Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbincang Dengan Kenzo.
Bel istirahat kembali berbunyi. Namun kali ini, Hana tidak ikut bergerak. Begitu guru keluar kelas, suara kursi kembali bergeser, obrolan langsung pecah di mana-mana. Beberapa anak bahkan terang-terangan menoleh ke arahnya sebelum berdiri.
Hana menelungkupkan wajahnya di meja. Ia tidak ingin melihat. Tidak ingin mendengar. Tapi suara itu tetap sampai.
“Kasian sih…” “Serius nggak sih mereka?” “Ketos loh itu.”
Ia menarik napas pelan, berusaha mengatur detak jantungnya. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan bisik-bisik, tatapan, dan komentar setengah berbisik yang sengaja dibuat terdengar.
Dulu pun pernah begitu. Tetapi bukan soal Kenzo. Bukan soal foto. Tapi soal hal lain. Dan semuanya selalu berakhir sama— Ia tak mampu berbicara apa-apa.
Dan menunggu waktu yang menyelesaikannya, menunggu sampai orang-orang bosan membicarakannya.
Di bangku sebelah, Nisa tiba-tiba bangkit berdiri. Hana sudah tahu tanpa perlu melihat.
“Nis…” suara Eliza terdengar pelan namun jelas. “Ke kantin sekarang aja.”
“Iya,” jawab Nisa, sedikit ragu.
Hana menunggu. Menunggu satu kalimat kecil saja. Atau sekadar basa-basi. Namun, lagii-lagi tidak ada. Langkah kaki menjauh. Pintu kelas tertutup.
Hening tidak pernah benar-benar hening. Karena bisik-bisik itu tetap ada.
Sementara itu di sudut ruangan, Arga masih duduk. Ia tidak kunjung pergi. Tetapi tidak juga mendekat. Hanya duduk sambil memandangi buku yang tidak benar-benar ia baca.
Sesekali ponselnya bergetar. Ia tidak langsung membuka. Ekspresinya datar. Terlalu datar. Hana tahu ia pasti sudah melihat semuanya. Tapi ia tidak bertanya. Dan entah kenapa, itu justru terasa lebih berat.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba pintu kelas diketuk pelan. Suara itu cukup membuat beberapa pasang mata langsung menoleh.
Seorang siswa membuka pintu. Dan suasana berubah. Kenzo berdiri di sana. Seragamnya rapi seperti biasa. Tatapannya menyapu ruangan dengan tenang.
“Permisi,” katanya sopan pada beberapa siswa yang masih di dalam.
Beberapa anak langsung saling pandang.
“Ada apa Kak?”
“Nyari siapa?”
Kenzo tidak menjawab mereka. Tatapannya berhenti pada satu meja.
“Hana.”
Suara itu tidak keras. Namun, cukup untuk membuat jantung Hana seakan berhenti. Ia perlahan mengangkat wajahnya dari meja. Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya lagi.
Kenzo melangkah masuk satu langkah. “Bisa bicara sebentar?” Ucapnya sembari menatap Hana.
Hana merasa seluruh ruangan menunggu jawabannya. Arga mengangkat pandangan. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada yang bisa ia baca di sana.
Hana menelan ludah, tak mampu menolak ajakan Kenzo. “Iya,” jawabnya pelan.
Ia berdiri. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Bisik-bisik mulai terdengar lagi saat ia berjalan melewati bangku-bangku.
“Wah lanjutannya nih.” “Berani banget ya.”
Hana tidak menoleh. Ia mengikuti Kenzo keluar kelas. Koridor lebih sepi dibanding biasanya karena sebagian besar siswa sudah di kantin atau lapangan.
Kenzo berjalan tanpa banyak bicara, membawa mereka ke arah tangga belakang.Area itu jarang dilewati. Hanya beberapa pot tanaman dan jendela tinggi yang membiarkan cahaya masuk setengah redup.
Begitu sampai di dekat tangga, Kenzo berhenti. Hana berdiri beberapa langkah darinya. Hening. Angin dari jendela kecil membuat ujung rambut Hana bergerak pelan.
Kenzo menghela napas. “Aku minta maaf.” Ujarnya pelan
Hana berkedip sejenak, sedikit terkejut dengan ucapan Kenzo “Maaf?” ulangnya lagi seolah sedang memastikan
“Iya.”
“Kenapa?" Tanya Hana sembari memiringkan kepalanya sedikit.
