Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Manifestasi Kebusukan dan Takdir yang Terkoyak
Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti sayatan; ia telah berevolusi menjadi sebuah kesadaran baru.
Bima tidak lagi merasakan di mana tubuhnya berakhir dan di mana lantai aula itu dimulai.
Ia adalah tumpukan saraf yang telanjang, dipaksa untuk menyaksikan setiap detik penghancuran dirinya sendiri tanpa kemampuan untuk memejamkan mata.
Karena kelopak matanya telah lama ditarik lepas, dikeringkan, dan dijadikan hiasan pada gaun Sang Inang yang kian membesar.
Makhluk yang lahir dari rahim Kinasih—"Anak" itu—berdiri dengan kaki yang gemetar, namun setiap gerakannya merobek realitas.
Lubang bergerigi di dadanya terus berputar, mengeluarkan suara seperti logam yang menghancurkan tulang.
Bau yang menguar darinya bukan lagi sekadar busuk, melainkan bau eksistensi yang membusuk, bau masa depan yang mati sebelum dilahirkan.
"Lihat, Bima... ia memiliki matamu," bisik Kinasih.
Bima mencoba melihat ke arah Kinasih.
Mantan kekasihnya itu kini hanyalah sebuah cangkang yang dikosongkan.
Kulit perutnya yang robek menggantung seperti tirai daging yang basah, memperlihatkan tulang belakangnya yang kini menghitam dan ditumbuhi jamur-jamur pucat yang mengeluarkan spora beracun.
Namun, di dalam lubang dada "Anak" itu, di sela-sela gigi yang berputar, Bima melihat sepasang mata manusia yang berkedip ketakutan.
Itu memang matanya.
Matanya yang dicabut tanpa sarafnya diputus, sehingga ia bisa melihat isi perut makhluk itu sendiri: tumpukan sisa-sisa manusia yang sedang dicerna oleh asam hitam yang pekat.
Sang Inang Malam mendekat, jari-jarinya yang sepanjang tombak mengelus sisa kepala Bima. "Jangan takut, Benih. Kau tidak akan habis.
Kau akan terus tumbuh agar ia bisa terus makan.
Keabadian adalah perjamuan tanpa akhir, dan kau adalah hidangan utamanya."
Tiba-tiba, Sang Inang menancapkan kukunya ke dalam rongga dada Bima yang terbuka.
Ia menarik keluar satu demi satu organ dalam Bima—paru-paru yang masih kembang kempis, hati yang menghitam, dan usus yang melilit seperti ular.
Namun, setiap kali satu organ ditarik keluar, akar hitam dari koin di dahinya segera menumbuhkan organ baru yang lebih cacat, lebih perih, dan lebih sensitif terhadap rasa sakit.
Aula besar itu mulai mencair. Dinding-dinding ototnya runtuh, namun bukan menjadi puing, melainkan berubah menjadi lautan daging yang bergelombang.
Bima merasa dirinya ditarik ke dalam aliran cairan tubuh yang kental.
Ia hanyut dalam sungai darah, melewati lorong-lorong yang terbuat dari susunan rahang manusia yang terus mengunyah udara kosong.
Di sana, ia bertemu dengan "penduduk" desa yang hilang.
Mereka tidak lagi berbentuk manusia.
Ada yang telah menyatu menjadi bola daging raksasa dengan ratusan tangan yang saling mencengkeram.
Ada yang kepalanya tumbuh di ujung jari kaki mereka sendiri, dipaksa untuk melihat setiap langkah yang mereka ambil di atas tanah yang terbuat dari kuku-kuku tajam.
"Selamat bergabung, Bima..." suara itu berasal dari sebuah gundukan daging di sampingnya.
Itu adalah suara ayahnya, namun wajah ayahnya kini tersebar di beberapa bagian gundukan itu; satu mata di atas, mulut di samping, dan telinga di bawah.
"Di sini, kita tidak punya rahasia. Semua pikiran kita menyatu dalam rasa sakit yang sama."
Bima mencoba menjerit, namun yang keluar dari tenggorokannya adalah cairan kental berwarna kuning.
