Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 PGS
Setelah selesai makan, Ariel pamit ke toilet. Dia melihat Sherina sedang tertawa dan bercanda bersama anak-anak. Entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdebar padahal dia sangat membenci Sherina.
Ariel pun segera pergi ke toilet, sedangkan Nining menghampiri Sherina. "Kenapa kamu gak mau makan sama aku tadi?" tanya Nining merasa tidak enak.
"Itu 'kan makanan kamu, masa aku mau minta," sahut Sherina.
"Lagi pula Fuja keterlaluan, masa dia gak itung dulu jumlah guru di sini," kesal Nining.
"Dia memang sengaja gak mau ngasih aku, tapi gak apa-apa aku juga gak mau kok dikasih sama dia," sahut Sherina santai.
"Lain kali nanti aku kasih tahu dia deh," ucap Nining.
"Gak usah biarin aja, aku masih sanggup kok beli makanan," sahut Sherina.
Sementara itu di kebun, Syarif dan Tri seperti biasa sedang istirahat dan makan. Kali ini masakan Wita sudah lumayan enak karena sudah sering belajar dari youtube. "Bagaimana rasanya?" tanya Mommy Wita.
"Kali ini lumayan lah Mom, semakin hari masakan Mommy naik satu tingkat," sahut Syarif.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Mommy Wita bahagia.
Rossa melihat dari kejauhan, lalu dengan cepat menghampiri ketiganya. "Hai, ini jam berapa? waktu istirahat sudah berlalu lima menit yang lalu, ngapain kalian masih santai-santai kaya gini?" bentak Rossa.
"Lu siapa? berani bentak-bentak?" seru Syarif bangkit dari duduknya.
"Yang sopan kamu kalau ngomong, aku Rossa anak bungsu Juragan Tama dan mulai sekarang yang mengelola perkebunan ini adalah aku jadi kalian harus nurut sama aku!" bentak Rossa.
"Lu yang harusnya sopan, Lu 'kan bisa bicara baik-baik jangan main nyerocos aja," kesal Syarif.
"Sudah Syarif, jangan seperti itu," seru Daddy Tri.
"Buruan kerja lagi, jangan malas. Kalau tidak, aku bakalan potong gaji kalian," ucapan Rossa dengan angkuhnya.
"Iya Nona, kita juga mau kerja lagi kok ini," sahut Daddy Tri.
"Kalau Lu cowok, sudah gua tonjok Lu. Untung Lu cewek," kesal Syarif sembari pergi.
Rossa mengenalkan tangannya. "Lancang sekali kamu, awas ya, aku adukan kamu sama Papa!" teriak Rossa.
Syarif tidak mendengarkan teriakan Rossa. "Maafkan anak saya, Nona," ucap Mommy Wita.
"Lain kali ajari anak Tante yang benar, sudah miskin banyak tingkah pula. Kalau aku aduin sama Papa aku dan dia dipecat, tamat riwayat keluarga kalian," seru Rossa dengan angkuhnya.
Rossa pun segera pergi meninggalkan Wita. "Astaga, kenapa keluarga mereka sombong-sombong sih? memangnya apa yang hebat dari mereka?" batin Mommy Wita dengan kesalnya.
Wita membereskan peralatan makan bekas suami dan anaknya. Lalu dia pun bergegas ingin pulang ke rumahnya, tapi pada saat Wita membalikan tubuhnya betapa terkejutnya dia saat melihat Tama sudah ada di hadapannya. "Halo Jeng Wita, apa kabar? sudah lama tidak bertemu rasanya saya rindu sekali," ucap Juragan Tama.
Wita tidak mau memperdulikan Tama, dia pun memilih untuk pergi. "Astaga, kenapa susah sekali meluluhkan hati Jeng Wita," batin Juragan Tama.
Wita cepat-cepat pulang, kali ini dia benar-benar takut kepada Tama. Sesampainya di rumah, Wita pun segera masuk dan mengunci pintu rumahnya. "Gila, orang itu memang nekad banget," gumam Mommy Wita.
Malam pun tiba....
"Daddy harus pulang dulu, besok lusa ada peresmian perusahaan baru dan Daddy yang harus mimpin," seru Daddy Tri.
"Berapa hari Daddy bakalan pergi?" tanya Mommy Wita.
"Sepertinya satu mingguan, soalnya Daddy juga mau urus-urus dulu yang lain. Hari tidak bisa mengurusnya karena dia juga punya perusahaan sendiri," sahut Daddy Tri.
"Lama banget Dad, satu minggu," keluh Sherina.
"Ya, mau bagaimana lagi Daddy harus menyelesaikan pekerjaan Daddy dulu yang terbengkalai," sahut Daddy Tri.
