NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 De'Valerine cafe

Di balik kesibukannya, ada momen-momen kecil yang tak bisa ia hindari kenangan, tentang seseorang yang dulu berjalan di belakangnya, tentang suara kecil yang jarang ia dengar, namun entah mengapa kini terasa begitu jelas. Marsha adik bungsunya yang hilang.

Valerina pernah mencoba mengabaikannya, meyakinkan diri bahwa semuanya adalah kebetulan, bahwa kehilangan itu tidak ada hubungannya dengan siapa pun, namun semakin ia dewasa semakin sulit ia menutup mata, Cara Ibunya bersikap dan Cara ia tidak pernah terlihat mencari. Dan cara semuanya terasa terlalu tenang setelah kepergian itu, sebuah pertanyaan yang dulu hanya bisikan, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata.

Suatu malam, di ruang kerjanya yang dipenuhi sketsa dan kain-kain mahal, Valerina terdiam cukup lama, Pensil di tangannya berhenti bergerak.

Tatapannya kosong, namun pikirannya jauh.

“…kalau kamu masih ada,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar, “apa kamu akan membenciku juga…?”

Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang kembali menyelimuti ruangan itu. Dan untuk pertama kalinya di balik ambisinya yang begitu besar, Valerina merasa, bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar utuh.

___

Malam telah larut, namun lampu di ruang kerja itu masih menyala terang, Valerina berdiri di depan meja panjangnya, dipenuhi lembaran sketsa, potongan kain, dan warna-warna yang belum sepenuhnya selesai ia putuskan. Tangannya bergerak pelan, namun pikirannya jauh lebih sibuk dari sekadar garis dan pola.

Ruangan itu sunyi, sangat sunyi hanya suara pensil yang sesekali bergesekan dengan kertas, lalu berhenti seolah kehilangan arah.

Pandangan Valerina kosong sejenak, jatuh pada salah satu sketsa yang belum selesai. Namun yang ia lihat bukan lagi desain, melainkan bayangan masa lalu. “…Marsha, kamu sangat beruntung,” gumamnya lirih, suaranya pelan, nyaris tenggelam dalam keheningan.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan adiknya sekarang, tidak tahu apakah ia masih hidup, atau justru telah menjadi kenangan yang hanya tersisa dalam ingatan. Namun satu hal yang pasti ada rasa iri yang tidak pernah ia akui.

Iri karena Marsha tidak harus hidup di bawah tekanan yang sama.

Iri… karena ia tidak perlu menjadi sempurna setiap saat.

Sementara dirinya masih berdiri di sini, seperti boneka yang digerakkan tanpa henti, dikendalikan oleh standar yang tidak pernah ia pilih.

“Nona… ini sudah pukul sepuluh malam. Apa Nona tidak pulang?” Suara itu memecah keheningan.

Alisa, asistennya, berdiri di ambang pintu dengan raut ragu.

Valerina tidak langsung menoleh, tangannya masih memegang pensil, matanya tetap tertuju pada sketsa di hadapannya, seolah dunia di sekitarnya tidak terlalu penting. “Kalau kamu mau pulang, pulang saja, Lisa,” jawabnya datar, tanpa mengalihkan pandangan tidak ada nada marah, namun juga tidak ada kehangatan.

Alisa terdiam sejenak, memahami bahwa tidak akan ada jawaban lain malam ini. Ia mengangguk pelan, meski Valerina tidak melihatnya.

“Baik, Nona… hati-hati.” angkah kaki itu perlahan menjauh, pintu tertutup pelan dan ruangan itu kembali sunyi.

Valerina akhirnya berhenti.

Pensil di tangannya terlepas, jatuh begitu saja ke atas meja, ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya perlahan. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya tidak melakukan apa pun.

Namun justru di saat seperti itulah semuanya terasa lebih jelas, tentang hidup yang ia jalani, tentang tuntutan yang tidak pernah berhenti.

Dan tentang satu nama yang terus kembali, tanpa diundang.

