Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kartini kaget dianggap perawat yang tidak kompeten. Tetapi membela diri pun percuma, karena Nadine tipikal orang yang tidak mau mengalah.
"Mencari perawat Kakek tidak semudah yang kita bayangkan Nadine," Arga pun tak kalah terkejut mendengar kata-kata Nadine. "Ini bukan masalah perawat kompeten, tapi rasa sayang kakek kepada Kartini lebih besar jika dibandingkan dengan kami cucunya sendiri."
"Alesan!" Nadine melengos tajam.
Arga tidak menjawab lagi lalu mengajak sekretarisnya ke ruang rapat tapi sebelum melangkah merapikan jasnya kembali.
Mendengar itu Nadine benar-benar kesal karena merasa kata-katanya tidak dianggap. Dia menghentakkan kaki sebagai unjuk protesnya. Jika sudah begitu Arga tidak tega lalu mendekati Nadine.
"Sekarang aku sudah ditunggu, janji deh, nanti malam aku jemput kamu di rumah ya," Arga membujuk Nadine seperti anak kecil hendak mengajaknya jalan-jalan kekasihnya itu.
Arga lantas melempar tatapan ke arah Kartini yang tersenyum masam, seolah berkata meledek. "lebay!"
"Apa loe, senyum-senyum?!" bentak Nadine rupanya menangkap senyum Kartini.
"Oh, tidak-tidak!" jawab Kartini seketika ekpresinya berubah campuran senyum dan takut. Tidak mau ribut lebih lama lagi, Kartini berjalan ke arah lift.
Tiba di tempat parkir, dia menjalankan motor pria itu dengan cepat, tidak peduli Nadine, Arga, atau siapapun menilai dirinya tidak berguna karena bodi. Nyatanya ia telah membuktikan walau gemuk tapi Srikandi berbodi sintal yang lihai mengerjakan apapun termasuk si kuda besi.
"Bibi sempat khawatir Tini," ucap bibi yang tengah mendorong pagar merasa lega melihat Kartini pulang dengan selamat.
"Memang kenapa Bi?" Tanya Kartini yang tengah mengembalikan motor milik Arga itu ke dalam garasi.
"Kamu kan baru pertama membawa motor pria, terus lama banget lagi," bibi deg degan Kartini mengalami sesuatu.
"Tidak apa-apa, Kakek mencari aku ya, Bi," Kartini tidak mau menceritakan jika di kantor tadi banyak drama.
Walau bibi menjawab Kakek baik-baik saja, Kartini segera ke kamar kakek.
"Kartini, kamu sudah pulang? Arga mengantar kamu tidak?" Kakek berharap cucunya itu meluangkan waktunya mengantar istrinya.
"Tidak Kek, Mas Arga sedang ada rapat penting, lagi pula saya kan bawa motor," Kartini menceritakan jika ia ke kantor karena mengantar berkas agar Kakek tidak berpikir macam-macam. Kartini ngobrol sembari memijat kaki kakek.
"Tidak usah, kamu kan capek," Kakek memang merasa nyaman dipijat seperti itu, tapi ia tidak mau manja hingga membuat Kartini merasa lelah.
"Tidak kok kek," Kartini kembali bekerja mengurus kakek, memperhatikan makannya, memberi obat hingga Matahari mulai bergeser ke barat, menandakan sore telah tiba. Kartini berjalan menuju dapur yang luas dan bersih. Biasanya, ia hanya menyiapkan masakan dalam porsi cukup untuk Kakek saja. Tapi mulai hari ini, ia mempunyai tanggung jawab lebih sebagai istri Arga, walau hanya istri kontrak-nya tidak ada salahnya membuat masakan untuk Arga.
Ia membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan segar.
"Aku harus masak yang enak," gumam Kartini berharap ketika pulang nanti Arga setidaknya mencicipi.
"Biar aku bantu," ujar bibi.
"Tidak usah, Bi," Kali ini Kartini ingin memasak sendiri, selama ini ia selalu memperhatikan Arga memilih makan di luar daripada masakan bibi.
Kartini mulai sibuk sendiri. Ia menumbuk bumbu, menumis, dan menggoreng dengan cekatan. Aroma harum masakan rumah segera memenuhi seluruh ruangan.
Ia memasak menu lengkap. Nasi putih hangat, ayam kecap pedas manis, telur dadar lipat, untuk tambahan protein tidak ketinggalan tempe tahu dan juga sayur.
"Sudah matang," Kartini tersenyum lalu menata hasil masakan agar terlihat rapi di meja makan dan nantinya berhasil menggugah selera Arga.
Selesai menata makanan, Kartini berdiri memandangi hasil kerjanya dengan perasaan hangat.
"Semoga Mas Arga suka, biar dia tahu kalau aku bukan cuma bisa makan banyak dan tidur ngorok saja," gumamnya penuh harap. Namun, Kartini membanting bokongnya di kursi hingga berbunyi nyaring ketika ingat tadi pagi Arga berjanji akan makan malam bersama Nadine. Tiba-tiba wajah Kartini sedih, memandangi hasil masakan sembari menopang dagu, sudah dia pastikan masakan ini hanya dirinya yang makan bersama bibi dan mbak Milah.
"Loh, kamu kenapa Tini?" Tanya bibi melihat Kartini murung lalu mendekat.
