha mereka pada kita.”

Saat mereka memasuki kamar belakang untuk beristirahat sebelum hari esok yang akan penuh dengan aktivitas, Rania melihat bulan yang sudah muncul dengan jelas di langit malam yang semakin sepi. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil seperti yang mereka jalankan adalah seperti bintang di langit malam—meskipun kecil namun memiliki cahaya sendiri yang bisa menerangi jalan bagi banyak orang yang sedang dalam perjalanan panjang menuju tujuan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!