Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Melampaui Takdir
Ling tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya berubah sedikit lebih dalam saat melihat aliran energi itu.
Dalam hati, ia bisa langsung melihat sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh orang biasa.
Energi petir milik Cang Li memang kuat, bahkan lebih liar dan lebih padat daripada milik kebanyakan kultivator muda seusianya. Namun alirannya terasa tidak lengkap, seperti sungai besar yang sebagian jalurnya tertutup batu. Ada sesuatu di dalam tubuh pemuda itu yang menahan kekuatan aslinya agar tidak keluar sepenuhnya.
Segel.
Ye Chen memang tidak berbohong.
Cang Li tidak menyadari pikiran gurunya. Ia hanya fokus pada satu hal—membelah bambu di depannya.
Dengan satu teriakan pendek, ia melangkah maju dan mengayunkan pedangnya lagi.
Ledakan kecil meletus saat petir menghantam permukaan Bambu Hitam Jiwa. Percikan ungu memancar ke segala arah, dan daun-daun di sekitar ikut bergetar karena dorongan energi. Namun saat cahaya itu memudar, hasilnya tetap membuat dada Cang Li terasa berat.
Bambu itu masih berdiri tegak tanpa berubah sedikit pun. Hanya ada bekas hangus tipis di bagian luar, dan itu pun hampir tidak terlihat.
Cang Li menatapnya dengan napas yang mulai memburu.
Ia menggertakkan gigi, lalu mencoba lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Setiap tebasan disertai percikan petir. Setiap benturan membuat telapak tangannya semakin panas dan lengannya semakin pegal. Namun semakin lama, yang ia dapatkan hanya rasa nyeri yang bertambah dan hasil yang nyaris tidak berubah.
Keringat mulai membasahi lehernya. Napasnya menjadi berat. Ujung jarinya perlahan terasa kebas.
Dari kejauhan, Ling akhirnya bicara.
“Kau hanya mengalirkan energi ke pedang,” katanya dengan suara tenang, tetapi jelas terdengar. “Itu belum cukup.”
Cang Li menoleh sambil terengah-engah.
“Lalu... apa yang salah, Guru?”
Ling melipat tangan di depan dada.
“Energi spiritual bukan hanya untuk dikeluarkan. Energi harus dipadatkan, diarahkan, lalu dilepaskan pada titik yang tepat. Kalau kau hanya membanjiri pedangmu dengan petir, hasilnya cuma terlihat kuat dari luar, tapi kosong di dalam.”
Ia melangkah turun dari beranda dan berjalan mendekat.
“Bayangkan kau ingin menembus batu. Apakah kau akan melemparkan seluruh tubuhmu ke sana secara membabi buta? Tidak. Kau harus menyalurkan seluruh kekuatanmu ke satu titik yang paling rapuh.”
Ling mengetuk batang bambu hitam itu pelan dengan jari telunjuknya.
“Bambu ini juga sama. Ia tidak bisa dikalahkan dengan amarah atau tenaga kasar. Kau harus mendengar aliran energinya, merasakan titik lemahnya, lalu menghantam bagian itu dengan energi yang padat.”
Cang Li menatap bambu itu lagi.
Mendengar aliran energi?
Merasakan titik lemah?
Kedengarannya sederhana, tetapi bagi Cang Li, itu jauh lebih sulit daripada menebas lawan yang bergerak cepat.
Ling menoleh dan kembali berjalan ke arah rumah.
“Aku akan melatih Su Yan sekarang. Cari jawabannya sendiri. Kalau sampai sore kau masih tidak mengerti apa yang harus dilakukan, berarti dasar kontrol energimu memang masih terlalu buruk.”
Su Yan melambaikan tangan kecil pada Cang Li sambil tersenyum usil.
“Semangat, Pendekar Kilat.”
Cang Li hanya bisa menatap mereka pergi dengan napas berat.
Begitu halaman kembali sunyi, ia menunduk menatap pedang di tangannya.
Dalam hati, ia tahu satu hal dengan sangat jelas.
Ia tidak bisa menang kalau terus menyerang seperti tadi.
Kalau ingin lulus tahap pertama, ia harus mengubah cara bertarungnya.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Matahari terus naik, lalu perlahan mulai condong ke barat. Sepanjang siang itu, Cang Li terus berdiri di depan batang bambu hitam yang sama, mencoba memahami apa yang dimaksud Ling.
Awalnya ia kembali menyerang dengan kekuatan penuh, berharap keberuntungan akan berpihak padanya. Namun hasilnya tetap sama.