"Aku lupa Bi, malam ini Arga ada acara di luar," ucap Kartini memelas.
"Oh gitu ya," bibi pun ikut sedih, kasihan Kartini yang sudah kerja keras.
"Ya sudah Bi, nanti kita saja yang makan," Kartini berjalan ke kamar lalu mandi.
"Kenapa Bi?" Tanya Milah yang baru tiba, tapi sudah tidak ada Kartini.
"Ini loh, Kartini sudah capek masak untuk suami tapi katanya Den Arga malam ini makan diluar," bibi menceritakan kepada Milah.
"Oh, aku punya ide, Bi," Milah bergegas ke kamar kakek.
Tidak lama kemudian Arga pulang, tiba di kamar melepas dasi dan jas wajahnya tampak lelah.
"Bos sudah pulang," Kartini yang sudah ganti baju yang Arga belikan, lalu salim tangan Arga. Ia sengaja tidak menggunakan baju daster karena tidak mau terlihat buruk ketika Arga pulang.
Arga tidak menjawab lalu berjalan ke kamar mandi.
"Bos," panggil Kartini.
"Apa?" Tanya Arga malas.
"Emmm... tidak-tidak!" Kartini yang awalnya ingin bertanya apakah malam ini jadi pergi bersama Nadine tidak jadi. Kartini tidak mau Arga menganggapnya gr.
"Nggak jelas!" Ketus Arga lalu membuka pintu kamar mandi. Ia tampak terburu-buru karena setelah maghrib nanti ia akan pergi bersama Nadine.
Malam harinya Kartini sudah duduk di meja makan bersama kakek. Tetapi tidak fokus mendengar kata-kata Chandresh. Pandangannya tertuju kepada masakan yang sudah tertata rapi demi Arga, tapi Arga tidak mungkin makan di rumah. Jika hanya untuk dirinya cukup tempe tahu tidak usah memasak ini, itu.
Tak tak tak.
Kartini menoleh ke arah tangga ketika mendengar langkah kaki. Arga turun dengan penampilan yang sudah rapi. "Kakek, aku pamit dulu," ucap Arga tidak sedikitpun menghiraukan Kartini.
"Mau kemana kamu?" Tanya Chandresh tegas.
"Malam ini ada janji bertemu relasi Kek," Jawab Arga berbohong, padahal ia ingin makan malam bersama Nadine.
"Duduk, makan dulu," Chandresh menangkap kebohongan di mata Arga.
"Tapi Kek," Arga melirik arloji sudah menunjuk angka tujuh, seharusnya saat ini ia sudah tiba di restoran. Ketika di kantor tadi pagi Arga dan Nadine memutuskan bertemu di restoran. Arga gelisah, jika tidak tiba tepat waktu, tentu saja Nadine akan ngamuk.
"Tidak ada tapi-tapian! Duduk!" perintah kakek tidak mau di bantah. Arga pun akhirnya menarik kursi di hadapan Kartini.
"Kamu itu sekarang sudah punya istri Arga, dahulukan Kartini dari pekerjaan apapun. Terlebih ini malam hari, seharusnya waktunya kamu berkumpul dengan keluarga," nasehat Kakek panjang lebar.
"Iya Kek," Arga menarik napas panjang. Dengan malas ia menyendok makanan. Namun begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Arga yang tadinya sayu seketika berbinar.
Kriuk...
Rasa bumbu yang pas, gurihnya meresap sampai ke tulang, serta hangatnya sup yang menyegarkan tenggorokan membuat lidah Arga seakan menari. Tanpa sadar, kecepatan makannya bertambah. Sendok dan garpunya bergerak sangat cekatan.
Ia tidak lagi ingat Nadine. Nasi di piringnya habis dengan cepat, kemudian mengambil nasi timbel untuk yang kedua kali, menyambar potongan ayam terbesar, dan menambahkan sayur berikut sambal.
Ia tidak tahu bahwa Kartini yang duduk di seberang meja hanya bisa menahan senyum sambil sesekali menyendok makanannya sendiri. Ia melihat jelas betapa lahapnya Arga makan. Wajah dingin dan juteknya itu perlahan terlihat lebih tenang dan puas.
"Wah... masakan Kartini emang juara," puji Kakek, pria tua itu rupanya memperhatikan cucunya makan. "Enak kan Ar, makannya jangan makan di restoran terus, kamu tahu tidak? Kakek bisa sembuh karena istrimu ini tahu makanan yang sehat."
Arga tersedak mendengar pertanyaan Kakek. Ia buru-buru minum air putih untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba cepat karena malu.
"Ehm... ya... lumayan lah, Kek," jawab Arga berbohong dengan wajah sok cool. Ia mengusap mulutnya dengan serbet makan. Padahal di dalam hati ia berteriak, 'Enak banget! Kalau terus begini badan gue lebih gembrot dari bini kontrak gue," batin Arga merasa malu menatap Kartini.
Deerttt... Deerttt ... Deerttt...
Arga meraih handphone dari saku. "Nadine" batinya cemas lalu menjauh dari meja makan menggeser tombol.
"Mas Arga! Kamu ini benar-benar ya?! Kamu tadi janji jam tujuh, sekarang sudah jam berapa?!"
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