Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Cahaya Dingin di Kota Mode
Paris tidak pernah terasa romantis bagi mereka yang sedang membawa senjata di balik jasnya.
Javian dan Zerya tiba di Bandara Le Bourget dengan pengawalan yang kini tiga kali lipat lebih ketat. Javian tidak lagi memakai tim keamanan standar; dia menyewa firma keamanan swasta dari Lyon yang tidak memiliki rekam jejak dengan keluarga Omerly maupun Julian Vane.
Di dalam limosin menuju hotel di kawasan Place Vendôme, keheningan menyelimuti mereka. Javian menatap ke luar jendela, namun fokus matanya bukan pada Menara Eiffel yang berkelap-kelip, melainkan pada pantulan wajah Zerya di kaca.
"Bram menyerahkan ponsel enkripsinya sebelum otoritas London membawanya," ucap Javian tiba-tiba. Suaranya datar, tanpa emosi yang tersisa.
Zerya menoleh. "Apa isinya? Apakah ada rencana Aldric untuk acara besok?"
"Ada sesuatu yang lebih mengganggu," Javian mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah drive logam yang ia putar-putar di jemarinya. "Bram menyimpan satu berkas yang tidak dia kirimkan ke ayahmu. Berkas itu berisi riwayat audit rahasia Talandra Group dari delapan tahun lalu. Saat saya baru mulai mengambil alih posisi CEO."
Zerya mengerutkan kening. "Kenapa dia menyimpannya? Jika itu bisa menghancurkan Anda, bukankah seharusnya dia memberikannya pada Aldric untuk mendapatkan bayaran lebih?"
"Karena Bram tahu Aldric adalah hiu. Jika dia memberikan semua kartunya, dia kehilangan nilai tawar," Javian menatap berkas itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Berkas ini... adalah bukti bahwa ada satu kesalahan prosedur fatal di awal karier saya. Sesuatu yang bisa membuat izin operasional Talandra di Eropa dicabut secara permanen."
Lutut Zerya terasa lemas. "Jadi kita ke Paris dengan bom di tangan?"
"Bukan kita," koreksi Javian tajam. "Saya. Ayahmu belum tahu tentang berkas ini. Tapi dia tahu Bram menyembunyikan sesuatu. Dan saya yakin, besok di Grand Palais, Aldric akan mencoba mengambil paksa informasi itu dari kita."
\*\*\*
Malam itu, Zerya tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap jalanan Paris yang mulai sunyi. Pintu penghubung ke suite Javian terbuka sedikit. Ia melihat Javian masih duduk di meja kerjanya, tanpa jas, lengan kemejanya digulung hingga siku.
"Kau tahu," suara Javian terdengar dari dalam, tanpa ia menoleh. "Bram benar tentang satu hal semalam."
Zerya melangkah masuk ke ruangan Javian yang remang-remang. "Tentang apa?"
"Tentang kopi," Javian mengambil cangkir di mejanya. "Saya memang tidak pernah minum kopi setelah pukul enam sore karena saya tidak suka merasa terjaga oleh sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan. Tapi faktanya, sejak tiba di London, saya tidak bisa tidur bukan karena kafein. Tapi karena saya menyadari... saya tidak bisa lagi membedakan mana kawan dan mana lawan."
Zerya berjalan mendekat hingga ia berdiri di seberang meja Javian. Ia tidak memberikan kata-kata motivasi. Ia hanya menatap Javian dengan kejujuran yang mentah.
"Saya kawan Anda, Tuan Javian. Bukan karena kontrak, tapi karena saya tidak punya tempat lain untuk pulang. Aldric sudah membakar rumah saya."
Javian meletakkan cangkirnya. Ia menatap Zerya cukup lama, hingga udara di ruangan itu terasa berat oleh sesuatu yang bukan bisnis. "Besok di Paris, saya akan melepaskan berkas ini ke publik sebelum Aldric mendapatkannya. Saya akan mengakui kesalahan masa lalu saya untuk menyelamatkan masa depan Talandra. Dan saat saya melakukannya, saham kita akan terjun bebas."
"Lalu apa yang tersisa?"
"Kebenaran," jawab Javian. "Dan satu hal lagi. Saat Aldric berpikir saya sedang sibuk menyelamatkan diri, saya ingin Kau menyerahkan berkas suap terbaru miliknya kepada otoritas Prancis yang sudah menunggu di balik panggung."
Zerya tertegun. Javian sedang merencanakan pengorbanan diri untuk memberi Zerya kesempatan memberikan pukulan terakhir.
"Anda akan kehilangan banyak hal, Javian."
"Saya sudah kehilangan asisten saya selama sepuluh tahun," Javian berdiri, menatap Zerya dengan sorot mata yang membara.
"Kehilangan uang tidak ada artinya dibandingkan kehilangan kendali atas permainan ini. Apakah Anda siap menjadi wajah yang menghancurkan Aldric Omerly besok?"
Zerya mengepalkan tangannya. "Sangat siap."