Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Akhirnya mobil pun sampai di halaman rumah besar keluarga Praditya. Hujan di luar sana masih belum reda sedikitpun, justru terasa makin deras dan makin kencang anginnya seiring berjalannya waktu. Suara air menghantam atap genteng dan pohon-pohon besar di halaman terdengar sangat nyaring, menciptakan irama alam yang khas dan justru membuat suasana di dalam rumah terasa jauh lebih hangat, nyaman, dan seperti sebuah istana yang damai yang terlindungi dari amukan badai.
"Alhamdulillah sampai rumah juga..." gumam Aira lega saat mobil berhenti tepat di depan teras rumah yang luas itu. Napasnya terasa lega karena akhirnya bisa beristirahat setelah perjalanan yang cukup mendebarkan tadi.
Pintu mobil segera dibuka lebar oleh Pak Budi. Mereka bergegas berlari kecil masuk ke dalam rumah agar tidak semakin basah terkena guyuran air yang sangat dingin itu.
"Ya Ampun, Tuan! Nona Aira! Basah kuyup semua ini!" seru Bibi Asih yang sudah menunggu dengan cemas di ruang tengah dengan segenggam handuk tebal dan kering di tangannya. Ia terlihat panik sendiri melihat kondisi majikannya yang basah dan kedinginan.
"Cepat-cepat ganti baju! Nanti masuk angin! Bahaya lho kalau sakit di musim hujan begini, badan bisa menggigil kedinginan!" Bibi Asih langsung menyodorkan handuk-handuk besar berbahan lembut itu ke tangan mereka berdua dengan sigap. "Saya siapkan air hangat atau teh manis hangat ya, biar badan hangat lagi dan darah lancar!"
"Iya, Bi. Makasih banyak ya," jawab Aira lembut sambil menerima handuk itu dan langsung mengusap pelan rambut serta bahunya yang basah.
"Ya sudah, kalian berdua cepat naik ke kamar ganti baju. Jangan ditunda-tunda, nanti anginnya masuk ke tulang susah keluarnya," kata Bibi Asih lagi dengan nada mengingatkan yang penuh perhatian dan kasih sayang layaknya ibu sendiri.
"Makasih, Bi," sahut Elvano singkat namun penuh rasa terima kasih.
Mereka berdua pun berjalan menaiki tangga kayu yang lebar dan megah menuju kamar tidur utama mereka di lantai dua. Suara langkah kaki mereka terdengar berirama di lantai yang halus dan mengkilap, bercampur dengan suara hujan yang menderu dari luar jendela.
Sesampainya di dalam kamar yang luas, mewah, dan sangat nyaman itu, suasana menjadi lebih tenang dan pribadi. Hanya ada mereka berdua di sana, terpisah dari dunia luar. Lampu kamar yang dinyalakan memberikan cahaya kuning yang hangat dan lembut, membuat suasana terasa semakin intim dan damai.
"Kamu masuk sana dulu ya, Aira. Ganti baju. Jangan dibiarin basah gitu terus, nanti demam," kata Elvano sambil meletakkan tas kerjanya dan jas basahnya di atas kursi santai dengan rapi.
"Iya, Mas. Mas Elvano juga cepat ganti baju tuh, punggungnya basah banget lho tadi," ingat Aira lagi, ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan suaminya. Rasa sayang dan perhatian itu muncul begitu saja tanpa bisa ditahan.
"Iya, iya, tahu dong. Kamu ini cerewet juga ya kalau udah ngurusin orang," Elvano tersenyum tipis sedikit menggoda, melihat wajah istrinya yang terlihat begitu perhatian membuat hatinya terasa hangat.
Aira pun segera masuk ke dalam kamar mandi dalam yang terhubung langsung dengan kamar tidur itu. Pintu ditutup rapat, namun tidak terkunci. Suara air keran mengalir terdengar jelas dari dalam sana, suara air yang membasahi tubuh terdengar menenangkan, seolah membersihkan segala rasa lelah dan dingin dari tubuh mereka.
Sementara itu, di luar kamar mandi, Elvano mulai bersiap mengganti pakaiannya.
