"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...
...
Bandara Heathrow, London, sore itu sangat sibuk. Liam Jionel, dari balik jeruji penjara di Jakarta, menatap foto kiriman intelnya dengan seringai puas. Ia melihat Kalea—atau Elena Kalila—keluar dari terminal kedatangan, menaiki taksi hitam, dan menuju sebuah apartemen di South Kensington. Liam merasa ia masih memegang kendali. Ia merasa telah "mengunci" targetnya di dalam kota yang mudah dipantau.
Namun, Liam lupa satu hal: Kalea adalah seorang jurnalis. Dia terbiasa mengolah informasi, dan dia tahu bagaimana cara membuat narasi palsu.
Begitu taksi hitam itu sampai di depan apartemen, sosok wanita yang mengenakan trench coat dan topi beret biru itu turun. Namun, saat pintu apartemen tertutup, wanita itu segera melepas penyamarannya. Dia bukan Kalea. Dia adalah seorang mahasiswa asal Indonesia yang dibayar oleh Aruna untuk menjadi "umpan" sementara.
Kalea yang asli? Dia bahkan tidak pernah keluar dari area transit Heathrow.
Tiga jam sebelumnya, di sebuah toilet di area transit, Kalea telah mengganti pakaiannya dengan jaket hoodie lusuh dan celana jins yang tidak mencolok. Ia memotong rambutnya sendiri hingga sebahu, mengubah drastis siluet wajahnya. Dengan paspor kedua yang ia dapatkan lewat bantuan bawah tanah Kenzo—paspor Polandia atas nama "Kasia Nowak"—Kalea menaiki penerbangan murah bertarif rendah menuju sebuah kota kecil yang tak pernah terbayangkan oleh Liam: Krakow, Polandia.
London adalah umpan. London adalah tempat yang terlalu "Liam". Kalea butuh tempat yang sunyi, tempat yang memiliki biaya hidup rendah, dan tempat di mana orang asing tidak akan terlalu diperhatikan.
wallstreetenglish.co.id
"Selamat tinggal, Liam. Carilah aku di London sampai kau lelah," bisik Kalea saat pesawatnya lepas landas menuju Eropa Timur.
Satu minggu kemudian.
Krakow sedang diselimuti salju tipis. Kota ini dikenal sebagai salah satu tempat paling damai dan rendah stres di Eropa. Di sebuah distrik tua bernama Kazimierz, Kalea menyewa sebuah kamar loteng kecil di atas toko buku tua. Pemiliknya adalah seorang nenek baik hati yang tidak banyak tanya.
Tempo.co
Kalea kini hidup dengan sangat hemat. Ia memasak sendiri makanannya dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan umum untuk melanjutkan risetnya secara mandiri. Tidak ada kartu kredit Jionel, tidak ada transfer bank yang bisa dilacak. Ia hanya menggunakan uang tunai yang ia bawa dari Jakarta.
ICAN Education Consultant +1
Setiap pagi, Kalea berjalan menyusuri Sungai Vistula. Perutnya kini sudah mulai terlihat membuncit di balik jaket tebalnya. Ia merasa aman di sini. Tidak ada mata-mata, tidak ada aroma sandalwood, hanya suara lonceng gereja tua dan bahasa Polandia yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Tempo.co
"Kita aman di sini, Nak," ucapnya sambil mengusap perutnya di tepi sungai. "Di sini, kamu bukan pewaris Jionel. Kamu cuma anak Kasia."
Di Jakarta, amarah Liam meledak saat intelnya melaporkan bahwa apartemen di London itu ternyata kosong selama tiga hari. Liam menghancurkan televisi di ruang kunjungan penjara saat tahu ia telah ditipu mentah-mentah.
"Cek semua penerbangan keluar dari Heathrow pada hari yang sama! Cek CCTV di area transit!" teriak Liam pada Aris lewat telepon selundupan.
"Kami sudah cek, Tuan. Tapi ada ratusan penerbangan murah ke seluruh Eropa. Dia tidak menggunakan nama Elena Kalila lagi. Dia menghilang, Tuan. Benar-benar menghilang."
Liam terpuruk di pojok selnya. Ia menyadari bahwa Kalea telah tumbuh menjadi lawan yang jauh lebih tangguh daripada yang ia bayangkan. Namun, kegilaan di matanya belum padam.