Setelah itu, ia mulai mencoba menahan ayunannya.
Ia memejamkan mata.
Ia menempelkan telapak tangannya ke batang bambu.
Ia mencoba merasakan aliran energi yang bergerak di dalamnya.
Pada awalnya, ia tidak merasakan apa pun selain permukaan dingin dan keras.
Tetapi setelah beberapa kali mencoba, napasnya mulai melambat. Pikirannya perlahan menjadi lebih tenang. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa seperti ada getaran halus yang merambat di balik permukaan bambu itu—sangat tipis, sangat samar, seperti denyut jantung yang hampir tak terdengar.
Mata Cang Li perlahan terbuka.
“Jadi... ini yang dimaksud Guru?”
Ia mengangkat pedangnya lagi, kali ini tidak terburu-buru.
Petir ungu kembali mengalir di sepanjang bilah kayu, tetapi berbeda dari sebelumnya. Kali ini Cang Li tidak membiarkan energinya meledak liar. Ia menahannya. Menekannya. Memusatkannya sedikit demi sedikit ke ujung bilah.
Percikan ungu yang tadinya menyebar liar kini mulai mengecil, namun justru terlihat lebih padat.
Kening Cang Li langsung dipenuhi keringat.
Menahan energi seperti ini jauh lebih sulit daripada melepaskannya begitu saja.
Lengannya gemetar. Otot bahunya terasa menegang. Bahkan meridian di lengan kanannya mulai terasa panas seperti dibakar dari dalam.
Namun ia tidak menghentikannya.
Ia terus memadatkan energi itu.
Lalu, sambil menatap satu titik pada batang bambu, ia melangkah maju dan menebas.
DUAK!
Benturan keras kembali terdengar, tetapi kali ini berbeda.
Tubuh Cang Li terdorong setengah langkah ke belakang, sementara tangannya mati rasa sampai ke siku. Namun saat ia menatap bambu itu, matanya sedikit melebar.
Ada goresan.
Sangat tipis.
Sangat kecil.
Tapi itu nyata.
Untuk pertama kalinya sejak siang tadi, Bambu Hitam Jiwa itu benar-benar terluka.
Napas Cang Li tercekat.
Lalu, perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat.
“Aku bisa...” gumamnya lirih.
Namun rasa senang itu tidak bertahan lama, karena detik berikutnya rasa nyeri hebat menjalar dari telapak tangannya ke seluruh lengan. Ia langsung terhuyung dan jatuh berlutut di atas rumput sambil mencengkeram pergelangan tangannya.
Rasa sakit itu membuat wajahnya menegang.
Ia terlalu memaksa.
tubuhnya belum terbiasa menahan energi sepadat itu.
Tetapi meski tubuhnya terasa remuk, di dalam hati Cang Li justru muncul sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Harapan.
Ia akhirnya melihat celah.
Ia akhirnya tahu bahwa dinding di depannya bukan sesuatu yang mustahil ditembus.
Dengan napas yang masih berat, Cang Li mendongak menatap langit sore yang mulai berubah jingga.
Burung-burung melintas di atas pepohonan. Angin hutan berembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang mulai dingin.
Ia menggenggam pedangnya sekali lagi.
“Kalau aku berhenti sekarang...” bisiknya pelan, “...maka aku akan tetap menjadi orang yang sama.”
Wajah Zuo Cangtian terlintas di benaknya.
Kalung Yel Feng yang direnggut dari lehernya ikut muncul dalam pikirannya.
Lalu bayangan pria berjubah hitam itu, yang dengan mudah menjatuhkannya, kembali membakar harga dirinya.
Cang Li menghembuskan napas panjang, lalu perlahan berdiri lagi meski kedua kakinya sudah terasa berat.
Ia mengambil posisi kuda-kuda sekali lagi.
Petir ungu kembali menyala di sepanjang pedangnya.
Dan di tengah sunyinya hutan Desa Sura, saat matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, seorang pemuda yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang mulai menempa dirinya sendiri—bukan hanya menjadi lebih kuat, tetapi menjadi seseorang yang pada akhirnya mampu menghadapi takdir yang selama ini mengejarnya.
Namun untuk saat ini, ia bahkan masih belum berhasil melewati tahap pertama.
Bambu Hitam Jiwa itu masih berdiri di hadapannya, seolah mengejek kelemahannya dengan diam.
Dan Cang Li tahu... malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.
End Chapter 24