Dengan santai dan perlahan, ia mulai melepaskan kancing kemeja kerjanya satu per satu. Kletek... kletek... kletek... suara kancing terbuka terdengar berirama di ruangan yang hening itu.
Kemeja putih basah itu dilepas, memperlihatkan tubuh bidang, kekar, dan berotot yang sangat terawat dengan baik. Hanya mengenakan singlet dalam, lalu ia mengambil kaos oblong berwarna abu-abu tua yang nyaman, dan celana training panjang berwarna hitam dari lemari pakaiannya.
Penampilannya kini berubah total. Dari sosok CEO besar yang gagah, keren, dan dingin di hadapan orang banyak, berubah menjadi sosok suami yang terlihat sangat santai, tampan, dan terasa sangat dekat serta hangat. Tidak ada lagi aura menakutkan, hanya ada ketenangan dan ketampanan alami.
Elvano berjalan mendekati jendela kamar besar itu, menatap hujan di luar sana yang masih turun dengan derasnya membasahi taman-taman bunga di halaman rumah. Cahaya lampu taman memantul di atas genangan air, menciptakan pemandangan yang indah dan syahdu.
"Hhh... dingin ya." gumamnya pelan pada dirinya sendiri, meremas sedikit lengannya yang terasa agak dingin karena tadi terkena air hujan dan angin yang kencang. Kulitnya terasa merinding sedikit.
Tiba-tiba...
Krek...
Suara pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Aira keluar dari sana. Wajahnya terlihat segar bersih bercahaya, pipinya merona merah alami yang cantik karena air hangat yang baru saja ia gunakan tadi. Rambut panjang hitamnya kini dikuncir agak tinggi, namun masih terlihat sedikit acak-acakan dan sangat natural, membuatnya terlihat sangat imut, polos, dan berbeda dari biasanya.
Ia mengenakan piyama tidur berbahan katun lembut berwarna pastel yang nyaman, modelnya tertutup rapat dan sopan, namun tetap terlihat sangat cantik, manis, dan memancarkan aura kelembutan yang luar biasa. Penampilannya kini terlihat sangat bersih, segar, dan menenangkan mata.
Tapi...
Ada satu hal yang langsung menarik perhatian mata Elvano.
Masalah besar ada di rambutnya.
Rambut panjang Aira itu masih sangat basah! Bukan main basahnya! Bukan sekadar lembap, tapi benar-benar basah kuyup! Air masih terus menetes-netes deras dari ujung rambutnya, jatuh ke bahu dan punggung baju piyamanya yang baru saja dipakai itu. Jadi baju bersihnya jadi basah lagi karena tetesan air dari rambutnya sendiri.
Aira terlihat sangat kesusahan dan kewalahan. Ia duduk di tepi ranjang mewah itu, sibuk mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil berulang-ulang kali, menggosoknya dengan kuat, memerasnya pelan, tapi karena rambutnya terlalu panjang, terlalu tebal, dan terlalu lebat, airnya tidak kunjung kering sama sekali. Handuk kecil itu sudah basah kuyup karena menyerap air dari rambutnya.
"Aduh... Ya Ampun. Kenapa sih susah banget keringnya." gerutu Aira pelan pada dirinya sendiri, wajahnya terlihat sedikit kesal, cemberut, namun justru terlihat sangat menggemaskan di mata Elvano. "Basah terus nih. Nanti baju Aira jadi basah lagi dong, kan baru ganti. Aduh pusing deh. Panas juga kepala rasanya kalau lembap gini terus."
Elvano yang berdiri di belakang hanya diam memperhatikan pemandangan itu. Ada rasa sayang, ada rasa iba, dan ada rasa perhatian yang muncul begitu saja, mengalir deras memenuhi rongga dadanya melihat istrinya yang terlihat polos, manis, dan kesusahan seperti itu sendirian.
Melihat Aira yang begitu cantik dalam penampilan santai dan tanpa riasan sedikitpun, membuat jantung Elvano berdegup lebih kencang dari biasanya. Gadis ini benar-benar memiliki pesona yang berbeda, pesona kesederhanaan yang sangat memikat hati.