Ia menyadari bahwa lidahnya kini telah berubah menjadi seekor lintah besar yang terus-menerus mengisap sisa-sisa kewarasannya.
Di atas "langit" dunia busuk ini, retakan besar mulai muncul.
Melalui retakan itu, Bima bisa melihat dunia luar—jalan setapak di hutan bambu, motor tuanya yang tergeletak, dan cahaya fajar yang pucat.
Namun, fajar itu tidak lagi indah.
Cahaya matahari yang masuk melalui retakan itu membakar daging siapa pun yang terkena, seperti laser yang menguapkan lemak manusia.
"Saatnya penyucian," teriak Sang Inang dari kejauhan.
"Anak" tanpa wajah itu mulai merangkak naik ke arah retakan.
Setiap kali tangannya yang besar menyentuh batas antara dua dunia, kenyataan di dunia manusia mulai melepuh.
Pohon-pohon bambu di dunia atas mulai mengeluarkan darah.
Tanah di sana mulai ditumbuhi oleh gigi-gigi manusia.
Kinasih, yang kini merangkak seperti laba-laba dengan kaki-kaki Bima yang telah membusuk, mendekati Bima yang terombang-ambing di sungai darah.
"Kita akan kembali, Bim. Tapi bukan sebagai kita yang dulu. Kita adalah wabahnya. Kita adalah jawaban dari setiap doa yang salah alamat."
Kinasih membenamkan wajah hancurnya ke dada Bima.
Ia mulai menjahit tubuh mereka berdua menggunakan rambut-rambut dari para korban.
Jarumnya adalah potongan tulang rusuk yang ditajamkan.
Bima merasakan setiap tusukan, setiap tarikan benang yang melewati saraf-sarafnya yang telanjang.
Mereka disatukan menjadi satu massa daging yang mengerikan.
Dua kepala yang saling membelakangi, satu badan dengan anggota tubuh yang acak, dan di tengah-tengah mereka, koin hitam itu berdenyut seperti bom waktu yang siap meledak.
Saat mereka ditarik keluar dari retakan menuju dunia manusia, Bima merasakan sensasi terbakar yang luar biasa.
Oksigen di dunia luar terasa seperti asam yang membakar paru-parunya yang baru tumbuh.
Mereka mendarat di atas tanah hutan bambu.
Namun, hutan itu telah berubah.
Tidak ada lagi suara burung atau angin.
Hanya ada suara detak jantung yang masif yang berasal dari bawah tanah.
Setiap pohon bambu kini memiliki kulit manusia, dan daun-daunnya adalah potongan-potongan telinga yang menangkap setiap rintihan Bima.
Seorang pencari kayu yang malang kebetulan lewat di sana.
Pria itu terpaku, matanya hampir keluar melihat makhluk yang baru saja muncul dari tanah—massa daging besar dengan wajah Bima dan Kinasih yang menangis darah.
"T-tolong..." rintih Bima dari mulutnya yang terjahit.
Namun "Anak" yang lahir dari mereka sudah lebih dulu bergerak.
Makhluk itu melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, lubang di dadanya terbuka lebar dan mengisap pria itu bulat-bulat.
Suara tulang yang remuk terdengar seperti kembang api di pagi hari.
Kinasih tertawa, suaranya kini terdengar di dalam kepala Bima. "Makan yang banyak, Anakku. Dunia ini masih sangat luas, dan mereka semua adalah milikmu."
Bima hanya bisa menatap langit yang kini berubah warna menjadi merah pekat.
Ia menyadari bahwa neraka tidak berada di bawah tanah.
Neraka sedang dibawa naik, dan ia adalah gerbangnya.
Koin di dahinya berkilau, memantulkan bayangan dunia yang akan segera menjadi satu meja perjamuan besar bagi Sang Inang Malam.
Tidak ada kata normal.
Tidak akan pernah ada lagi.
Yang ada hanyalah rasa lapar yang abadi, dan daging yang tidak akan pernah berhenti merasa sakit.