Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 jamuan dijepang
Suasana aula besar itu sangat megah. Lampu kristal menggantung tinggi, dan aroma masakan kelas atas memenuhi ruangan. Hunter-hunter kelas dunia berkumpul, masing-masing membawa aura yang menekan. Namun, saat pintu terbuka dan tim Indonesia masuk, suasana mendadak senyap.
Voltra berjalan paling depan. Ia menolak memakai tuksedo lengkap dan hanya mengenakan kemeja hitam satin dengan kerah terbuka, memberikan kesan angkuh namun elegan. Di sampingnya, Alina tampak memukau dengan gaun malam berwarna biru safir yang senada dengan warna mananya.
"Lihat itu," bisik seorang Hunter dari tim Brazil. "Si 'Dewa Es Hitam' yang menghancurkan Abyssal Kraken" Lanjutnya.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh raksasa dengan otot yang tampak seperti baja berjalan mendekat. Itu adalah Steven, Hunter Rank S dari Amerika Serikat.
"Jadi kau bocah yang membuat keributan di palung itu?" ujar Steven menatap Voltra dari ketinggian dua meter lebih. Suaranya berat dan menggetarkan gelas-gelas di dekatnya. "Kau terlihat lebih kecil dari yang kubayangkan" Lanjutnya.
Voltra menatap Steven dengan pandangan bosan, lalu mengambil satu tusuk sate daging wagyu dari nampan pelayan yang lewat
"Dan kau terlihat lebih berisik dari yang kuharapkan. Ukuran tubuh tidak menjamin kau bisa bertahan di bawah tekanan 10.000 meter, kan?" Balas voltra berdiri angkuh.
Ketegangan langsung memuncak. Raven di belakang Voltra mulai berkeringat dingin, sementara Alina sudah siap memegang pergelangan tangannya sendiri—tanda ia siap mengeluarkan senjatanya jika terjadi keributan.
"Hahahaha... Menarik, berkunjung lah ke Amerika nanti" ucap Steven memegang bahu voltra. "Cukup menarik melihat bintang baru disini" Lanjutnya berjalan pergi.
"Aku tidak janji" Balas voltra tersenyum kecil. "Bahasa Indonesia tidak buruk" Lanjutnya memuji.
Saat itu pesta berlangsung seperti biasa. Alina terus memperhatikan voltra, sementara raven yah kurang lebih dia sama seperti voltra, pesta ini formal tapi mereka malah menikmati makanan seperti ini sedang ada di breakfast hotel. Voltra mendengar suara langkah kaki dari dua orang wanita, satunya memakai jas dan satunya memakai chongesam hitam.
"Halo hunter voltra, saya jue penerjemah dari hunter Mei Lin karena ia tidak bisa berbahasa Indonesia" ucap jue memperkenalkan dirinya.
Mei Lin mengatakan sapaan dari bahasa Mandarin, melihat gelagatnya yang berbicara sepertinya ingin merekrut voltra ke negara nya. Perpindahan hunter adalah hal legal, meskipun akan dibenci oleh negara asal.
"Dia bicara apa?" Tanya Mei Lin.
Voltra menatap Mei Lin dengan tatapan datar, masih mengunyah potongan daging wagyu terakhir di tangannya. Ia melirik Jue, sang penerjemah, yang tampak sangat profesional namun sedikit tegang menghadapi aura dingin Voltra.
"Ia bertanya apakah kau tertarik untuk mengunjungi China" ucap Jue menerjemahkan dengan suara lembut. "Nona Mei Lin bilang, China memiliki sumber daya magic stone yang jauh lebih besar dan fasilitas pelatihan Hunter, yang jauh lebih maju daripada di Asia Tenggara. Jika kau bersedia pindah kewarganegaraan, Pemerintah China menjamin posisi National Level Hunter untukmu" Lanjutnya menawarkan.
"Maaf, Nona Mei Lin. Voltra baru saja menandatangani kontrak dengan Guild ISG. Kami tidak memiliki rencana untuk melepas aset berharga kami dalam waktu dekat" Sela alina berjalan ke arah mereka.
Mei Lin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat elegan namun penuh perhitungan. Ia membisikkan sesuatu lagi kepada Jue.
"Hunter Mei Lin berkata" ujar Jue melanjutkan, "bahwa kontrak dengan Guild hanyalah selembar kertas. China bisa membayar penalti kontrak tersebut sepuluh kali lipat. Selain itu, mereka tahu kau sangat menyukai kenyamanan. Mereka menawarkan sebuah istana pribadi di Beijing dengan koki pribadi untuk adik anda" Lanjutnya menyampaikan.
"Wah mereka melakukan riset sejauh itu" Gumam Raven.