Tanpa sadar, kaki Elvano melangkah mendekat. Ia berjalan pelan mendekati tempat Aira duduk.
"Kenapa Ra? Masih basah ya rambutnya?" tanya Elvano pelan memecah keheningan, suaranya terdengar lembut dan rendah.
Aira yang sedang fokus menggosok rambut kaget setengah mati, ia menoleh cepat ke belakang.
"Astaga! Mas Elvano! Bikin kaget aja!" Aira memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget. "Iya nih Mas, sebel banget. Panjang banget kan rambut Aira, jadi susah keringnya. Handuknya juga udah basah semua nih." Aira menunjukkan handuk kecil yang sudah basah kuyup itu dengan wajah manyun.
Elvano tersenyum kecil melihat ekspresi wajah istrinya itu. Ia lalu duduk di tepi ranjang, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh, tepat di sebelah Aira.
"Sini." ucap Elvano pelan.
"Hah? Sini apanya Mas?" Aira mengerutkan keningnya bingung.
"Sini, biar aku bantu keringin. Kamu kan cuma pakai handuk kecil, mana bisa kering rambut sepanjang dan setebal itu cuma pakai itu doang," kata Elvano santai namun tegas. Ia lalu mengambil handuk besar yang kering dan tebal yang tadi ia bawa, lalu membukanya lebar-lebar.
"Eh? Nggak usah Mas, nanti Aira sendiri aja bisa kok." Aira langsung menolak sopan, wajahnya langsung memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Bagaimana tidak malu, suaminya akan menyentuh dan mengeringkan rambutnya secara langsung? Itu hal yang sangat intim dan personal bagi Aira.
"Ah, nggak apa-apa. Sini aja. Nanti kalau kamu sakit atau pusing karena masuk angin di kepala, kan aku juga yang repot," kata Elvano lagi, tidak menerima penolakan. Tangannya sudah siap menunggu.
Dengan ragu-ragu dan jantung yang berpacu sangat kencang, Aira perlahan memutar tubuhnya, memunggungi Elvano. Ia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan akses bagi suaminya untuk mengeringkan rambut panjangnya itu.
"Nah, gitu dong." gumam Elvano pelan.
Lalu, Elvano pun mulai bekerja. Dengan hati-hati dan sangat lembut, ia menempelkan handuk besar yang tebal dan kering itu ke seluruh kepala dan rambut panjang Aira.
Usap... usap... usap pelan...
Tangan besar dan hangat milik Elvano bergerak terampil memijat dan mengusap seluruh rambut istrinya. Ia tidak menggosoknya dengan kasar agar rambut Aira tidak rusak atau patah, melainkan memijatnya lembut agar air terserap ke dalam handuk.
"Hmm..." Aira mendecakkan lidahnya pelan, matanya terpejam spontan. "Enak banget Mas."
Rasanya sangat nyaman. Hangatnya tangan Elvano, lembutnya usapan handuk di kulit kepalanya, menciptakan sensasi rileks yang luar biasa. Rasa lelah dan dingin yang tadi dirasakan seketika hilang berganti dengan rasa hangat yang menjalar sampai ke ujung kaki.
"Rambut kamu tebal banget ya Ra.vDan panjang banget sampai pinggang gini," komentar Elvano pelan di belakang sana, suaranya terdengar dekat sekali di telinga Aira. Tangannya terus bergerak membelai dan mengeringkan rambut hitam legam itu.
"Iya Mas, dari kecil emang gak pernah potong pendek. Jadi numpuk terus panjangnya," jawab Aira pelan, suaranya terdengar lemah dan manja karena terlalu nyaman.
"Bagus sih bagus. Cantik. Tapi ya itu tadi, repot kalau lagi basah gini," sahut Elvano santai. "Tahan ya, aku peras dikit ya ujungnya biar airnya keluar dulu."
"I-iya Mas. Hati-hati ya."
Elvano lalu mengambil bagian ujung rambut yang paling panjang, ia membungkusnya dengan handuk lalu memerasnya pelan-pelan namun pasti. Air bening langsung menetes keluar dari sela-sela kain handuk itu, menandakan betapa banyaknya air yang masih tersimpan di dalam rambut tebal Aira.