Marsha matanya terpejam sesaat. “…kalau kamu di sini,” bisiknya pelan, “apa kamu akan memilih hidup seperti aku…?” tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang kembali memenuhi ruangan itu dan di tengah segala pencapaian yang ia miliki Valerina menyadari satu hal yang tidak bisa ia hindari, bahwa ia mungkin memiliki segalanya.

Namun tidak pernah benar-benar memiliki dirinya sendiri.

___

Waktu terus berjalan, namun malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, Valerina tetap berada di ruang kerjanya, namun tidak lagi menyentuh satu pun sketsa di hadapannya. Tangannya terdiam di atas meja, sementara pikirannya perlahan terseret ke arah yang selama ini ia hindari.

Marsha, nama itu kembali hadir, bukan sebagai bayangan samar, melainkan sesuatu yang terasa dekat. Tanpa sadar, Valerina meraih ponselnya. Layarnya menyala, memantulkan wajahnya sendiri tenang, rapi, dan sempurna seperti yang selalu dituntut.

Namun matanya kosong, Jarinya bergerak pelan, membuka sebuah folder lama yang jarang ia sentuh. Foto-foto lama tersimpan di sana, masa kecil yang hampir ia lupakan, atau mungkin… sengaja ia simpan tanpa pernah benar-benar ingin melihatnya.

Hingga satu foto membuatnya berhenti.

Seorang gadis kecil berdiri sedikit di belakangnya.

Rambutnya halus, matanya jernih dengan warna hazel yang khas. Senyumnya tipis, hampir tidak terlihat, seolah takut jika terlalu terlihat, ia akan dimarahi.

Marsha…

Valerina menatap foto itu lama. “…kenapa aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu waktu itu…?” bisiknya lirih. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Marsha selalu berjalan di belakang, bagaimana ia jarang berbicara, dan bagaimana dirinya tidak pernah benar-benar mencoba mendekat, bukan karena tidak mau, namun karena ia sendiri terlalu sibuk bertahan.

Tiba-tiba, sesuatu terlintas di pikirannya.

Sebuah ingatan kecil.

Hari itu… di Paris.

Cara ibunya bersikap.

Cara semuanya terasa terlalu cepat… terlalu rapi.

Dan cara Selena… tidak pernah benar-benar terlihat panik.

Valerina membuka matanya perlahan nafasnya tertahan. “…tidak mungkin…” gumamnya, namun semakin ia mencoba menolak semakin jelas potongan-potongan itu menyatu.

Selama ini ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah kebetulan. Bahwa kehilangan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Namun sekarang semuanya terasa berbeda.

Tanpa sadar, Valerina berdiri, langkahnya cepat, hampir tergesa. Ia meraih tasnya, lalu berhenti sejenak di depan pintu namun hanya sebentar, Ia membuka pintu itu dan melangkah keluar, malam di kota terasa dingin, namun pikirannya jauh lebih kacau, mobilnya melaju tanpa ragu menuju satu tempat yang selama ini ia hindari, rumah yang tidak lagi terasa seperti rumah.

Saat ia tiba, suasana sudah sepi. Lampu-lampu besar masih menyala, namun tidak ada kehidupan di dalamnya Valerina masuk tanpa banyak suara, langkahnya terhenti di ruang tengah. “…Mama belum pulang…” gumamnya pelan.

Namun kali ini, bukan itu yang ia cari, dengan langkah pasti, ia menuju ruang kerja Selena, pintu itu tertutup dan untuk beberapa detik, Valerina hanya berdiri di depannya, tangannya terangkat lalu berhenti.

Ada sesuatu yang menahannya, bukan karena takut, namun sesuatu yang lebih dalam ketakutan akan kebenaran, jika ia membuka pintu itu mungkin tidak akan ada lagi jalan untuk kembali. Namun pada akhirnya ia tetap mendorongnya pintu terbuka perlahan.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya dari luar, semuanya terlihat rapi dan terlalu rapi, seperti tidak pernah ada yang salah. Valerina melangkah masuk, matanya menyapu setiap sudut. Laci, meja, lemari semuanya tampak biasa. Namun entah mengapa ia yakin, ada sesuatu yang disembunyikan di sini. Dan kali ini ia tidak akan berhenti hanya karena rasa ragu.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!