NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Lain Sang Jagoan

Suasana kelas XI-IPS siang itu terasa mencekam. Tidak ada yang berani berbisik, apalagi tertawa. Di depan kelas, Pak Irwan berdiri dengan penggaris kayu panjang yang sesekali diketukkan ke telapak tangannya.

Beliau sedang menjelaskan materi Statistika dan Peluang yang rumit, materi yang sering kali membuat anak-anak IPS angkat tangan.

Namun, di barisan paling belakang, Askara justru tampak sangat tenang—terlalu tenang. Kepalanya tertunduk, bertumpu pada kedua lengannya yang terlipat di atas meja kayu yang penuh coretan. Ia tertidur dalam posisi duduk, sebuah pertahanan terakhir melawan rasa kantuk yang luar biasa hebatnya.

Pak Irwan menghentikan penjelasannya. Matanya yang tajam di balik kacamata tebal langsung mengunci sasaran di pojok ruangan.

"Askara Mahendra?" suara Pak Irwan yang berat bergema di ruangan.

Hening. Askara masih berada di alam mimpinya, mungkin sedang berada di tengah deru mesin motor yang jauh lebih damai daripada rumus matematika.

"Askara!" Pak Irwan menggebrak meja depan dengan tangannya. *BRAKK!*

"Eh, iya Pak! Hadir!" Askara tersentak bangun. Tubuhnya tegak seketika, matanya mengerjap-ngerjap berusaha fokus, sementara beberapa teman sekelasnya menahan napas.

"Bagus sekali. Tidur di jam saya seperti di hotel berbintang, ya?" Pak Irwan berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar seperti lonceng kematian. "Kenapa kamu tidur? Memangnya materi ini sudah kamu kuasai di luar kepala sampai tidak perlu mendengarkan?"

Askara mengusap wajahnya yang terasa kaku, berusaha menghilangkan sisa kantuk. "Maaf, Pak. Saya... tadi malam nggak bisa tidur cepat."

"Alasan klasik," potong Pak Irwan dingin. "Daripada kamu jadi pajangan di pojok sana, sekarang maju ke depan. Kerjakan soal peluang ini. Kalau kamu salah satu angka saja, kamu tahu konsekuensinya."

Askara menghela napas panjang. Dengan langkah yang sedikit gontai, ia berjalan ke depan. Ia menatap deretan angka dan variabel di papan tulis. Sebenarnya, Askara tidak bodoh, ia hanya tidak punya energi untuk peduli. Ia mengambil kapur tulis, tangannya bergerak cepat menyusun angka-angka sesuai logika yang ia ingat.

Namun, karena pikirannya yang masih berkabut, ia salah menghitung hasil akhir faktorial di bagian penyebut.

"Tuh, kan! Makanya kalau guru menjelaskan itu diperhatikan, bukan malah bermimpi!" Pak Irwan merebut kapur dari tangan Aska. "Hasilnya melesat! Sekarang, keluar kamu. Berdiri di depan pintu kelas. Angkat kaki satu, tangan pegang telinga. Jangan turunkan sampai bel pulang berbunyi!"

Askara hanya diam. Ia tidak membela diri, tidak juga menggerutu. Ia berjalan keluar dan melakukan hukuman itu di koridor. Di bawah terik matahari yang mulai masuk ke selasar, ia berdiri dengan satu kaki, memandangi langit dengan tatapan kosong. Ia tidak malu, ia hanya ingin hari ini cepat berakhir.

---

Begitu bel pulang sekolah berdentang, Askara tidak membuang waktu. Ia langsung menyambar tasnya, mengabaikan ajakan nongkrong dari teman-teman sekelasnya. Ia memacu motornya lebih cepat dari biasanya, menembus kemacetan kota menuju sebuah rumah kecil yang tersembit di gang sempit.

Di teras rumah, adiknya yang baru kelas 6 SD sudah menunggunya dengan wajah cemas. "Kak Aska, Ibu panasnya belum turun."

Askara langsung masuk ke dalam kamar yang pengap. Di sana, ibunya terbaring dengan kompres di dahi. Wajah wanita yang paling ia cintai itu tampak begitu pucat. Aska berlutut di samping tempat tidur, menyentuh tangan ibunya yang terasa sangat panas.

"Ibu... Aska pulang," bisiknya lembut.

"Kamu sekolah yang benar ya, Ka... jangan urusin Ibu terus," suara ibunya terdengar sangat lemah.

Askara tersenyum tipis, meski hatinya terasa perih. "Ibu tenang saja. Aska sudah besar. Sebentar ya, Aska nitip Ibu ke Adik dulu. Kakak mau cari uang buat beli obat Ibu. Kakak nitip jagain Ibu dulu ya?"

Setelah memastikan adiknya menjaga sang ibu, Askara mengganti seragamnya dengan kaus hitam kumal. Ia berangkat menuju bengkel kecil tempatnya bekerja paruh waktu.

Sore itu, bengkel sangat sibuk. Aska langsung terjun ke kolong sebuah mobil tua yang mogok. Keringat bercucuran deras, membasahi kausnya hingga lepek. Tangannya yang cekatan berlumuran oli hitam pekat saat ia mencoba membongkar bagian mesin yang bermasalah.

Wajahnya yang biasanya terlihat tampan dan angkuh di sekolah, kini coreng-moreng oleh noda oli di pipi dan dahinya. Bau bensin dan panasnya knalpot menjadi temannya selama berjam-jam. Sesekali ia harus mengelap keringat dengan punggung tangan, membuat noda hitam di wajahnya semakin lebar.

Di sela-sela pekerjaannya, ia teringat Aruna. Mungkin saat ini Aruna sedang duduk tenang di perpustakaan bersama Kak Adrian, membahas soal-soal olimpiade yang rapi dan bersih. Sangat kontras dengan dirinya yang sedang bergelut dengan besi tua dan kotoran mesin.

"Aska! Karburator motor ini sudah selesai dibersihkan?" teriak sang pemilik bengkel.

"Selesai, Bang!" sahut Aska, suaranya sedikit serak karena haus.

Ia kembali fokus. Baginya, setiap rupiah yang ia dapatkan dari setiap baut yang ia kencangkan adalah harapan bagi kesembuhan ibunya. Biarlah Pak Irwan menganggapnya anak malas, biarlah teman-temannya melihatnya sebagai tukang tidur.

Selama ia bisa melindungi keluarganya, Askara Mahendra rela melakukan apa pun, bahkan jika harus menghabiskan seluruh malamnya dengan bau oli dan keringat yang tak kunjung kering.

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!