Proses pengeringan itu berlangsung cukup lama. Suasana di kamar itu sangat hening, sangat tenang, hanya terdengar suara gesekan handuk dengan rambut dan suara hujan yang masih menderu deras di luar jendela.
Namun, suasana hening itu sama sekali tidak terasa canggung. Justru terasa sangat hangat, sangat damai, dan sangat intim. Seolah-olah dinding pemisah antara mereka berdua perlahan-lahan mulai runtuh satu per satu.
Aira bisa merasakan setiap sentuhan tangan suaminya. Bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu yang berada tepat di belakang punggungnya. Bisa mencium aroma wangi sabun dan parfum pria itu yang sangat maskulin dan menenangkan.
Di sisi lain, Elvano juga merasakan hal yang sama. Memegang dan merawat rambut istrinya yang begitu halus, begitu lembut, dan berkilau itu memberikan kepuasan batin tersendiri baginya. Melihat Aira yang begitu pasrah, begitu tenang, dan mempercayakan dirinya sepenuhnya kepadanya membuat rasa bangga dan rasa sayang di hati Elvano semakin tumbuh subur.
"Udah lumayan kering kan sekarang?" tanya Elvano akhirnya setelah merasa air sudah banyak yang terserap. Ia melepaskan handuk itu dan membiarkan rambut Aira terurai kembali, kini setengah kering dan berbau harum wangi sampo yang sangat segar.
"Iya Mas. Alhamdulillah. Enakan banget sekarang. Gak berat lagi kepalanya," Aira mengangguk-angguk senang, ia mengibaskan rambutnya pelan dengan wajah bahagia.
Ia lalu menoleh ke belakang, menatap wajah suaminya.
"Makasih ya Mas." ucap Aira tulus, matanya berbinar-binar penuh rasa syukur. "Makasih udah bantuin Aira. Kalau sendirian pasti lama banget keringnya, dan pasti baju Aira udah basah kuyup lagi."
"Sama-sama." Elvano tersenyum tipis, menatap manik mata istrinya dalam-dalam. "Kan aku suamimu. Wajar dong aku bantuin kamu. Lagian enak tau ngurusin rambut kamu, halus banget kayak sutra."
Deg!
Jantung Aira seakan berhenti berdetak sejenak mendengar pujian itu keluar langsung dari mulut Elvano. Pipi gadis itu langsung memerah, panas sekali rasanya.
"Mas..." panggilnya pelan, tidak tahu harus berkata apa lagi karena terlalu malu dan bahagia.
"Hmm?"
"Hujan di luar masih deras banget ya." Aira mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke arah jendela yang gelap.
"Iya. Kayaknya malam ini bakal hujan semalaman," Elvano menoleh melihat ke luar jendela di mana air terus turun tanpa henti. "Dingin pasti di luar. Tapi di sini hangat kan?"
Aira mengangguk cepat. "Hangat banget Mas. Apalagi tadi dibantuin Mas, jadi makin hangat rasanya."
Mereka berdua pun terdiam lagi, saling bertatapan dalam cahaya lampu kamar yang remang-remang. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Sangat dekat sekali.
Aira bisa melihat jelas lekuk wajah tampan suaminya, bulu matanya yang panjang, dan hidungnya yang mancung. Sementara Elvano bisa melihat wajah polos, mata yang indah, dan bibir merah alami milik istrinya yang terlihat sangat menggoda di bawah cahaya lampu itu.
Suasana semakin terasa hangat, dan semakin terasa romantis tanpa mereka sadari.
Elvano menelan ludahnya pelan, ada keinginan aneh yang muncul di dadanya. Keinginan untuk menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, untuk memeluknya erat, untuk menghangatkannya lebih lagi.
Tangan Elvano perlahan terangkat. Ingin menyentuh pipi mulus istrinya.
Namun tepat saat itu...
Ting... Tong...
Suara bel pintu utama rumah terdengar nyaring memecah suasana romantis itu!
Mereka berdua sama-sama kaget dan tersentak!
"Eh?"