NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CURI PANDANG

Masa magang yang melelahkan akhirnya usai, meninggalkan jejak kantung mata dan tumpukan laporan yang kini terjilid rapi. Ana kembali ke habitat aslinya: koridor kampus yang berisik, aroma buku perpustakaan yang khas, dan deretan jadwal kuliah yang kembali padat. Namun, kembali ke rutinitas ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada satu variabel yang telah bergeser secara permanen dalam hidupnya, yang bernama Adi Pratama.

Sejak sore yang "berbahaya" di ruang dosen itu, atmosfer di antara mereka berubah total. Tidak ada lagi kebencian yang meledak-ledak. Yang tersisa adalah kesadaran tajam akan keberadaan satu sama lain, sebuah ketegangan baru yang jauh lebih sulit dikelola. Ketegangan yang dulu mereka pikir itu murni sebagai gesekan profesional antara dosen dan mahasiswi, kini terasa terlalu benderang, terlalu nyata untuk dipungkiri.

*

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya. Di kelas Adi yang baru yaitu kelas Metodologi Penelitian, Ana seperti biasa duduk di barisan tengah. Ini adalah kelas terakhir yang harus ia tempuh sebelum benar-benar terjun bebas ke medan skripsi. Ruangan itu penuh sesak; suara riuh mahasiswa yang reuni pasca magang dan bercanda menciptakan kebisingan yang akrab.

Andini, yang duduk tepat di sebelah Ana, menyenggol lengannya dengan sikut, lalu mencondongkan badan dengan seringai yang mencurigakan. "Gimana? Rasanya balik lagi ke kandang macan?"

Ana mencoba tetap fokus pada layar laptopnya yang masih kosong. "Biasa aja. Jangan mulai deh, Din."

Andini terkikik, matanya berkilat jahil saat melihat reaksi Ana yang mulai tidak tenang. "Ya, kan, cuma nanya, An. Secara... kamu bakal sering bimbingan intensif lagi sama 'Si Killer Ganteng' itu, kan? Pasti ada banyak hal yang perlu 'dikonsultasikan'."

"Kamu ini kenapa, sih? Hobi banget bahas Pak Adi," gumam Ana. Ia mencoba mengalihkan pandangan ke layar laptop, namun usahanya gagal total. Pipinya mulai terasa panas hanya dengan mendengar nama itu disebut—sebuah reaksi refleks yang kini tak lagi bisa ia kendalikan.

Nama Adi Pratama kini bukan lagi sekadar nama dosen yang ia benci. Nama itu telah bertransformasi menjadi sebuah 'nama keramat' yang memicu letupan memori panas di kepalanya.

Belum sempat Andini membalas, pintu kelas terbuka dengan ayunan yang mantap. Seketika, frekuensi suara di dalam ruangan turun drastis, menyisakan kesunyian. Adi Pratama melangkah masuk. Ia mengenakan kemeja biru muda yang pas di tubuh, dengan lengan yang digulung rapi hingga siku— tampilan default Adi yang memberikan kesan maskulin, terpelajar dan... Sexy!.

Bagi mahasiswa lain, itu adalah kedatangan "Algojo Kampus" yang siap menantang logika mereka. Tapi bagi Ana, efeknya jauh lebih personal. Ada desir halus yang tiba-tiba berkejaran di dadanya, adrenalin yang tidak ia undang.

Memori sore itu di ruang dosen mendadak terputar kembali secara otomatis di kepalanya; aroma parfum Adi, bibirnya yang lembut dah hilang kesabaran seakan menuntut dipagut lebih dalam, napasnya yang hangat, dan bagaimana pertahanan mereka runtuh dalam hitungan detik.

Fokus, Ana. Ini kelas. Jangan bikin malu diri sendiri, batinnya merutuki diri sendiri sambil menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan letak pulpen di atas meja.

"Selamat siang semuanya," suara bariton Adi membelah ruangan, tenang namun penuh otoritas.

"Siang, Pak!" jawab kelas serempak.

Adi meletakkan laptopnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh penjuru kelas. Matanya bergerak perlahan, seolah sedang melakukan pemetaan terhadap kesiapan mahasiswa hari itu. Dan kemudian, tatapan itu berhenti. Tepat di mata Ana.

Hanya satu detik. Sangat singkat bagi siapa pun yang melihat, namun bagi Ana, satu detik itu menyampaikan banyak makna. Ada sesuatu di balik lensa kacamata Adi yang berbeda—bukan lagi tatapan dingin yang mencari kesalahan, melainkan sebuah pengakuan bisu akan rahasia yang mereka simpan bersama.