"Mommy mau ikut?" tanya Daddy Tri sembari menoleh ke arah istrinya.
"Kalau Mommy ikut, kasihan anak-anak. Daddy pergi sendiri saja deh," sahut Mommy Wita.
"Yakin? Mommy gak rindu sama salon?" goda Daddy Tri.
"Rindu sih Dad, tapi ya mau bagaimana lagi kasihan anak-anak," sahut Mommy Wita.
"Ya, sudah gak apa-apa kalau begitu. Sherina, Syarif, kalian harus jaga Mommy ya," pesan Daddu Tri.
"Siap, Dad," sahut keduanya bersamaan.
"Daddy mau pergi naik apa?" tanya Syarif.
"Wanto jemput Daddy nanti tengah malam supaya tidak ada yang tahu. Jika besok Juragan Tama nanyain Daddy, bilang saja Daddy harus ke kota dulu ada keperluan," ucap Daddy Tri.
"Gampang," sahut Syarif dengan santainya.
Akhirnya tengah malam pun tiba, secara diam-diam Tri pergi ke Jakarta. "Kalian hati-hati ya, di sini. Daddy akan berusaha mempercepat pekerjaan Daddy supaya bisa segera kembali ke sini lagi," ucap Daddy Tri.
"Daddy jangan banyak pikiran, kami akan baik-baik saja kok di sini," sahut Sherina.
Setelah pamitan, Tri pun bergegas berangkat ke Jakarta. Beruntung malam ini tidak ada yang ronda malam, biasanya Mail akan berkeliling kampung. Tri pergi lumayan lama, entah apa yang akan terjadi selanjutnya apalagi Tama, dia pasti akan sangat bahagia jika mengetahui Tri pergi.
***
Keesokan harinya....
Sherina duduk di kursi yang ada di teras, dia celingukan menunggu kedatangan Nining. "Nining ke mana? kok tumben belum datang? biasanya jam segini dia sudah datang," gumam Sherina sembari terus melihat jam tangannya.
Dikarenakan sudah telat, akhirnya Sherina pun menghubungi Nining.
📞"Ning, kamu masih di mana? ini sudah siang loh, kita sudah terlambat ini," seru Sherina kala sambungan teleponnya tersambung.
📞"Aduh, maaf Sher aku sudah sampai di sekolah. Tadi aku diajak sama Fuja, aku gak sempat hubungi kamu karena Fuja buru-buru banget, sekali lagi maaf ya, Sher," sahut Nining merasa sangat bersalah.
📞"Hah, ya sudah."
Sherina memutuskan sambungan teleponnya, dia merasa sedikit kecewa kepada Nining. "Akun telat lagi ini, pasti si sombong itu ngamuk," gumam Sherina.
Sherina pun bergegas berangkat ke sekolah, dia berjalan sangat cepat dan setengah lari juga karena dia sudah terlambat setengah jam. Hingga akhirnya, dari kejauhan Sherina melihat jika Ariel sudah menunggu di depan gerbang. "Tuh 'kan, pasti si sombong itu ngamuk," gumam Sherina kembali.
Sherina berjalan dan langsung melewati Ariel seolah-olah tidak melihat Ariel. "Tunggu!"
Sherina menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Sherina tanpa menoleh ke arah Ariel.
"Kamu tidak punya sopan santun ya? tatap orang yang sedang mengajak kamu bicara," tegas Ariel.
Sherina dengan terpaksa membalikan tubuhnya. Ariel menatap Sherina dengan tatapan tajam. "Kenapa kamu baru datang? kamu sudah telat hampir satu jam. Memangnya kamu pikir ini sekolah milik nenek moyangmu, bisa datang ke sekolah seenaknya?" bentak Ariel.
"Iya, maaf," sahut Sherina malas.
Sherina kembali membalikan tubuhnya dan hendak pergi. "Tunggu!"
Sherina tampak kesal, dia mengepalkan tangannya. "Apa lagi sih?" bentak Sherina.
"Kamu berani bentak aku? berdiri di depan tiang bendera itu dengan posisi hormat, guru adalah contoh untuk muridnya bukan saja murid, tapi jika guru melakukan kesalahan maka wajib dihukum biar para murid bisa melihat jika mereka telat datang ke sekolah akan dihukum seperti itu," geram Ariel.
Sherina terus menatap Ariel dengan tatapan benci. "Cepat berdiri di depan tiang bendera, dan kamu akan berdiri di sana sampai jam pelajaran pertama selesai," ucap Ariel dingin.
Dikarenakan Sherina malas berdebat dengan Ariel, dia pun pergi ke tengah lapangan dan berdiri di depan tiang bendera.