"Kau pikir kau bisa sembunyi selamanya, Kasia?" desis Liam, ia menyebut nama baru itu seolah ia sudah tahu bahwa Kalea akan mengganti identitasnya. "Dunia ini kecil bagi orang yang punya uang. Aku akan mencarimu di setiap sudut Eropa, bahkan jika aku harus membakar satu per satu kota di sana untuk menemukanmu."
Kalea telah berhasil membangun tembok antara dirinya dan masa lalunya. Namun di kegelapan penjara, sang predator mulai belajar untuk tidak lagi meremehkan mangsanya. Perang kucing dan tikus ini kini meluas ke seluruh benua Eropa, dengan taruhan nyawa yang sedang tumbuh di dalam rahim sang pelarian.
Kalea menatap salju yang turun dari jendela lotengnya. Ia tahu Liam tidak akan berhenti. Tapi di Krakow, di antara gedung-gedung bersejarah dan kesunyian Vistula, ia akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau di tangannya. Untuk saat ini, ia telah memenangkan kebebasannya.
"Satu tahun lagi," bisik Kalea. "Satu tahun lagi sampai kamu lahir, dan kita akan pergi lebih jauh lagi."
Tanpa Kalea sadari, di Jakarta, Clarissa baru saja dipindahkan ke sel yang lebih longgar karena perilakunya yang pura-pura membaik. Dan hal pertama yang ia cari adalah akses untuk menghubungi jaringan gelapnya di Eropa. "Cari gadis hamil dengan bekas luka di jari manisnya," perintah Clarissa. "Di mana pun dia berada di Eropa, bunuh dia."
Kalea merapatkan mantel wol tebalnya saat angin dingin dari Sungai Vistula menerjang wajahnya. Di Krakow, ia bukan lagi Kalea yang malang atau Elena sang pewaris skandal. Di sini, ia hanyalah detak jantung yang berusaha bertahan hidup di tengah hamparan salju. Setiap langkahnya di atas batu jalanan tua Kazimierz terasa seperti kemenangan kecil atas tirani Liam Jionel. Ia sering menghabiskan sore di sebuah kafe kecil tersembunyi, memesan cokelat panas dan menulis di buku hariannya—bukan naskah untuk J-Media, melainkan surat-surat untuk janin yang dikandungnya.
"Kamu akan punya nama yang indah nanti," bisiknya sambil menatap uap yang keluar dari cangkirnya. "Nama yang tidak akan pernah tercatat di akta keluarga Jionel. Kita akan menjadi asing bagi mereka, Sayang. Selamanya."
Namun, di balik ketenangan itu, insting jurnalis Kalea tetap waspada. Ia tidak pernah mengambil rute yang sama saat pulang ke lotengnya. Ia selalu memastikan tidak ada mobil hitam yang membuntutinya, dan ia tidak pernah menggunakan jaringan Wi-Fi publik tanpa proteksi berlapis. Ia tahu Liam adalah monster yang memiliki mata di mana-mana, dan satu kecerobohan kecil bisa menghancurkan tembok pelindung yang ia bangun dengan susah payah.
Sementara itu, di Jakarta, sel Liam Jionel kini berubah menjadi pusat komando bayangan. Meski fisiknya terkurung, pikirannya melanglang buana ke seluruh daratan Eropa. Ia menatap peta digital di tablet selundupannya, menandai setiap kota yang memiliki penerbangan bertarif rendah dari London. Matanya yang merah karena kurang tidur terus mencari pola, mencari celah di mana "Kasia Nowak" mungkin bersembunyi.
"Kau pikir salju bisa menutupi jejakmu, Kalea?" gumam Liam, suaranya parau dan penuh obsesi yang mencekam. "Salju akan mencair, dan saat itu terjadi, aku akan ada di sana, menunggu di depan pintumu."
Liam tidak tahu bahwa di saat yang sama, Clarissa telah menggerakkan jaringan gelapnya di Polandia. Seorang pria dengan tato mawar hitam di lehernya baru saja menerima foto buram Kalea di sebuah stasiun kereta. Perburuan ini bukan lagi sekadar obsesi Liam untuk memiliki, tapi sudah berubah menjadi perlombaan maut. Kalea terjepit di antara dua kekuatan besar: pria yang ingin mengurungnya dalam cinta yang sakit, dan wanita yang ingin melenyapkannya dari muka bumi. Di bawah langit Polandia yang kelabu, sang merpati kini harus belajar menjadi elang jika ia ingin menyelamatkan nyawa di dalam rahimnya.beb_