"Katakan padanya" ucap Voltra pada Jue. "Aku tidak bisa dibeli dengan istana atau koki. Aku tinggal di mana pun yang aku mau. Dan soal pindah negara? Aku terlalu malas mengurus paspor baru" Lanjutnya.
Voltra kemudian menoleh sedikit ke arah Mei Lin dan berbicara dengan nada dingin yang tak perlu diterjemahkan lagi.
"Lagipula, aku tidak suka diperintah oleh pemerintah mana pun. Aku adalah penguasa bagi diriku sendiri" ujar voltra menunjuk dirinya sendiri.
Mei Lin tampak tertegun mendengar nada bicara Voltra yang begitu absolut. Ia mengangguk pelan, seolah menghormati harga diri tinggi yang dimiliki pemuda di depannya. Me lin hanya membenarkan dasi voltra dengan tatapan menggoda, voltra hanya melirik sebentar.
Setelah penolakan dingin Voltra terhadap Mei Lin, suasana di sekitar meja tim Indonesia menjadi sedikit canggung namun penuh rasa hormat. Mei Lin mengangguk pelan, memberikan gestur penghormatan dengan menyatukan tangan di depan dada sebelum melangkah pergi bersama penerjemahnya.
Tak lama setelah itu, giliran pihak tuan rumah yang mendekat. Beberapa pejabat tinggi Asosiasi Hunter Jepang beserta Hana datang menghampiri. Berbeda dengan Mei Lin yang langsung menawarkan "istana dan kewarganegaraan", pihak Jepang bergerak lebih halus, khas budaya mereka.
"Hunter Voltra," ucap salah satu pejabat dengan membungkuk sangat rendah. "Keberhasilan Anda di Palung Jepang adalah keajaiban bagi bangsa kami. Kami sangat berharap Anda tidak terburu-buru pulang. Kami telah menyiapkan tur eksklusif ke berbagai mata air panas tersembunyi di Hakone yang memiliki konsentrasi Mana murni untuk relaksasi tubuh" Lanjutnya menawarkan.
"Benar," tambah Hana dengan senyum manis. "Selain itu, ada festival kembang api khusus besok malam di Teluk Tokyo sebagai bentuk apresiasi warga kepada Anda. Kami juga sudah memesan tempat di restoran sushi tertua di Ginza yang biasanya memiliki daftar tunggu hingga tiga tahun" Lanjutnya menyebutkan.
Voltra menyesap cokelat hangatnya, matanya melirik ke arah Alina yang tampak mulai waspada lagi. Alina memberikan kode untuk menolak secara halus.
"Tur eksklusif? Sushi?" Tanya Voltra bergumam pelan. "Kalian bicara seolah-olah aku ini turis yang sedang liburan" Lanjutnya melirik.
"Tentu saja bukan" sahut pejabat itu cepat. "Kami hanya merasa, seorang pahlawan seperti Anda layak mendapatkan kenyamanan tertinggi. Dan... jika Anda merasa nyaman di sini, kami memiliki beberapa Gate 'khusus' dengan tingkat kesulitan tinggi namun kaya akan artefak langka yang mungkin menarik minat Anda untuk dieksplorasi secara santai" Lanjutnya tersenyum lembut.
"Itu cara halus mereka memintamu jadi Hunter kontrak tetap di sini tanpa bilang 'pindah negara'. Mereka ingin kau merasa betah" Bisik Alina dibelakang voltra.
"Aku tahu" balas Voltra lewat sudut bibirnya. Ia kemudian menatap Hana. "Restoran sushi itu... apa mereka punya menu selain ikan mentah? Aku lebih suka sesuatu yang dimasak dengan api yang sangat panas" Lanjutnya pura-pura tertarik.
"Apapun yang Anda inginkan, Hunter Voltra. Jika Anda ingin naga panggang sekalipun, kami akan berusaha menyediakannya" ujar hana tertawa kecil.
"Voltra, ayolah! Kapan lagi kita bisa makan di Ginza gratis? Bilang iya, bilang iya!" Bisik Raven dari samping voltra. "Dia bahkan tau fetish naga mu" Lanjutnya tertawa kecil.
Voltra terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling aula, melihat para Hunter Rank S dari berbagai negara yang masih memandangnya dengan rasa penasaran dan waspada. Di sisi lain, ia teringat Vanya yang menunggunya.
"Aku akan tinggal dua hari lagi," ucap Voltra akhirnya, membuat para pejabat Jepang itu menghela napas lega dan tersenyum lebar. "Tapi jangan harap aku akan menghadiri pertemuan formal lagi. Dan soal Gate 'khusus' itu... jika isinya hanya sampah, aku akan langsung pulang" Lanjutnya berucap.
"Tentu saja, Hunter Voltra! Kami sangat menghormati keputusan Anda" ucap Hana dengan binar mata bahagia.