Kenzo menatapnya langsung. “Karena gara-gara aku, kamu jadi kena rumor kayak gini.”
Hana terdiam. Ia tidak menyangka alasan itu yang akan keluar.
“Bukan salah Kakak,” katanya cepat.
“Tapi tetap ada hubungannya sama aku.” Ujar Kenzo membantah ucapan Hana.
Hana menggeleng kecil. “Cuma foto aja.”
“Justru foto itu yang bikin orang ngomong macam-macam.” Ucap Kenzo
Hana menunduk sedikit. “Aku nggak apa-apa kok kak.”
Kenzo menatapnya lebih serius. “Kamu yakin?”
Hana terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip kebiasaan daripada rasa tenang.
“Aku sudah terbiasa.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Kenzo mengernyit. “Terbiasa?”
“Iya. Orang-orang ngomong. Nanti juga berhenti sendiri.” Nada suara Hana terdengar tenang. Bahkan terlalu tenang, tapi jauh dalam lubuk hatinya berbanding terbalik dengan nada suaranya.
Kenzo menggeleng pelan. “Kamu nggak boleh kayak gitu.”
Hana mengangkat wajahnya. “Maksudnya?”
“Kamu nggak boleh anggap itu hal biasa.” Ujar Kenzo sembari menatap lekat Hana.
Hening sesaat. Kenzo melanjutkan, suaranya lebih rendah.
“Kalau ada yang ngomong negatif, bukan berarti kamu harus nerima itu seolah-olah memang benar.”
Hana menatap tanah “Tapi memang faktanya begitu kan.”
Kenzo sedikit mendekat. “Fakta yang mana?”
“Yang mereka bilang… soal aku.” Ujar Hana lirih, hampir tidak terdengar.
“Ngomong apa?”
Hana ragu sejenak. Ia tidak ingin mengulang kalimat-kalimat itu. Bahwa ia biasa saja. Bahwa tidak mungkin Kenzo benar-benar tertarik. Bahwa pasti ada maksud lain.
Bahwa wajahnya tidak sebanding dengan ketua OSIS yang dipuja banyak orang.
Hana menelan ludah.
“Mereka cuma bilang… aku biasa aja.” Ujarnya
Kenzo terdiam sesaat. Lalu ia menggeleng pelan. “Biasa menurut siapa?”
Hana tidak menjawab. Kenzo menatapnya lekat-lekat.
“Kamu cantik.”
Hana langsung mengalihkan pandangan. “Kak…”
“Bukan cuma karena wajah.”
Hana terdiam.
“Dari awal aku sudah tahu bahwa kamu anak yang baik, hatimu bersih, tidak seperti mereka. Terlihat dari cara kamu ngomong. Cara kamu mikir.” Kenzo melanjutkan dengan tenang. “Dan kamu bahkan nggak sadar kalau kamu punya itu.” Sambung Kenzo lagi
Pipi Hana terasa panas. Ia bisa merasakan detak jantungnya sampai ke telinga.
“Itu cuma… kata Kakak aja.”
Kenzo tersenyum tipis.
“Kalau orang lain nggak lihat, bukan berarti itu nggak ada.”
Hana tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa antara ingin percaya… dan takut berharap.
“Kamu nggak perlu peduli sama komentar negatif,” lanjut Kenzo. “Orang yang sibuk ngomongin kamu biasanya cuma nggak nyaman lihat kamu.”
“Kenapa harus nggak nyaman?” Hana bertanya pelan.
“Karena kamu beda.”
Kalimat itu menggantung di udara. Hana tertunduk lagi. Ia tidak tahu kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang menghangat di dadanya.
Namun, di saat yang sama— ia tidak sadar bahwa beberapa meter dari mereka, di balik pintu ruang kosong dekat tangga— seseorang berdiri.
Pintu itu terbuka sedikit. Cukup untuk melihat.
Eliza. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Tatapannya tajam. Ia tidak mendengar seluruh percakapan.
Namun, baginya itu saja sudah cukup. Cukup untuk melihat jarak yang terasa dekat. Cukup untuk melihat ekspresi Hana yang tersipu. Cukup untuk melihat Kenzo yang menatapnya seolah hanya ada satu orang di sana.
Eliza menarik napas pelan. Lalu mundur satu langkah. Pintu tertutup tanpa suara. Sementara di dekat tangga, Hana masih berdiri, jantungnya belum sepenuhnya tenang.
Dan tanpa ia sadari— rumor yang kemarin hanya berupa foto… hari ini sudah mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.