Ana segera mengalihkan pandangannya ke catatan, jantungnya berdegup tidak keruan. Ia bisa merasakan Adi mulai menjelaskan materi tentang validitas dan reliabilitas data. Penjelasannya tetap tajam dan sistematis, persis seperti yang Ana kenal. Namun, setiap kali Adi berjalan mendekat ke arah barisannya, Ana merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis.

"Kita coba lihat dari perspektif lain," kata Adi, berdiri tepat di depan barisan tengah sambil melipat tangan di dada. Ia terdiam sejenak, membiarkan suasana menjadi tegang sebelum menjatuhkan "bom" pertamanya hari itu.

"Ana."

Andini di sebelahnya langsung menyenggol kaki Ana di bawah meja. "Tuh kan, apa aku bilang," bisiknya sangat pelan.

Ana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa profesionalitasnya, lalu berdiri perlahan. "Iya, Pak?"

Adi menatapnya. Tatapannya masih tajam, namun Ana kini bisa menangkap kilatan kehangatan yang tersembunyi jauh di dalam sana. "Menurut kamu, bagaimana pendekatan fenomenologi ini bisa mempertahankan objektivitasnya jika diterapkan pada kasus yang baru saja saya paparkan?"

Ana terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat menghubungkan teori-teori yang terserak. Ia mulai menjawab, awalnya agak ragu, namun perlahan suaranya menjadi mantap. Diskusi pun dimulai. Seperti biasa, mereka terlibat dalam tanya jawab yang intens. Namun, ada jeda-jeda kecil di antara kalimat mereka yang terasa berbeda. Jeda yang penuh dengan ingatan akan kedekatan fisik yang pernah terjadi.

Setiap kali Ana memberikan argumen, Adi mendengarkan dengan intensitas yang berlebihan—bukan hanya mendengarkan kata-katanya, tapi seolah sedang membaca setiap ekspresi di wajah Ana.

"Jawaban yang menarik, Ana," kata Adi akhirnya, memberikan jeda panjang yang tidak biasa. Ia tidak langsung memutus kontak mata setelah Ana selesai bicara. Ia mencuri pandang lebih lama dari aturan tak tertulis antara dosen dan mahasiswa, sebelum akhirnya berpaling kembali ke papan tulis.

Andini, yang sedari tadi mengamati dengan jeli, kembali berbisik. "Gila, Pak Adi kayaknya lagi fokus banget sama kamu hari ini. Tatapannya beda, Na. Kayak... ada 'sesuatunya'."

Ana mencoba tetap tenang, tangannya mencatat poin-poin di buku dengan gerakan yang sedikit gemetar. "Dari dulu dia memang sering nanya aku, Din. Jangan lebay."

"Iya sih, dulu sering nanya karena pengen ngebantai. Tapi yang ini... yang ini tatapan orang kangen," goda Andini dengan tawa tertahan yang membuat Ana ingin sekali menutup mulut temannya itu dengan buku metodologi.

Ana tidak menjawab, tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu Andini tidak sepenuhnya salah. Sejak kejadian di ruang dosen itu, ini adalah pertemuan pertama mereka, dan hari ini setiap kali Adi menatapnya di tengah keramaian kelas, memang terasa berbeda, seperti ada makna yang tersirat. Sebuah komunikasi non-verbal yang mengatakan bahwa di balik status dosen dan mahasiswa ini, ada sesuatu yang jauh lebih rumit dan tak terdefinisi.

Kelas berakhir dua jam kemudian. Saat para mahasiswa mulai merapikan barang dan berhamburan keluar, Ana sengaja melambatkan gerakannya. Ia melihat Adi masih sibuk merapikan kabel laptop di depan meja.

Sejenak, suasana kelas yang mulai sepi memberikan mereka privasi yang tipis. Adi mendongak, melihat Ana masih di sana. Ia tidak tersenyum lebar, hanya memberikan anggukan kecil dengan sudut bibir yang sedikit terangkat—sebuah sinyal rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Ana membalas dengan senyum tipis, lalu segera menyampirkan tasnya dan berjalan keluar. Hubungan mereka kini adalah sebuah teka-teki yang paling rumit bagi Ana—jauh lebih rumit daripada variabel skripsi mana pun. Dan bagi Adi, bimbingan berikutnya mungkin bukan lagi soal merevisi bab, melainkan soal bagaimana menjaga agar api di antara mereka tidak membakar seluruh etika profesional yang tersisa.

*

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!